Share

Bab 4

Author: Yesi
Saat aku tiba di rumah, Kian kebetulan baru saja keluar dari kamar sambil membawakan cangkir air jahe.

Hatiku perlahan tenggelam ke dasar jurang, tetapi aku tidak menanyainya, mengapa dia tiba-tiba bisa memasak?

Bulan lalu, saat aku merayakan ulang tahun ketiga puluh, aku sampai memohon kepada Kian untuk memasakkan semangkuk mi panjang umur untukku.

Dia langsung menolakku mentah-mentah tanpa memberi sedikit pun kesempatan untuk bernegosiasi.

"Aku nggak bisa memasak."

Wajah Kian menunjukkan ekspresi canggung yang jarang terlihat. Dia berkata, berusaha mencari alasan untuk memperbaiki keadaan.

"Wina dan Gavin kehujanan, aku takut mereka masuk angin makanya membuat air jahe."

"Di panci masih ada, apa kau mau?"

Aku melirik ke arah dapur, di dalam panci hanya tersisa irisan jahe pedas dan air cucian panci.

"Nggak."

Gavin mendengus sinis, lalu membongkar kenyataan yang sebenarnya.

"Ayah memang sama sekali nggak masak buat Ibu. Ayah pernah berjanji cintanya cuma untukku dan Bibi."

Meskipun aku terus meyakinkan diriku sendiri bahwa aku sudah tidak peduli lagi pada Kian, hatiku tetap terasa sakit tanpa bisa kukendalikan.

"Kenapa kakimu terluka?"

Napas Kian sempat tertahan sejenak, lalu pergi ke ruang tamu untuk mencari kotak obat.

Aku belum memaafkannya karena telah meninggalkanku di tengah hujan lebat, jadi aku tidak mau menerima kebaikannya.

Saat aku hendak mengatakan bahwa aku baik-baik saja, kedua kakiku justru terasa perih seperti digigit semut.

Dengan ekspresi jijik, Kian menutupi hidung dan mulutnya, lalu menyemprotkan cairan disinfektan secara berlebihan.

"Wina lagi nggak sehat, kakimu yang luka pasti bawa banyak kuman ke rumah."

"Kalau sampai dia sakit, aku yang harus menemani dan merawatnya."

Setiap perkataannya terasa seperti hantaman palu berat yang menghancurkan hatiku berkeping-keping.

Aku terpaku di tempat, menyaksikan Kian menyemprotkan cairan desinfektan tiga kali dan menggunakan alkohol sebanyak lima kali. Setelah itu, dia melemparkan satu set pakaian steril kepadaku.

Wina menyesap air jahe sedikit demi sedikit, lalu mengangkat cangkirnya untuk bersulang dengan Gavin sambil tersenyum puas.

Tiba-tiba dia berlari masuk ke kamar dan mengeluarkan beberapa kamera.

"Kak, tolong kasih aku satu kameramu, ya. Besok pas naik pesawat, aku ingin mengambil foto-foto yang bagus."

Kamera-kamera itu hampir selalu menemaniku menjelajahi seluruh belahan bumi utara, semuanya adalah sahabat yang tak sanggup kulepaskan.

"Nggak boleh."

Wina cemberut dengan sedih, air matanya langsung berlinang.

Kian menatapku dengan kesal, lalu memasukkan semua kamera ke dalam pelukan Wina.

"Kalau mau, ambil saja. Paling-paling aku belikan yang baru buat kakakmu."

Wina langsung berhenti menangis dan kembali tersenyum, lalu dengan gembira melompat ke pelukan Kian.

Dia berpikir sejenak, lalu berkata sambil menunjuk kamera dengan desain paling baru.

"Kak, aku ambil yang ini saja. Kalau diambil semua, kakak pasti sedih."

Kian tersenyum tipis.

"Wina memang baik hati."

Aku menatap kamera di pelukan Wina. Pada badan kamera itu masih terukir inisial namaku dan Kian.

Dia sudah lupa bahwa kamera itu adalah hadiah pernikahan yang diberikannya padaku dulu.

Namun, mungkin ini juga lebih baik. Karena sudah ada yang mengambilnya, aku tak perlu repot-repot membuangnya sendiri.

Gavin menyeringai jahat ke arahku, lalu dengan sengaja mendorong semua kamera lain yang berada di atas meja hingga jatuh.

Suara benturan keras terdengar. Kamera-kamera itu hancur berkeping-keping, bahkan kartu memorinya pun terlepas dan berhamburan.

Pikiranku mendadak kosong, aku berjongkok untuk memunguti semua bagian yang berserakan, lalu berkali-kali menekan tombol kamera dengan panik, tetapi tetap tidak bisa menyalakannya.

