Beranda / Rumah Tangga / Suamiku Bocil Tajir / Makan Malam di Luar

Share

Makan Malam di Luar

Penulis: fitosyin
last update Terakhir Diperbarui: 2023-11-11 22:53:20

“Kamu tidak keberatan kita satu kamar, kan?”

Atika tahu Elang tidak bertanya, sebaliknya pria itu hanya menegaskan apa keinginannya.

“Terserah, aku gak peduli,” jawab Atika masih sambil menaruh pakaian yang ia bawa dari rumah ke dalam lemari yang besarnya hampir memenuhi satu sisi dinding kamar.

“Kalau bukan karena alasan sentimental, kamu boleh membuang baju-baju itu. Sepertinya mereka terlalu kontras dengan baju yang disiapkan Om Ardian,” kata Elang saat Atika terdiam menatap isi lemari mereka.

Sudah tiga kali Atika terlihat tak nyaman begitu menginjakkan kaki di rumah pemberian ayah Elang. Pertama, ketika Rika, kepala asisten rumah tangga menyambut mereka di halaman tadi. Atika hampir saja terjatuh karena tersandung kakinya sendiri saat Rika hendak membawakan tote bag milik Atika. Kedua, saat salah seorang pelayan yang entah sengaja atau tak sadar mengucapkan kalimat, “Lebih tua, ya.”

Semenjak itu, Atika terus melihat ujung sepatunya. Elang bersumpah, setelah ini ia akan mencari pelayan itu dan memecatnya saat itu juga. Dan terakhir, saat Atika merapikan baju-bajunya ke dalam lemari. Pakaian yang biasa Atika gunakan sehari-hari jauh terlihat lebih lusuh saat bersanding dengan pakaian baru yang berjejer apik di dalam lemari.

Inilah salah satu alasan Elang sempat menolak tawaran Ardian. Elang sudah paham benar rasa canggung serta tidak nyaman ketika memasuki kehidupan keluarga Barata. Walau kini ayah dan keluarga tirinya telah tiada dan mereka menempati rumah yang baru, tetapi nafas mereka serasa masih menghantui rumah itu melalui setiap inci bagian rumah.

Sepuluh tahun lalu, ketika menginjakkan kaki di rumah Barata, Elang merasa dunianya jungkir balik. Semua hal yang sebelumnya terasa normal dan baik-baik saja, berubah menjadi menyedihkan setelah berada di keluarga ayahnya. Sama seperti yang Atika rasakan sekarang.

“Ikut aku.”

Dengan cepat Elang menarik tangan Atika hingga terbangun dan membawa istrinya keluar dari kamar.

“Sebentar,” seru Atika kebingungan.

Kakinya mulai kesemutan setelah duduk bersila cukup lama lalu tiba-tiba Elang menyeretnya seperti sedang menyeret sekarung beras. Terkadang Atika harus mengingatkan diri bahwa suaminya tetap seorang anak kecil.

“Makan malamnya sudah siap,” kata Rika ketika Elang dan Atika tiba kaki tangga.

“Kami akan makan malam di luar,” jawab Elang tanpa menoleh pada perempuan yang mungkin seusia Anyelir.

Atika hendak meminta maaf pada Rika karena membuat pekerjaannya jadi sia-sia, tetapi Elang kembali menyeret Atika hingga setengah berlari.

“Kenapa buru-buru? Memangnya kita mau kemana?” Atika menghentakkan genggaman tangan Elang ketika mereka tiba di garasi mobil.

“Aku belum terbiasa berada di rumah itu, rasanya pengap. Aku ingin jalan-jalan sebentar, mau ikut?”

Mendengar tawaran Elang membuat Atika menyadari bahwa ia memang sempat kesulitan bernafas di rumah barunya, tanpa ragu perempuan itu mengangguk dan mengekori suaminya. Elang saat ini sudah kembali berjalan menyusuri barisan mobil mewah yang sebelumnya hanya pernah Atika lihat melalui layar ponsel Cindy.

Sepasang lampu depan mobil menyala menyinari garasi yang sebelumnya remang-remang. Perut Atika mencelos menyadari darimana lampu-lampu itu berasal.

“Lang, kamu pernah menyetir mobil sport?” tanya Atika sangsi.

Pria itu tampak ragu, namun akhirnya ia mengangguk pasti. “Aku bisa mengemudi. Di desa aku biasa bawa mobil pick up, mengantar sayuran ke pasar.”

