共有

Bab 3: Jebakan Manis

作者: Puteri Bulan
last update 公開日: 2026-07-21 08:24:42

"Lima belas menit, Yang Mulia Reno Elric," suara Albert terdengar mantap dari balik sambungan telepon. "Armada helikopter dan tim pengawal utama Elric Group sedang menuju helipad rooftop Grand Hotel. Dokter pribadi juga sudah bersiap."

Reno menyandarkan bahunya ke dinding luar hotel untuk menghindari terpaan hujan deras. Tangan kanannya mengusap sisa darah hangat di sudut bibirnya.

"Siapkan Presidential Suite 801," perintah Reno datar. "Aku butuh mandi dan ganti pakaian."

"Apakah perlu saya perintahkan pasukan khusus Elric Group untuk meratakan Grand Hotel dan menyeret Tuan Muda Dion malam ini juga, Yang Mulia?" desak Albert penuh ketundukan.

"Jangan," balas Reno seraya mengulas senyuman dingin. "Penghancuran yang terlalu cepat itu membosankan, Albert. Biarkan mereka menikmati puncak kemenangan palsunya beberapa jam lagi. Besok pagi di hadapan seluruh media dan jajaran investor, kita runtuhkan mereka sampai ke akarnya."

"Petunjuk diterima, Yang Mulia."

Reno mematikan sambungan telepon terenkripsi itu lalu mengantongi ponsel murahnya kembali. Rasa sakit akibat pukulan para pengawal tadi masih berdenyut di dadanya, tetapi pikirannya sangat jernih. Sebagai calon penguasa tunggal Elric Group, Reno tidak pernah bertindak berdasarkan emosi, melainkan perhitungan yang mematikan.

Ia memilih untuk menyusup kembali ke dalam gedung hotel melalui lorong jalur karyawan demi menghindari hujan lebat yang makin memburu di luar.

***

Sementara itu, di dalam ruangan VIP Lounge Grand Hotel yang hangat dan megah, Dion duduk bersandar di sofa kulit sambil memutar-mutar gelas wiski di tangannya.

Shena duduk di samping Dion seraya menuangkan minuman penuh kemenangan.

"Kenapa kamu malah melamun, Dion? Si sampah Reno itu sudah resmi menandatangani surat cerainya dan dibuang ke jalanan! Kita menang!" seru Shena dengan binar mata puas.

Dion tidak tertawa menyahuti ucapan Shena. Pria itu memandangi lembaran dokumen perceraian di atas meja marmer. Ada rasa cemas yang merayapi benaknya.

Dion mengingat jelas bagaimana sorot mata Reno tadi. Mata itu terlalu dingin dan tenang untuk ukuran seorang pria yang baru saja dihajar, diceraikan, dan dibuang bagaikan cacing tanah. Tatapan seperti itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang berada di puncak kekuasaan.

"Ada yang tidak beres dengan pria itu," gumam Dion seraya menautkan alisnya rapat.

"Tidak beres bagaimana?" cibir Shena penuh nada penghinaan. "Reno itu cuma pria miskin yang sedang berakting sok kuat demi harga dirinya yang sudah hancur!"

"Aku tidak boleh membiarkan ada celah sekecil apa pun sebelum konferensi pers investasi besok pagi," tegas Dion.

Pria itu merogoh saku jas mewahnya dan menekan nomor kontak Bima, Kepala Sekuriti internal Grand Hotel yang berada di bawah kendalinya.

"Bima, pantau seluruh area jalur belakang dan basemen melalui CCTV," perintah Dion dengan suara menekan. "Pastikan si sampah Reno tidak menyusup masuk lagi ke dalam gedung untuk membuat kekacauan di acara besok. Kalau dia nekat mendekat, amankan secara diam-diam."

"Baik, Tuan Muda Dion. Semua titik akses bawah sedang dipantau tim patroli," jawab Bima dari balik telepon.

