Mag-log in"Lima belas menit, Yang Mulia Reno Elric," suara Albert terdengar mantap dari balik sambungan telepon. "Armada helikopter dan tim pengawal utama Elric Group sedang menuju helipad rooftop Grand Hotel. Dokter pribadi juga sudah bersiap."
Reno menyandarkan bahunya ke dinding luar hotel untuk menghindari terpaan hujan deras. Tangan kanannya mengusap sisa darah hangat di sudut bibirnya. "Siapkan Presidential Suite 801," perintah Reno datar. "Aku butuh mandi dan ganti pakaian." "Apakah perlu saya perintahkan pasukan khusus Elric Group untuk meratakan Grand Hotel dan menyeret Tuan Muda Dion malam ini juga, Yang Mulia?" desak Albert penuh ketundukan. "Jangan," balas Reno seraya mengulas senyuman dingin. "Penghancuran yang terlalu cepat itu membosankan, Albert. Biarkan mereka menikmati puncak kemenangan palsunya beberapa jam lagi. Besok pagi di hadapan seluruh media dan jajaran investor, kita runtuhkan mereka sampai ke akarnya." "Petunjuk diterima, Yang Mulia." Reno mematikan sambungan telepon terenkripsi itu lalu mengantongi ponsel murahnya kembali. Rasa sakit akibat pukulan para pengawal tadi masih berdenyut di dadanya, tetapi pikirannya sangat jernih. Sebagai calon penguasa tunggal Elric Group, Reno tidak pernah bertindak berdasarkan emosi, melainkan perhitungan yang mematikan. Ia memilih untuk menyusup kembali ke dalam gedung hotel melalui lorong jalur karyawan demi menghindari hujan lebat yang makin memburu di luar. *** Sementara itu, di dalam ruangan VIP Lounge Grand Hotel yang hangat dan megah, Dion duduk bersandar di sofa kulit sambil memutar-mutar gelas wiski di tangannya. Shena duduk di samping Dion seraya menuangkan minuman penuh kemenangan. "Kenapa kamu malah melamun, Dion? Si sampah Reno itu sudah resmi menandatangani surat cerainya dan dibuang ke jalanan! Kita menang!" seru Shena dengan binar mata puas. Dion tidak tertawa menyahuti ucapan Shena. Pria itu memandangi lembaran dokumen perceraian di atas meja marmer. Ada rasa cemas yang merayapi benaknya. Dion mengingat jelas bagaimana sorot mata Reno tadi. Mata itu terlalu dingin dan tenang untuk ukuran seorang pria yang baru saja dihajar, diceraikan, dan dibuang bagaikan cacing tanah. Tatapan seperti itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang berada di puncak kekuasaan. "Ada yang tidak beres dengan pria itu," gumam Dion seraya menautkan alisnya rapat. "Tidak beres bagaimana?" cibir Shena penuh nada penghinaan. "Reno itu cuma pria miskin yang sedang berakting sok kuat demi harga dirinya yang sudah hancur!" "Aku tidak boleh membiarkan ada celah sekecil apa pun sebelum konferensi pers investasi besok pagi," tegas Dion. Pria itu merogoh saku jas mewahnya dan menekan nomor kontak Bima, Kepala Sekuriti internal Grand Hotel yang berada di bawah kendalinya. "Bima, pantau seluruh area jalur belakang dan basemen melalui CCTV," perintah Dion dengan suara menekan. "Pastikan si sampah Reno tidak menyusup masuk lagi ke dalam gedung untuk membuat kekacauan di acara besok. Kalau dia nekat mendekat, amankan secara diam-diam." "Baik, Tuan Muda Dion. Semua titik akses bawah sedang dipantau tim patroli," jawab Bima dari balik telepon. Dion mematikan sambungan seraya menghembuskan napas lega. Pria itu mengira Reno masih berkeliaran di area bawah hotel. Dion sama sekali tidak tahu bahwa pria yang baru saja dihinanya itu justru sudah