共有

Bab 24. Membuntuti Istri

last update 公開日: 2025-07-31 10:50:59

Insting Denzel yang sudah terasah dengan baik segera bekerja ketika bahaya sedang mengancam dirinya. Lemparan belati yang dilakukan Stefano dari arah belakang tubuhnya dengan refleks dapat ia elakan dengan sedikit memiringkan tubuh, lalu ia menangkap benda tajam itu dengan tangan kanannya.

Stefano dibuat melongo tak percaya menyadari lemparannya dapat dibaca oleh Denzel.

Denzel membalikan tubuh, lalu menatap nyalang ke arah Stefano sambil mengacungkan pisau belati di tangannya.

Dalam situa
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Suami Bisu Sang Pelindung Nomor Satu   Bab 166. Kemenangan Sempurna Sang Pelindung (TAMAT)

    Tepat pukul 09.00 pagi, pelataran Balai Kota tampak tidak seperti biasanya. Ratusan awak media dari berbagai stasiun televisi nasional maupun internasional telah memadati area press conference. Puluhan kamera dengan lensa panjang berjajar rapi, lampu-lampu sorot menyala terang, menciptakan panggung yang begitu kontras dengan dunia bawah tanah yang biasa Denzel selami. Ketegangan terasa di udara, sebuah antisipasi besar atas pengumuman yang akan mengubah peta politik ibu kota.Gubernur Aryha melangkah keluar dari pintu besar aula utama dengan langkah tegap. Di belakangnya, tampak seorang ajudan mengenakan setelan jas hitam slim-fit yang sangat elegan, dipadukan dengan kemeja putih bersih dan dasi berwarna biru navy. Denzel berjalan dengan postur yang sangat tenang, meski di dalam batinnya ia masih melakukan sinkronisasi dengan energi di sekitarnya. Sorot mata ungunya yang redup tertutup sempurna oleh ekspresi wajahnya yang profesional dan berwibawa.Gubernur Aryha berdiri di depan mikr

  • Suami Bisu Sang Pelindung Nomor Satu   Bab 165. Menanam Benih Harapan di Ambang Fajar

    Malam semakin larut, namun kantuk seolah enggan menyapa kelopak mata Denzel. Jam dinding digital di sudut kamar menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Suasana hening, hanya suara dengung halus pendingin ruangan yang membelah kesunyian. Denzel berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang gelap, namun pikirannya justru sedang riuh rendah. Bayangan podium Balai Kota, sorot kamera wartawan, hingga dokumen-dokumen negara yang harus ia tandatangani besok pagi berputar-putar seperti pusaran air.Menjadi Wakil Gubernur bukan sekadar mengganti setelan jaket taktis Unit X dengan jas formal. Bagi Denzel, ini adalah pengabdian yang akan menyita seluruh privasinya. Ia memikirkan bagaimana rakyat Jakarta akan memandangnya, bagaimana Manuel akan mencoba merusak reputasinya dari balik jeruji besi, dan yang paling utama, bagaimana ia bisa tetap menjadi suami yang baik bagi Vionka di tengah kesibukan politik yang gila.Vionka, yang sejak tadi menyadari kegelisahan suaminya, perlahan memiringkan tu

  • Suami Bisu Sang Pelindung Nomor Satu   Bab 164. Restu yang Menguatkan Langkah

    Malam telah jatuh sepenuhnya di langit ibu kota, namun bagi Denzel, kegelapan kali ini tidak lagi terasa seperti tempat persembunyian. Jam dinding di ruang tamu kediamannya menunjukkan pukul 21.30 WIB. Suasana di luar rumah tampak tenang, hanya deru angin malam yang sesekali menggoyahkan dahan pohon kamboja di halaman. Namun, di dalam mansion, atmosfer terasa begitu padat. Kabar mengenai keputusan Gubernur Aryha untuk menunjuk Denzel sebagai Wakil Gubernur yang baru telah menjadi getaran hebat yang merambat di antara orang-orang terdekatnya.Denzel duduk di sofa panjang, masih mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Di hadapannya, Vionka duduk dengan secangkir greentea yang sudah mulai mendingin. Denzel baru saja menyelesaikan ceritanya—tentang mandat yang diberikan Paman Aryha beberapa jam yang lalu di kediaman pribadinya, sebuah tawaran yang tidak mungkin ditolak jika ia ingin benar-benar mencabut akar kejahatan Manuel hingga ke dasar-dasarnya."Jadi, ini sudah

  • Suami Bisu Sang Pelindung Nomor Satu   Bab 163. Mandat di Bawah Langit Gerimis

    Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kamar Denzel dengan lembut, seolah ingin menghapus sisa-sia ketegangan dari pertempuran batin di wihara Sunyi semalam. Denzel duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan wajah Vionka yang masih tertidur lelap dengan napas yang teratur. Sebuah ketenangan yang sangat mahal harganya. Namun, ketenangan itu terusik ketika ponsel di atas nakas bergetar pelan.Nama Gubernur Aryha muncul di layar. Denzel menghela napas, menyadari bahwa meskipun masalah mistis telah reda, pusaran politik Jakarta tidak pernah benar-benar berhenti berputar."Halo, Pak Aryha?" sapa Denzel dengan suara rendah agar tidak membangunkan istrinya."Denzel, syukurlah kamu mengangkatnya. Aku sudah mendengar laporan dari Unit X tentang Jaya dan keselamatan Vionka. Aku benar-benar lega," suara Aryha terdengar berat, ada kelegaan sekaligus kelelahan yang nyata di sana. "Maafkan aku, rencana pertemuan kita kemarin di Balai Kota harus dibatalkan. Situasi pasca-penyanderaan di Bank Sentr

