Home / Horor / Suamiku Digoda Kuntilanak / Mata pada Pembantu

Share

Mata pada Pembantu

Author: Lana Smrti
last update publish date: 2026-10-17 22:56:24

Ada saat-saat ketika seseorang mulai melihat orang-orang terdekatnya dengan mata yang berbeda.

Bukan karena mereka berubah. Tapi karena sang pengamat sedang mencari kesalahan, dan siapa pun yang mencari kesalahan akan selalu menemukannya.

Itu yang terjadi pada Maya selama beberapa hari berikutnya.

Setelah pertemuannya dengan Dinda, Maya tahu ia sedang berjalan ke arah yang salah. Tapi pikirannya tidak mau diam. Ada seseorang, atau sesuatu, di rumah ini yang membuat suaminya berubah. Dan kalau b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Telepon yang Tak Diangkat

    Malam itu adalah malam terpanjang dalam hidupnya.Mereka tiba di rumah sakit hampir tengah malam. Mbah Sarwo dibawa langsung ke ruang IGD, di mana dokter jaga memeriksa lengannya yang patah dan memar besar di punggungnya. Ia sadar setengah-setengah, mengerang pelan, sesekali memanggil nama yang tidak Maya kenal. Sum. Sum. Perawat memasang infus dan membawanya ke ruang rontgen.Maya duduk di ruang tunggu dengan lutut menekuk ke dada, memeluk gambar Kinan yang sudah lecek di sakunya.Ibu duduk di samping Maya. Bu Heni dan putranya di bang Maya seberang. Mbak Darmi di ujung lorong, bersandar di dinding dengan tasbih di tangan, matanya setengah terpejam. Tidak ada yang berbicara banyak. Lampu neon berdengung di atas kepala, dan sesekali, bunyi roda brankar melewati lorong.Jam dinding menunjukkan 00.40.Maya menatap ponselnya.Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Hanya foto layar kunci mereka berempat di pantai tahun lalu, Bima tersenyum lebar dengan Arka di bahunya.Telepon aku jam enam

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Memilih Tinggal

    Bima tahu apa yang harus ia lakukan sebelum bayangan itu selesai berbicara.Kalimat itu menggantung di kegelapan kamar tamu, dalam suara yang sangat pelan dan sangat lelah. Kalau begitu, saksikan aku. Bukan perintah. Bukan ancaman. Lebih seperti seseorang yang sudah terlalu lama berteriak dan akhirnya hanya punya satu permintaan kecil.Sulur-sulur rambut yang melilit kaki mereka mengendur pelan.Di lantai, Mbah Sarwo terbaring miring dengan tongkat patah di sampingnya, napasnya tersengal, satu lengan terlipat dengan sudut yang tidak benar. Ibu Maya dan Bu Heni sudah berlutut di sisinya, memanggil namanya dengan suara tertahan. Mbak Darmi menopang kepala lelaki tua itu di pangkuannya dengan wajah basah."Dia masih hidup," bisik Bu Lastri. "Tapi harus ke rumah sakit. Sekarang."Maya menoleh pada Bima.Dalam cahaya redup yang menyelinap dari celah pintu, wajahnya tampak seperti kertas. Matanya melebar. Ia sudah tahu apa yang akan ia dengar. Bima bisa melihatnya."Mas.""Bawa Mbah keluar.

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Ritual

    Mereka masuk ke kamar tamu pukul sepuluh malam.Tidak ada yang berbicara saat melangkah melewati ambang pintu. Satu per satu, mereka melepas alas kaki di lorong dan masuk dengan kaki telanjang ke lantai kayu yang dingin. Lampu minyak kecil di tengah tikar putih menyala dengan api sebesar ujung jari, cukup untuk menerangi wajah-wajah mereka dari bawah, membuat bayangan di dinding tampak lebih besar daripada tubuh yang membuatnya.Mbah Sarwo duduk lebih dulu, di sisi utara, bersandar pada tongkatnya. Bu Heni di sampingnya, memeluk sisir kayu di dada. Mbak Darmi duduk dengan tasbih melilit jarinya. Ibu Maya di seberang, kerudungnya rapi, kaleng biskuit terselip di pangkuannya, tangan tua yang gemetar tapi mantap.Bima duduk di samping Maya.Perban di jari kirinya sudah diganti, tapi bercak merah merembes lagi dari tepinya. Ia tidak mengeluh. Hanya menggenggam tangan Maya di atas tikar, kuat, hangat, nyata."Semua sudah di dalam," kata Mbah Sarwo pelan.Pintu kamar tertutup di belakang me

