แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Ayusitha
Terutama Kenny, dia membuka mulutnya dan air mata mengalir turun tak terkendali. "Papa ...."

Mungkin kata itu menyentuh hati Refal. Dia mengerutkan kening. Hawa dingin di matanya bahkan lebih menusuk daripada angin dan salju. "Bicaralah, kali ini apa lagi tujuanmu? Mau uang atau mau rumah?"

Tangan Kenny yang terkulai sudah mengepal erat, tetapi dia tidak berani membantah.

Dulu, dia pernah mengatakan pada Refal bahwa Saskia menindasnya. Namun, Saskia hanya menangis dua kali dan sudah membuat Refal percaya bahwa akulah yang cemburu karena dia bersikap baik pada Saskia. Katanya aku menghasut anakku untuk memfitnah Saskia.

Waktu itu, Refal mengurungku di ruang bawah tanah selama satu minggu penuh, sementara Kenny juga mengalami mimpi buruk pada masa itu.

Mengingat hal itu, Kenny tak bisa menahan diri untuk menggigil. Dia menunduk dan berkata pelan, "Papa, aku nggak bisa bangunin Mama. Papa bisa kasih aku pena bulu itu nggak?"

Jantung Refal berdegup kencang. Dia refleks bertanya, "Apa maksudmu nggak bisa dibangunkan? Bukankah ibumu cuma mendonorkan 400 cc ...."

"Refal!" Saskia segera memotong ucapannya.

Refal menoleh. Wajahnya penuh keterkejutan. "Ada apa?"

Merasakan tatapan penuh tanya dari pria itu, tubuh Saskia menegang. Kemudian, dia mengalihkan topik dengan kaku. "Hari ini malam tahun baru. Kalau Kenny pulang terlalu malam, Kak Maudy pasti akan khawatir. Cuma pena bulu, cepat kasih ke dia. Jangan ganggu mereka merayakan tahun baru."

Benar saja, perhatian Refal segera teralihkan. Ekspresinya pun melunak. "Saskia, kamu masih sebaik ini. Kalau begitu, Kenny, ikut aku."

Rombongan itu masuk ke vila. Di bawah cahaya lampu yang terang, luka di wajah anak itu tampak semakin mengerikan.

Putri Saskia berjalan mendekat. Dia menatap Kenny yang tampak berantakan, lalu bertanya dengan rasa ingin tahu, "Om Refal, ini siapa? Pengemis ya? Kotor sekali!"

Ucapan polos anak kecil itu membuat wajah Kenny langsung memerah. Dia menatap Refal dengan tatapan memelas, berharap pria itu mau menjelaskan sesuatu, tetapi Refal justru seperti tersulut oleh sesuatu. Dia menatap Kenny dengan jijik.

"Begini caranya ibumu mengajarimu supaya orang kasihan sama kamu? Kamu kira dengan membuat dirimu terlihat lebih menyedihkan, aku akan melunak? Konyol sekali."

Seiring kata-kata pria itu dilontarkan, rona merah di wajah anak itu perlahan menghilang, digantikan oleh kepucatan yang jelas dan rapuh. Dia berpikir ayahnya benar-benar tidak menyayanginya lagi.

Kenny mengusap air mata di wajahnya. Saat mengangkat kepala kembali, Refal sudah naik ke lantai atas. Yang tersisa hanya Saskia yang menatapnya dengan penuh kemenangan dan mata penuh rasa kasihan.

"Tsk, tsk, tsk, kasihan sekali. Bahkan papamu pun nggak menginginkanmu lagi. Gimana kalau kamu panggil aku Mama? Aku akan dengan terpaksa membiarkanmu tinggal dan jadi anjing peliharaanku. Gimana?"

"Jangan mimpi!" Kenny mengepalkan tangan kecilnya erat-erat. Matanya memerah. Tubuhnya sampai bergetar karena marah.

"Kamu bukan mamaku! Aku hanya punya satu mama, namanya Maudy, bukan kamu! Jangan terlalu senang dulu. Setelah mamaku bangun, dia pasti akan membantuku balas dendam!"

Kenny menggertakkan gigi. Suaranya begitu teguh. Namun, aku justru merasa sakit sampai hampir tak bisa bernapas.

Aku tak berani membayangkan jika anak itu tahu bahwa aku tidak akan pernah bangun lagi, betapa hancurnya dia nanti. Bagaimana dia harus menghadapi badai di masa depan? Dia baru enam tahun.

