LOGINKebohongan selalu membutuhkan keberanian, tetapi bagi Darius, menyembunyikan kebenaran di hadapan istrinya membutuhkan usaha yang jauh lebih menyiksa.
“A-aku tak sengaja terjatuh. Itu baik-baik saja.” Darius kembali berkelit dengan tergesa-gesa.Pria itu enggan mengakui kebenaran konyol di balik benjolan di dahinya. Terlalu memalukan. Lagipula, ada kekhawatiran yang membakar dadanya. Ia takut gambaran dirinya sebagai pria tangguh akan runtuh di mata sang istri, digantikaKebohongan selalu membutuhkan keberanian, tetapi bagi Darius, menyembunyikan kebenaran di hadapan istrinya membutuhkan usaha yang jauh lebih menyiksa. “A-aku tak sengaja terjatuh. Itu baik-baik saja.” Darius kembali berkelit dengan tergesa-gesa. Pria itu enggan mengakui kebenaran konyol di balik benjolan di dahinya. Terlalu memalukan. Lagipula, ada kekhawatiran yang membakar dadanya. Ia takut gambaran dirinya sebagai pria tangguh akan runtuh di mata sang istri, digantikan oleh citra suami konyol yang mudah goyah.“Tapi, ini pasti menyakitkan.” Serena menggusap benjolan kecil itu lembut. Meski nada bicara serta ekspresi wajah Serena itu terkesan datar tanpa riak emosi berlebih, Darius masih bisa merasakan kehangatan, perhatian, dan secercah kasih sayang yang tulus dari sentuhan jemari halus sang istri.“Tidak. Sama sekali tidak sakit.” Entah bagaimana, dalam sekejap mata, seluruh ketegangan Darius menguap. Suasana hatinya mendadak me
“Siapa yang mengganti pakaianku?” Pertanyaan sederhana itu sukses membuat jantung Darius hampir melompat keluar. Ini adalah topik yang paling ingin dihindarinya. Menyinggung tentang pakaian, ingatan Darius langsung melayang pada bayangan kulit putih halus yang sempat tertangkap matanya. Darahnya berdesir hebat. Ujung telinga pria itu memerah. Lebih buruk, celananya mulai terasa sesak. “Dia memasangnya terbalik. Ini sangat tidak nyaman.” Keluh Serena dengan nada datar, sama sekali tidak bermaksud menyalahkan. Awalnya dia belum menyadarinya. Ketika dia bergerak baru dia sadar. Apa yang melekat di tubuhnya bukanlah pakaian miliknya. Itu sudah berganti dengan pakaian yang lebih bersih. Hanya saja jelas ia memakainya terbalik. Bagian belakang pakaian ini berada di depan, sedang bagian depan justru berada di belakang. Memakainya terasa tidak nyaman, terlebih bagian kerahnya. Darius yang mendengar keluhannya terdiam. Sulit untuk mengaku bahwa itu di
"Ah, syukurlah Nyonya sudah bangun!” Serena mengerutkan keningnya ketika melihat seorang pemuda yang membawa nampan berjalan menghampirinya. “Si-siapa?” Serena merasa sakit di tenggorokannya ketika dia bicara. Ekspresi keskitannya langsung ditangkap jelas oleh Wezuan. “Tenggorokan Anda mungkin sakit karena terlalu banyak muntah. Obat yang saya berikan telah mendetoksifikasi racun di tubuh Nyonya. Sekarang racunnya telah hilang, namun tubuh Anda sekarang kekurangan banyak cairan.” Racun? Kerutan di kening Serena semakin dalam. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Dia bangun di tempat asing, tubuhnya terlampau lemah untuk digerakkan, tiba-tiba muncul orang asing yang mengatakan dirinya keracunan, dan yang paling membuatnya panik, dia tak menemukan suaminya di sisinya. “Suamiku … dimana?” Mengabaikan penjelasan Wezuan, ia akan memikirkannya nanti. Serena hanya ingin melihat Darius sekarang. Meski sa
Tangan Darius gemetaran saat melangkah mendekati ranjang. Di sana, Serena terbaring lemah. Di atas ranjang, sosok istrinya yang rapuh tetap memancarkan kecantikan yang luar biasa. Tatapan Darius terkunci pada paras itu. Jakunnya bergerak ketika dorongan primitif muncul dalam kepalanya. Bohong jika tidak ada pikiran kotor yang terlintas dalam pikiran pria itu. Terlebih saat ini, dia harus mengganti pakaian istrinya. Melepaskan pakaiannya …. 'Plak!'Darius menampar pipinya sendiri dengan keras. Tak cukup sekali, ia melakukannya berulang kali hingga kedua pipinya memerah dan terasa panas. Ia benar-benar ingin marah pada dirinya sendiri. Pada hati kecilnya yang bisa-bisanya menyimpan niat jahat pada istrinya yang sakit. Istrinya sakit dan dia hanya merawatnya. Ya, merawat … tak ada pikiran lainnya. Setelah menenangkan diri dan mengukuhkan niat lurusnya, tangan Darius terulur menyentuh kancing pakaian Serena. Jari-jarinya sempat bergetar. Kancing di pakaian
"Apa yang kau lakukan?!"Suara bentakan Darius menggelegar membelah keheningan malam. Langkah kakinya bergerak cepat, ia mencengkeram kerah baju pria kecil itu dengan satu tangan, mengangkatnya, lalu melemparnya menjauh dari sisi Serena tanpa ampun.Prasangka buruk dan sikap protektif yang berlebihan membakar akal sehat Darius saat melihat telapak tangan pria asing itu sempat menyentuh tubuh istrinya secara lancang. Tanpa ragu sedikit pun, Darius melayangkan satu tendangan telak ke dada pria itu hingga ia jatuh tersungkur di atas tanah yang kotor.Pria itu berteriak kesakitan, memegangi dadanya yang ngilu. Menyadari kesalahpahaman fatal yang tengah terjadi, ia buru-buru mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi."T-tunggu! Wanita itu sekarat! Aku hanya meraba denyut nadinya untuk memeriksa keadaannya! Sungguh, aku tidak berniat jahat!" serunya terbata-bata."Memeriksanya?" geram Darius dengan tatapan menajam.Sambil menahan sa
Ini adalah gejala keracunan! Darius mulai panik. Kepalanya berputar cepat, mencoba mengingat kembali apa yang salah. Selama ini, ialah yang bertanggung jawab mencari dan mengolah seluruh pasokan makanan mereka. Darius sangat yakin selalu memastikan segala hasil buruan layak konsumsi. Meski rasanya serbapolos dan tak bisa dibilang enak, makanan itu dijamin bersih dari racun. Lagipula, ia memakan santapan yang sama persis dengan Serena. Jika makanan mereka tercemar, seharusnya ia juga terkena dampaknya. Tetapi dia baik-baik saja. Jadi, apa masalahnya?Mengapa hanya Serena yang terbaring tak berdaya? Apa yang sebenarnya terjadi tanpa sepengetahuannya?Merasakan suhu tubuh Serena yang kian mendingin membuat hati Darius dihinggapi ketakutan luar biasa. Sebagai prajurit yang terbiasa di medan pertempuran, ia sangat paham cara menjahit luka tebasan, menghentikan pendarahan, atau membebat tulang yang patah. Namun, ia sama sekali buta tentang ilmu pengobatan dalam







