MasukDua pria berjas hitam di depan Suite 808 masih sibuk mengamati layar camcorder dan perangkat retas digital di tangan mereka. Mereka begitu fokus sampai tidak menyadari bayangan tegap yang merayap cepat dari balik pilar marmer.
Reno bergerak tanpa suara. Sebelum pria memegang kamera sempat menoleh, Reno mencengkeram belakang lehernya dan menghantamkan kepalanya ke dinding berlapis kain wol tebal di samping pintu. TAK! Pria pertama langsung terkulai pingsan tanpa sempat memekik. Pria kedua yang memegang alat retas terperanjat, namun sebelum dia bisa berteriak, hantaman siku dari Reno mendarat telak di dagunya. Sendi rahangnya terkunci, membuat pandangannya gelap seketika dan ambruk di atas karpet. Seluruh proses itu berlangsung kurang dari tiga detik. Efisien, bersih, dan tanpa keributan. Reno memungut camcorder kecil yang jatuh dari tangan pria tadi. Ia memutar ulang rekaman singkat di dalam layar. Di sana terlihat foto-foto sudut Suite 808 serta rekaman audio instruksi dari suara Dion. 'Barang bukti yang cukup rapi,' batin Reno seraya mengantongi kamera tersebut. Menggunakan kartu Master Pass yang diambilnya dari sekuriti di basemen, Reno menempelkan sensor ke gagang pintu Suite 808. Ting. Lampu indikator berubah hijau. Pintu berukir emas itu terdorong pelan. Suasana di dalam suite sangat remang. Bau harum aroma terapi lavender tercium pekat, bercampur dengan bau tajam pecahan keramik. Di sudut sofa ruang tamu, seorang wanita bergaun malam hitam merayap ke lantai. Rambut panjangnya sedikit acak-acakan, membasahi pelipisnya yang berkeringat dingin. Dia adalah Vanya Adijaya—wanita yang dikenal di seluruh media nasional sebagai Ratu Bisnis bertangan dingin. Namun malam ini, napas Vanya memburu berat. Matanya sayu akibat pengaruh obat perangsang, tetapi jemari tangannya menggenggam erat serpihan pecahan vas bunga yang tajam hingga goresan tipis melukai telapak tangannya sendiri. Rasa sakit dari lukanya adalah satu-satunya cara yang dipakai Vanya untuk menjaga kesadarannya agar tidak pingsan. Saat melihat bayangan pria berkemeja putih dengan ceceran darah melangkah masuk, Vanya mengacungkan pecahan vas tajam itu ke udara dengan tangan gemetar. "Jangan... jangan mendekat!" ancam Vanya dengan suara serak namun penuh intimidasi. "Siapa pun yang menyuruhmu... aku pastikan Adijaya Group akan menghancurkan hidupmu besok pagi!" Reno menghentikan langkahnya tiga meter di depan Vanya. Ia memandangi wanita itu dengan tatapan menilai. Dalam kondisi terdesak dan pengaruh obat, Vanya tidak menangis atau memohon. Wanita ini tetap memancarkan insting bertahan hidup seorang penguasa. "Kalau aku berniat jahat, dua pria di luar pintu tadi sudah cukup untuk menghancurkan namamu lewat kamera yang mereka bawa," ucap Reno datar seraya menutup pintu suite dari dalam. Vanya menajamkan pandangannya, berusaha memperjelas sosok pria di depannya. Pakaian pria itu lusuh dan berdarah, tetapi nada bicaranya tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut atau nafsu liar. "Kamu... siapa?" bisik Vanya. Napasnya makin pendek, efek obat mulai menguasai sistem sarafnya kembali. "Bagaimana kamu bisa masuk?" "Kartu akses master," sahut Reno santai. "Dan kamu cukup bodoh untuk membiarkan asisten pribadimu menuangkan minuman untukmu malam ini." Mata Vanya membendung kilatan amarah. "Siska...?" "Asisten pribadimu menerima suap dari Dion untuk mencampur obat perangsang saraf ke dalam air minummu," jelas Reno dingin. "Sementara tim pengawal pribadimu yang tangguh itu dipancing turun ke lantai basemen B2 menggunakan laporan ancaman bom palsu