melangkah di dalam gedung menuju tempat yang jauh lebih tinggi. *** Di saat yang sama, Reno melangkah tenang di jalur koridor internal staf. Di hotel bintang lima seperti Grand Hotel, sudut-sudut kamera pengawas terpasang di setiap belokan. Namun Reno memahami tiap inci bangunan ini. Dia memanfaatkan titik blind spot di antara dinding pemadam api dan celah pilar untuk bergerak tanpa terdeteksi sistem pemantau pusat. Di sudut belokan koridor menuju ruang kontrol teknis, seorang petugas sekuriti berpaspor akses tinggi sedang membelakangi lorong, menekan earpiece di telinganya. "Pusat, titik servis B2 aman. Tidak ada tanda-tanda penyusup," lapor sekuriti tersebut dengan suara berbisik. Sebelum sekuriti itu sempat berbalik atau melepas jarinya dari mik earpiece, Reno melangkah tanpa suara dari balik bayangan pilar. Tangan kanan Reno bergerak secepat kilat—satu tangkapan menutup mulut sekuriti itu, sementara jemarinya menekan titik saraf di samping lehernya. Tek. Hanya butuh jeda dua detik, tubuh sekuriti itu melumpuh seketika akibat terputusnya aliran oksigen sementara ke otak. Reno menyangga tubuh pria itu agar tidak jatuh menimbulkan suara benturan ke lantai. Dengan gerakan luwes, Reno mematikan transmisi radio di saku sekuriti tersebut, lalu melepas kartu Executive Master Pass berkode enkripsi khusus yang menggantung di sabuknya. Reno menyandarkan sekuriti yang pingsan itu di dalam ruang panel listrik yang terkunci, lalu melangkah santai menuju lift privat khusus pejabat tinggi hotel. Ting. Reno menempelkan kartu akses Master Pass ke panel sensor digital lift. Pintu berlapis kuningan tebal itu terbuka, dan lift meluncur mulus tanpa suara menuju lantai paling atas: Executive VIP Suite. Ting! Pintu lift privat terdorong terbuka di lantai puncak Grand Hotel. Suasana koridor VIP sangat hening dan lengang, dihiasi karpet tebal kedap suara serta lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya temaram. Reno melangkah keluar dari lift, menyusuri lorong VIP menuju Presidential Suite 801 milik Elric Group. Namun, baru beberapa langkah bergerak, mata elang Reno mendadak menangkap kejanggalan di sudut koridor depan Suite 808—kamar tempat Vanya Adijaya menginap. Dua pria berjas hitam necis sedang mengendap-endap di depan pintu suite berukir emas tersebut. Salah satu dari mereka memegang perangkat kunci master duplikat digital dan sibuk meretas gagang pintu, sementara pria lainnya memegang kamera camcorder kecil seraya terus memantau situasi. "Cepat sedikit! Obat perangsang yang dicampur asisten pribadinya tadi pasti sudah bekerja penuh di dalam kamar!" bisik pria berjas pertama dengan nada terburu-buru. "Tenang saja. Untung asisten pribadinya bisa dibeli mahal buat memasukkan obat ke minumannya," sahut pria kedua seraya menyeringai culas. "Tim pengawal pribadinya yang tangguh juga sudah berhasil dipancing turun ke basemen pakai laporan ancaman bom palsu. Nona Vanya Adijaya sekarang tidak akan bisa menggerakkan jarinya apalagi berteriak dari dalam sana!" "Bagus. Tuan Dion dan tim media sewaan sebentar lagi naik ke sini untuk mengambil foto skandal ini. Sekali foto-foto jebakan itu tersebar besok, Adijaya Group tidak punya pilihan selain menyerahkan saham proyek lima puluh triliun itu pada Tuan Dion!" Reno yang berdiri tertutup bayang-bayang pilar marmer menghentikan hembusan napasnya