Home / Rumah Tangga / Suamiku Absurd tapi Bikin Cinta / BAB 4: GARIS STERIL DAN TEH TANPA PASA

Share

BAB 4: GARIS STERIL DAN TEH TANPA PASA

Author: Dominus
last update publish date: 2026-10-02 11:57:41

Kilatan lampu kamera jurnalis meledak di sekitar kami, mengabadikan momen spontan yang pasti menjadi berita utama esok pagi. Di hadapan kami, Rendy berdiri mematung. Wajahnya yang semula penuh kepuasan kini pucat pasi dengan bibir mengap bagai Kodok kehabisan pasokan oksigen.

"Tuduhan tidak berdasar dari pihak Synergy Group ini membuktikan betapa frustrasinya pesaing bisnis kami," suara Arlan menggema tenang menguasai deretan mikrofon. "Saya dan Maya tidak membutuhkan pembuktian di atas lembar hukum untuk menunjukkan komitmen kami. Selamat malam."

Tanpa memberi ruang pertanyaan bagi jurnalis, Arlan melingkarkan jemarinya di pinggangku, menuntunku melangkah memasuki Grand Ballroom. Suasana di dalam sangat megah dengan lampu gantung kristal dan alunan musik klasik. Namun, baru beberapa langkah berjalan, kakiku yang lecet akibat sepatu hak tinggi tujuh sentimeter mendadak oleng.

Glek!

Tubuhku hampir terjungkal jika Arlan tidak sigap menahan siku lenganku.

"Jaga keseimbanganmu," tegurnya kaku. "SOP Pasal 12 Ayat 4: Pendamping CEO dilarang jatuh tersungkur di atas karpet karena dapat menurunkan indeks citra korporat sebesar lima persen."

Aku mendongak, menatapnya tajam. "Kamu pikir kakiku terbuat dari lempengan baja?! Sepatu ini rasanya seperti menjepit seluruh jari kakiku!"

"Tahan," bisik Arlan tanpa mengubah ekspresi. "Gunakan metode 'Senyum Tipe B' delapan puluh persen ramah, dua puluh persen wibawa."

"Senyum Tipe B?! Memangnya mukaku ini spesifikasi kendaraan?!" batinku menjerit gemas.

Dari sudut ruangan, Rendy menyusup masuk dengan mata merah padam penuh kebencian. Dia melangkah cepat seolah hendak memprotes secara terbuka. Namun, Arlan hanya memberi sinyal kecil pada dua petugas keamanan berbadan tegap.

"Amankan tamu terlampir dari Synergy Group," gumam Arlan dingin. "Pastikan dia menikmati hidangan di luar area ballroom."

Aku menahan tawa melihat Rendy yang gelagapan saat dadanya dihalangi dua satpam berotot lalu diseret keluar dari area pesta. Rasa puas sedikit mengobati rasa sakit menyengat di kaki kananku.

Seorang pria paruh baya berambut perak mendekati kami. "Ah, Arlan! Jadi ini wanita anggun yang membuatmu mendadak membatalkan seluruh agenda blind date dewan komisaris minggu lalu?"

"Benar, Pak Broto," jawab Arlan formal, merekatkan pegangannya di jemariku. "Ini Maya, tunangan saya."

"Selamat malam, Pak Broto," sapaku memoles 'Senyum Tipe B' ala Arlan. "Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda."

"Wah, sangat ramah dan berwibawa," puji Pak Broto terkekeh. "Pandai sekali kau memilih calon istri, Arlan. Sangat hangat dan tidak kaku seperti berkas dokumen auditmu."

Arlan hanya berdeham kaku. Setelah berbincang singkat selama sepuluh menit demi memenuhi standar formalitas korporat, Arlan menarik tanganku melangkah keluar. "Tugas kehadiran terpenuhi. Kita pulang."

Begitu pintu sedan mewah Pak Joko tertutup rapat dan mobil meluncur membelah kegelapan malam, aku langsung menepis tangan Arlan.

"Apa maksudmu tadi mencium pipiku di depan puluhan kamera jurnalis?!" seruku memegangi pipiku yang rasanya masih terbakar. "Di dalam dokumen kontrak kita, tidak ada pasal yang mengizinkanmu mencium pipiku di depan kamera, ya!"

Arlan mengelap jemarinya dengan tisu steril secara tenang. "Pasal 3 Ayat 2: Dalam situasi krisis yang mengancam kredibilitas Devan Corp, pihak pertama berhak mengambil tindakan darurat untuk mengamankan narasi publik."

"Itu bukan tindakan darurat! Itu namanya pelecehan berkedok SOP!" balasku tidak terima.

