Mag-log inSuara Ainaa terdengar begitu keras hingga membuat percakapan di sekitar mereka terhenti.
Alunan musik yang sejak tadi memenuhi ballroom seakan menghilang sesaat ketika puluhan pasang mata beralih ke arah mereka. Para bangsawan yang sebelumnya sibuk berbincang kini menoleh dengan rasa penasaran yang tidak disembunyikan sedikit pun.
Aina sendiri baru menyadari apa yang telah ia lakukan setelah semua perhatian tertuju padanya. Namun saat itu ia tidak peduli. Tatapannya hanya tertuju pada Ditrian dan Vincent.
Ditrian tampak sedikit tertegun. Pria itu memalingkan wajah ke arahnya dengan ekspresi yang sulit ditebak, tetapi Aina dapat merasakan kebingungan yang samar dari sikapnya.
Sementara itu, Vincent berdiri beberapa langkah di hadapan mereka dengan senyum yang perlahan memudar dari wajahnya.
“Apa maksudmu, Yuni?” tanyanya pelan.
Aina tidak langsung menjawab. Ia justru menoleh ke arah Ditrian dan menatap pria itu lekat-lekat.
“Apa dia mengatakan sesuatu yang buruk?”
Untuk beberapa saat Ditrian tidak menjawab. Ia sempat memalingkan wajah ke arah Vincent sebelum kembali menghadap Aina.
“Tidak,” ucapnya tenang. “Kami hanya membicarakan urusan bisnis.”
Alis Aina langsung bertaut. Jawaban itu jauh dari yang ia bayangkan. Sejak tadi ia yakin telah melihat sesuatu yang aneh di antara keduanya. Cara Vincent mencondongkan tubuhnya, senyum tipis yang tidak menyenangkan itu, serta ketegangan yang sempat tertangkap di wajah Ditrian.
Namun Ditrian tidak terlihat sedang berbohong.
Aina akhirnya terdiam dan menoleh ke arah Vincent, tetapi sebelum ia sempat mengatakan apa pun, bisikan-bisikan kecil mulai terdengar dari berbagai sudut ruangan.
“Astaga, dia membuatku terkejut.”
“Bukankah itu Duchess Elgard?”
“Kenapa tiba-tiba berteriak seperti itu?”
“Dia memang selalu suka mencari perhatian.”
Suara-suara itu terdengar pelan, tetapi cukup jelas untuk sampai ke telinga Aina. Ia berusaha mengabaikannya, namun bisikan tersebut justru semakin menjadi-jadi.
“Kasihan Duke Elgard.”
“Benar. Sudah bertahun-tahun dia harus hidup dengan wanita seperti itu.”
“Tsk, murahan sekali.”
Tubuh Aria menegang.
Murahan?
Perlahan ia menoleh ke arah kerumunan bangsawan yang berdiri tidak jauh dari sana. Tidak ada seorang pun yang berani menatapnya secara langsung. Mereka tetap berpura-pura berbicara satu sama lain seolah tidak terjadi apa-apa.
Tanpa sadar jemari Aina mengencang di lengan Ditrian.
Entah kenapa, hinaan itu tidak terlalu mengganggunya. Yang justru membuatnya tidak nyaman adalah kenyataan bahwa Ditrian pasti mendengar semuanya.
Pria itu berdiri tepat di sampingnya, tentu mustahil ia tidak mendengar. Saat itulah suara Vincent kembali terdengar.
“Sebenarnya apa yang Anda khawatirkan, Kakak Ipar?”
Aina mengalihkan pandangannya. Vincent masih berdiri di tempat yang sama dengan senyum tipis yang tampak sempurna di mata orang lain.
“Saya dan Kakak hanya berbicara mengenai pekerjaan seperti biasa,” lanjutnya santai.
Aina menatapnya lama. Entah kenapa, setiap kali melihat wajah pria itu, ia selalu teringat percakapan mereka di taman kaca.
“Karena Anda bukan orang yang bisa dipercaya.”
Suara Aina terdengar jelas di tengah ballroom yang ramai, membuat suasana seketika meredup. Musik yang sebelumnya mengalun lembut terasa seperti menjauh, tergantikan oleh keheningan singkat yang jatuh di antara mereka bertiga.
Vincent membeku.
Senyum di wajahnya yang tadi tampak sempurna sedikit retak, meski ia segera berusaha menutupinya kembali. Namun bagi orang yang cukup peka, keterkejutan itu sudah terlanjur terlihat.
Di sekitar mereka, para bangsawan mulai saling berbisik pelan, mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada yang menyangka Duchess Elgard akan mengatakan hal seperti itu secara langsung kepada Tuan Muda Vincent di tempat seperti ini.
