LOGINPusing dan kantukku mendadak hilang tanpa sisa. Aku berdiri dari kasur, mengabaikan perih di tumitku. "Arlan, apa maksudnya? Toko kue Ibu punya kontrak bulanan dengan distributor terigu dan mentega di kota ini. Kalau diputus malam ini, besok toko kami tidak bisa beroperasi!"
Arlan mengisyaratkan aku tenang dengan mengangkat tangannya. Wajahnya tetap datar. "Bicaralah dengan tenang, Rian," ujar Arlan pada ponselnya yang dipasang mode speaker. "Jelaskan urutan kejadiannya."
Suara Rian terdengar panik. "Pak Arlan, setengah jam lalu Rendy mendatangi gudang PT Boga Nusantara. Dia menawarkan harga dua kali lipat untuk memborong seluruh stok tepung dan mentega pesanan Toko Kue Maya. Pemilik gudang tergiur dan berniat membatalkan pengiriman subuh besok."
Darahku tersirap. Rendy benar-benar licik! Dia tahu Toko Kue Ibu punya pesanan ratusan kotak kue untuk katering besok siang. Jika bahan baku batal dikirim subuh nanti, toko kami kena denda penalti dan nama baik yang dibangun Ibu bertahun-tahun akan hancur.
"Rendy benar-benar siluman kodok nggak punya otak!" makiku gemas dengan tangan mengepal. "Dia sengaja mau mematikan usahaku!"
Arlan menatap jam dinding kamar yang menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit. "Rian, siapa nama pemilik PT Boga Nusantara?" tanya Arlan datar.
"Bapak Sukirman, Pak."
"Aktifkan SOP Akuisisi Kilat Pasal 4," perintah Arlan santai. "Cari tahu apakah perusahaannya memiliki pinjaman aktif di Devan Bank."
Hening sejenak. Suara jemari Rian mengetik cepat di seberang sana. "Ada, Pak! PT Boga Nusantara baru mengajukan perpanjangan kredit lima belas miliar minggu lalu di Devan Bank, dan berkas persetujuannya ada di meja Anda."
Sudut bibir Arlan terangkat sangat tipis, dingin dan mengintimidasi. "Sempurna," sahut Arlan datar. "Telepon Sukirman sekarang. Beritahu dia, jika pengiriman bahan baku Toko Kue Maya terlambat satu menit saja subuh besok, persetujuan kredit lima belas miliarnya saya batalkan malam ini. Sekaligus masukkan perusahaannya ke daftar hitam Devan Corp."
Aku membelalakkan mata, terpaku mendengarkan instruksi tajam Arlan.
"Lalu untuk Rendy?" tanya Rian.
"Tawarkan dia bahan baku kedaluwarsa dari gudang luar kota dengan harga tiga kali lipat," jawab Arlan tenang. "Jika menolak, tuntut Synergy Group atas pelanggaran etika persaingan usaha esok pagi. Lakukan sekarang."
"Baik, Pak Arlan!" Sambungan telepon terputus.
Suasana kamar kembali hening. Aku berdiri kaku, menatap Arlan yang kembali mengetik di laptopnya seolah baru saja mengusir lalat, bukan menghancurkan sabotase bisnis dalam lima menit.
"Kamu... baru saja mengancam batalkan pinjaman lima belas miliar demi terigu toko kueku?" tanyaku terbata-bata.
"Bukan demi terigu, tapi demi mengamankan investasi saya," sahut Arlan kaku membetulkan kacamatanya. "SOP Pasal 2 Ayat 1: Toko kuemu adalah poin pendukung kesepakatan pernikahan ini. Jika usahamu bangkrut, emosimu terganggu dan memengaruhi penampilanku sebagai suami di hadapan publik."
Aku mengelus dada, menghembuskan napas antara ingin tertawa dan bersyukur. Pria ini benar-benar ajaib. Di saat pria lain memamerkan pahlawan kesiangan, Arlan membungkus kebaikannya dengan bahasa pasal dan SOP investasi yang dingin.
"Sekarang duduklah di kasur dan oleskan salep itu," tambah Arlan tenang. "Jangan biarkan tumitmu infeksi, saya tidak punya waktu mengantarmu ke rumah sakit besok."