Dari kursi pengemudi, Pak Joko melirik lewat kaca spion tengah sambil tersenyum geli. "Nyonya Maya harap sabar... Pak Arlan kalau lagi panik bukannya jantungan, tapi malah otomatis hafal seluruh pasal. Tapi tindakan tadi itu rekor baru, lho. Biasanya Pak Arlan selalu menjaga jarak aman minimal satu meter dari wanita."

"Pak Joko, fokus menyetir dan matikan spion tengah," potong Arlan dingin, menatap lurus ke jendela luar. Namun, aku sempat menangkap rona kemerahan yang tak biasa merambat di ujung telinganya.

Tiga puluh menit berlalu hingga mobil berhenti di pelataran rumah megah milik Arlan. Rumah itu luas dan mewah, namun atmosfer di dalamnya terasa sepi dan dingin bagaikan museum kaca.

Begitu melangkah melewati pintu utama, aku disuguhi pemandangan heran. Di sepanjang lantai marmer, terdapat garis-garis pita pembatas berwarna kuning dan biru yang tertempel rapi.

"Pita kuning menandakan area umum, sedangkan pita biru khusus area privat saya," terang Arlan datar seraya melepas jas mewahnya. "Dan kau, Maya, dilarang keras melintasi garis pita biru tanpa instruksi tertulis dari saya."

Aku mengelus dada, berusaha menahan napas. "Ini rumah tempat tinggal atau area tempat kejadian perkara kepolisian, sih?"

Arlan membawaku menuju kamar utama. Ruangan itu sangat luas dengan tempat tidur king size di tengahnya. Namun, hal pertama yang dilakukan Arlan saat masuk adalah menarik lakban kertas steril dari sakunya, lalu menempelkannya persis membelah area kasur tepat di tengah-tengah.

"Ini pembatas SOP Pasal 8," ujar Arlan tanpa rasa bersalah. "Sisi kiri milikmu, sisi kanan milikku. Jika saat tidur jarimu melewati garis kertas ini sebesar satu sentimeter saja, kau akan dikenakan denda pemotongan uang saku sebesar lima ratus ribu rupiah."

"Apa?!" Pekikanku meledak seketika. Kakiku yang lecet makin terasa menyengat perih. "Kamu pikir aku sudi menyentuhmu saat tidur? Kamu itu sebenarnya manusia bernyawa atau patung es tanpa perasaan, sih?!"

"Saya hanya meminimalisir risiko penularan kuman dan menghindari kontak fisik tidak terjadwal," sahut Arlan tenang, lalu duduk di meja kerjanya.

Rasa lelah, sakit luar biasa di tumit kaki, serta luapan emosi seharian ini mendadak membuncah di dadaku. Luka lama akibat pengkhianatan Rendy kembali mencubit batin. Dulu, Rendy juga bersikap manis di depan orang lain, namun di belakang selalu memanfaatkan serta memeras keluargaku.

Aku melepas sepatu hak tinggi itu dengan kasar, melemparkannya ke sudut ruangan, lalu duduk di tepi kasur sambil memeluk kedua lututku erat-erat. Dinding pertahanan diri yang kupasang sok kuat akhirnya runtuh seketika.

"Jangan pernah pikir karena kamu punya uang dan menyelamatkan toko kue Ibu, kamu bisa memperlakukanku semena-mena!" teriakku dengan suara bergetar dan mata memerah menahan tangis. "Kalian para pria kaya itu sama saja! Menjijikkan! Penuh manipulasi dan cuma menjadikan wanita sebagai barang pajangan demi gengsi kalian!"

Aku sengaja melontarkan kata-kata tajam itu untuk memancing amarahnya. Aku ingin melihat Arlan membentak balik atau mengusirku, karena aku sudah terbiasa dengan kekasaran Rendy di masa lalu.

Namun, Arlan tidak membentak. Dia menghentikan ketikan jemarinya di laptop, berdiri perlahan, melangkah menuju lemari kecil, lalu mengambil cangkir keramik. Dengan gerakan tenang, Arlan menyeduh teh herbal hangat dari mesin pembuat minuman steril, lalu berjalan mendekat.

Dia berhenti tepat di depan garis pita kuning dan mengulurkan cangkir teh hangat itu padaku tanpa menyeberangi batas area.

"Minumlah," kata Arlan pelan. "Suaramu parau karena terus berteriak sejak di ballroom tadi."

Aku mematung menatap cangkir teh berasap itu. Tidak ada kilat amarah atau kebohongan di mata Arlan.