Dion mematikan sambungan seraya menghembuskan napas lega. Pria itu mengira Reno masih berkeliaran di area bawah hotel. Dion sama sekali tidak tahu bahwa pria yang baru saja dihinanya itu justru sudah melangkah di dalam gedung menuju tempat yang jauh lebih tinggi.

***

Di saat yang sama, Reno melangkah tenang di jalur koridor internal staf.

Di hotel bintang lima seperti Grand Hotel, sudut-sudut kamera pengawas terpasang di setiap belokan. Namun Reno memahami tiap inci bangunan ini. Dia memanfaatkan titik blind spot di antara dinding pemadam api dan celah pilar untuk bergerak tanpa terdeteksi sistem pemantau pusat.

Di sudut belokan koridor menuju ruang kontrol teknis, seorang petugas sekuriti berpaspor akses tinggi sedang membelakangi lorong, menekan earpiece di telinganya.

"Pusat, titik servis B2 aman. Tidak ada tanda-tanda penyusup," lapor sekuriti tersebut dengan suara berbisik.

Sebelum sekuriti itu sempat berbalik atau melepas jarinya dari mik earpiece, Reno melangkah tanpa suara dari balik bayangan pilar. Tangan kanan Reno bergerak secepat kilat—satu tangkapan menutup mulut sekuriti itu, sementara jemarinya menekan titik saraf di samping lehernya.

Tek.

Hanya butuh jeda dua detik, tubuh sekuriti itu melumpuh seketika akibat terputusnya aliran oksigen sementara ke otak. Reno menyangga tubuh pria itu agar tidak jatuh menimbulkan suara benturan ke lantai.

Dengan gerakan luwes, Reno mematikan transmisi radio di saku sekuriti tersebut, lalu melepas kartu Executive Master Pass berkode enkripsi khusus yang menggantung di sabuknya.

Reno menyandarkan sekuriti yang pingsan itu di dalam ruang panel listrik yang terkunci, lalu melangkah santai menuju lift privat khusus pejabat tinggi hotel.

Ting.

Reno menempelkan kartu akses Master Pass ke panel sensor digital lift. Pintu berlapis kuningan tebal itu terbuka, dan lift meluncur mulus tanpa suara menuju lantai paling atas: Executive VIP Suite.

Ting!

Pintu lift privat terdorong terbuka di lantai puncak Grand Hotel. Suasana koridor VIP sangat hening dan lengang, dihiasi karpet tebal kedap suara serta lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya temaram.

Reno melangkah keluar dari lift, menyusuri lorong VIP menuju Presidential Suite 801 milik Elric Group.

Namun, baru beberapa langkah bergerak, mata elang Reno mendadak menangkap kejanggalan di sudut koridor depan Suite 808—kamar tempat Vanya Adijaya menginap.

Dua pria berjas hitam necis sedang mengendap-endap di depan pintu suite berukir emas tersebut. Salah satu dari mereka memegang perangkat kunci master duplikat digital dan sibuk meretas gagang pintu, sementara pria lainnya memegang kamera camcorder kecil seraya terus memantau situasi.

"Cepat sedikit! Obat perangsang yang dicampur asisten pribadinya tadi pasti sudah bekerja penuh di dalam kamar!" bisik pria berjas pertama dengan nada terburu-buru.

"Tenang saja. Untung asisten pribadinya bisa dibeli mahal buat memasukkan obat ke minumannya," sahut pria kedua seraya menyeringai culas. "Tim pengawal pribadinya yang tangguh juga sudah berhasil dipancing turun ke basemen pakai laporan ancaman bom palsu. Nona Vanya Adijaya sekarang tidak akan bisa menggerakkan jarinya apalagi berteriak dari dalam sana!"

"Bagus. Tuan Dion dan tim media sewaan sebentar lagi naik ke sini untuk mengambil foto skandal ini. Sekali foto-foto jebakan itu tersebar besok, Adijaya Group tidak punya pilihan selain menyerahkan saham proyek lima puluh triliun itu pada Tuan Dion!"

