LOGINKereta keluarga Elgard berhenti di depan kediaman Marquis Varell yang malam itu dipenuhi para bangsawan, cahaya mewah, dan alunan musik dari ballroom megah di dalam.
Namun suasana di depan kediaman itu berubah sedikit aneh saat pintu kereta keluarga Elgard terbuka.
Aina turun lebih dulu.
Gaun hitam keperakan membalut tubuhnya dengan anggun, sementara rambut panjangnya ditata rapi dengan hiasan berlian kecil yang berkilau di bawah cahaya lampu malam.
Beberapa bangsawan langsung menoleh padanya, tetapi perhatian Aina justru tertuju ke dalam kereta saat ia segera mengulurkan tangan.
“Pelan-pelan,” ucapnya refleks.
Sedetik kemudian, tangan besar Ditrian menyentuh jemarinya.
Jantung Aina langsung berdegup aneh.
Tetap saja meskipun sejak tadi sudah berusaha tenang, ia masih belum terbiasa berada sedekat ini dengan karakter favoritnya sendiri.
Ditrian turun dari kereta dengan tenang. Setelan hitam formal membuatnya terlihat semakin elegan, sementara wajah tampan dan matanya yang kosong tetap memberi kesan dingin dan sulit disentuh.
Di sampingnya, Kael langsung berdiri seperti bayangan yang selalu mengikuti tuannya.
Aina perlahan menyelipkan tangannya di lengan Ditrian. Dan saat itulah bisik-bisik kecil mulai terdengar dari sekitar mereka.
“Bukankah itu Duchess Elgard?”
“Dia datang bersama Duke Elgard?”
“Aneh sekali…”
“Selama ini dia bahkan tidak pernah mau mendampingi suaminya.”
Tatapan para bangsawan terasa terlalu jelas untuk diabaikan. Sebagian terlihat bingung, sebagian lain tampak penasaran, seolah sedang melihat sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
Aina memilih pura-pura tidak mendengar dan berjalan dengan dagu sedikit terangkat, berusaha terlihat percaya diri meski gugup setengah mati.
Ini pertama kalinya ia menghadiri pesta bangsawan secara langsung, dikelilingi aula megah, lampu kristal, musik klasik, dan para bangsawan berpakaian mewah seperti adegan dalam novel.
Dan yang paling penting, ia datang bersama Ditrian Elgard—karakter favoritnya yang dulu hanya ada dalam ilustrasi dan tulisan, namun sekarang berjalan tepat di sampingnya.
Aina sampai harus menahan diri agar tidak tersenyum sendiri.
Di tengah langkah mereka, Ditrian tiba-tiba membuka suara.
“Kau tidak perlu memaksakan diri untuk pergi bersamaku.”
“Anda terlalu banyak berpikir.”
“Aku hanya tidak ingin membebanimu.”
Langkah Aina sedikit melambat saat mendengar ucapan itu. Entah kenapa, nada suara Ditrian terdengar begitu rendah diri, seolah ia benar-benar berpikir berada di sisinya adalah hal yang menyiksa.
Padahal pria itu tampan, kaya, kuat, dan bahkan para bangsawan terlihat segan padanya.
Namun Aina segera sadar alasan di balik sikap itu. Bagaimanapun, Yuniver memang selalu memperlakukannya dengan buruk.
Sebelum sempat membalas, perhatian Aina justru tertuju pada Kael yang berjalan terlalu dekat di sisi Ditrian seperti bayangan.
Aina langsung berhenti berjalan, membuat Ditrian dan Kael ikut berhenti.
Begitu juga Ditrian.
Aina menatap Kael beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Kau bisa berhenti mengikuti kami seperti itu.”
Kael mengernyit samar. “Nyonya, tugas saya adalah menjaga Yang Mulia Duke.”
“Aku tahu,” jawab Aina cepat. “Tapi malam ini aku akan mendampingi suamiku sendiri.”
Kael tampak ragu. Tatapannya jelas menunjukkan kalau ia sama sekali tidak percaya pada Yuniver, dan entah kenapa itu justru membuat Aria sedikit kesal.
Ia langsung menyilangkan tangan di depan dada sebelum kembali berkata, “Tenang saja. Aku tidak akan melakukan hal aneh pada tuanmu.”
Kael masih diam.