lewat radio internal." Vanya mengepalkan tangannya. Logikanya langsung menyambung seluruh peristiwa malam ini. Siska yang secara tiba-tiba menyuruhnya minum air sebelum rapat, dan laporan bom yang mendadak membuat delapan pengawalnya panik meninggalkan koridor. "Dion..." desis Vanya. Bibirnya gemetar menahan emosi. "Dia ingin menjebakku dalam skandal..." "Tepat. Dia butuh foto-foto kompromatis darimu malam ini untuk memaksa Adijaya Group menyerahkan saham proyek lima puluh triliun esok hari," potong Reno seraya melangkah mendekat. "Jangan mendekat!" jerit Vanya refleks, mengacungkan pecahan vas itu lagi. Reno tidak menghiraukan ancaman itu. Dengan gerakan refleks yang sangat tenang, jemari Reno menangkap pergelangan tangan Vanya yang memegang pecahan vas, lalu menekan titik saraf di lengannya. Clek. Jemari Vanya mendadak lemas, membuat serpihan tajam itu jatuh ke atas karpet tanpa sempat melukai mereka. Sebelum tubuh Vanya ambruk karena kehabisan tenaga, lengan tegap Reno dengan sigap menyangga punggung wanita itu. Vanya terperanjat, dadanya bersentuhan erat dengan dada tegap Reno. Bau maskulin bercampur aroma alkohol dari kemeja Reno menusuk penciuman Vanya. "Lepaskan..." bisik Vanya, mencoba mendorong dada Reno. Namun tubuhnya sama sekali tidak bertenaga. "Diamlah kalau kamu tidak mau jantungmu berdetak terlalu kencang dan mempercepat racun obat itu sampai ke otak," tegur Reno tegas. Reno mendudukkan Vanya kembali ke sofa. Dengan gerakan terukur, Reno menempelkan dua jarinya di leher samping Vanya, menekan titik saraf carotid dengan tekanan khusus—teknik penekanan saraf rahasia milik keluarga Elric untuk memperlambat laju sirkulasi darah yang terkontaminasi toksin. Vanya melebarkan matanya. Dalam hitungan detik, sensasi panas terbakar yang menutupi pikirannya mendadak berangsur dingin. Rasa pening hebat di kepalanya mereda secara drastis. Vanya mendongak, menatap lekat rahang tegap dan mata hitam pekat milik Reno. Pria ini memegang kekuatan dan pengetahuan yang sangat tidak masuk akal untuk ukuran orang biasa. "Siapa kamu sebenarnya?" tanya Vanya dengan nada menuntut, kali ini tanpa rasa panik. "Kenapa pria sepertimu berniat mempertaruhkan nyawa menolongku dari rencana Dion?" Reno merapikan kerah kemejanya yang robek lalu menatap Vanya dengan tatapan dingin tanpa emosi. "Jangan salah sangka, Ratu Bisnis. Aku menyelamatkanmu bukan karena iba, dan bukan juga karena aku mengharapkan imbalan darimu," tegas Reno dengan nada dominasi pekat yang membekukan ruangan. Vanya tertegun. Sepanjang hidupnya, setiap pria yang mendekat selalu berakting menjadi pahlawan atau mengincarnya demi kecantikan dan hartanya. Namun pria berdarah di depannya ini menatapnya murni sebagai papan catur. "Lalu kenapa?" desak Vanya. "Menggagalkan rencana Dion malam ini adalah cara paling cepat dan efisien untuk meruntuhkan seluruh investasinya besok pagi," jawab Reno dingin. "Kamu hanya bagian dari strategiku untuk meremukkan Dion sampai ke dasarnya." Sebuah senyuman tipis dan tajam justru muncul di bibir indah Vanya. Rasa hormat dan ketertarikan mendadak merayapi benak sang Ratu Bisnis. Pria di depannya ini tidak bermulut manis, sangat arogan, tetapi memiliki pikiran dingin yang teramat berbahaya. "Ancaman yang menarik," sahut Vanya dengan keanggunannya yang mulai kembali. "Kalau begitu, anggap saja kita berada di pihak yang sama malam ini." BRAK! BRAK! BRAK! Tiba-tiba, gedoran keras menghantam pintu depan Suite 808 dari luar! "Nona Vanya! Buka pintunya! Saya mendengar ada keributan dan penyusup di dalam kamar Anda!" suara Dion bergema keras