Reno yang berdiri tertutup bayang-bayang pilar marmer menghentikan hembusan napasnya sejenak.

Mata tajamnya berkilat dingin. Seseorang di dalam ruangan itu adalah Ratu Bisnis yang sangat berkuasa, tetapi dikhianati oleh asisten pribadinya sendiri demi uang suap dari Dion. Dion tidak hanya ingin menghancurkan Reno, tetapi juga menjebak Vanya demi memeras Adijaya Group untuk menyelamatkan perusahaannya yang nyaris bangkrut dan menjebak keluarga Wijaya.

Reno melangkah keluar dari balik pilar marmer, menyusuri karpet tebal tanpa menimbulkan suara langkah kaki sedikit pun. Sosok tegapnya yang bersimbah darah di bagian kemeja putih memancarkan aura pemangsa yang sangat mengerikan di dalam lorong mewah yang temaram itu.

Reno mengulas senyuman paling dingin seraya membatin, 'Dion, kamu baru saja menggali kuburanmu sendiri.'

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Bab 13: Pembersihan Pengkhianat

    "Bekukan seluruh ruang udara sektor empat detik ini juga!" pangkas Reno langsung ke mikrofon satelit seraya mengenakan kemeja barunya dengan gerakan kilat. Vanya menyambar mantel mewahnya dari sofa, matanya memancarkan amarah dingin yang berkilat bahaya. Seluruh kehangatan emosional di dalam penthouse menguap tanpa sisa, tergantikan oleh insting berburu dua penguasa puncak. "Siska memegang enkripsi utama jaringan logistik Adijaya," desis Vanya seraya melangkah cepat ke arah lift VIP bersama Reno. "Jika hard drive itu bocor, lima puluh persen saham proyek lima puluh triliun milikku bisa disita secara ilegal oleh pihak asing." "Dia tidak akan sempat melintasi perbatasan," balas Reno datar, menyambar senjata berpenyadap suara dari brankas tersembunyi di dinding lift. Maybach hitam berarmor melesat membelah hujan badai dengan kecepatan dua ratus kilometer per jam, memotong arus lalu lintas malam bagaikan histeria baja.

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Bab 12: Penundukan Sang Ratu

    "Lepaskan aku, Reno!" desis Vanya seraya menyentakkan pergelangan tangannya yang terkunci rapat di atas dinding marmer. Reno tidak bergeming sedikit pun. Cengkeraman jemari pria itu justru makin mengencang, mengunci kedua pergelangan tangan Vanya tepat di atas kepalanya tanpa cela. Dada tegap Reno yang bertelanjang dada makin menempel erat, menghimpit tubuh ramping Vanya hingga tak ada celah udara tersisa di antara mereka. "Kamu pikir kamu penguasa di ruangan ini hanya karena namamu tertulis di sertifikat penthouse ini, Vanya?" bisik Reno serak, membiarkan bibirnya membelai halus kulit leher Vanya yang sensitif. Hembusan napas hangat Reno yang beraroma mint dan tembakau mahal seketika menyengat saraf sensorik sang Ratu Bisnis. Desir panas merambat cepat ke seluruh pembuluh darahnya. Seluruh bulu kuduk Vanya meremang hebat, menembus pertahanan batin yang dibangunnya selama bertahun-tahun. Jantung wanita i

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Bab 11: Malam Di Penthouse Tersembunyi

    "Singkirkan tanganmu dari bahuku, Tuan Elric," kekeh Vanya halus seraya menepis cengkeraman Reno tanpa sedikit pun menunjukkan rasa gentar. Reno melepaskan cengkeramannya perlahan, membiarkan Vanya kembali duduk tegak dengan napas yang masih terengah halus. Maybach berarmor itu membelah guyuran hujan malam, meluncur masuk ke dalam lift mobil privat di basemen gedung Sky Tower—sebuah kondominium eksklusif berteknologi tinggi di pusat bisnis kota. Ini adalah penthouse tersembunyi milik Vanya Adijaya, suaka pribadi yang tidak pernah diketahui oleh media atau pria mana pun. DING! Pintu lift khusus terdorong terbuka tanpa suara, menyajikan pemandangan penthouse megah bergaya minimalis bernuansa marmer putih dan kaca hitam. Dinding kaca raksasa setinggi lima meter memperlihatkan lanskap kilauan lampu kota yang dibilas air hujan. Vanya melepaskan mantel mewahnya, melemparkannya santai ke atas sofa kulit hitam.

