Share

Bab 5

Penulis: Anisnca
last update Tanggal publikasi: 2026-06-05 15:40:24

Kereta keluarga Elgard berhenti di depan kediaman Marquis Varell yang malam itu dipenuhi para bangsawan, cahaya mewah, dan alunan musik dari ballroom megah di dalam.

Namun suasana di depan kediaman itu berubah sedikit aneh saat pintu kereta keluarga Elgard terbuka.

Aina turun lebih dulu.

Gaun hitam keperakan membalut tubuhnya dengan anggun, sementara rambut panjangnya ditata rapi dengan hiasan berlian kecil yang berkilau di bawah cahaya lampu malam.

Beberapa bangsawan langsung menoleh padanya, tetapi perhatian Aina justru tertuju ke dalam kereta saat ia segera mengulurkan tangan.

“Pelan-pelan,” ucapnya refleks.

Sedetik kemudian, tangan besar Ditrian menyentuh jemarinya.

Jantung Aina langsung berdegup aneh.

Tetap saja meskipun sejak tadi sudah berusaha tenang, ia masih belum terbiasa berada sedekat ini dengan karakter favoritnya sendiri.

Ditrian turun dari kereta dengan tenang. Setelan hitam formal membuatnya terlihat semakin elegan, sementara wajah tampan dan matanya yang kosong tetap memberi kesan dingin dan sulit disentuh.

Di sampingnya, Kael langsung berdiri seperti bayangan yang selalu mengikuti tuannya.

Aina perlahan menyelipkan tangannya di lengan Ditrian. Dan saat itulah bisik-bisik kecil mulai terdengar dari sekitar mereka.

“Bukankah itu Duchess Elgard?”

“Dia datang bersama Duke Elgard?”

“Aneh sekali…”

“Selama ini dia bahkan tidak pernah mau mendampingi suaminya.”

Tatapan para bangsawan terasa terlalu jelas untuk diabaikan. Sebagian terlihat bingung, sebagian lain tampak penasaran, seolah sedang melihat sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

Aina memilih pura-pura tidak mendengar dan berjalan dengan dagu sedikit terangkat, berusaha terlihat percaya diri meski gugup setengah mati.

Ini pertama kalinya ia menghadiri pesta bangsawan secara langsung, dikelilingi aula megah, lampu kristal, musik klasik, dan para bangsawan berpakaian mewah seperti adegan dalam novel.

Dan yang paling penting, ia datang bersama Ditrian Elgard—karakter favoritnya yang dulu hanya ada dalam ilustrasi dan tulisan, namun sekarang berjalan tepat di sampingnya.

Aina sampai harus menahan diri agar tidak tersenyum sendiri.

Di tengah langkah mereka, Ditrian tiba-tiba membuka suara.

“Kau tidak perlu memaksakan diri untuk pergi bersamaku.”

“Anda terlalu banyak berpikir.”

“Aku hanya tidak ingin membebanimu.”

Langkah Aina sedikit melambat saat mendengar ucapan itu. Entah kenapa, nada suara Ditrian terdengar begitu rendah diri, seolah ia benar-benar berpikir berada di sisinya adalah hal yang menyiksa.

Padahal pria itu tampan, kaya, kuat, dan bahkan para bangsawan terlihat segan padanya.

Namun Aina segera sadar alasan di balik sikap itu. Bagaimanapun, Yuniver memang selalu memperlakukannya dengan buruk.

Sebelum sempat membalas, perhatian Aina justru tertuju pada Kael yang berjalan terlalu dekat di sisi Ditrian seperti bayangan.

Aina langsung berhenti berjalan, membuat Ditrian dan Kael ikut berhenti.

Begitu juga Ditrian.

Aina menatap Kael beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Kau bisa berhenti mengikuti kami seperti itu.”

Kael mengernyit samar. “Nyonya, tugas saya adalah menjaga Yang Mulia Duke.”

“Aku tahu,” jawab Aina cepat. “Tapi malam ini aku akan mendampingi suamiku sendiri.”

Kael tampak ragu. Tatapannya jelas menunjukkan kalau ia sama sekali tidak percaya pada Yuniver, dan entah kenapa itu justru membuat Aria sedikit kesal.