Aina sampai hampir mendecih sendiri melihat reaksinya.
“Sudahlah,” lanjutnya lagi sambil menghela napas. “Aku tidak akan melukai suamiku di tengah pesta seperti ini.”
Kael terdiam sejenak, lalu mundur setelah Ditrian memberi isyarat kecil. Begitu ia pergi, suasana langsung berubah canggung.
Aina mendadak bingung harus bersikap apa, sementara Ditrian tetap diam. Musik pesta terus mengalun, tapi keheningan di antara mereka justru terasa lebih jelas.
Aina semakin gugup berdiri berhadapan langsung dengan karakter favoritnya yang ternyata jauh lebih tampan dan pendiam dari bayangannya.
Akhirnya ia buru-buru membuka suara untuk mencairkan suasana.
“A-Anda mau minum sesuatu?”
“Tidak perlu,” jawab Ditrian tenang.
“Oh…”
Hening lagi.
Aina langsung panik sendiri.
“Kalau begitu aku ambilkan saja dulu!” ucapnya cepat sebelum suasana makin aneh.
Ditrian tampak seperti hendak menolak lagi, tetapi Aina sudah lebih dulu berjalan pergi menuju meja minuman.
Begitu sedikit menjauh dari Ditrian, Aina langsung menghembuskan napas panjang sambil memegangi dadanya sendiri.
“Ya ampun…” Ia benar-benar gugup setengah mati.
Namun rasa gugup Aina perlahan bercampur dengan kekaguman saat ia mengamati ballroom megah di depannya, cahaya kristal, para bangsawan yang menari, dan hidangan mewah seperti karya seni.
Ia terpana, menyadari bahwa dunia yang dulu hanya ia baca kini benar-benar ia pijak.
Namun tatapan dan bisikan para bangsawan yang terus mengarah padanya segera membuatnya kembali sadar. Jelas mereka heran melihat Yuniver datang bersama Ditrian malam ini.
Aina langsung meringis kecil dalam hati… ya sudahlah!
Sepertinya beginilah nasib menjadi karakter terkenal jahat di dunia novel.
Aina baru saja mengambil gelas minuman ketika matanya tanpa sengaja kembali mencari Ditrian di tengah ballroom. Niatnya hanya ingin kembali ke sisi pria itu, tetapi langkahnya langsung terhenti.
Di antara keramaian, ia melihat Vincent berdiri terlalu dekat dengan Ditrian untuk sekadar berbicara biasa. Aina langsung mengernyit. Instingnya langsung merasa ada yang tidak beres.
Tanpa pikir panjang ia melangkah cepat, namun kembali berhenti saat melihat Vincent mencondongkan tubuh dan berbisik terlalu dekat pada Ditrian.
Dan Ditrian… terlihat tidak seperti biasanya.
Wajah Ditrian tetap tenang, tetapi ada ketegangan samar di rahangnya dan cara ia berdiri yang tidak serileks biasanya. Bukan dingin seperti biasa, melainkan seperti sedang menahan sesuatu yang tidak nyaman.
Vincent tersenyum terlalu tipis untuk disebut ramah, lebih seperti menyembunyikan sesuatu di balik kata-katanya.
Jantung Aina langsung berdetak lebih cepat.
Tanpa menunggu lagi, ia melangkah cepat mendekat, dan sebelum sempat ragu lagi, ia masuk di antara mereka. Tangannya langsung mencengkeram lengan Ditrian dan menariknya ke sisinya.
Gerakan itu membuat beberapa orang di sekitar terdiam.
Ditrian sedikit tersentak, lalu menoleh ke arah Aina dengan ekspresi tetap tenang, seolah mencoba memahami situasi yang baru saja terjadi.
Vincent langsung berhenti berbicara, senyum tipis di wajahnya menghilang.
Aina tidak memedulikan reaksi siapa pun di sekitarnya. Tatapannya langsung tertuju pada Vincent, tajam dan penuh kewaspadaan yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya sadari.
Dadanya naik turun pelan, tetapi suaranya terdengar tegas saat akhirnya ia berbicara.
“Apa yang kau lakukan pada suamiku?!”