***

“Terima kasih, Tuhan.”

Atika menghela nafas panjang saat mobil itu berhenti melaju tiga puluh menit kemudian.

“Berlebihan! Sudah kubilang aku bisa bawa mobil,” gerutu Elang.

“Tapi ini mobil sport dan aku manusia bukan seikat sayuran!” pekik Atika histeris. “Aku gak mau kehilangan nyawa karena egomu, tahu! Apa susahnya tadi putar balik dan ambil kunci mobil yang biasa? Paling hanya makan waktu lima menit.”

“Seandainya kamu bisa seperti ini juga di depan keluargamu.”

“Apa?” tanya Atika tak mengerti dengan respon yang Elang berikan.

“Sudahlah. Aku minta maaf, walau seharusnya kamu juga tidak perlu panik karena buktinya aku bisa membawamu sampai sini dengan selamat.” Elang melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari dalam mobil.

Tidak berapa lama, Elang kembali masuk ke dalam mobil. Wajahnya pucat pasi, pria itu lalu menyalakan mesin mobil kemudian kembali melajukannya ke jalan raya.

“Baru lihat hantu?”

Elang menggeleng. “Aku lupa kalau tidak mungkin membawa mobil ini ke sini sekarang.”

Atika melihat ke belakang dan ikut panik seperti Elang. Mereka baru saja meninggalkan pasar malam yang sangat ramai pengunjung. Memang tidak ada larangan atau peraturan tertulis tentang kendaraan apa saja yang boleh memasuki kawasan itu. Tetapi mobil sport milik Elang bukanlah hal yang lumrah terlihat di sana.

“Aku menyadarinya saat melihat segerombolan preman berjalan mendekati kita. Aku mengemudi tanpa berpikir, saat melihat wahana dari kejauhan aku langsung berbelok masuk,” jelas Elang, ia ingin terus bicara untuk menghilangkan keterkejutannya.

Elang tak mampu membayangkan apa yang bisa para preman itu lakukan pada istrinya, kalau ia tidak cepat kembali.

“Jadi, kita pulang ke rumah saja, ya?” tawar Atika.

“Tidak, aku sudah janji mengajakmu makan di luar.”

Akhirnya, Atika dan Elang makan di luar. Benar-benar di luar dalam artian sesungguhnya. Mereka makan di atas hamparan rumput hijau di sebuah bukit yang berada di belakang rumah. Setelah berkeliling hampir dua jam, Elang kemudian memutuskan mengikuti saran Atika. Tetapi di detik terakhir, pria itu kembali memutar kemudi lalu berhenti di bukit belakang rumah.

“Makanannya sudah datang!” Elang berseru dan menaruh dua bungkus nasi goreng di hadapan Atika.

Atika menyunggingkan senyum teringat kemarin malam, ia menahan lapar saat mengorbankan Rupiah terakhirnya untuk Cindy. Dan malam ini, nasi goreng itu hadir bersama seorang suami.

“Kenapa kita gak makan makanan yang di rumah?”

“Bukan makan di luar namanya kalau masih ada aroma rumah,” jawab Elang mulai melahap nasi gorengnya.

Atika diam memerhatikan Elang. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, Atika akan menikah dengan seorang pria yang jauh lebih muda darinya. Pria ini muncul begitu saja seperti sebuah mainan boneka yang muncul dari kotak kejutan, dan semenjak bertemu dengan Elang, kehidupan Atika selalu penuh kejutan.

“Aku…minta maaf, belum bisa memberikan yang terbaik,” kata Elang teringat tingkah konyolnya yang berakhir dengan membuat mereka makan malam dikelilingi nyamuk dan serangga malam.

“Memang yang terbaik itu seperti apa?” Atika balik bertanya, lalu mulai menggeser badannya melihat ke sekitar. “Tujuan kita keluar tadi ingin melepas penat.”

Atika menarik nafas dalam-dalam hingga dadanya membusung, lalu menghembuskannya perlahan. “Dan ini memang membuat rasa penatku hilang sempurna! Lihat, aku jadi tahu kalau di kompleks ini, setiap rumah memiliki bukit di belakang rumah mereka masing-masing. Aku jadi berpikir, bisa jadi ada artis atau pejabat yang tinggal di sini!”