Impian dan hal yang paling kucintai telah dihancurkan menjadi tumpukan barang rongsokan oleh orang-orang terdekatku sendiri.

Kepalaku mendadak terasa sangat pusing hingga terbentur sudut meja. Rasa sakit membuatku tak sanggup bangkit.

Kian menghela napas pasrah, lalu menendang pelan betisku sambil bertanya.

"Itu kan cuma beberapa kamera rusak saja? Memangnya perlu sampai berpura-pura menyedihkan begitu?"

"Kalau sudah puas berpura-pura, bangunlah dan kemasi barang-barangmu. Pesawat kita besok pagi jam sembilan."

Setelah berkata begitu, dia membawa Wina dan Gavin kembali ke kamar untuk beristirahat.

Aku terbaring di lantai yang dingin, butuh waktu lama untuk mengumpulkan tenaga, sebelum akhirnya aku memaksakan diri untuk bangkit.

Dari kamar tidur terdengar suara Gavin yang sedang bermanja-manja.

"Bibi dan Ayah, temani aku tidur."

Aku memandangi kekacauan di lantai, lalu mengambil ponsel cadangan untuk menghubungkannya ke mesin cetak, dan mencetak surat perjanjian perceraian.

Setelah membubuhkan tanda tangan, aku meletakkan surat itu di atas meja.

Lampu kamar tidur dimatikan, tak ada yang peduli dengan keberadaanku.

Aku mengambil semua dokumen pentingku, lalu pergi tanpa suara.

Rumah yang bukan lagi milikku, suami dan anak yang tak lagi menganggapku bagian dari hidup mereka, semuanya kulepaskan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami dan Anakku Lebih memilih Adikku   Bab 10

    Kian masih saja tidak mau pergi. Dia tetap berjaga di depan pintu kamarku tanpa bergeming sedikit pun.Aku mengunduh foto-fotoku dan mengirimkan karya untuk kompetisi.Selama setengah bulan menunggu hasil kompetisi, Gavin mengirimkan sebuket bunga setiap hari.Sedangkan Kian, dia menghabiskan banyak uang untuk menyalakan kembang api selama setengah bulan.Kembang api yang gemerlap menerangi separuh langit, namun tak lagi mampu menerangi masa depan aku dan Kian.Setiap kali pertunjukan kembang api berakhir, ada kata yang akan muncul di langit."Maafkan aku."Pemilik penginapan itu menyesap minumannya sambil mendorong sepiring kacang ke arahku."Aksi sebesar ini bahkan lebih meriah daripada saat dia mengejarmu dulu. Apa kau benar-benar nggak tergerak sedikit pun?"Aku melirik pria di luar jendela yang terus menanti dengan penuh harap, lalu mengambil kamera di sampingku."Nggak sama sekali. Sekarang, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.""Aku nggak mau lagi terjebak di dapur, terjebak

  • Suami dan Anakku Lebih memilih Adikku   Bab 9

    Penata rias itu sangat terampil, dia mengoleskan riasan dengan lembut di wajahku.Sambil menatap wajahku yang perlahan tampak semakin cantik di cermin, tanpa sadar aku teringat pada diriku sepuluh tahun lalu, ketika masih polos tanpa riasan dan meringkuk dalam pelukan Kian.Dia mencium bibirku dan berjanji akan tetap mencintaiku apa pun perubahan yang terjadi pada diriku.Namun, seiring berjalannya waktu, Kian mulai mencela penampilanku yang berantakan. Sebaliknya, dia memuji Wina yang pandai berdandan, masih muda, dan cantik.Demi pemotretan gaun pengantin di Danau Erana, setiap minggu aku menyempatkan diri pergi ke klinik kecantikan dan mengikuti sesi privat Pilates, berharap bisa menjadi sedikit lebih cantik demi mempertahankan hati Kian.Aku mengambil kamera dan memotret momen ketika penata rias mengenakan kerudung pengantin di kepalaku.Entah dari mana mereka mendapat kabar, Kian dan Gavin menyusulku sampai ke butik pengantin.Saat mereka masuk, aku sedang berdiri di bawah sorotan