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Surat

    Maya yang menyarankan Bima menulis surat itu.Bukan surat perpisahan. Ia menegaskannya dua kali, dengan mata merah dan suara yang tertahan. Bukan untuk kalau kamu pergi, Mas. Untuk kalau kamu nggak sempat bilang. Ada banyak hal yang tidak pernah kita katakan pada anak-anak karena kita kira masih punya waktu, katanya. Dan hari ini, di rumah ini, tidak ada yang bisa menjamin waktu.Jadi pagi itu, Jumat, hari yang akhirnya tiba, Bima duduk di meja rias kamar utama dengan dua lembar kertas kosong, sebatang pulpen hitam, dan jari kiri yang dibalut perban putih.Cahaya matahari masuk dari jendela, kuning dan hangat, jatuh di atas meja. Dari lantai bawah terdengar suara Ibu Maya dan Bu Heni mengobrol pelan di dapur, dentang piring, dan bunyi tongkat Mbah Sarwo mengetuk lantai dari ruang ke ruang.Ia mengangkat pulpen.Kertas pertama. Untuk Kinan.Ia menatap dua kata itu lama.Lalu ia mulai menulis.Kinan sayang,Ayah tidak tahu bagaimana memulai surat ini, jadi Ayah mulai dari yang paling ju

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Sebelum Malam Jumat

    Ibu Maya tiba di rumah itu sore hari dengan kaleng biskuit terbungkus kain putih di pangkuannya.Ia turun dari taksi di depan gerbang, mengenakan kebaya sederhana dan kerudung abu-abu, dengan tas anyaman di satu tangan dan tasbih kayu di tangan lain. Ia berhenti di depan pagar melati dan memandangi dinding bunga yang menjulang itu lama sekali. Kuntum-kuntum putih bergoyang pelan, seperti menyapa."Cantik," gumamnya.Maya berlari menyambutnya dan memeluknya erat."Bu, Ibu nggak seharusnya...""Ibu sudah bilang, Ibu ikut." Ia menepuk punggung Maya dan menarik diri, memandang Maya dengan mata tuanya. "Ibu nggak pernah mengizinkan anak Ibu menghadapi apa pun sendirian lagi."Maya menggigit bibir."Anak-anak?""Dengan Siska. Aman. Kinan menitip ini."Ia merogoh tasnya dan menyodorkan sesuatu.Selembar kertas gambar yang dilipat dua, bergaris-garis krayon.Maya membukanya dengan tangan gemetar.Gambar sederhana. Sebuah rumah kuning pucat dengan atap merah bata. Di halaman, dua perempuan ber

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Sumpah

    Sarwo tidak pernah mengunjungi makam istrinya di hari Kamis.Empat puluh tahun ia memilih hari lain, Senin pagi atau Minggu sore, hari-hari yang aman, ketika langit cerah dan tidak ada yang menunggunya di ujung jalan setapak. Tapi pagi itu, dengan embun masih menggantung di rumput dan kabut tipis menyelimuti pemakaman kecil di pinggir kampung, ia melangkah sendirian melewati gerbang bambu dan menyusuri jalan tanah yang sudah ia hafal sampai ke ujung.Nisan kayu itu sudah lapuk.Ia sendiri yang mengganti papannya tiga kali. Tulisannya sudah memudar dimakan hujan, tapi ia tidak butuh membacanya. Ia tahu nama yang tertera.Sumirah binti Karto.Ia berlutut di sampingnya, pelan, dengan lutut yang sudah berderit. Tongkatnya ia sandarkan ke pohon kamboja tua di sebelah. Dari saku sarungnya, ia mengeluarkan sebungkus kecil kelopak mawar dan melati yang ia petik tadi subuh, menaburkannya di atas gundukan tanah yang ditumbuhi rumput halus."Sum," katanya.Hening.Kabut bergeser pelan di antara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status