dan panik buatan dari balik pintu. "Cepat panggil pihak keamanan hotel dan minta media mengambil gambar! Nona Vanya mungkin dalam bahaya!" teriak suara wanita paruh baya—suara Karina, ibu mertua Reno—bersahut-sahutan dengan derap langkah kaki wartawan sewaan yang memburu di koridor. Tubuh Vanya seketika menegang. "Mereka membawa media... Jika pintu itu didobrak sekarang, spekulasi publik tetap akan menghancurkan saham Adijaya Group besok pagi!" Vanya hendak berdiri panik, namun sebuah tangan tegap menahan bahunya dengan lembut. Reno tidak panik sedikit pun. Pria itu mengulas senyuman paling sinis, lalu mengarahkan pandangannya ke dinding panel kayu di sudut suite. Reno melangkah ke sana, menekan sebuah ukiran tersembunyi di balik bingkai lukisan. KLIK. Panel dinding kayu itu bergeser mulus tanpa suara, mengungkapkan sebuah pintu penghubung rahasia berkode khusus yang mengarah langsung ke Presidential Suite 801 milik Elric Group di sebelahnya. Reno mengulurkan tangan kanannya ke arah Vanya. "Pertunjukan murah mereka baru saja dimulai, Nona Adijaya," ucap Reno dengan suara rendah yang menawan. "Mari kita tonton kehancuran mereka dari tempat yang jauh lebih nyaman.""Mustahil! Buka pintunya sekarang juga!" jerit Sandy dengan napas memburu. Sandy menendang pintu kabin helikopter yang terkunci rapat dari dalam dengan sekuat tenaganya. Keringat dingin mengalir deras membasahi kemeja mewahnya yang kini kusut. "Maafkan saya, Tuan, seluruh kendali listrik mati total," sahut sang pilot dengan wajah pucat pasrah. Suara deru langkah kaki tegap mengepung seluruh sudut helipad dalam sekejap. Sandy menempelkan wajahnya ke kaca pintu, memandang ke luar dengan mata melotot ketakutan. Dari balik kegelapan atap gedung, belasan pria berseragam hitam melangkah maju secara serentak. Gerakan mereka begitu presisi, cepat, dan senyap bagaikan kelompok militer terlatih. Senjata otomatis di tangan mereka membidik tepat ke arah kabin helikopter yang tak berdaya. Rasa takut yang mencekam merambat pelan dari ujung kaki hingga ke kepala Sandy. Ini bukan petugas pemerintah biasa. Ini adalah Pasukan Khusus Elric, unit pengawal pribadi paling ditakuti di dunia bisnis inte
"Tahan mereka semua dan jangan biarkan siapa pun mendekat!" jerit Sandy dengan suara melengking panik. Sandy mendorong dua pengawal pribadinya ke arah barisan petugas yang baru saja mendobrak pintu kaca. Kepanikan membakar habis sisa harga dirinya. Tanpa memedulikan jeritan para stafnya, Sandy menyambar koper hitam berisi paspor dan dokumen aset luar negeri. Ia berlari kencang menuju pintu rahasia yang tersamar di balik rak buku jati ruang kerjanya. Pintu baja itu terbuka, memperlihatkan lorong khusus yang terhubung langsung ke lift eksekutif menuju atap gedung. Langkah kakinya berdenting keras menghantam lantai marmer. Rasa takut menggerogoti dadanya bagaikan ribuan jarum yang menusuk bersamaan. Ia merasa seperti seekor binatang buruan yang tersudut di dalam sarangnya sendiri. "Sialan! Bagaimana mungkin seorang pria kusam yang menyamar jadi mandor proyek punya kuasa menghancurkan perusahaanku dalam semalam?!" umpat Sandy seraya menekan tombol lift dengan brutal. Dinding kaca tra