Elang tersenyum melihat Atika yang berusaha menghiburnya, sama seperti sepuluh tahun lalu. Atika memang pandai menyingkirkan kesedihan seseorang, kesedihan Elang. Jantung pria itu tiba-tiba bertalu kencang, inikah saat yang tepat untuk mengungkapkannya?

“Aku senang kita berada di sini. Jujur, aku masih canggung diberi hormat para asisten rumah tangga. Awalnya aku merasa sendirian, tapi setelah kejadian barusan aku sadar kalau bukan hanya aku yang masih canggung. Kita berdua masih harus banyak beradaptasi dengan perubahan ini,” jelas Atika diakhiri cengiran lebar.

“Atika, apa kamu ingat di mana kita pertama bertemu?”

“Di kamar Papa.”

“Bukan, sebelum itu! Kamu benar-benar tidak ingat?” tanya Elang mulai menuntut.

“Kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Atika balik.

“Sudah, lupakan!” Elang kehilangan minatnya, pria itu tiba-tiba bangkit berdiri dan masuk ke dalam mobil, lagi-lagi meninggalkan Atika tanpa kata.

“Apa sebenarnya mau bocah itu?” desis Atika kesal.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Suamiku Bocil Tajir   Yang Tersisa, Yang Tertinggal

    Pagi itu, kabut turun rendah, menyelimuti halaman rumah kecil mereka di Dago dengan selimut tipis berwarna putih. Udara dingin menusuk kulit, namun terasa segar. Atika menyapu dedaunan kering yang berguguran dari pohon di halaman, tangannya cekatan mengayun sapu lidi. Ael, kini sudah mulai cerewet, tertawa riang di gendongannya, menunjuk-nunjuk burung pipit yang hinggap di pagar kayu, suaranya memenuhi keheningan pagi. Elang duduk di tangga teras, laptop di pangkuannya, membuka beberapa laporan bisnis dari jarak jauh. Jemarinya menari di atas keyboard, menyelesaikan tugas-tugas penting, namun fokusnya tetap pada suara tawa Ael dan gerakan lembut Atika.Sejak tinggal di Bandung, hidup mereka berjalan perlahan tapi pasti. Elang membatasi keterlibatannya di SJ Grup, hanya memegang peran sebagai penasihat utama. Ia mendelegasikan sebagian besar tugasnya kepada direksi dan tim profesional yang ia percaya. Elang tidak lagi hidup untuk perusahaan—ia hidup untuk rumahnya. Untuk keluarga kecil

  • Suamiku Bocil Tajir   Jalan Pulang yang Baru

    Dua minggu setelah pagi itu, kontrakan kecil yang selama hampir setahun menjadi tempat bertahan Atika dan Ael mulai tampak sepi. Dinding-dinding usang yang menjadi saksi bisu perjuangan Atika kini hanya menyisakan jejak waktu. Di atas tikar usang yang biasa mereka gunakan, hanya tersisa beberapa kardus. Isinya tak banyak: tumpukan pakaian bayi yang sudah terlalu kecil, beberapa buku catatan berisi resep masakan dan daftar belanja, serta satu set mainan kayu buatan tangan yang Atika beli dari pasar minggu, kenang-kenangan dari masa-masa sulit. Sebuah kekosongan yang ironisnya terasa penuh, penuh dengan kenangan pahit namun juga harapan yang baru tumbuh.Di luar, Elang mengangkat koper terakhir ke dalam mobil sewaan yang diparkir tak jauh dari gang. Bukan mobil mewah atau kendaraan dinas seperti yang biasa ia gunakan—hanya minibus hitam sederhana yang cukup lapang untuk perjalanan panjang mereka ke Bandung. Ia sengaja memilih kendaraan itu, sebagai penanda bahwa perjalanan kali ini buka

  • Suamiku Bocil Tajir   Yang Tak Pernah Pergi

    Udara pagi masih sejuk, menusuk kulit, namun Elang tidak bergeming. Ia masih duduk bersandar di dinding kontrakan Atika, persis di ambang pintu, kedua tangannya menyilang di dada, matanya terpejam. Sepanjang malam ia berjaga, menepati janjinya. Rintik gerimis sempat menyapa, membasahi sebagian jaketnya, tapi ia tak peduli. Hatinya jauh lebih basah, tergenang penyesalan dan rindu yang tak terhingga. Pikirannya melayang pada percakapan semalam, setiap kata Atika terngiang jelas di benaknya, menusuk tepat di ulu hati. Ia adalah pengecut. Ia telah membiarkan wanita yang dicintainya menderita sendirian. Rasa bersalah itu menusuknya lebih dalam daripada dinginnya angin pagi.Matahari belum naik tinggi saat Atika membuka jendela kontrakan. Suara engsel yang berderit pelan memecah keheningan dini hari. Udara pagi yang segar masuk, membawa serta semilir bau tanah basah dan suara riuh dari ibu-ibu yang mulai menyapu halaman. Elang membuka matanya perlahan, kelopak matanya terasa berat, namun ia

