Share

Keheranan di Meja Depan

Author: Puteri Bulan
last update publish date: 2026-10-18 23:43:06

Gema suara robotik dari pengeras suara dinding masih memantul jelas di antara pilar-pilar marmer lobi. Lampu ungu pekat yang menyelimuti panel pemindai berkedip teratur, menampilkan lambang naga emas yang berputar di layar digital.

Riko mematung di tempatnya berdiri, kedua tangannya yang memegang kartu hitam berlian itu mendadak basah oleh keringat dingin. Tubuh petugas berkumis tebal itu kaku bagaikan sebatang kayu yang tertancap di tanah.

"P-pemilik Tak Terbatas...?" bisik Riko dengan bib
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Kilau Belati Pertama

    Papan nomor lelang berlapis emas itu berkilau terpapar lampu sorot aula saat Julian mengacungkannya ke udara. Angka delapan berukir timbul di permukaannya dipamerkan tepat di depan meja bundar Reno dan Vanya.Danu yang berdiri di belakang kursi Julian melipat kedua tangannya seraya melayangkan tatapan merendahkan. Beberapa asisten konglomerat di meja sekitar melirik ke arah Meja Dua, menyadari bahwa putra mahkota klan Mahendra sedang bersiap unjuk gigi."Hermawan mungkin berbaik hati memberimu kursi empuk di barisan depan, Reno," buka Julian seraya mengetuk-ngetukkan gagang papan lelangnya ke tepi meja marmer. "Tapi di ruangan ini, orang yang tidak memegang papan penawar resmi hanyalah penonton yang menunggu belas kasihan."Vanya meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi denting halus di atas tatakan keramik. Ia menatap Julian dengan pandangan santai, sama sekali tidak terganggu oleh gestur pamer tersebut."Julian, papan itu cuma sepotong kayu berlapis cat emas," celetuk Vanya seraya mer

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Ruang Lelang Para Taipan

    "Silakan lewat sini, Tuan Reno, Nona Vanya," ucap Hermawan seraya membuka salah satu daun pintu kayu mahoni berukir di ujung lorong VIP.Pintu ganda itu mengayun terbuka, memperlihatkan kemegahan aula utama Balai Lelang Megah yang berbentuk melingkar layaknya teater klasik Eropa. Tiga tingkat balkon berpagar kuningan dipenuhi ratusan kursi beludru merah tua yang kini telah terisi penuh oleh para pemilik modal, kurator seni, dan jajaran direksi korporasi papan atas.Lampu gantung kristal di kubah langit-langit memancarkan pendaran cahaya kuning temaram, menyorot panggung utama yang beralaskan karpet beludru hitam. Di atas meja pamer bundar, beberapa peti kaca antipeluru telah berdiri siaga di bawah penjagaan ketat personel berjas rapi.Hermawan memandu langkah mereka menuruni tangga karpet menuju barisan terdepan, tempat meja bundar berbalut taplak sutra putih khusus tamu utama berada."Paviliun Meja Satu adalah posisi terbaik untuk meninjau seluruh barang lelang malam ini tanpa halang

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Keheranan di Meja Depan

    Gema suara robotik dari pengeras suara dinding masih memantul jelas di antara pilar-pilar marmer lobi. Lampu ungu pekat yang menyelimuti panel pemindai berkedip teratur, menampilkan lambang naga emas yang berputar di layar digital. Riko mematung di tempatnya berdiri, kedua tangannya yang memegang kartu hitam berlian itu mendadak basah oleh keringat dingin. Tubuh petugas berkumis tebal itu kaku bagaikan sebatang kayu yang tertancap di tanah. "P-pemilik Tak Terbatas...?" bisik Riko dengan bibir bergetar hebat. Matanya yang tadi memandang remeh kini melotot lebar membaca deretan huruf emas di monitor mesin. Di sana tertera tingkat otorisasi tertinggi tanpa batas kredit, kelas kepemilikan yang bahkan tidak tercantum di buku panduan staf keamanan biasa. Vanya melipat kedua tangannya santai seraya melirik wajah pias sang petugas pintu. "Bagaimana, Petugas Riko? Masih berpikir itu kartu keanggotaan tempat cuci mobil pinggir jalan?" sindir Vanya dengan nada geli. Riko menelan luda