"Kau boleh membenciku karena pernikahan kontrak ini, Maya," ucap Arlan datar namun jujur. "Tapi jangan samakan saya dengan pria kodok itu. Saya membutuhkan pernikahan ini untuk posisi CEO, dan kau membutuhkan dana untuk ibumu serta toko kuemu. Ini kesepakatan bersih tanpa manipulasi."

Arlan meletakkan cangkir teh beserta sebuah salep kecil di meja samping kasur.

"Itu salep untuk lecet di tumitmu," tambahnya kaku seraya berbalik memunggungiku. "Tanpa kesediaanmu, saya tidak akan pernah menyentuhmu."

Seketika aku bungkam. Kata demi kata yang diucapkan Arlan meresap pelan ke dadaku. Pria ini memang kaku dan gila SOP, tapi tidak ada kebohongan di matanya. Rasa hangat yang asing menjalar di dadaku. Aku meraih cangkir teh itu dan menyesapnya perlahan.

Saat aku hendak mengucapkan terima kasih yang canggung, gawai Arlan di meja mendadak berdering nyaring.

Arlan berjalan cepat mengangkat teleponnya. Wajahnya mendadak berubah sangat serius.

"Apa maksudmu, Rian?" suara Arlan menajam dingin. "Rendy mencoba memblokir seluruh pasokan bahan baku kue milik Maya malam ini juga?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Absurd tapi Bikin Cinta   BAB 8: Insentif KPI dan Panggilan Darurat

    Arlan masih menatapku dengan wajah lempeng tanpa dosa, seolah baru saja menyelesaikan presentasi laporan keuangan bulanan, bukan mengusir ibu kandungnya sendiri dari penthouse.Arlan menggeser piring pancake-nya yang sudah bersih, lalu meraih ponselnya. Jarinya bergerak lincah di atas layar selama beberapa detik. Tak lama kemudian, ponsel di dalam saku rokku bergetar menyuarakan denting notifikasi perbankan.Aku merogoh saku, membuka kunci layar, dan seketika mataku membelalak lebar. Sebuah transferan dana masuk dalam jumlah yang sangat fantastis cukup untuk membayar cicilan operasional toko kueku selama tiga bulan ke depan."Arlan... ini uang apa?" tanyaku terbata-bata, menatap angka nol berderet di layar ponselku dengan pandangan tak percaya."Bonus insentif KPI," jawab Arlan tenang, merapikan letak jam tangan peraknya. "Berdasarkan SOP Rumah Tangga Devan Pasal Empat Ayat Dua, pencapaian Indikator Kinerja Utama yang melebihi target dalam situasi krisis berhak menerima insentif tunai

  • Suamiku Absurd tapi Bikin Cinta   BAB 7: Ujian Teh dan Biaya Kenyamanan

    Pertanyaan itu jelas sebuah tes berkelas. Nyonya Sofia ingin membuktikan apakah aku benar-benar memperhatikan detail kebiasaan Arlan atau sekadar formalitas.Sebelum Arlan sempat membacakan pasal-pasal SOP lainnya yang mungkin membuat ibunya makin emosi, aku dengan cepat melangkah keluar dari balik punggung lebarnya."Mohon tunggu sebentar, Ibu," ucapku dengan senyuman paling ramah dan sopan.Aku segera melangkah cepat menuju pantry dapur lantai satu. Sebagai seorang pembuat kue profesional yang terbiasa mengukur suhu lelehan cokelat dan ketepatan adonan hingga tingkat gram dan derajat terkecil, menyeduh teh dengan presisi tinggi bukanlah hal sulit. Bagi seorang baker, akurasi suhu adalah makanan sehari-hari.Aku menyalakan teko pemanas digital di pantry, mengatur suhunya tepat di angka delapan puluh lima derajat Celsius, lalu menyeduh daun teh Earl Grey pilihan. Tepat dalam waktu tiga menit empat puluh detik, aku kembali ke meja makan sambil membawa cangkir porselen putih berisi teh

  • Suamiku Absurd tapi Bikin Cinta   BAB 6: SOP Meja Makan Nyonya Sofia

    Keheningan di ruang makan lantai satu mendadak terasa begitu pekat. Pak Joko asisten rumah tangga Arlan baru saja mundur dua langkah setelah menata piring-piring di meja, ikut tertegun melihat kehadiran Nyonya Sofia yang mendadak. Nyonya Sofia masih menatap putranya dengan mata membelalak lebar, tak menyangka anak kandungnya sendiri pasang badan membela wanita biasa sepertiku di pukul setengah tujuh pagi ini.Aku sendiri masih berdiri kaku di balik punggung lebar Arlan. Tanganku meremas pinggiran rok formal yang kukenakan, sementara jantungku berdesir hebat menyaksikan pria kaku yang gila SOP ini begitu sigap melindungiku dari tatapan menghakimi ibunya.Arlan sama sekali tidak bergeser satu milimeter pun. Dengan tenang, ia mengisyaratkan Pak Joko untuk kembali ke area belakang, lalu mengeluarkan ponsel pintar dari saku jas mewahnya. Usapan jarinya dengan cepat membuka sebuah dokumen PDF bertajuk resmi."Ibu, mohon maaf jika saya harus memotong alur interogasi pagi ini," ucap Arlan dat