Aku kembali duduk di kasur sisi kiri area privatku. Aku meraih tabung salep di sebelah cangkir teh hangat, lalu mengoleskannya pada tumitku. Rasa dingin sejuk meresap, mengusir perih yang menyengat sejak sore tadi.
"Arlan," panggilku pelan.
"Ya?" sahutnya tanpa memindahkan pandangan dari laptop.
"Terima kasih."
Jemari Arlan yang mengetik terhenti di udara. Dia tidak menoleh, tetapi aku melihat bahunya sedikit menegang kaku.
"Ucapan terima kasih tidak terdaftar dalam pasal," gumam Arlan datar, walau nadanya melunak. "Cukup pastikan kau bangun pukul enam pagi besok untuk sarapan bersama sesuai SOP."
Aku tersenyum tipis, menggelengkan kepala melihat tingkah ajaibnya. Aku meminum sisa teh herbal hingga tuntas, lalu merebahkan tubuhku. Malam itu, di rumah dingin bertabur pita pembatas, aku tidur sangat lelap tanpa rasa cemas.
Keesokan harinya, pukul setengah tujuh pagi.
Aku dan Arlan sudah rapi berbusana formal, duduk di meja makan lantai satu. Pak Joko menyajikan sarapan sehat bertaraf hotel bintang lima.
Tepat saat aku hendak menyuapkan roti panggang, ponselku berdering nyaring. Nama Pak Sukirman pemilik gudang bahan baku terpampang di layar. Aku langsung mengangkat dan memasang mode speaker.
"Halo, Pak Sukirman?"
"Mbak Maya! Saya mohon maaf sebesar-besarnya atas kejadian semalam!" suara Pak Sukirman terdengar sangat panik di seberang telepon. "Bahan baku tepung, mentega, dan seluruh pesanan Toko Kue Mbak Maya sudah sampai di gudang sejak jam lima subuh tadi! Bahkan saya tambahkan bonus dua karung gula pasir gratis!"
Aku melirik Arlan. Pria itu sangat tenang memotong sosis di piringnya menggunakan pisau dan garpu.
"Syukurlah, terima kasih, Pak Sukirman. Tapi bukannya semalam ada pihak lain yang mau memborong semuanya?" tanyaku berpura-pura tidak tahu.
"Jangan sebut pria bernama Rendy itu lagi, Mbak!" seru Pak Sukirman histeris. "Tadi subuh dia datang membawa koper uang untuk membatalkan pengiriman Mbak Maya, tapi langsung disergap tim pengacara Devan Corp! Sekarang pria itu ditahan polisi atas dugaan suap dan sabotase bisnis!"
Aku menahan napas, menatap Arlan yang santai menyesap kopi hitamnya. "Baiklah, Pak Sukirman. Terima kasih banyak," ucapku mengakhiri panggilan.
"Kamu benar-benar membuat Rendy membusuk di kantor polisi hari ini?" tanyaku takjub.
"Itu hanya konsekuensi hukum atas pelanggaran SOP persaingan sehat," sahut Arlan tenang.
Namun, sebelum aku sempat membalas, pintu depan rumah Arlan mendadak terbuka lebar tanpa diketuk. Suara langkah kaki berhak tinggi yang tegas menggema melintasi lantai marmer, memotong keheningan sarapan kami.
Seorang wanita paruh baya berbusana elegan dengan perhiasan berlian di lehernya melangkah masuk. Wajahnya sangat mirip dengan Arlan dingin, tegas, dan penuh wibawa mengintimidasi. Di belakangnya, dua pengawal pribadi membawakan beberapa koper.
Ibu kandung Arlan Nyonya Sofia Devan berdiri tegak di tepi pita kuning pembatas ruangan, menatap kami berdua dengan pandangan tajam.
"Arlan," suara Nyonya Sofia menggelegar dingin. "Ibu mendengar kau mendadak menikahi wanita kelas menengah dan membawanya tinggal di sini."
Arlan meletakkan cangkir kopinya, lalu berdiri tegap menghadap ibunya. "Ibu datang tanpa pemberitahuan tertulis," ujar Arlan datar.
"Ibu datang untuk memastikan apakah pernikahan ini nyata, atau sekadar drama konyolmu mengelabui dewan komisaris!" tegas Nyonya Sofia melangkah menyeberangi garis pita kuning tanpa ragu.
