แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Ayusitha
Dia menoleh dan melirik Refal yang sama sekali tidak tahu apa-apa. Hati yang sempat menegang pun menjadi lebih rileks. Saat menoleh kembali, yang tersisa di wajahnya hanyalah rasa jengkel.

"Apa ibumu yang nggak tahu malu itu yang menyuruhmu datang? Dia nggak bilang padamu kalau ini sudah bukan rumahmu lagi? Cepat pergi, dasar anak haram!"

Kenny terkejut oleh niat jahatnya. Matanya langsung memerah. "Kamu bohong! Mamaku bukan orang yang nggak tahu malu! Kamu wanita jahat! Aku mau ketemu Papa!"

Dia menatap Saskia dengan marah, seperti anak sapi yang sedang mengamuk.

Saskia mencibir. Saat tak ada yang memperhatikan, dia mendorong Kenny dengan keras. Kenny yang lengah pun menghantam keras gerbang besi dengan dahinya, menimbulkan bunyi nyaring.

"Siapa di sana?" Jantung Refal berdegup kencang saat bertanya demikian.

Dengan gugup, Saskia menutup mulut anak itu, lalu asal menimpali beberapa kalimat. "Nggak apa-apa, cuma kucing. Cuacanya dingin, kamu bawa Nicole masuk saja dulu."

Setelah pria itu pergi, Saskia langsung mencubit tubuh Kenny dengan keras. Tatapannya kejam saat berkata, "Anak haram, kamu memang sama seperti ibumu, cuma tahu mencelakaiku."

Kenny terus meronta, darah bercampur air mata mengalir bersamaan.

"Cih!" Saskia meludah ke arah Kenny, lalu melemparkannya ke atas salju. "Menjijikkan."

Kenny bangkit dan terus berteriak, "Kamu yang menjijikkan! Wanita jahat! Aku mau ketemu Papa! Biarkan aku bertemu Papa!"

Saskia mencibir. Sepatu sol merah dengan hak setinggi sepuluh sentimeter miliknya sontak menendang lubang anjing di pintu gerbang yang khusus dibuat untuk hewan peliharaan. Tatapannya penuh ejekan. "Kalau kamu mau merangkak lewat lubang anjing ini, aku akan membawamu menemui papamu. Gimana?"

Aku berdiri di samping, menatap Saskia dengan tajam. Mataku hampir berdarah. Bagaimana dia berani melakukan itu? Bagaimana dia berani menghina anakku seperti ini?

Rasa sakit hati dan amarah hampir menyapu habis akal sehatku. Aku melambaikan tangan dengan panik ke arah anakku, ingin dia menolak. "Mama sudah mati. Mama nggak butuh kamu melakukan sebanyak ini demi Mama. Kenny, pergilah, pulanglah."

Kenny mengangkat kepala. Pandangannya menembusku dan mengarah ke vila yang ramai di kejauhan. "Kamu janji?"

Saskia tertegun sejenak, lalu tertawa sampai membungkuk. Dia tampak sangat gembira. "Tentu saja."

Kenny menggigit bibirnya. Dengan tubuh gemetar, dia berlutut dan merangkak melewati lubang anjing itu dengan kaku.

Sambil merangkak, dia juga terus menenangkan diri sendiri, "Kenny, nggak apa-apa. Jangan nangis. Kamu harus membangunkan Mama."

Namun, air mata itu tetap tak terkendali dan jatuh membasahi kerah bajunya.

Saskia mengeluarkan ponselnya dan merekam semua ini. Kegembiraan dan kepuasan di matanya hampir meluap. "Kenny memang anak baik. Anak Maudy memang rendahan. Ayo, gonggong satu kali seperti anjing, biar Tante senang."

Saat dia sedang bersenang-senang, tiba-tiba terdengar suara yang sulit ditebak antara marah dan senang dari belakang. "Kamu ngapain?"

Ekspresi Saskia berubah panik. Dia buru-buru menjatuhkan ponselnya ke tanah, mengangkat anak itu, lalu menepuk-nepuk tanah di tubuhnya. "Nggak apa-apa, Kenny mencarimu. Aku temani dia main sebentar."

"Oh ya?" Refal merasa agak aneh, tetapi Saskia segera mengalihkan perhatiannya.

"Refal, di luar sangat dingin. Ayo kita bawa Kenny masuk. Jangan sampai anak ini masuk angin." Saskia mengerutkan kening. Wajahnya penuh kasih sayang.