  • Suami Bisu Sang Pelindung Nomor Satu   Bab 162. Fajar di Ujung Ketegangan

    Sisa-sisa energi hitam yang menyelimuti wihara perlahan memudar, tersapu oleh angin laut yang kini terasa lebih bersahabat. Di atas tanah yang retak, Jaya tergeletak tak berdaya, seluruh kesaktiannya telah dicabut paksa oleh Cakra Bumi. Tim taktis Unit X bergerak cepat melakukan evakuasi, namun di tengah hiruk-pikuk itu, Denzel justru terpaku menatap satu pemandangan yang menurutnya jauh lebih menghibur daripada kemenangan batin mana pun.Cakrha masih duduk bersimpuh, bahunya yang terluka naik-turun menahan isak tangis yang belum sepenuhnya reda. Wajahnya yang gempal sudah berantakan oleh campuran debu, peluh, dan air mata yang mengering. Laura di sampingnya masih sibuk memegang tisu, sementara Vionka yang sudah berada di pelukan Denzel hanya bisa tersenyum lemah melihat tingkah sahabat suaminya itu.Denzel berdehem pelan, mencoba menyembunyikan senyum jahil yang mulai merekah di sudut bibirnya. "Cak, air laut di bawah sana sudah asin, jangan ditambah lagi dengan air matamu. Bisa-bisa

  • Suami Bisu Sang Pelindung Nomor Satu   Bab 161. Runtuhnya Keangkuhan Jaya

    Jaya menghentakkan tongkatnya ke tanah, memicu gelombang gempa batin yang membuat lantai wihara retak. Denzel melompat mundur, namun ia terpeleset oleh serpihan batu. Di detik yang sangat sempit itu, Jaya melepaskan pukulan Tapak Sukma Hitam tepat ke arah dada Denzel.DUAARR!Tubuh Denzel terlempar sejauh lima meter, menghantam tiang penyangga wihara hingga hancur. Denzel jatuh tersungkur di tanah yang dingin. Bajunya robek, dan darah segar mengalir dari sudut bibirnya serta luka di lengannya. Ia mencoba bangkit, namun tangannya bergetar hebat, lalu ia kembali jatuh dengan napas yang tersengal-sengal. Pusaka Cakra Bumi terlepas dari genggamannya, menggelinding menjauh ke arah kegelapan.Melihat hal itu, Cakrha yang berjaga di area bawah tidak bisa lagi menahan diri. Mengabaikan perintah Denzel, ia berlari mendaki tebing dengan sisa tenaganya, diikuti oleh Laura yang menjerit histeris."DOKTER! DENZEL!" teriak Cakrha.Cakrha jatuh berlutut di samping tubuh Denzel yang tak berdaya. Ia m

  • Suami Bisu Sang Pelindung Nomor Satu   Bab 107. Tamparan di Lorong Sepi

    Suasana cafe semakin ramai, namun perhatian Denzel dan Vionka terpaku pada satu titik. Saat Stefano berbisik mesra ke telinga Tasya lalu pamit menuju toilet, Denzel memberikan kode halus kepada Bella. Wanita itu mengangguk tipis, meletakkan gelas minumannya, dan berjalan tenang mengikuti arah Stefa

  • Suami Bisu Sang Pelindung Nomor Satu   Bab 106. Umpan Untuk Si Hidung Belang

    Suasana di halaman villa masih riuh dengan tawa Hilmawan dan obrolan ringan Stefano, namun bagi Denzel dan Vionka, udara malam itu tiba-tiba terasa mencekik. Mereka saling pandang dengan sorot mata yang sama-sama cemas.Vionka meremas jemarinya di bawah meja. Ia teringat betapa liciknya Stefano beb

  • Suami Bisu Sang Pelindung Nomor Satu   Bab 105. Benih Harapan

    Suara desah napas yang memburu perlahan menyatu dengan keheningan kamar villa yang sejuk. Malam itu, bukan sekadar penyatuan raga bagi Denzel dan Vionka, melainkan sebuah ikatan janji yang baru. Penantian sepuluh tahun Denzel untuk kembali bersuara, dan penantian Vionka untuk menemukan sosok lelaki

  • Suami Bisu Sang Pelindung Nomor Satu   Bab 104. Bercinta Sepenuh Hati

    Hilmawan tetap pada keinginannya, uang hasil lelang batu giok itu seluruhnya ia serahkan pada Denzel, tanpa dipotong sedikitpun.“Kerja keras dan usahamu untuk membantuku mengembalikan nama Precious dalam kompetisi ini jauh lebih berharga dari uang 1 miliar. Bahkan kamu sampai bersedia meninggalkan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status