Hari pesta teh akhirnya tiba.Sejak pagi, kediaman Duke Elgard sudah dipenuhi kesibukan. Para pelayan memastikan taman kaca, meja, hidangan, dan semua kebutuhan tamu telah siap. Yuniver bahkan berkali-kali memeriksa semuanya hingga kepala pelayan hampir kehilangan hitungan.Ketika kereta para tamu mulai berdatangan, Yuniver baru menyadari bahwa pesta ini mungkin tidak akan semudah yang ia bayangkan.Satu per satu wanita bangsawan memasuki taman kaca dengan pakaian dan perhiasan indah. Mereka menyapa Yuniver dengan sopan, memberi hormat, lalu duduk di tempat masing-masing.Dari luar, semuanya terlihat sempurna.Namun Yuniver segera menyadari tatapan mereka. Bisikan kecil terdengar setiap kali ia berbalik, beberapa senyum tampak dipaksakan, dan sebagian wanita memandangnya seolah sedang menilai dirinya.Yuniver berusaha mengabaikannya. Ia tetap menyambut para tamu dengan tenang. Bagaimanapun, ini adalah pesta teh pertamanya sebagai Duchess yang mulai memasuki lingkungan sosial para bang
Ditrian terdiam. Namun, kali ini bukan karena tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya sedang mencerna perkataan Yuniver yang terdengar begitu polos, seolah bagi wanita itu, memiliki seorang suami yang seorang Duke adalah sesuatu yang patut disyukuri setiap hari.Sudut bibirnya perlahan terangkat.Ia memang sudah menyadari perubahan Yuniver sejak beberapa waktu terakhir. Wanita itu tidak lagi menjaga jarak darinya seperti dahulu. Sebaliknya, Yuniver semakin sering berada di sisinya, memanggilnya hanya untuk menanyakan hal-hal kecil, bahkan tidak ragu meminta bantuannya meskipun tahu Ditrian tidak dapat melihat apa yang sedang ia tunjukkan.Anehnya, semua itu tidak pernah membuatnya merasa terganggu.Justru sebaliknya.Ada sesuatu yang membuat Ditrian merasa senang setiap kali Yuniver datang mencarinya.Seperti sekarang.Yuniver masih berdiri di hadapannya dengan wajah cerah, seolah baru saja menemukan sesuatu yang sangat menguntungkan dalam hidupnya."Aku hanya merasa hidupku sekarang
Yuniver terdiam sesaat. Entah mengapa, jawaban sederhana dari Ditrian itu kembali membuat sudut bibirnya terangkat. Ia kemudian merangkul lengan pria itu lebih erat, seolah ingin menunjukkan betapa senangnya dirinya mendengar persetujuan tersebut.“Kalau begitu, aku akan melakukannya.”“Baik.” Ditrian mengangguk kecil. “Aku akan menunggu hasilnya.”Yuniver yang semula tersenyum tiba-tiba menyipitkan mata.“Kenapa terdengar seperti Anda sedang menunggu saya gagal?”Ditrian sedikit mengangkat alis.“Aku tidak mengatakan itu.”“Tapi nada suara Anda begitu.”Ditrian hanya diam. Lalu senyum tipis muncul di wajahnya.“Kalau begitu, buktikan aku salah.”Yuniver mendengus pelan, tetapi bukannya tersinggung, ia justru semakin mengeratkan rangkulannya pada lengan Ditrian.“Baik. Jangan menyesal nanti.”“Aku tidak akan menyesal.”“Kalau pestanya berhasil, Anda harus memujiku.”Ditrian terkekeh kecil.“Kalau begitu, aku akan menunggu sampai hari itu.”Yuniver tersenyum puas. Ia kemudian menarik l
Setelah pembicaraan mengenai penculikan itu selesai, suasana di ruang tamu perlahan kembali lebih ringan. Ketiga wanita bangsawan itu tidak lagi menanyakan kejadian tersebut dan mulai mengarahkan pembicaraan pada hal-hal yang lebih berkaitan dengan kehidupan Yuniver sebagai Duchess Elgard.Salah seorang dari mereka membuka buku kecil yang sejak tadi dibawanya, lalu menatap Yuniver dengan senyum sopan.“Duchess, sebelum kita mulai membicarakan pelajaran hari ini, kami ingin mengetahui sedikit tentang kehidupan sosial Anda selama ini.”Yuniver mengangguk.“Maksudnya?”“Seberapa sering Anda menghadiri acara yang diadakan para bangsawan? Jamuan makan, pesta, pertunjukan, atau pertemuan kecil di kediaman bangsawan lain?”Yuniver terdiam.Ia mencoba mengingat kehidupan Yuniver sebelum dirinya datang ke dunia ini. Sayangnya, sebagian besar ingatan yang tersisa justru berkaitan dengan Vincent. Hampir tidak ada kenangan tentang bagaimana Yuniver berhubungan dengan wanita-wanita bangsawan lainn
