LOGINDisaat semua orang melihat ke arah video dengan tatapan marah karena emosi atas perbuatan Sinta. Berbeda dengan Julian, video tersebut malah membuat tubuhnya menegang, suara makian dan pukulan terdengar familiar di telingannya. Julian mengambil satu langkah mundur. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk tetap melihat ke layar. Bayangan masa lalu saat ayahnya memukuli dirinya kini berputar dengan jelas di kepalanya.Julian yang sadar dengan tubuhnya yang mulai menunjukan reaksi ketakutan, langsung menyembunyikan kedua tangannya kebelakang, agar tidak ada yang sadar dengan hal yang sedang terjadi pada tubuhnya, ia harus tetap tenang dan terlihat profesional di ruang sidang. Sementara dari jauh, Olivia melihat segalanya, ia menyadari ekspresi tegang pria itu, Olivia bahkan sempat memperhatikan tangan Julian yang tampak gemeteran, sebelum pria itu berhasil menyembunyikannya, ada tanda tanya besar di dalam hatinya. Reaksi yang Julian berikan tampak aneh menurutnya.Setelah video tersebut
"Mia, ada yang ingin ku katakan padamu," ucap Liam setelah keduanya selesai makan. "Katakan saja," jawab Mia fokus mendengarkan perkataan suaminya. "Sebenarnya, beberapa waktu lalu aku menyelidiki kehidupan masa lalumu dan tentang pembullyan yang di lakukan Sinta padamu," beritahu Liam jujur, meskipun nanti Mia mungkin marah karena dirinya terlalu ikut campur, ia tidak perduli. Prioritas pertamanya adalah membantu istrinya mendapatkan keadilan. Mia terdiam sesaat, ia tetap berusaha memasang senyum terbaiknya. "Tidak masalah, itu hanya kejadian masa lalu tidak perlu dipikirkan." "Tapi aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja," sela Liam. Hal tersebut tentu saja penting menurutnya. Mia tak langsung menjawab, pikiran buruk mulai memenuhi kepalanya, ia mulai bertanya-tanya. Apakah pria di depannya akan menertawakan masa lalunya? Atau merasa malu karena menikahi wanita menyedihkan sepertinya?. "Maaf, karena masa laluku sudah membawa dampak buruk ke dalam hidupmu," sahut Mia p
Olivia maju dan dengan cepat menumbangkan ketiganya satu persatu hingga tersungkur ke tanah, tanpa mereka tahu, kalau di sekolah sebelumnya Olivia adalah atlet bela diri dan setiap kali ikut lomba, Olivia selalu meraih juara pertama. Olivia melipat kedua tanganya di depan dada sembari menatap lawannya dengan ekspresi mengejek. "Jadi bagaimana? Masih ingin menghalangi?"Sinta dan kedua temannya tak berani lagi menjawab, Olivia kemudian menarik tangan Mia yang masih terkejut melihat kemampuannya tadi. Mereka pergi ke ruang UKS untuk mengobati luka Mia. Olivia menempelkan plester bergambar kartun lucu di lengan Mia."Lain kali, jika mereka masih menganggumu katakan saja padaku," ujar Olivia percaya diri. "Sekedar info, aku adalah pemegang sabuk hitam taekwondo, di sekolahku yang dulu.""Kau serius?" tanya Mia tercengang. Matanya sedikit melebar karena terjejut mendengar perkataan Olivia.Olivia mengangguk santai. ia merasa ekspresi Mia yang terkejut terlihat sangat lucu dimatanya.Hari
Jika Liam disambut dengan senyum lebar Mia saat pulang. Hal tersebut tidak berlaku dengan Julian, begitu masuk, tak ada yang menyambut kepulangannya.Lampu rumah sudah menggelap, menunjukan bahwa penghuninya sudah tertidur lelap. Julian masuk ke dalam rumah tanpa berekspetasi apapun. Ia juga tidak berharap Olivia menunggunya, Julian tidak mau Olivia menunggu dan membuat jam tidur istrinya terganggu. Julian masuk ke kamar dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kegaduhan, ia melihat istrinya yang sudah tertidur pulas.Julian segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan setelah selesai, ia segara mengganti pakaiannya dengan baju tidur. sesudah itu, Julian membaringkan dirinya di samping Olivia. Tanpa Julian tahu, sebenarnya Olivia tidak benar-benar tidur karena setiap kali Julian pulang terlambat, Olivia selalu menunggunya di kamar sembari menatap ke luar jendela dengan perasaan gelisah. Perasaan yang Olivia sendiri tidak mengerti, ia menganggap hal tersebut sebagai bagian dari
Sesuai rencana kemarin, Sinta dan ayahnya kini berada di bandara. Namun, saat hendak melakukan pemeriksaan imigrasi, tiba-tiba beberapa orang petugas kepolisian datang menghampiri mereka. "Bapak Herman Wijaya?""Iya, ada apa ya?" tanya Herman bingung."Anda di tahan karena dugaan tindak pidana korupsi." Petugas itu juga menunjukkan surat penangkapan. Kedua wajah ayah dan anak tersebut langsung berubah pucat."Korupsi?" Herman merasa bingung harus berbuat apa. "Saya rasa ini ada kesalahpahaman.""Salah paham atau tidak ada dapat menjelaskannya nanti di pengadilan. Sekarang ikut kami pergi," petugas tersebut memborgol Herman begitu saja.Sinta yang melihat hal tersebut berusaha mengcegahnya. "Pak, dengar dulu, semua ini fitnah, Papa saya tidak pernah korupsi." Seorang petugas wanita kini berdiri di depan Sinta, "Anda juga di tangkap karena kasus pembullyan yang terjadi beberapa tahun silam."Wajah Sinta semakin memucat. "Dengar kalian tidak bisa menangkapku tanpa bukti yang jelas,"
"Apa kau tahu di mana mereka?" tanya Julian yang tidak menemukan keberadan Olivia. Liam menggeleng. Sejak masuk, mereka memang sudah berpisah. Keduanya kemudian pergi mencari keberadaan istrinya. Saat melewati toilet wanita, Julian dan Liam merasa heran melihat kerumunan orang, keduanya langsung mendekat. "Ada apa ini?" tanya Liam memecah kerumunan. Matanya sedikit membelak melihat Mia yang kini terduduk di lantai dengan keadaan menyedihkan. Julian juga melihat hal yang sama, mereka langsung mendekati istrinya. "Apa terjadi sesuatu?" tanya Julian sedikit berlutut menyamakan posisinya dengan Olivia. Olivia hanya menanggapi pertanyaan Julian dengan menggeleng pelan. "Suamiku," panggil Mia dramatis. Liam yang mendengar panggilan tersebut sempat terdiam beberapa detik. Ia berusaha bersikap tetap tenang, ditengah jantungnya yang berdetak kencang akibat panggilan tersebut. "Apa yang terjadi?" tanya Liam mendekat. "Mereka mendorongku dan memukul Olivia tadi." Lapor Mia y