  • Suami dan Anakku Lebih memilih Adikku   Bab 8

    Dengan mata memerah, Kian berjalan menghampiriku, lalu memelukku erat-erat.Beberapa tetes air mata dingin mengalir ke lekukan leherku. Dia menggesekkan wajahnya ke leherku dengan menyedihkan."Sayang, kita jangan bercerai, ya?"Gavin mendekat dan menggenggam tanganku. Dengan mata berkaca-kaca, dia memohon kepadaku."Ibu, jangan tinggalkan aku dan Ayah."Selama penerbangan menuju Erana, aku sempat membayangkan bagaimana reaksi Kian dan Gavin setelah menyadari kepergianku.Mereka pasti mengira aku hanya sedang merajuk, berusaha menarik perhatian mereka.Aku benci sikap acuh tak acuh mereka, membenci ketidakpahaman mereka terhadap diriku, dan membenci keberpihakan mereka kepada Wina.Awalnya aku mengira, saat bertemu kembali dengan Kian dan Gavin, aku akan memaki mereka habis-habisan dan menyuruh mereka keluar dari kehidupanku.Tetapi sekarang, hatiku tak bergelora sama sekali, seolah-olah mereka hanyalah orang asing bagiku.Air mata Kian membasahi kerah bajuku. Dengan kesal, aku mendoro

  • Suami dan Anakku Lebih memilih Adikku   Bab 7

    Setibanya di Danau Erana, aku langsung menuju penginapan yang sudah dipesan sebelumnya.Pemiliknya adalah penggemar beratku, dia bahkan sudah datang ke bandara untuk menjemputku.Dia melirik ke arah belakangku, lalu bertanya dengan heran."Kenapa suami dan anakmu nggak ikut datang?""Bukannya kalian sudah berjanji untuk pemotretan foto pernikahan di Danau Erana untuk merayakan ulang tahun pernikahan yang kesepuluh?"Aku tersenyum tipis sambil menjelaskan dengan suara pelan."Kami berencana bercerai."Pemilik penginapan itu berseru, "Hah!" dengan tidak percaya, lalu kembali bertanya."Dulu, Kian rela menghamburkan banyak uang untuk mengejarmu. Pada bulan ketika kau menerima pernyataan cintanya, setiap malam ada pertunjukan dron di Danau Erana yang menaburkan kelopak mawar.""Dia bahkan pernah berlutut di depan gunung bersalju dan bersumpah nggak akan pernah mengecewakanmu seumur hidupnya. Bagaimana bisa kalian sampai di titik perceraian seperti ini?"Cinta kami dulu memang begitu mengge

  • Suami dan Anakku Lebih memilih Adikku   Bab 6

    Punggung Kian perlahan membungkuk saat dia membuka surat perjanjian cerai itu.Di bagian tanda tangan, nama Wulan tertulis dengan rapi.Hatinya seolah terjatuh ke dalam lubang es, dan seketika menyadari betapa seriusnya pertengkaran kali ini.Wina terbangun dalam keadaan lapar, lalu membuka pintu kamar dan keluar."Apakah kakakku sudah membereskan barang-barang kita? Suruh dia memasak mi saja. Kita makan dulu sebelum berangkat."Biasanya, setelah dia berkata begitu, Kian akan langsung menyuruh Wulan melakukannya, dan Gavin juga akan mendesak Wulan dengan nada tidak sabaran.Namun hari ini, ayah dan anak itu sama sekali tidak menanggapinya.Wina mengernyitkan dahi dan tanpa sadar mulai mengeluh."Kak Kian, kau dengar nggak? Aku lapar."Di benak Kian terlintas bayangan Wulan yang setiap pagi berusaha keras untuk menyiapkan sarapan.Wina sangat pemilih soal makanan, mi harus yang dibuat dengan tangan, dan pangsit dengan kulit yang baru digiling.Wulan selalu mengalami insomnia. Baru tidur

  • Suami dan Anakku Lebih memilih Adikku   Bab 5

    Saat sinar matahari yang menyilaukan menerpa mata, Kian tanpa sadar mendorong orang yang berada di sampingnya."Wulan, tolong tutup tirainya."Aroma asing merangsang indranya hingga dia seketika tersadar sepenuhnya.Kian menoleh ke arah Wina yang terbaring di sampingnya, lalu dengan panik menyingkap selimut.Dia masih mengenakan pakaian, sedangkan Wina juga masih memakai piyama. Dia tidak melakukan sesuatu yang mengkhianati Wulan.Gavin terbangun karena keributan itu, tetapi masih enggan bangun dan meringkuk kembali ke dalam pelukan Wina."Ibu, aku masih mau tidur sebentar lagi."Namun, seketika itu juga, matanya membelalak saat melihat Wina di hadapannya, lalu tiba-tiba menangis keras."Kenapa Bibi yang ada di sini?"Wina merasa terganggu oleh kebisingan itu, lalu menendang Gavin hingga terjatuh dari tempat tidur.Kian terlambat mengulurkan tangannya, sehingga hanya bisa menyaksikan Gavin terjatuh ke lantai, hingga dahinya langsung membengkak dan memerah.Dengan perasaan iba, dia meng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status