Namun Aina tidak peduli.
Tatapannya tetap lurus, tajam, dan tidak bergeser sedikit pun dari Vincent. Di kepalanya, bayangan percakapan di taman kaca kembali muncul, tentang rencana, tentang cara mereka berbicara seolah nyawa seseorang hanyalah bagian dari permainan. Dan di tengah semua itu, nama Ditrian selalu muncul sebagai target akhir.
Karena itu, Aina tidak bisa diam.
“Yuni…” Vincent akhirnya tertawa pelan, meski terdengar kaku. “Aku tidak mengerti maksudmu.”
Aina tidak menjawab. Ia bahkan tidak memberikan reaksi apa pun selain menahan pandangannya tetap stabil. Seolah kata-kata Vincent tidak cukup penting untuk ia tanggapi.
"Perhatikan panggilanmu padanya Vincent." Ditrian menegur Vincent.
Aina menoleh ke arah Ditrian.
"Maaf." Balas Vincent dengan wajah tak senang.
Ditrian mengalihkan pandangan dan menatap kearah Aina lagi.
“Anda sudah selesai berbicara dengannya, bukan?”
Ditrian tidak langsung menjawab. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tetapi ada jeda kecil dalam sikapnya seolah ia sedang mencoba memahami perubahan yang terjadi di hadapannya malam ini.
Sejak awal pesta, Yuniver yang ia kenal tidak pernah bersikap seperti ini, Aina tahu dia pasti memikirkan ini. Aplagi Yuniver yang asli tidak pernah berdiri di sisinya seperti sekarang.
Tidak pernah menolak Vincent secara terang-terangan dan tidak pernah, sekalipun, membela dirinya di depan orang lain.
“Duke?” Aina kembali memanggil, kali ini lebih pelan.
Ditrian akhirnya mengangkat wajahnya sedikit ke arah suara itu.
“Aku sudah selesai,” jawabnya akhirnya.
Aina mengangguk singkat.
“Baik.”
Senyum tipis muncul di wajahnya, bukan karena senang, tetapi lebih seperti keputusan yang sudah selesai dibuat.
Tanpa menunggu reaksi siapa pun, Aina kembali menggandeng lengan Ditrian. Gerakannya tenang, tetapi tegas, seolah sudah memutuskan arah langkahnya sendiri.
Ia lalu menoleh ke arah Vincent untuk terakhir kalinya.
“Kalau begitu, lebih baik kita menikmati pesta ini secara terpisah.”
Jawaban itu datang datar, bahkan tanpa emosi dan tanpa kemarahan. Namun justru karena itulah Vincent semakin merasa terganggu."Aneh sekali." Ia tertawa kecil. "Dulu dia selalu mencariku ke mana pun aku pergi."Tatapan Vincent jatuh pada wajah Ditrian."Sekarang tiba-tiba dia bahkan tidak ingin menemuiku."Ditrian tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam di tempatnya sementara angin sore berembus pelan melewati taman belakang kastil. Keheningan itu membuat Vincent sedikit mengernyit."Kau benar-benar percaya dia berubah?"Tidak ada jawaban.Vincent tertawa kecil."Aku mengenalnya jauh lebih lama darimu, Ditrian." Ia melangkah mendekat satu langkah. "Yuniver tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan."Ditrian menatapnya."Jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin kau berharap terlalu banyak."Kepala Ditrian sedikit bergerak ke arah sumber suara."Berharap?"Vincent tersenyum tipis."Bahwa semua ini karena dirimu. Bahwa dia tiba-tiba menjadi istri yang baik karena akhirnya jatuh cinta pa
Langkahnya langsung terhenti. Selama beberapa detik, ia hanya bisa menatap pria di hadapannya tanpa tahu harus bereaksi seperti apa. Sementara Ditrian sendiri tampak sama sekali tidak menyadari bahwa kalimat sederhana yang baru saja diucapkannya telah membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk berpikir dengan benar.Ekspresinya tetap tenang, wajahnya tetap datar. Seolah ia baru saja mengatakan sesuatu yang sepenuhnya biasa dan Ditrian sedikit memiringkan kepalanya."Mengapa diam?"Yuniver segera mengalihkan pandangannya ke arah lain."T-Tidak ada." Jawabannya terdengar terlalu cepat untuk dianggap meyakinkan.Entah mengapa pipinya mulai terasa panas. Di sampingnya, Ditrian kembali melanjutkan langkahnya menyusuri koridor kastil tanpa menunjukkan perubahan apa pun pada ekspresinya.Yuniver hanya bisa menatap punggung pria itu dengan perasaan campur aduk. Pria ini benar-benar tidak adil. Dan yang lebih menyebalkan lagi Ditrian tampaknya benar-benar tidak menyadari apa yang telah ia la