"Lepaskan seluruh dokumen kejahatan dan rekaman pengakuan itu ke media sekarang juga, Albert," bisik Reno seraya menatap layar tablet enkripsi di dalam kabin kedap suara Rolls-Royce. Di sampingnya, Vanya Adijaya tersenyum tipis seraya mengusap lembut pipinya yang baru saja ia kecup saat berada di Dermaga Empat. Keanggunan dingin sang Ratu Bisnis kini memancar sempurna di bawah pendar temaram lampu interior mobil mewah tersebut. "Hanya butuh sepuluh detik sampai reputasi busuk Group Nusantara hancur lebur di seluruh stasiun televisi," sahut Vanya dengan nada suara yang begitu tenang namun mematikan. Reno mengulas senyuman dingin, menikmati momen eksekusi yang sudah ia rancang dengan presisi tinggi. "Mereka mengira penyamaranku sebagai mandor proyek adalah sebuah kelemahan," ucap Reno pelan seraya membenarkan posisi kemejanya. "Padahal itu adalah umpan sempurna untuk menjebak mereka ke dalam jurang kehancuran." "Instruksi dilaksanakan, Yang Mulia," sahut Albert dari balik kemudi,
"Bohong! Kau pasti menggertakku!" raung pimpinan baru Group Nusantara dari seberang saluran gawai dengan nada histeris yang makin kacau. Suara teriakan itu mendadak tenggelam oleh deretan panggilan masuk dari para investor besar yang menghujani ponsel sang direktur. Reno mematikan panggilan secara sepihak tanpa memberi kesempatan lawan untuk melontarkan makian balasan. Ia melempar gawai retak itu ke tanah tepat di depan lutut Bos Naga Hitam yang masih berguncang ketakutan. "Singkirkan seluruh pasukannya dan pastikan mereka tidak pernah menginjakkan kaki di kawasan pantai ini lagi," kata Reno seraya menoleh ke arah Albert. "Baik, Tuan Muda. Semuanya akan dibersihkan tanpa menyisakan satu jejak pun," jawab Albert seraya memberi isyarat tangan kepada tim keamanan khusus Elric. Puluhan anggota klan mafia itu bergegas bangkit, menyeret rekan-rekan mereka yang terluka dengan tubuh gemetar tanpa berani menatap wajah sang pimpinan tertinggi. Pelabuhan Empat yang tadinya tegang kini mend
"Siapa kau sebenarnya dan di mana Bos Naga Hitam?!" bentak Direktur Baru Group Nusantara dengan nada panik yang berusaha ia tutupi. Suara berisik dari ruang kerja mewah di seberang telepon bergema samar menembus keheningan Dermaga Empat. Reno terkekeh dingin, mengusap serpihan debu di rompi kerjanya tanpa sedikit pun gestur terburu-buru. Pria di ujung telepon itu mendadak tercekat, mengenali aura intimidasi murni yang merayap menembus speaker gawai di genggamannya. "Kau mengirim lima puluh miliar rupiah hanya untuk merusak proyek kecil di dermaga ini," ujar Reno dengan suara datar. "Tidakkah kau tahu bahwa setiap rupiah dari uang haram itu kini berubah menjadi tali gantungan untuk lehermu sendiri?" lanjut Reno. Vanya melangkah mendekat, berdiri sejajar di samping Reno dengan senyum anggun yang memancarkan dominasi mutlak. Ia menyentuh jemari Reno secara alami, lalu mendekatkan bibirnya ke mikrofon gawai. "Kau menggantikan posisi Dion hanya untuk mengulangi kebodohan yang sama d
"Albert, kunci seluruh jalur keluar dari pelabuhan ini dan amankan semua dokumen haram milik mereka," perintah Reno dengan nada rendah yang terdengar dingin di tengah desing angin laut. Hanya dalam hitungan detik, tiga unit mobil serba hitam membelah kegelapan malam Dermaga Empat. Deru mesin yang halus dan pendar lampu sorot dari kendaraan berkelas itu menyinari tumpukan pasir serta puluhan anggota klan Naga Hitam yang masih bersujud pasrah. Albert melangkah keluar dari mobil barisan depan dengan setelan jas hitam yang rapi tanpa kerutan sedikit pun. Pria kepercayaan Klan Elric itu berjalan tenang menembus jajaran mafia yang gemetaran di atas tanah, lalu membungkuk hormat di hadapan Reno dan Vanya. "Tuan Muda, Nona Vanya, seluruh area pelabuhan sudah sepenuhnya dalam kendali tim keamanan pusat," lapor Albert seraya memegang peranti tipis di tangannya. Vanya melipat kedua tangannya di dada, menyunggingkan senyum tipis yang memancarkan dominasi berkelas. Sebagai wanita yang sejak