Ia langsung menyilangkan tangan di depan dada sebelum kembali berkata, “Tenang saja. Aku tidak akan melakukan hal aneh pada tuanmu.”

Kael masih diam.

Aina sampai hampir mendecih sendiri melihat reaksinya.

“Sudahlah,” lanjutnya lagi sambil menghela napas. “Aku tidak akan melukai suamiku di tengah pesta seperti ini.”

Kael terdiam sejenak, lalu mundur setelah Ditrian memberi isyarat kecil. Begitu ia pergi, suasana langsung berubah canggung.

Aina mendadak bingung harus bersikap apa, sementara Ditrian tetap diam. Musik pesta terus mengalun, tapi keheningan di antara mereka justru terasa lebih jelas.

Aina semakin gugup berdiri berhadapan langsung dengan karakter favoritnya yang ternyata jauh lebih tampan dan pendiam dari bayangannya.

Akhirnya ia buru-buru membuka suara untuk mencairkan suasana.

“A-Anda mau minum sesuatu?”

“Tidak perlu,” jawab Ditrian tenang.

“Oh…”

Hening lagi.

Aina langsung panik sendiri.

“Kalau begitu aku ambilkan saja dulu!” ucapnya cepat sebelum suasana makin aneh.

Ditrian tampak seperti hendak menolak lagi, tetapi Aina sudah lebih dulu berjalan pergi menuju meja minuman.

Begitu sedikit menjauh dari Ditrian, Aina langsung menghembuskan napas panjang sambil memegangi dadanya sendiri.

“Ya ampun…” Ia benar-benar gugup setengah mati.

Namun rasa gugup Aina perlahan bercampur dengan kekaguman saat ia mengamati ballroom megah di depannya, cahaya kristal, para bangsawan yang menari, dan hidangan mewah seperti karya seni.

Ia terpana, menyadari bahwa dunia yang dulu hanya ia baca kini benar-benar ia pijak.

Namun tatapan dan bisikan para bangsawan yang terus mengarah padanya segera membuatnya kembali sadar. Jelas mereka heran melihat Yuniver datang bersama Ditrian malam ini.

Aina langsung meringis kecil dalam hati… ya sudahlah!

Sepertinya beginilah nasib menjadi karakter terkenal jahat di dunia novel.

Aina baru saja mengambil gelas minuman ketika matanya tanpa sengaja kembali mencari Ditrian di tengah ballroom. Niatnya hanya ingin kembali ke sisi pria itu, tetapi langkahnya langsung terhenti.

Di antara keramaian, ia melihat Vincent berdiri terlalu dekat dengan Ditrian untuk sekadar berbicara biasa. Aina langsung mengernyit. Instingnya langsung merasa ada yang tidak beres.

Tanpa pikir panjang ia melangkah cepat, namun kembali berhenti saat melihat Vincent mencondongkan tubuh dan berbisik terlalu dekat pada Ditrian.

Dan Ditrian… terlihat tidak seperti biasanya.

Wajah Ditrian tetap tenang, tetapi ada ketegangan samar di rahangnya dan cara ia berdiri yang tidak serileks biasanya. Bukan dingin seperti biasa, melainkan seperti sedang menahan sesuatu yang tidak nyaman.

Vincent tersenyum terlalu tipis untuk disebut ramah, lebih seperti menyembunyikan sesuatu di balik kata-katanya.

Jantung Aina langsung berdetak lebih cepat.

Tanpa menunggu lagi, ia melangkah cepat mendekat, dan sebelum sempat ragu lagi, ia masuk di antara mereka. Tangannya langsung mencengkeram lengan Ditrian dan menariknya ke sisinya.

Gerakan itu membuat beberapa orang di sekitar terdiam.

Ditrian sedikit tersentak, lalu menoleh ke arah Aina dengan ekspresi tetap tenang, seolah mencoba memahami situasi yang baru saja terjadi.

Vincent langsung berhenti berbicara, senyum tipis di wajahnya menghilang.

Aina tidak memedulikan reaksi siapa pun di sekitarnya. Tatapannya langsung tertuju pada Vincent, tajam dan penuh kewaspadaan yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya sadari.

Dadanya naik turun pelan, tetapi suaranya terdengar tegas saat akhirnya ia berbicara.