sejenak. Mata tajamnya berkilat dingin. Seseorang di dalam ruangan itu adalah Ratu Bisnis yang sangat berkuasa, tetapi dikhianati oleh asisten pribadinya sendiri demi uang suap dari Dion. Dion tidak hanya ingin menghancurkan Reno, tetapi juga menjebak Vanya demi memeras Adijaya Group untuk menyelamatkan perusahaannya yang nyaris bangkrut dan menjebak keluarga Wijaya. Reno melangkah keluar dari balik pilar marmer, menyusuri karpet tebal tanpa menimbulkan suara langkah kaki sedikit pun. Sosok tegapnya yang bersimbah darah di bagian kemeja putih memancarkan aura pemangsa yang sangat mengerikan di dalam lorong mewah yang temaram itu. Reno mengulas senyuman paling dingin seraya membatin, 'Dion, kamu baru saja menggali kuburanmu sendiri.'Papan nomor lelang berlapis emas itu berkilau terpapar lampu sorot aula saat Julian mengacungkannya ke udara. Angka delapan berukir timbul di permukaannya dipamerkan tepat di depan meja bundar Reno dan Vanya.Danu yang berdiri di belakang kursi Julian melipat kedua tangannya seraya melayangkan tatapan merendahkan. Beberapa asisten konglomerat di meja sekitar melirik ke arah Meja Dua, menyadari bahwa putra mahkota klan Mahendra sedang bersiap unjuk gigi."Hermawan mungkin berbaik hati memberimu kursi empuk di barisan depan, Reno," buka Julian seraya mengetuk-ngetukkan gagang papan lelangnya ke tepi meja marmer. "Tapi di ruangan ini, orang yang tidak memegang papan penawar resmi hanyalah penonton yang menunggu belas kasihan."Vanya meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi denting halus di atas tatakan keramik. Ia menatap Julian dengan pandangan santai, sama sekali tidak terganggu oleh gestur pamer tersebut."Julian, papan itu cuma sepotong kayu berlapis cat emas," celetuk Vanya seraya mer
"Silakan lewat sini, Tuan Reno, Nona Vanya," ucap Hermawan seraya membuka salah satu daun pintu kayu mahoni berukir di ujung lorong VIP.Pintu ganda itu mengayun terbuka, memperlihatkan kemegahan aula utama Balai Lelang Megah yang berbentuk melingkar layaknya teater klasik Eropa. Tiga tingkat balkon berpagar kuningan dipenuhi ratusan kursi beludru merah tua yang kini telah terisi penuh oleh para pemilik modal, kurator seni, dan jajaran direksi korporasi papan atas.Lampu gantung kristal di kubah langit-langit memancarkan pendaran cahaya kuning temaram, menyorot panggung utama yang beralaskan karpet beludru hitam. Di atas meja pamer bundar, beberapa peti kaca antipeluru telah berdiri siaga di bawah penjagaan ketat personel berjas rapi.Hermawan memandu langkah mereka menuruni tangga karpet menuju barisan terdepan, tempat meja bundar berbalut taplak sutra putih khusus tamu utama berada."Paviliun Meja Satu adalah posisi terbaik untuk meninjau seluruh barang lelang malam ini tanpa halang
Gema suara robotik dari pengeras suara dinding masih memantul jelas di antara pilar-pilar marmer lobi. Lampu ungu pekat yang menyelimuti panel pemindai berkedip teratur, menampilkan lambang naga emas yang berputar di layar digital. Riko mematung di tempatnya berdiri, kedua tangannya yang memegang kartu hitam berlian itu mendadak basah oleh keringat dingin. Tubuh petugas berkumis tebal itu kaku bagaikan sebatang kayu yang tertancap di tanah. "P-pemilik Tak Terbatas...?" bisik Riko dengan bibir bergetar hebat. Matanya yang tadi memandang remeh kini melotot lebar membaca deretan huruf emas di monitor mesin. Di sana tertera tingkat otorisasi tertinggi tanpa batas kredit, kelas kepemilikan yang bahkan tidak tercantum di buku panduan staf keamanan biasa. Vanya melipat kedua tangannya santai seraya melirik wajah pias sang petugas pintu. "Bagaimana, Petugas Riko? Masih berpikir itu kartu keanggotaan tempat cuci mobil pinggir jalan?" sindir Vanya dengan nada geli. Riko menelan luda