Air mata mengaburkan pandanganku, sementara emosi Saskia benar-benar tersulut. Dia memutar bola matanya. Saat melirik Refal yang sedang turun dari lantai atas, dia tiba-tiba meraba saku, lalu berteriak dengan panik, "Ponselku mana? Ponselku hilang."

Saskia meraba seluruh tubuhnya dengan cemas, lalu pandangannya akhirnya tertuju pada Kenny. Sudut bibirnya sedikit terangkat. "Kenny, kamu yang mencuri ponselku?"

Anak itu terkejut dan segera membantah, "Nggak, bukannya ponselmu ...."

Plak! Sisa kata-kata itu terhenti di mulut Kenny.

Refal memegang pena bulu di satu tangan, sementara tangan lainnya menunjuk wajah Kenny yang merah dan bengkak karena tamparan. Matanya dipenuhi kekecewaan.

"Aku sudah tahu kamu kembali dengan niat jahat! Dulu ibumu memanfaatkanmu untuk memfitnah Saskia. Sekarang malah berani mencuri barang orang lain! Gimana bisa aku punya anak sepertimu?"
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Suami yang Jahat, Ayah yang Buruk   Bab 10

    "Bu Saskia, Anda terlibat dalam kasus kekerasan terhadap anak dan pembunuhan. Silakan ikut kami ke kantor polisi untuk menjalani penyelidikan."Saskia tertegun. Matanya seketika memerah. "Apa yang kalian bicarakan? Aku hanya latihan drama dengan putriku di kamar. Tadi itu semua cuma dialog. Apa kalian salah dengar?"Dengan panik, dia menoleh ke arah Refal. Sambil menangis, dia berkata, "Refal, cepat bantu aku jelaskan. Kamu tahu sendiri, aku bahkan nggak berani membunuh ayam. Mana mungkin berani membunuh orang? Pasti ada kesalahpahaman."Melihat sikapnya yang tampak lemah dan menyedihkan itu, Refal justru merasa mual. Dia tidak pernah menyangka bahwa kemampuan akting perempuan ini bisa sehebat ini.Dia sama sekali tidak seperti Maudy. Tidak, bahkan jari kakinya pun tidak pantas dibandingkan dengan Maudy.Saat memikirkanku, kebencian di mata Refal semakin dalam. "Saskia, beraninya kamu menipuku!"Dia mengulurkan tangan dan mencekik leher Saskia dengan keras. Suaranya dingin hingga menus

  • Suami yang Jahat, Ayah yang Buruk   Bab 9

    "Aku jelas sudah bilang ke dokter hanya ambil 400 cc, mana mungkin jadi 2.000 cc?" Mata Refal memerah. Dengan tidak percaya, dia berkata, "Kamu bohong padaku, pasti bohong!"Kemudian, dia tersenyum sinis dan bergumam pada dirinya sendiri, "Aku tahu sekarang, kamu bukan polisi sungguhan. Kamu pasti orang yang Maudy suruh untuk berpura-pura.""Dia bayar kamu berapa untuk sandiwara ini? Katakan, dia bayar kamu berapa? Berapa?"Richard menggeleng dan berkata, "Percaya atau nggak, inilah kenyataannya. Pak Refal, silakan ikut kami ke kantor polisi."Selesai berbicara, dia mengeluarkan borgol dari dadanya, bersiap menangkap Refal.Refal masih tidak percaya dan melawan dengan keras.Namun, kepala pelayan seolah-olah teringat sesuatu. Wajahnya langsung pucat pasi. "Mungkinkah itu ...."Refal terdiam. Matanya merah seakan-akan bisa meneteskan darah. "Apa Paman tahu sesuatu?"Richard juga segera menoleh ke arah kepala pelayan dan bertanya, "Apa yang kamu tahu?"Kepala pelayan mengatupkan bibir, l

  • Suami yang Jahat, Ayah yang Buruk   Bab 8

    Anakku ketakutan dan bersembunyi ke dalam pelukanku, lalu bertanya dengan tidak percaya, "Mama, dia benar-benar ibu kandung Kak Nicole?"Melihat tatapan bingung anakku, aku sempat terdiam. Namun, aku kembali dikejutkan oleh tindakan Saskia.Melihat Nicole tidak berani berbicara, amarah Saskia langsung memuncak. Dia langsung menjulurkan tangan dan mencubit keras bagian dalam paha Nicole.Sambil mencubit, dia memaki, "Perempuan jalang, selalu gagal dan cuma merusak urusan! Aku sudah mengusir Maudy dan anak haram itu selama berhari-hari, tapi kamu belum juga berhasil mengait hati Refal si bodoh itu!""Bukankah kamu paling suka menggoda pria? Kenapa justru gagal di saat seperti ini? Kalau saja kamu benar-benar bisa membuat Refal melupakan anak haram itu, aku nggak akan setakut ini. Semua ini salahmu!"Setiap kali Saskia mengucapkan satu kalimat, dia akan mencubit Nicole dengan keras, seolah-olah ingin meluapkan semua ketidakpuasannya ke tubuh Nicole.Sementara itu, Nicole tampak sudah terb