“Apa yang kau lakukan pada suamiku?!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 66

    Jawaban itu datang datar, bahkan tanpa emosi dan tanpa kemarahan. Namun justru karena itulah Vincent semakin merasa terganggu."Aneh sekali." Ia tertawa kecil. "Dulu dia selalu mencariku ke mana pun aku pergi."Tatapan Vincent jatuh pada wajah Ditrian."Sekarang tiba-tiba dia bahkan tidak ingin menemuiku."Ditrian tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam di tempatnya sementara angin sore berembus pelan melewati taman belakang kastil. Keheningan itu membuat Vincent sedikit mengernyit."Kau benar-benar percaya dia berubah?"Tidak ada jawaban.Vincent tertawa kecil."Aku mengenalnya jauh lebih lama darimu, Ditrian." Ia melangkah mendekat satu langkah. "Yuniver tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan."Ditrian menatapnya."Jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin kau berharap terlalu banyak."Kepala Ditrian sedikit bergerak ke arah sumber suara."Berharap?"Vincent tersenyum tipis."Bahwa semua ini karena dirimu. Bahwa dia tiba-tiba menjadi istri yang baik karena akhirnya jatuh cinta pa

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 65

    Langkahnya langsung terhenti. Selama beberapa detik, ia hanya bisa menatap pria di hadapannya tanpa tahu harus bereaksi seperti apa. Sementara Ditrian sendiri tampak sama sekali tidak menyadari bahwa kalimat sederhana yang baru saja diucapkannya telah membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk berpikir dengan benar.Ekspresinya tetap tenang, wajahnya tetap datar. Seolah ia baru saja mengatakan sesuatu yang sepenuhnya biasa dan Ditrian sedikit memiringkan kepalanya."Mengapa diam?"Yuniver segera mengalihkan pandangannya ke arah lain."T-Tidak ada." Jawabannya terdengar terlalu cepat untuk dianggap meyakinkan.Entah mengapa pipinya mulai terasa panas. Di sampingnya, Ditrian kembali melanjutkan langkahnya menyusuri koridor kastil tanpa menunjukkan perubahan apa pun pada ekspresinya.Yuniver hanya bisa menatap punggung pria itu dengan perasaan campur aduk. Pria ini benar-benar tidak adil. Dan yang lebih menyebalkan lagi Ditrian tampaknya benar-benar tidak menyadari apa yang telah ia la

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 64

    Pertemuan hari itu tidak berubah menjadi pelajaran seperti yang dibayangkan Yuniver. Tidak ada dokumen atau pembahasan tentang tugas seorang Duchess. Sebaliknya, mereka hanya mengobrol dan saling mengenal.Anehnya, Yuniver justru merasa lebih nyaman dengan itu.Lady Eleanor bercerita tentang kehidupan bangsawan di ibu kota, Lady Margaret membahas pesta dan aturan para bangsawan, sementara Lady Catherine banyak berbicara tentang perdagangan dan hubungan antarwilayah. Percakapan mereka mengalir dengan santai hingga waktu berlalu tanpa terasa. Yuniver bahkan beberapa kali tertawa kecil, sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan.Perlahan, ketiga wanita itu juga terlihat lebih santai. Kehati-hatian di antara mereka mulai menghilang dan digantikan oleh suasana yang lebih hangat."Tampaknya pelajaran yang sebenarnya harus kita mulai lain hari," ujar Lady Eleanor sambil tersenyum tipis. "Hari ini rasanya lebih tepat disebut sebagai perkenalan."Lady Margaret mengangguk setuju."Dan saya rasa

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 63

    Belum sempat Yuniver menyelesaikan kalimatnya, ketiga wanita itu langsung menggeleng hampir bersamaan."Tidak, Yang Mulia."Wanita tertua di antara mereka segera membungkukkan kepala lebih dalam dari sebelumnya. Wajahnya yang semula hanya dipenuhi rasa penasaran kini tampak sedikit pucat, seolah khawatir ucapan mereka barusan telah menyinggung sang Duchess tanpa mereka sadari."Harap jangan salah paham," ujarnya dengan hati-hati. "Kami sama sekali tidak bermaksud meremehkan ataupun mempertanyakan kemampuan Yang Mulia."Wanita yang duduk di sebelahnya segera mengangguk menyetujui."Kami hanya merasa terkejut," lanjutnya pelan. "Selama bertahun-tahun kami hidup di lingkungan bangsawan dan mengajari banyak wanita muda sebelum mereka memasuki kehidupan pernikahan, belum pernah kami bertemu seseorang dengan kedudukan setinggi Anda yang secara terbuka mengakui bahwa dirinya masih memiliki banyak hal untuk dipelajari."Ia berhenti sejenak sebelum tersenyum kecil, senyum yang kali ini tidak l