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Kartu Akses Hitam Berlian

    "Babu mencari makan katamu, Julian?" tegur Vanya seraya melangkah maju setengah tapak dengan senyuman santai. Suara Vanya yang jernih seketika membelah dengungan tawa para pengawal dan tamu di pelataran lobi. Julian melangkah menaiki anak tangga marmer dengan dagu terangkat tinggi, memamerkan sulaman benang emas di kerah jasnya. "Faktanya memang begitu, Vanya," sahut Julian seraya mengibaskan tangan kirinya yang sehat. "Lihat pria di sampingmu, dia bahkan tidak lolos pemeriksaan pakaian dasar oleh petugas pintu," lanjut sang tuan muda seraya terkekeh sinis. Riko, kepala keamanan berkumis tebal yang mencegat Reno tadi, langsung membungkuk sangat dalam ke arah Julian. "Selamat malam, Tuan Muda Julian yang terhormat!" sapa Riko dengan nada menjilat yang sangat kentara. "Saya sudah menjalankan tugas dengan baik, tidak membiarkan orang tanpa standar busana mengotori karpet merah Anda," lapor petugas itu bangga. Julian mengangguk puas seraya menepuk bahu Riko pelan. "Kerja

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Pintu Masuk yang Terhadang

    "Berhenti di tempatmu, Mas!" tegur seorang pria berbadan tegap berseragam safari hitam seraya merentangkan tangan kanannya di depan undakan marmer. Langkah sepatu kasual Reno tertahan tepat dua jengkal sebelum menyentuh bentangan karpet merah lobi Balai Lelang Megah. Di sampingnya, Vanya Adijaya yang mengenakan gaun malam satin berwarna zamrud langsung menghentikan langkah anggunnya. Petugas keamanan berkumis tebal itu melirik pakaian Reno dari ujung kerah kemeja gelap hingga ujung celana kainnya dengan tatapan meremehkan. "Pintu utama ini khusus untuk tamu undangan VIP dan para kolektor terhormat," lanjut petugas itu dengan nada kaku dan ketus. "Aku datang ke sini untuk menghadiri lelang, bukan untuk mengagumi seragam safari kotormu," sahut Reno santai tanpa menurunkan pandangannya. Vanya melipat kedua tangannya di depan dada, menyunggingkan senyuman geli melihat sikap penjaga pintu tersebut. "Rupanya kamu tidak memeriksa kartu undangan sebelum memutuskan siapa yang bole

  • Suami Terbuang Ternyata Penguasa    Pakaian Sederhana Sang Penguasa

    "Jaringan balai lelang internasional mana yang kamu maksud, Albert?" tanya Reno seraya melirik layar monitor di hadapannya. "Crown Heritage Group, konsorsium lelang barang antik tertua yang berpusat di Jenewa, Tuan Reno," jawab Albert seraya memperbesar bagan kepemilikan modal. Vanya mencondongkan badannya ke depan meja, mengamati diagram perusahaan yang terpampang jelas di layar. "Tunggu dulu, bukankah Crown Heritage Group itu salah satu entitas yang diakuisisi R.E. Corporation dua tahun lalu di Swiss?" tanya Vanya seraya melirik Reno dengan senyuman penuh arti. "Tepat sekali, Nona Vanya," sahut Albert seraya mengangguk mantap. "Tuan Muda Julian dan keluarga Mahendra memang menyewa tiga puluh persen saham ruangannya, tapi hak kelola, izin lelang, dan seluruh kurator utamanya berada langsung di bawah kendali kantor Jenewa," lanjut sang asisten pribadi. Reno menyandarkan punggungnya ke kursi seraya menyeruput sisa kopi hitamnya. "Jadi Julian menyewa aula milik anak perusah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status