Nyonya Sofia menatap penampilan sederhanaku dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan. "Dan kau, gadis kecil," lanjut Nyonya Sofia dingin. "Kau pikir kau pantas menyanding anakku dan menikmati kekayaan keluarga Devan?"
Langkah Nyonya Sofia kian mendekat ke tempat dudukku. Suasana ruang makan seketika membeku.
Namun, sebelum ibu mertuaku sempat mengintimidasi lebih jauh, Arlan dengan cepat menggeser tubuhnya. Dia melangkah tegas, berdiri persis di depanku, membentengi tubuhku dari tatapan tajam ibunya.
"Ibu," potong Arlan dingin dengan suara penuh dominasi yang tak terbantahkan. "SOP Rumah Tangga Devan, Tidak ada seorang pun termasuk Ibu yang boleh mengintimidasi istri sah saya."
Nyonya Sofia membelalakkan mata, tak menyangka anak kandungnya sendiri pasang badan membela wanita biasa sepertiku. Aku tertegun di balik punggung lebar Arlan. Jantungku berdesir hebat menyaksikan pria gila SOP ini begitu sigap melindungiku.
Arlan masih menatapku dengan wajah lempeng tanpa dosa, seolah baru saja menyelesaikan presentasi laporan keuangan bulanan, bukan mengusir ibu kandungnya sendiri dari penthouse.Arlan menggeser piring pancake-nya yang sudah bersih, lalu meraih ponselnya. Jarinya bergerak lincah di atas layar selama beberapa detik. Tak lama kemudian, ponsel di dalam saku rokku bergetar menyuarakan denting notifikasi perbankan.Aku merogoh saku, membuka kunci layar, dan seketika mataku membelalak lebar. Sebuah transferan dana masuk dalam jumlah yang sangat fantastis cukup untuk membayar cicilan operasional toko kueku selama tiga bulan ke depan."Arlan... ini uang apa?" tanyaku terbata-bata, menatap angka nol berderet di layar ponselku dengan pandangan tak percaya."Bonus insentif KPI," jawab Arlan tenang, merapikan letak jam tangan peraknya. "Berdasarkan SOP Rumah Tangga Devan Pasal Empat Ayat Dua, pencapaian Indikator Kinerja Utama yang melebihi target dalam situasi krisis berhak menerima insentif tunai
Pertanyaan itu jelas sebuah tes berkelas. Nyonya Sofia ingin membuktikan apakah aku benar-benar memperhatikan detail kebiasaan Arlan atau sekadar formalitas.Sebelum Arlan sempat membacakan pasal-pasal SOP lainnya yang mungkin membuat ibunya makin emosi, aku dengan cepat melangkah keluar dari balik punggung lebarnya."Mohon tunggu sebentar, Ibu," ucapku dengan senyuman paling ramah dan sopan.Aku segera melangkah cepat menuju pantry dapur lantai satu. Sebagai seorang pembuat kue profesional yang terbiasa mengukur suhu lelehan cokelat dan ketepatan adonan hingga tingkat gram dan derajat terkecil, menyeduh teh dengan presisi tinggi bukanlah hal sulit. Bagi seorang baker, akurasi suhu adalah makanan sehari-hari.Aku menyalakan teko pemanas digital di pantry, mengatur suhunya tepat di angka delapan puluh lima derajat Celsius, lalu menyeduh daun teh Earl Grey pilihan. Tepat dalam waktu tiga menit empat puluh detik, aku kembali ke meja makan sambil membawa cangkir porselen putih berisi teh
Keheningan di ruang makan lantai satu mendadak terasa begitu pekat. Pak Joko asisten rumah tangga Arlan baru saja mundur dua langkah setelah menata piring-piring di meja, ikut tertegun melihat kehadiran Nyonya Sofia yang mendadak. Nyonya Sofia masih menatap putranya dengan mata membelalak lebar, tak menyangka anak kandungnya sendiri pasang badan membela wanita biasa sepertiku di pukul setengah tujuh pagi ini.Aku sendiri masih berdiri kaku di balik punggung lebar Arlan. Tanganku meremas pinggiran rok formal yang kukenakan, sementara jantungku berdesir hebat menyaksikan pria kaku yang gila SOP ini begitu sigap melindungiku dari tatapan menghakimi ibunya.Arlan sama sekali tidak bergeser satu milimeter pun. Dengan tenang, ia mengisyaratkan Pak Joko untuk kembali ke area belakang, lalu mengeluarkan ponsel pintar dari saku jas mewahnya. Usapan jarinya dengan cepat membuka sebuah dokumen PDF bertajuk resmi."Ibu, mohon maaf jika saya harus memotong alur interogasi pagi ini," ucap Arlan dat