  • Suami yang Jahat, Ayah yang Buruk   Bab 7

    "Selain itu, mengenai jenazah Nyonya, ada beberapa hal yang ingin polisi tanyakan kepada Tuan."Refal menunduk, menatap anak dalam pelukannya yang tampak seolah-olah hanya tertidur. Dadanya terasa seperti dilubangi, angin dingin terus menerpa tanpa henti.Namun, akal sehatnya mengatakan bahwa menyembunyikan penyebab kematian anaknya adalah pilihan yang benar.Saskia juga buru-buru membujuk, "Refal, yang dikatakan kepala pelayan itu benar. Walaupun kamu nggak sengaja, keadaannya sudah seperti ini. Lebih baik cepat sembunyikan Kenny."Refal menatap Saskia dengan tatapan kosong. Suaranya serak. "Saskia, aku telah membunuh Kenny dan bahkan menyembunyikannya. Dia nggak akan memaafkanku."Di mata Saskia terlintas seberkas ketidaksabaran, tetapi dia segera kembali berpura-pura lembut. "Mana mungkin? Kenny itu anak yang paling penurut. Dia pasti bisa memahami kesulitanmu dan nggak akan marah padamu. Refal, tenang saja."Kenny mencibir. Tatapannya penuh rasa muak. "Aku nggak akan memaafkannya!"

  • Suami yang Jahat, Ayah yang Buruk   Bab 6

    Hari itu setelah mendengar kata-kata itu, aku berdiri di balkon, membiarkan angin menerpaku sepanjang malam. Aku mengerti, dia sudah tidak mencintaiku lagi.Kenangan berhenti sampai di situ. Refal masih belum sepenuhnya pulih dari kesedihan ketika Saskia tak kuasa menahan diri untuk bertanya lagi."Refal, ada apa denganmu? Kamu lagi mikirin siapa? Kak Maudy ya?"Saskia tersenyum tipis. Kilatan dingin melintas di matanya. "Kalau dipikir-pikir, aneh juga. Kenny sudah seperti ini, kenapa Kak Maudy masih belum muncul? Kalaupun mau memakai anak untuk berebut perhatian, ini sudah keterlaluan ...."Refal tertegun sejenak, lalu tiba-tiba teringat ucapan kepala pelayan itu bahwa Kenny sudah pingsan. Jiwanya terguncang hebat. Dia berdiri, mendorong Saskia, lalu berlari ke luar.Saskia terkejut oleh gerakannya. Dia hendak berbicara, tetapi pria itu sudah berlari menuruni tangga. Dia pun mengerutkan kening dan segera menyusul.Namun, saat sampai di bawah, dia terkejut oleh pemandangan di depan mat

  • Suami yang Jahat, Ayah yang Buruk   Bab 5

    Refal seketika berdiri, gerakannya yang begitu cepat sontak membuat kursi yang didudukinya terdorong ke belakang hingga terbalik dan terjatuh ke lantai dengan keras, menimbulkan suara menggelegar.Dalam keadaan panik, Refal hampir menempelkan ponsel ke mulutnya dan bertanya dengan suara keras, "Rumah kontrakan apa? Kamu siapa? Lelucon ini sudah keterlaluan!"Pihak di seberang tampaknya sudah sangat terbiasa dengan situasi seperti ini. Mendengar pertanyaan pria itu, emosinya sama sekali tidak terpancing.Dengan nada tetap tenang dan sopan, dia berkata, "Pak Refal, mohon tenang. Kami dari kepolisian kota. Satu jam yang lalu, kami menerima laporan bahwa dari sebuah rumah kontrakan tercium bau aneh. Setelah petugas datang ke lokasi, ditemukan mayat perempuan muda yang telah meninggal selama tiga hari.""Berdasarkan data identitas, kami memastikan bahwa jenazah tersebut adalah mantan istri Anda, Bu Maudy. Menurut keterangan tetangga, di sisi Bu Maudy ada seorang anak laki-laki berusia enam

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status