"Babu mencari makan katamu, Julian?" tegur Vanya seraya melangkah maju setengah tapak dengan senyuman santai. Suara Vanya yang jernih seketika membelah dengungan tawa para pengawal dan tamu di pelataran lobi. Julian melangkah menaiki anak tangga marmer dengan dagu terangkat tinggi, memamerkan sulaman benang emas di kerah jasnya. "Faktanya memang begitu, Vanya," sahut Julian seraya mengibaskan tangan kirinya yang sehat. "Lihat pria di sampingmu, dia bahkan tidak lolos pemeriksaan pakaian dasar oleh petugas pintu," lanjut sang tuan muda seraya terkekeh sinis. Riko, kepala keamanan berkumis tebal yang mencegat Reno tadi, langsung membungkuk sangat dalam ke arah Julian. "Selamat malam, Tuan Muda Julian yang terhormat!" sapa Riko dengan nada menjilat yang sangat kentara. "Saya sudah menjalankan tugas dengan baik, tidak membiarkan orang tanpa standar busana mengotori karpet merah Anda," lapor petugas itu bangga. Julian mengangguk puas seraya menepuk bahu Riko pelan. "Kerja
"Berhenti di tempatmu, Mas!" tegur seorang pria berbadan tegap berseragam safari hitam seraya merentangkan tangan kanannya di depan undakan marmer. Langkah sepatu kasual Reno tertahan tepat dua jengkal sebelum menyentuh bentangan karpet merah lobi Balai Lelang Megah. Di sampingnya, Vanya Adijaya yang mengenakan gaun malam satin berwarna zamrud langsung menghentikan langkah anggunnya. Petugas keamanan berkumis tebal itu melirik pakaian Reno dari ujung kerah kemeja gelap hingga ujung celana kainnya dengan tatapan meremehkan. "Pintu utama ini khusus untuk tamu undangan VIP dan para kolektor terhormat," lanjut petugas itu dengan nada kaku dan ketus. "Aku datang ke sini untuk menghadiri lelang, bukan untuk mengagumi seragam safari kotormu," sahut Reno santai tanpa menurunkan pandangannya. Vanya melipat kedua tangannya di depan dada, menyunggingkan senyuman geli melihat sikap penjaga pintu tersebut. "Rupanya kamu tidak memeriksa kartu undangan sebelum memutuskan siapa yang bole
"Jaringan balai lelang internasional mana yang kamu maksud, Albert?" tanya Reno seraya melirik layar monitor di hadapannya. "Crown Heritage Group, konsorsium lelang barang antik tertua yang berpusat di Jenewa, Tuan Reno," jawab Albert seraya memperbesar bagan kepemilikan modal. Vanya mencondongkan badannya ke depan meja, mengamati diagram perusahaan yang terpampang jelas di layar. "Tunggu dulu, bukankah Crown Heritage Group itu salah satu entitas yang diakuisisi R.E. Corporation dua tahun lalu di Swiss?" tanya Vanya seraya melirik Reno dengan senyuman penuh arti. "Tepat sekali, Nona Vanya," sahut Albert seraya mengangguk mantap. "Tuan Muda Julian dan keluarga Mahendra memang menyewa tiga puluh persen saham ruangannya, tapi hak kelola, izin lelang, dan seluruh kurator utamanya berada langsung di bawah kendali kantor Jenewa," lanjut sang asisten pribadi. Reno menyandarkan punggungnya ke kursi seraya menyeruput sisa kopi hitamnya. "Jadi Julian menyewa aula milik anak perusah