  • Suamiku Bocil Tajir   Lama Kembali

    “Diam panjang yang lebih jujur dari kata-kata.” Kalimat itu masih menggantung di udara, seolah membeku bersama waktu. Keheningan yang tercipta di antara Atika dan Elang bukan lagi keheningan canggung, melainkan keheningan yang sarat akan beban masa lalu, rindu yang tertahan, dan rasa sakit yang menganga. Langit malam menggantung kelabu di atas kontrakan sempit itu. Bau tanah basah masih tertinggal di udara, menyelusup lewat sela-sela dinding papan yang tidak rapat. Elang berdiri di ambang pintu, siluetnya memanjang di bawah lampu neon yang berkedip di gang. Tubuhnya tegak, namun matanya menyimpan gemetar. Di dalam, Atika berdiri mematung, seakan waktu berhenti sejak suara ketukan itu. Bayangan tubuhnya menyatu dengan lampu temaram yang menggantung di langit-langit, menciptakan aura sendu yang membalut seluruh ruangan.Suara bayi terdengar lirih dari dalam, sebuah rengekan kecil yang mengiris keheningan. Lalu sunyi lagi. Elang menatap Atika, sorot matanya penuh permohonan. Ia ingin be

  • Suamiku Bocil Tajir   Terpasung

    “Jangan pernah berani menyebut namaku lagi, Atika!”Suara Helen menampar dinding. Atika terhuyung, cengkeraman pada gagang pintu melemah. Kilat amarah menyala di mata wanita paruh baya itu, bibirnya yang dipoles merah darah bergetar. Hujan di luar jendela mengamuk, seolah alam semesta ikut meratap. Atika hanya bisa menelan ludah, menatap koper kecilnya yang tergeletak pasrah di lantai marmer dingin.“Kau pikir apa yang sudah kau lakukan?! Menodai nama baik keluarga Sukma Jaya?!” Helen maju selangkah, sepatu hak tingginya berdentum. “Kau… kau sudah tahu posisimu!”Napas Atika tercekat. Posisi? Bukankah ia hanya mencintai Elang dengan sepenuh hatinya? Bukankah ia…“Pergi! Sekarang!” Helen menunjuk pintu dengan jari telunjuknya yang ramping. “Dan jangan pernah kembali. Elang tidak akan mencarimu. Dia sudah tahu semuanya. Dia sudah tahu… kau hanya parasit.”Kata “parasit” itu merobek batin Atika. Air mata mendesak, namun ia menahannya. Tidak. Ia tidak akan menangis di hadapan wanita ini. I

  • Suamiku Bocil Tajir   Akhir Bahagia Bagi Keyla

    “Key, baju nya ganti ah jangan yang itu terus.” Mama mengomentari penampilanku. Sontak aku berhenti di ambang pintu dan melihat penampilanku sendiri di kaca jendela. Tidak ada yang aneh, biasa saja hanya celana bahan berwarna hitam dan kemeja merah bata.“Kenapa diganti, yang ini juga bagus.”Aku berputar-putar di depan mama memperlihatkan penampilanku dari depan lalu ke belakang.“Warnanya sudah kusam, lebih baik yang lain. Terus kamu gak dibedak?”Aku menyentuh wajahku, sedikit berminyak. Aku berlari ke depan cermin mematut bayanganku. Tanpa sengaja tatapanku jatuh pada foto Kim Jae Hee yang kutaruh di samping cermin. Aku mengusap lembut foto itu, foto yang kudapat setelah bersusah payah, berdesak-desakkan dengan ratusan penggemar lainnya.Kuyakini aku sanggup bertahan meski kau tak pernah di sampingku. Waktu yang membuatku bertahan. Aku berhasil menguasai kembali apa yang kumau, sama seperti sebelum aku sadar aku membutuhkan kehadiran mu, aku mampu bertahan sendiri. Kini aku percay

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status