Kenny mengangkat kepala, memperlihatkan luka di wajahnya, berusaha mencari sedikit rasa iba di wajah Refal. Dia berharap ayahnya bisa seperti dulu, memeluknya dan menenangkannya.

Namun, Refal hanya melirik sekilas luka di wajah anak itu. Pandangannya berhenti sejenak, lalu membawa amarah yang tak terucap. "Begini cara Maudy jadi ibu? Dulu memanfaatkan anak untuk berebut perhatian saja sudah cukup, sekarang malah memakai sandiwara penderitaan."

"Dia kira dengan begini aku akan merasa kasihan? Hmph, jangan mimpi!"

Dia lalu menoleh ke Saskia. Nadanya penuh rasa sayang. "Saskia, kamu terlalu baik hati, makanya terus-menerus dimanfaatkan orang yang punya niat tersembunyi."

Mendengar itu, aku dan anakku sama-sama tertegun.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Suami yang Jahat, Ayah yang Buruk   Bab 10

    "Bu Saskia, Anda terlibat dalam kasus kekerasan terhadap anak dan pembunuhan. Silakan ikut kami ke kantor polisi untuk menjalani penyelidikan."Saskia tertegun. Matanya seketika memerah. "Apa yang kalian bicarakan? Aku hanya latihan drama dengan putriku di kamar. Tadi itu semua cuma dialog. Apa kalian salah dengar?"Dengan panik, dia menoleh ke arah Refal. Sambil menangis, dia berkata, "Refal, cepat bantu aku jelaskan. Kamu tahu sendiri, aku bahkan nggak berani membunuh ayam. Mana mungkin berani membunuh orang? Pasti ada kesalahpahaman."Melihat sikapnya yang tampak lemah dan menyedihkan itu, Refal justru merasa mual. Dia tidak pernah menyangka bahwa kemampuan akting perempuan ini bisa sehebat ini.Dia sama sekali tidak seperti Maudy. Tidak, bahkan jari kakinya pun tidak pantas dibandingkan dengan Maudy.Saat memikirkanku, kebencian di mata Refal semakin dalam. "Saskia, beraninya kamu menipuku!"Dia mengulurkan tangan dan mencekik leher Saskia dengan keras. Suaranya dingin hingga menus

  • Suami yang Jahat, Ayah yang Buruk   Bab 9

    "Aku jelas sudah bilang ke dokter hanya ambil 400 cc, mana mungkin jadi 2.000 cc?" Mata Refal memerah. Dengan tidak percaya, dia berkata, "Kamu bohong padaku, pasti bohong!"Kemudian, dia tersenyum sinis dan bergumam pada dirinya sendiri, "Aku tahu sekarang, kamu bukan polisi sungguhan. Kamu pasti orang yang Maudy suruh untuk berpura-pura.""Dia bayar kamu berapa untuk sandiwara ini? Katakan, dia bayar kamu berapa? Berapa?"Richard menggeleng dan berkata, "Percaya atau nggak, inilah kenyataannya. Pak Refal, silakan ikut kami ke kantor polisi."Selesai berbicara, dia mengeluarkan borgol dari dadanya, bersiap menangkap Refal.Refal masih tidak percaya dan melawan dengan keras.Namun, kepala pelayan seolah-olah teringat sesuatu. Wajahnya langsung pucat pasi. "Mungkinkah itu ...."Refal terdiam. Matanya merah seakan-akan bisa meneteskan darah. "Apa Paman tahu sesuatu?"Richard juga segera menoleh ke arah kepala pelayan dan bertanya, "Apa yang kamu tahu?"Kepala pelayan mengatupkan bibir, l

  • Suami yang Jahat, Ayah yang Buruk   Bab 8

    Anakku ketakutan dan bersembunyi ke dalam pelukanku, lalu bertanya dengan tidak percaya, "Mama, dia benar-benar ibu kandung Kak Nicole?"Melihat tatapan bingung anakku, aku sempat terdiam. Namun, aku kembali dikejutkan oleh tindakan Saskia.Melihat Nicole tidak berani berbicara, amarah Saskia langsung memuncak. Dia langsung menjulurkan tangan dan mencubit keras bagian dalam paha Nicole.Sambil mencubit, dia memaki, "Perempuan jalang, selalu gagal dan cuma merusak urusan! Aku sudah mengusir Maudy dan anak haram itu selama berhari-hari, tapi kamu belum juga berhasil mengait hati Refal si bodoh itu!""Bukankah kamu paling suka menggoda pria? Kenapa justru gagal di saat seperti ini? Kalau saja kamu benar-benar bisa membuat Refal melupakan anak haram itu, aku nggak akan setakut ini. Semua ini salahmu!"Setiap kali Saskia mengucapkan satu kalimat, dia akan mencubit Nicole dengan keras, seolah-olah ingin meluapkan semua ketidakpuasannya ke tubuh Nicole.Sementara itu, Nicole tampak sudah terb