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Bab 10: Garis Batas Pria Dingin

    "Sakit?" bisik Reno dengan suara dingin yang menusuk tulang. Reno perlahan menarik tumit sepatunya, meninggalkan bekas memar merah kebiruan di atas pergelangan tangan Shena yang tergeletak di atas aspal basah. Shena merintih terisak-isak, memeluk tangannya yang gemetar di dalam genangan lumpur hitam. "Reno... kamu tidak sekejam ini..." ratap Shena dengan napas memburu, air mata bercampur hujan membasahi wajahnya yang pias. "Dua tahun aku merawatmu sepenuh hati, dan satu malam kamu menginjak-injak harga diriku demi pria lain," ucap Reno datar, berdiri tegak menjulang di bawah terpaan angin badai. "Kamu hanyalah sampah masa lalu yang bahkan tidak bernilai untuk kubenci." FLASH! FLASH! Tiba-tiba, kilatan cahaya kamera pecah bertubi-tubi dari arah sudut jalanan. Instruksi Albert memanggil puluhan awak media bekerja dengan presisi yang sangat mematikan. Para wartawan sewaan dan fotografer pers menge

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Bab 9: Berlutut Di Atas Lumpur

    "Reno! Reno, maafkan aku!" jerit Shena seraya berlari histeris membelah genangan air di sepanjang trotoar pusat kota.Suara sirine ambulans yang mengangkut ibunya mengusung gema samar di kejauhan, namun Shena tidak peduli lagi.Dalam benak wanita itu hanya ada satu tujuan: mencapai Menara Elric Group sebelum Reno menghilang dari jangkauannya.Gaun merah mewahnya kini terkoyak di bagian bawah, belepotan lumpur hitam dan basah kuyup oleh derasnya hujan badai.Mascara hitam meleleh melapisi pipinya, menciptakan garis-garis kelam yang menyempurnakan penampilannya bagaikan wanita gila.Gedung pencakar langit Elric Tower berdiri megah menjulang ke angkasa, dipagari barikade baja dan sekuriti berteknologi tinggi.Tepat saat Shena tiba di jalur keluar basemen VIP, pintu gerbang otomatis berdesis pelan seraya terbuka lebar.Sebuah Maybach hitam berarmor meluncur perlahan membelah kegelapan malam, menyiramkan kilau keemasan dari l

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Bab 8: Diusir Ke Dalam Badai

    "Kosongkan seluruh bangunan dan sita semua barang berharga tanpa terkecuali!" pekik petugas juru sita pengadilan seraya membanting pintu jati berukir di kediaman mewah keluarga Wijaya. Hujan deras mengguyur malam yang dingin, membilas kaca-kaca jendela raksasa mansion megah bernilai puluhan miliar rupiah itu. Puluhan petugas berseragam polisi dan tim eksekusi bank bergerak cepat menyisir setiap sudut ruangan, menempelkan stiker segel penyitaan berwarna merah terang. Shena berdiri gemetar di ruang tengah, memeluk bahu Karina yang masih lemas dengan wajah sepucat kain kafan. "Kalian tidak berhak melakukan ini!" jerit Shena histeris, menyelimuti tubuh ibunya yang masih basah oleh bekas darah kering dari kejadian di ballroom. "Ini rumah kami! Pergi kalian!" Petugas kepolisian melangkah maju tanpa belas kasihan. "Sertifikat tanah dan bangunan ini telah disita oleh konsorsium bank akibat gagal bayar utang Wijaya Group yang jatuh

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status