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 62

    Erin tidak berhenti bercerita. Karena Yuniver mengatakan ingatannya belum pulih setelah kecelakaan kereta, gadis itu mulai menceritakan kehidupan Yuniver yang asli. Yuniver hanya mendengarkan dan sesekali bertanya agar tidak terlihat mencurigakan.Dari cerita Erin, Yuniver baru tahu bahwa Count Vernois jauh lebih kejam dari yang ia bayangkan. Yuniver bukan satu-satunya korban. Count memiliki beberapa putri, tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar dianggap sebagai anak. Mereka hanya dimanfaatkan demi kepentingan keluarga.Setiap kali ada bangsawan yang ingin menikah, Count akan menikahkan salah satu putrinya demi mendapatkan uang, tanah, atau keuntungan politik. Setelah itu, para putrinya dikirim ke berbagai tempat dan banyak yang tidak pernah terdengar kabarnya lagi. Sementara semua keuntungan dari pernikahan mereka digunakan untuk memperkuat keluarga Vernois.Semua itu dilakukan demi satu orang, yaitu putra satu-satunya yang akan menjadi pewaris keluarga. Sejak kecil, anak laki-lak

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 61

    Pertanyaan Yuniver membuat tubuh Erin membeku.Gadis itu tetap berlutut dengan kepala tertunduk dalam. Kedua tangannya yang berada di atas pangkuan mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Beberapa saat ia hanya diam, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengakui sesuatu yang selama ini dipendamnya sendiri.Akhirnya, dengan gerakan yang nyaris tak terlihat, Erin menganggukkan kepala."Iya, Nyonya..."Jawaban itu keluar begitu lirih hingga hampir tenggelam oleh keheningan ruangan. Air mata kembali jatuh satu per satu ke lantai."Saya... sering melihatnya."Suara Erin mulai bergetar. Ia berusaha mengusap air matanya dengan punggung tangan, tetapi tangisan itu justru semakin sulit dibendung."Setiap kali Nyonya kembali dari rumah keluarga Vernois, Anda selalu tersenyum di depan semua orang. Anda selalu mengatakan semuanya baik-baik saja."Ia menarik napas yang terasa sesak."Tapi saya tahu... senyum itu bukan karena Nyonya benar-benar baik-baik saja."Yuniver tidak m

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 4

    “Apa?!” Suara Aina langsung meninggi tanpa bisa ia tahan.Tangannya refleks mencengkeram ujung meja kaca di depannya hingga rangkaian bunga yang tadi diberikan Vincent hampir jatuh ke lantai. Dadanya naik turun tidak beraturan, sementara matanya membelalak menatap pria di hadapannya.Membunuh Ditri

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 3

    Taman kaca milik keluarga Elgard dipenuhi cahaya matahari pagi yang menembus dinding-dinding bening di sekeliling ruangan.Pantulan sinarnya jatuh di antara hamparan bunga yang tumbuh rapi, membuat seluruh tempat itu terlihat hangat dan indah, jauh berbeda dari suasana kastil utama yang dingin dan

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 2

    Aina nyaris tidak tidur sepanjang malam. Semua yang terjadi terasa tidak masuk akal.Beberapa waktu lalu, ia masih berada di kamarnya sendiri sambil membaca novel favoritnya hingga larut malam. Namun sekarang, ia berada di dalam novel itu.Dan bukannya menjadi tokoh utama, Aina justru menjadi karak

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 1

    “Tahan sebentar. Ini akan terasa sakit.”Kelopak mata Aina terbuka perlahan, ia menggeliat saat merasakan hawa panas menyentuh pundaknya.Namun begitu menyadari pemandangan di atas tubuhnya, Aina langsung membelalak.Tepat di atas tubuhnya, seorang pria dengan tubuh kekar sedang mengukungnya. Kepal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status