Masuk"Lala, Sayang. Sebaiknya kita keluar dulu ya, kasih waktu Tante Tia untuk ngobrol sama temannya dulu," ucap Amara membujuk Lala."Tapi om dan Tante ini gak akan bawa pergi mama kan?" tanya Lala khawatir."Enggak, Tante Tia akan tinggal di sini bersama kita."Lala akhirnya setuju untuk keluar kamar, memberikan waktu Tia berbincang dengan sahabatnya. Sementara Hesti dan Marco masih menatap Tia dengan penuh tanda tanya karena gadis kecil itu memanggil Tia sebagai mama."Jangan menatapku seperti itu," ucap Tia sambil tersenyum kikuk."Tadi itu anak siapa, kenapa panggil kamu mama?" tanya Hesti."Lala adalah anak pak Riza, setelah lahir ke dunia dia langsung di tinggal ibunya. Saat aku kabur dari hotel, aku nabrak mobil pak Riza lalu di bawa ke rumah ini, hari itu adalah hari ulang tahun Lala. Dia mengira aku adalah mama yang jatuh dari langit seperti di dongeng, kado dari Tuhan di hari ulang tahunnya."Penjelasan Tia membuat Hesti dan Marco tertawa kecil, lalu Tia menjelaskan jika Amara m
Hadi masih terkejut dengan semua fakta tentang kejahatan Marry, ia benar-benar tidak menyangka jika dirinya benar-benar di permainkan oleh wanita yang selama ini ia cintai dan ia bela mati-matian di depan keluarganya."Demi Marry aku menyakiti wanita tidak bersalah, demi Marry aku menentang keluarga, demi Marry aku melakukan segalanya. Namun ternyata Marry hanya mempermainkan ku," gumam Hadi dalam hati.Hatinya hancur, ia kembali mengingat semua ucapan orang tua serta kakeknya dulu. Mereka selalu meminta Hadi untuk menjauh dari Marry, mengatakan jika Marry bukan perempuan baik. Namun, Hadi malah marah dan mengira kakek serta kedua orang tuanya terlalu picik.Sekarang, Hadi benar-benar menyesal karena tidak mendengarkan perkataan keluarganya setelah tahu sifat asli Marry.Tok TokTokSuara ketukan pintu kamar rawat Hanifa memecah keheningan suasana, beberapa detik kemudian pintu terbuka dan seorang pemuda tampan masuk."Rion, bagaimana keadaan di perusahaan?" tanya Hendri.Rion menghe
"Siapa wanita yang anda maksud? Jangan bicara sembarangan, perusahaan kami tidak pernah melakukan hal kotor untuk mendapatkan proyek, apalagi sampai menjual wanita pada klien!" ucap Hadi.Amara masih dengan ekspresi tenangnya, sementara Hendri dan Hanifa hanya bisa menghela nafas berat. Mereka tahu Hadi tidak bersalah dalam hal ini, bahkan tidak tahu apa-apa. Ia hanya lalai membiarkan Marry bertindak sesuka hati, hingga membuat nama nya dan nama perusahaan menjadi buruk."Nyonya Amara, kami tidak bisa menerima uang ini. Kami menyayangi Tia seperti anak sendiri, kami tidak pernah ada niat untuk menjualnya," ucap Hanifa."Tia?" tanya Hadi semakin terkejut.Hendri meminta Hadi duduk di sofa, lalu meminta waktu kepada Amara untuk berbicara lebih tenang. Setelah Amara menyetujui Hendri pun menjelaskan pada Hadi apa yang sudah di lakukan Marry pada Tia, awalnya Hadi tidak percaya jika sang pujaan hati bisa melakukan hal setega itu. Namun, Hendri memperlihatkan bukti-bukti yang dikirim anak
"Setelah saya pikir-pikir, saya mau terima tawaran untuk jadi baby sitter Lala," ucap Tia.Setelah semalaman Tia di beri waktu berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. Tia sadar menjadi baby sitter bukan pekerjaan yang sulit, selain mendapat bayaran, keperluan harian terpenuhi, ia pun aman dari gangguan mantan suaminya tanpa harus membuat Hesti khawatir."Syukurlah kalau kamu terima tawaran saya, kamu bisa mulai kerja setelah tubuh kamu pulih," ucap Amara."Terima kasih, Bu."Amara tersenyum dan mengangguk, lalu keluar dari kamar itu membiarkan Tia beristirahat agar cepat pulih kembali. Sementara di sisi lain.Hanifa di rawat di rumah sakit, wanita paruh baya tersebut pingsan karena syok dan mengalami tekanan darah tinggi. Hendri tak bisa lagi menahan emosi pada anak satu-satunya, karena perbuatannya itu sudah keterlaluan."Lihat apa yang sudah kamu lakukan! Kakek kamu meninggal karena serangan jantung saat kamu bawa Marry ke pesta ulang tahun perusahaan. Se