Ditrian langsung menoleh ke arah Yuniver. Meskipun kedua matanya tidak dapat melihat, perubahan kecil dalam suara istrinya membuatnya tahu bahwa pertanyaan itu bukan sekadar rasa ingin tahu biasa. Ada sesuatu yang sedang dipikirkan Yuniver, sesuatu yang belum ingin ia katakan.Yuniver sendiri sedikit menegang. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan membawa percakapan mereka sejauh ini. Seharusnya ia hanya ingin mengetahui bagaimana perasaan Ditrian terhadap Vincent, tetapi tanpa sadar ia justru sedang mencari jawaban atas sesuatu yang jauh lebih besar.“Aku akan menghadapinya ketika saatnya tiba.” Jawab Ditrian akhirnya.Nada suaranya tetap tenang, seolah kemungkinan harus berhadapan dengan adiknya sendiri bukan sesuatu yang membuatnya gentar.Yuniver mengerutkan kening.“Bahkan jika dia adikmu?”Ditrian terdiam sejenak.“Hubungan darah tidak membuat seseorang bebas melakukan apa saja.”Jawaban itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat Yuniver terdiam.Ada ketegasan di balik suara Dit
Yuniver langsung terdiam. Ia tidak membutuhkan penjelasan lebih jauh. Dari cara ayahnya mengatakannya, ia sudah tahu jawabannya.Vincent mungkin bisa memaafkan banyak hal selama semuanya masih menguntungkan dirinya. Namun jika pria itu mengetahui bahwa Count Vernois diam-diam memiliki kesepakatan dengan Ditrian, kemungkinan besar semua itu akan berakhir dalam satu malam.Yuniver menatap ayahnya dengan perasaan yang semakin rumit, ia menyadari bahwa Count Vernois bukan hanya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.Pria itu juga sedang menyembunyikan sesuatu dari Vincent. Dan jika rahasia itu terbongkar, bukan hanya dirinya yang akan berada dalam bahaya. Seluruh keluarga Vernois bisa ikut terseret ke dalamnya.Begitu Yuniver kembali ke kediaman Duke Elgard, hari sudah mulai sore. Kereta yang membawanya berhenti di depan tangga utama, dan Erin segera turun lebih dahulu untuk membukakan pintu. Yuniver melangkah keluar dengan tenang, berusaha menyembunyikan semua yang baru saja ia dengar da
Aina melangkah perlahan di sisi Ditrian, membawanya menjauh dari kerumunan yang semakin ramai. Sejak insiden dengan Vincent tadi, rasanya seluruh perhatian di ballroom tertuju kemanapun mereka bergerak.Semua orang tentu penasaran, mereka tidak percaya dan terang-terangan bergosip tanpa perduli apak
Suara Ainaa terdengar begitu keras hingga membuat percakapan di sekitar mereka terhenti.Alunan musik yang sejak tadi memenuhi ballroom seakan menghilang sesaat ketika puluhan pasang mata beralih ke arah mereka. Para bangsawan yang sebelumnya sibuk berbincang kini menoleh dengan rasa penasaran yang
“Apa?!” Suara Aina langsung meninggi tanpa bisa ia tahan.Tangannya refleks mencengkeram ujung meja kaca di depannya hingga rangkaian bunga yang tadi diberikan Vincent hampir jatuh ke lantai. Dadanya naik turun tidak beraturan, sementara matanya membelalak menatap pria di hadapannya.Membunuh Ditri
Taman kaca milik keluarga Elgard dipenuhi cahaya matahari pagi yang menembus dinding-dinding bening di sekeliling ruangan.Pantulan sinarnya jatuh di antara hamparan bunga yang tumbuh rapi, membuat seluruh tempat itu terlihat hangat dan indah, jauh berbeda dari suasana kastil utama yang dingin dan