Pusing dan kantukku mendadak hilang tanpa sisa. Aku berdiri dari kasur, mengabaikan perih di tumitku. "Arlan, apa maksudnya? Toko kue Ibu punya kontrak bulanan dengan distributor terigu dan mentega di kota ini. Kalau diputus malam ini, besok toko kami tidak bisa beroperasi!"Arlan mengisyaratkan aku tenang dengan mengangkat tangannya. Wajahnya tetap datar. "Bicaralah dengan tenang, Rian," ujar Arlan pada ponselnya yang dipasang mode speaker. "Jelaskan urutan kejadiannya."Suara Rian terdengar panik. "Pak Arlan, setengah jam lalu Rendy mendatangi gudang PT Boga Nusantara. Dia menawarkan harga dua kali lipat untuk memborong seluruh stok tepung dan mentega pesanan Toko Kue Maya. Pemilik gudang tergiur dan berniat membatalkan pengiriman subuh besok."Darahku tersirap. Rendy benar-benar licik! Dia tahu Toko Kue Ibu punya pesanan ratusan kotak kue untuk katering besok siang. Jika bahan baku batal dikirim subuh nanti, toko kami kena denda penalti dan nama baik yang dibangun Ibu bertahun-tahu
Kilatan lampu kamera jurnalis meledak di sekitar kami, mengabadikan momen spontan yang pasti menjadi berita utama esok pagi. Di hadapan kami, Rendy berdiri mematung. Wajahnya yang semula penuh kepuasan kini pucat pasi dengan bibir mengap bagai Kodok kehabisan pasokan oksigen."Tuduhan tidak berdasar dari pihak Synergy Group ini membuktikan betapa frustrasinya pesaing bisnis kami," suara Arlan menggema tenang menguasai deretan mikrofon. "Saya dan Maya tidak membutuhkan pembuktian di atas lembar hukum untuk menunjukkan komitmen kami. Selamat malam."Tanpa memberi ruang pertanyaan bagi jurnalis, Arlan melingkarkan jemarinya di pinggangku, menuntunku melangkah memasuki Grand Ballroom. Suasana di dalam sangat megah dengan lampu gantung kristal dan alunan musik klasik. Namun, baru beberapa langkah berjalan, kakiku yang lecet akibat sepatu hak tinggi tujuh sentimeter mendadak oleng.Glek!Tubuhku hampir terjungkal jika Arlan tidak sigap menahan siku lenganku."Jaga keseimbanganmu," tegurnya
Melalui pantulan kaca depan toko, aku melihat Rendy di dalam mobilnya memegang ponsel. Pipinya mengembang bulat menyerupai siluman kodok yang siap meledak karena menahan cemburu. Dengusan napasku terlepas samar. Jika bukan karena keadaan darurat, mana sudi aku membiarkan patung es di belakangku ini memegang pinggangku seenak jidat.Begitu mobil Rendy melesat pergi, Arlan langsung melepaskan rangkulannya. Dia menyemprotkan cairan steril saku ke telapak tangannya seraya mengembaskan napas panjang."SOP Lampiran D terlaksana," kata Arlan dingin. "Ancaman intelijen pertama berhasil diminimalisir."Aku menepuk-nepuk bajuku dengan sengit. "Lain kali kalau mau peluk bilang dulu! Katanya ada pasal larangan kontak fisik tanpa SOP satu hari sebelumnya?!""Itu termasuk klausul keadaan darurat," sahutnya datar, seolah baru membaca pasal lalu lintas.Suara klakson mobil yang bernada halus terdengar dari luar. Sebuah sedan hitam mewah berhenti di depan toko. Dari pintu pengemudi, keluar seorang pri