  • Suami yang Jahat, Ayah yang Buruk   Bab 7

    "Selain itu, mengenai jenazah Nyonya, ada beberapa hal yang ingin polisi tanyakan kepada Tuan."Refal menunduk, menatap anak dalam pelukannya yang tampak seolah-olah hanya tertidur. Dadanya terasa seperti dilubangi, angin dingin terus menerpa tanpa henti.Namun, akal sehatnya mengatakan bahwa menyembunyikan penyebab kematian anaknya adalah pilihan yang benar.Saskia juga buru-buru membujuk, "Refal, yang dikatakan kepala pelayan itu benar. Walaupun kamu nggak sengaja, keadaannya sudah seperti ini. Lebih baik cepat sembunyikan Kenny."Refal menatap Saskia dengan tatapan kosong. Suaranya serak. "Saskia, aku telah membunuh Kenny dan bahkan menyembunyikannya. Dia nggak akan memaafkanku."Di mata Saskia terlintas seberkas ketidaksabaran, tetapi dia segera kembali berpura-pura lembut. "Mana mungkin? Kenny itu anak yang paling penurut. Dia pasti bisa memahami kesulitanmu dan nggak akan marah padamu. Refal, tenang saja."Kenny mencibir. Tatapannya penuh rasa muak. "Aku nggak akan memaafkannya!"

  • Suami yang Jahat, Ayah yang Buruk   Bab 6

    Hari itu setelah mendengar kata-kata itu, aku berdiri di balkon, membiarkan angin menerpaku sepanjang malam. Aku mengerti, dia sudah tidak mencintaiku lagi.Kenangan berhenti sampai di situ. Refal masih belum sepenuhnya pulih dari kesedihan ketika Saskia tak kuasa menahan diri untuk bertanya lagi."Refal, ada apa denganmu? Kamu lagi mikirin siapa? Kak Maudy ya?"Saskia tersenyum tipis. Kilatan dingin melintas di matanya. "Kalau dipikir-pikir, aneh juga. Kenny sudah seperti ini, kenapa Kak Maudy masih belum muncul? Kalaupun mau memakai anak untuk berebut perhatian, ini sudah keterlaluan ...."Refal tertegun sejenak, lalu tiba-tiba teringat ucapan kepala pelayan itu bahwa Kenny sudah pingsan. Jiwanya terguncang hebat. Dia berdiri, mendorong Saskia, lalu berlari ke luar.Saskia terkejut oleh gerakannya. Dia hendak berbicara, tetapi pria itu sudah berlari menuruni tangga. Dia pun mengerutkan kening dan segera menyusul.Namun, saat sampai di bawah, dia terkejut oleh pemandangan di depan mat

  • Suami yang Jahat, Ayah yang Buruk   Bab 5

    Refal seketika berdiri, gerakannya yang begitu cepat sontak membuat kursi yang didudukinya terdorong ke belakang hingga terbalik dan terjatuh ke lantai dengan keras, menimbulkan suara menggelegar.Dalam keadaan panik, Refal hampir menempelkan ponsel ke mulutnya dan bertanya dengan suara keras, "Rumah kontrakan apa? Kamu siapa? Lelucon ini sudah keterlaluan!"Pihak di seberang tampaknya sudah sangat terbiasa dengan situasi seperti ini. Mendengar pertanyaan pria itu, emosinya sama sekali tidak terpancing.Dengan nada tetap tenang dan sopan, dia berkata, "Pak Refal, mohon tenang. Kami dari kepolisian kota. Satu jam yang lalu, kami menerima laporan bahwa dari sebuah rumah kontrakan tercium bau aneh. Setelah petugas datang ke lokasi, ditemukan mayat perempuan muda yang telah meninggal selama tiga hari.""Berdasarkan data identitas, kami memastikan bahwa jenazah tersebut adalah mantan istri Anda, Bu Maudy. Menurut keterangan tetangga, di sisi Bu Maudy ada seorang anak laki-laki berusia enam

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status