LOGIN"Aku sama Baskara udah dengar dari dokter tentang keadaan ibu." Kedua tangan Mas Rendra saling menggenggam, kilat matanya seperti ada kegugupan. "Kita harus mengikhlaskan Ibu," ujarnya dengan suara berat. "Dokter sudah bilang, gak ada harapan lagi."
"Gak, Mas. Aku gak setuju. Ibuk masih bernapas, jantungnya masih berdetak. Kita gak boleh menyerah."Ibu sedang dalam keadaan kritis dan sel kanker sudah menyerang ke seluruh organ. Dokter sudah angkat tangan dengan keadaan ibu sekarang. Kemungkinan untuk sadar sangatlah kecil. Dokter sudah menyarankan untuk mengikhlaskan ibu dengan melepas semua peralatan medis yang terpasang. Tapi aku masih punya harapan. Harapan ibu bisa sadar kembali dan bisa melihat cucunya yang sudah lama ia nanti. "Nara, apa kamu tega melihat Ibuk terus menderita seperti ini?" timpal Mas Baskara. "Kita harus membiarkan Ibuk pergi dengan tenang." "Menderita? Kalian pikir Ibuk menderita karena alat-alat ini? Ibuk menderita kalau kita menyerah pada"Aku sama Baskara udah dengar dari dokter tentang keadaan ibu." Kedua tangan Mas Rendra saling menggenggam, kilat matanya seperti ada kegugupan. "Kita harus mengikhlaskan Ibu," ujarnya dengan suara berat. "Dokter sudah bilang, gak ada harapan lagi." "Gak, Mas. Aku gak setuju. Ibuk masih bernapas, jantungnya masih berdetak. Kita gak boleh menyerah."Ibu sedang dalam keadaan kritis dan sel kanker sudah menyerang ke seluruh organ. Dokter sudah angkat tangan dengan keadaan ibu sekarang. Kemungkinan untuk sadar sangatlah kecil. Dokter sudah menyarankan untuk mengikhlaskan ibu dengan melepas semua peralatan medis yang terpasang. Tapi aku masih punya harapan. Harapan ibu bisa sadar kembali dan bisa melihat cucunya yang sudah lama ia nanti. "Nara, apa kamu tega melihat Ibuk terus menderita seperti ini?" timpal Mas Baskara. "Kita harus membiarkan Ibuk pergi dengan tenang." "Menderita? Kalian pikir Ibuk menderita karena alat-alat ini? Ibuk menderita kalau kita menyerah pada
Aroma disinfektan yang bercampur dengan bau obat-obatan terasa menyesakkan dan menusuk hidungku. Di ruang ICU yang serba putih ini, aku duduk di samping ranjang ibu. Jari-jemariku terus menggenggam erat tangan keriput ibu yang dipenuhi selang infus. Monitor di samping ranjang berkedip-kedip, menampilkan garis hidup yang naik turun, satu-satunya tanda bahwa ibu masih berjuang.Keadaan ibu masih belum membaik bahkan setelah dua hari berlalu. Segala perlengkapan medis sudah terpasang di sekujur tubuhnya tapi ibu masih belum juga siuman. "Ibuk..." bisikku lirih. Suaraku tercekat oleh air mata yang hendak keluar.Kupandangi wajah ibu yang sekarang tanpa makeup. Nampak rapuh dan pucat tapi kecantikannya tak dapat pudar. Bodohnya bapak yang telah tega menduakanmu, Buk. Berbagai kilasan kenangan menyerbu benakku. Ibu yang mengajariku memasak, memarahiku saat belum mandi dan selalu ada untuk menghapus air mataku saat aku terluka. Ibu adalah pahlawan dalam hidupku, wanita t