"Namaku Hesti, aku adalah sahabat Tia, kami tinggal di kost yang sama. Sudah sehari semalam Tia gak pulang, aku udah coba cari dia kemana-mana, tapi gak ketemu. Aku yakin hilangnya Tia pasti ada hubungannya dengan dia!" ucap Hesti seraya menunjuk Hadi dengan jari telunjuknya."Temanmu tidak pulang, entah apa yang dia lakukan diluar sana. Dia bukan anak kecil lagi, mungkin saja sedang bersenang-senang dengan pacarnya atau dengan lelaki liar lain. Kenapa malah menuduhku yang tidak-tidak!" ucap Hadi kesal karena dituduh oleh Hesti.Hesti menatap Hadi dengan tajam, lalu tanpa ragu menamparnya dengan keras.Plak ..."Aku tahu betul seperti apa Tia. Dia tidak punya pacar, dia wanita baik-baik yang gak mungkin melakukan hal seperti yang kamu katakan!" Teriak Hesti. Wanita itu tak bisa menahan emosinya lagi, melihat Hesti sudah sampai menampar Hadi, membuat Marco takut Hadi emosi dan membalas Hesti. Marco pun berjalan cepat dan kini berada di samping Hesti untuk melindunginya."Beberapa hari
"Kenapa bengong aja? Cepet telpon temen kamu yang brengsek itu!" bentak Hesti.Marco mengerjapkan mata, lalu mengangguk. Ia menelpon nomor Hadi, tetapi setelah beberapa panggilan ia coba Hadi tak juga mengangkatnya."Gak diangkat," ucap Marco."Kalau gitu anterin aku ke perusahaan atau rumahnya. Aku gak bisa diam aja, aku mau tahu dimana Tia sekarang!" ucap Hesti.Marco mengangguk, membuka pintu mobilnya dan Hesti pun langsung masuk. Marco menyalakan mesin mobil seraya melihat jam di pergelangan tangannya."Kita ke perusahaan Hadi dulu, jam segini mungkin dia sedang kerja," ucap Marco."Cepetan, gak pake lama!" ucap Hesti.Marco kembali menganggukan kepala, ia pun mengendarai mobil tersebut, menebus jalan ibukota, hingga akhirnya tiba di perusahaan keluarga Prayogi.Hesti yang sudah tidak sabar untuk bertemu Hadi, langsung turun dari mobil bahkan meninggal Marco yang baru mematikan mesin mobil."Hesti ... Tunggu!" Teriak Marco.Hesti tak memperdulikan teriakan lelaki Flamboyan itu, ia
"Sejak datang ke rumah ini Mas Hadi langsung berkata kasar padaku, bahkan meninggalkan aku di malam pertama. Akan tetapi, Aku gak bisa mengatakan semua ini pada mama, karena aku tahu mas Hadi menikah denganku karena terpaksa," gumam Tia dalam hati."Tia, kok bengong lagi.""Ehm ... Maaf Tante, eh M
"Mas lepas, jangan begini," ucap Tia mencoba melepaskan tangan Hadi yang begitu kuat menggenggamnya. Namun, bukannya melepas, Hadi malah semakin kuat mencengkram, bahkan ia yang sedang mabuk mencoba untuk bangkit dan mengubah posisi. Kini Tia yang berada di dalam kukungan tubuh Hadi, yang membuat w
"Aku tegaskan, jangan pernah berharap aku bisa mencintaimu karena pernikahan ini kulakukan atas keterpaksaan!" ucap Hadi.Malam yang seharusnya menjadi momen paling bahagia dalam hidupnya, malah membuat hati Tia begitu hancur. Lelaki yang baru sah menjadi suaminya tanpa basa basi mengungkapkan pera
"Tia, waktu kakek sudah tidak banyak. Jika kakek sudah tidak ada di dunia, kamu janji harus jadi wanita yang baik dan hidup bahagia," ucap Surya."Kakek, jangan bicara seperti itu. Kakek pasti sembuh, Tia cuma punya kakek," ucap gadis cantik bermata coklat, air mata nya sudah menganak sungai membas