  • Suamiku Absurd tapi Bikin Cinta   BAB 5: AKUISISI KILAT PUKUL SEBELAS MALAM

    Pusing dan kantukku mendadak hilang tanpa sisa. Aku berdiri dari kasur, mengabaikan perih di tumitku. "Arlan, apa maksudnya? Toko kue Ibu punya kontrak bulanan dengan distributor terigu dan mentega di kota ini. Kalau diputus malam ini, besok toko kami tidak bisa beroperasi!"Arlan mengisyaratkan aku tenang dengan mengangkat tangannya. Wajahnya tetap datar. "Bicaralah dengan tenang, Rian," ujar Arlan pada ponselnya yang dipasang mode speaker. "Jelaskan urutan kejadiannya."Suara Rian terdengar panik. "Pak Arlan, setengah jam lalu Rendy mendatangi gudang PT Boga Nusantara. Dia menawarkan harga dua kali lipat untuk memborong seluruh stok tepung dan mentega pesanan Toko Kue Maya. Pemilik gudang tergiur dan berniat membatalkan pengiriman subuh besok."Darahku tersirap. Rendy benar-benar licik! Dia tahu Toko Kue Ibu punya pesanan ratusan kotak kue untuk katering besok siang. Jika bahan baku batal dikirim subuh nanti, toko kami kena denda penalti dan nama baik yang dibangun Ibu bertahun-tahu

  • Suamiku Absurd tapi Bikin Cinta   BAB 4: GARIS STERIL DAN TEH TANPA PASA

    Kilatan lampu kamera jurnalis meledak di sekitar kami, mengabadikan momen spontan yang pasti menjadi berita utama esok pagi. Di hadapan kami, Rendy berdiri mematung. Wajahnya yang semula penuh kepuasan kini pucat pasi dengan bibir mengap bagai Kodok kehabisan pasokan oksigen."Tuduhan tidak berdasar dari pihak Synergy Group ini membuktikan betapa frustrasinya pesaing bisnis kami," suara Arlan menggema tenang menguasai deretan mikrofon. "Saya dan Maya tidak membutuhkan pembuktian di atas lembar hukum untuk menunjukkan komitmen kami. Selamat malam."Tanpa memberi ruang pertanyaan bagi jurnalis, Arlan melingkarkan jemarinya di pinggangku, menuntunku melangkah memasuki Grand Ballroom. Suasana di dalam sangat megah dengan lampu gantung kristal dan alunan musik klasik. Namun, baru beberapa langkah berjalan, kakiku yang lecet akibat sepatu hak tinggi tujuh sentimeter mendadak oleng.Glek!Tubuhku hampir terjungkal jika Arlan tidak sigap menahan siku lenganku."Jaga keseimbanganmu," tegurnya

  • Suamiku Absurd tapi Bikin Cinta   BAB 3: GAUN MALAM DAN AKSI MESRA MENDADAK

    Melalui pantulan kaca depan toko, aku melihat Rendy di dalam mobilnya memegang ponsel. Pipinya mengembang bulat menyerupai siluman kodok yang siap meledak karena menahan cemburu. Dengusan napasku terlepas samar. Jika bukan karena keadaan darurat, mana sudi aku membiarkan patung es di belakangku ini memegang pinggangku seenak jidat.Begitu mobil Rendy melesat pergi, Arlan langsung melepaskan rangkulannya. Dia menyemprotkan cairan steril saku ke telapak tangannya seraya mengembaskan napas panjang."SOP Lampiran D terlaksana," kata Arlan dingin. "Ancaman intelijen pertama berhasil diminimalisir."Aku menepuk-nepuk bajuku dengan sengit. "Lain kali kalau mau peluk bilang dulu! Katanya ada pasal larangan kontak fisik tanpa SOP satu hari sebelumnya?!""Itu termasuk klausul keadaan darurat," sahutnya datar, seolah baru membaca pasal lalu lintas.Suara klakson mobil yang bernada halus terdengar dari luar. Sebuah sedan hitam mewah berhenti di depan toko. Dari pintu pengemudi, keluar seorang pri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status