Lantai rumah sakit yang dingin seolah menyerap seluruh kehangatan tubuhku. Aku duduk di kursi tunggu depan ruang ICU dengan meremas kedua tangan. Lampu merah di atas pintu ICU berkedip-kedip, menambah kecemasanku. Sudah hampir dua jam ibu berada di dalam sana, dan belum ada kabar baik. Pikiranku terus melayang pada ucapan ibu. Selama beberapa hari ibu menginap, ibu selalu berpesan padaku untuk menjaga diri dan akur dengan kedua masku tersayang, Mas Rendra dan Mas Baskara. Kata-kata itu kini terngiang pilu di telingaku. Air mata kembali menggenang di pelupuk mata. Aku sudah berusaha menahan isak tangis, tapi rasanya sungguh susah sekali. Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki mendekat. Saat mendongak, aku terkejut melihat sosok tegap yang berdiri di hadapanku. Mas Edgar, berdiri di depanku dengan mata sayu. "Mas Edgar? Kok Mas ada di sini? Bukankah Mas sedang dirawat di Surabaya?" tanyaku, menatap ke arahnya tak percaya. Mas Edgar mendekat dan memelukku erat. "Aku dengar kabar
"Sebenarnya aku cukup syok mendengarnya, Julia. Banyak hal yang selama ini Nadya pendam dariku," kataku sambil memainkan ujung bajuku dengan satu tangan. "Tapi apapun itu, aku gak masalah selama dia tenang dan bahagia. Lalu bagaimana dengan progres penyembuhannya?" tanyaku."Rasa trauma yang dirasakan Nadya kemarin sudah hampir seluruhnya hilang, Nara. Daniel cukup kooperatif dalam membantu dan menemani masa penyembuhan Nadya. Mungkin itu yang membuat Nadya yakin kalau Daniel memang tulus padanya dan memutuskan untuk membiarkan Daniel terus ada di sisinya," kata Julia."Benar begitu? Kalau iya, aku benar-benar lega, Jul. Itu berarti Daniel memang tanggung jawab dan Nadya tidak lagi merasa trauma. Terus kata Mas Baskara, dia akan menikahkan Nadya dan Daniel. Bagaimana menurutmu, Julia?""Kalau kulihat-lihat, sepertinya Nadya gak merasa terbebani dengan saran masmu.""Berarti menurutmu oke-oke saja?" Entah kenapa aku masih merasa berat untuk menikahkan Nadya. Dari apa
Hari-hariku semakin berwarna karena setiap hari memakan masakan ibu yang sudah lama tidak aku rasakan. Kulihat wajahnya juga semakin ceria sejak sering berkutat dalam dapur bersama Mbok Sum dan lainnya.Memang, sejak dulu ibu paling suka memasak dan berkutat di dapur sampai kesenangan ibu itu bisa membuatnya sukses membuka restoran. Tapi karena faktor usia, akhirnya restoran di Solo ibu jual dan yang meneruskan bakat ibu adalah Mas Baskara.Sayangnya Mas Baskara harus gulung tikar karena ditipu seorang teman. Tapi aku yakin sebentar lagi Mas Baskara akan bangkit kembali setelah semua masalah terselesaikan karena jiwanya menjadi pebisnis.Sebelum sarapan, aku duduk di ruang tamu sambil santai menunggu ibu dan yang lain sedang mempersiapkan makanan.Saat aku sedang fokus menonton televisi, ponselku yang ada di atas meja berdering panjang. Aku mengecek di layar, itu panggilan dari Mas Baskara. Akhirnya dia menghubungiku setelah beberapa hari tidak ada kabar. Aku sangat
Aku sudah berjanji pada ibu untuk tidak nangis atau syok saat mendengar penjelasan dokter tentang penyakit ibu. Tapi kenyataannya, saat hari datang dan aku menemani ibu menemui dokter untuk memeriksakan keadaannya, kedua lututku lemas dan sekujur tubuhku bergetar.Mati-matian aku berusaha menahan air mata karena teringat janjiku padanya.Dokter bilang kalau sel kanker ibu sudah ganas, sudah menjalar ke seluruh organ vital yang membuat kemungkinan ibu untuk sembuh semakin mengecil.Sepanjang perjalanan pulang aku hanya terdiam sambil menahan agar air mata tak lekas keluar, otakku sibuk memikirkan segala hal. Begitupun dengan ibu. Sepertinya ibupun juga sama terkejutnya dengan aku. Baru sesampainya di rumah dan masuk kamar, air mataku langsung luruh dan aku terduduk di depan pintu dengan putus asa.Aku teringat saat hendak keluar, dokter berkata padaku, "Usia ibumu mungkin tidak akan lagi lama, daripada menyuruhnya melakukan kemoterapi dan pengobatan menyiksa lai