Pertemuan hari itu tidak berubah menjadi pelajaran seperti yang dibayangkan Yuniver. Tidak ada dokumen atau pembahasan tentang tugas seorang Duchess. Sebaliknya, mereka hanya mengobrol dan saling mengenal.Anehnya, Yuniver justru merasa lebih nyaman dengan itu.Lady Eleanor bercerita tentang kehidupan bangsawan di ibu kota, Lady Margaret membahas pesta dan aturan para bangsawan, sementara Lady Catherine banyak berbicara tentang perdagangan dan hubungan antarwilayah. Percakapan mereka mengalir dengan santai hingga waktu berlalu tanpa terasa. Yuniver bahkan beberapa kali tertawa kecil, sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan.Perlahan, ketiga wanita itu juga terlihat lebih santai. Kehati-hatian di antara mereka mulai menghilang dan digantikan oleh suasana yang lebih hangat."Tampaknya pelajaran yang sebenarnya harus kita mulai lain hari," ujar Lady Eleanor sambil tersenyum tipis. "Hari ini rasanya lebih tepat disebut sebagai perkenalan."Lady Margaret mengangguk setuju."Dan saya rasa
Belum sempat Yuniver menyelesaikan kalimatnya, ketiga wanita itu langsung menggeleng hampir bersamaan."Tidak, Yang Mulia."Wanita tertua di antara mereka segera membungkukkan kepala lebih dalam dari sebelumnya. Wajahnya yang semula hanya dipenuhi rasa penasaran kini tampak sedikit pucat, seolah khawatir ucapan mereka barusan telah menyinggung sang Duchess tanpa mereka sadari."Harap jangan salah paham," ujarnya dengan hati-hati. "Kami sama sekali tidak bermaksud meremehkan ataupun mempertanyakan kemampuan Yang Mulia."Wanita yang duduk di sebelahnya segera mengangguk menyetujui."Kami hanya merasa terkejut," lanjutnya pelan. "Selama bertahun-tahun kami hidup di lingkungan bangsawan dan mengajari banyak wanita muda sebelum mereka memasuki kehidupan pernikahan, belum pernah kami bertemu seseorang dengan kedudukan setinggi Anda yang secara terbuka mengakui bahwa dirinya masih memiliki banyak hal untuk dipelajari."Ia berhenti sejenak sebelum tersenyum kecil, senyum yang kali ini tidak l
Erin tidak berhenti bercerita. Karena Yuniver mengatakan ingatannya belum pulih setelah kecelakaan kereta, gadis itu mulai menceritakan kehidupan Yuniver yang asli. Yuniver hanya mendengarkan dan sesekali bertanya agar tidak terlihat mencurigakan.Dari cerita Erin, Yuniver baru tahu bahwa Count Vernois jauh lebih kejam dari yang ia bayangkan. Yuniver bukan satu-satunya korban. Count memiliki beberapa putri, tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar dianggap sebagai anak. Mereka hanya dimanfaatkan demi kepentingan keluarga.Setiap kali ada bangsawan yang ingin menikah, Count akan menikahkan salah satu putrinya demi mendapatkan uang, tanah, atau keuntungan politik. Setelah itu, para putrinya dikirim ke berbagai tempat dan banyak yang tidak pernah terdengar kabarnya lagi. Sementara semua keuntungan dari pernikahan mereka digunakan untuk memperkuat keluarga Vernois.Semua itu dilakukan demi satu orang, yaitu putra satu-satunya yang akan menjadi pewaris keluarga. Sejak kecil, anak laki-lak
Pertanyaan Yuniver membuat tubuh Erin membeku.Gadis itu tetap berlutut dengan kepala tertunduk dalam. Kedua tangannya yang berada di atas pangkuan mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Beberapa saat ia hanya diam, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengakui sesuatu yang selama ini dipendamnya sendiri.Akhirnya, dengan gerakan yang nyaris tak terlihat, Erin menganggukkan kepala."Iya, Nyonya..."Jawaban itu keluar begitu lirih hingga hampir tenggelam oleh keheningan ruangan. Air mata kembali jatuh satu per satu ke lantai."Saya... sering melihatnya."Suara Erin mulai bergetar. Ia berusaha mengusap air matanya dengan punggung tangan, tetapi tangisan itu justru semakin sulit dibendung."Setiap kali Nyonya kembali dari rumah keluarga Vernois, Anda selalu tersenyum di depan semua orang. Anda selalu mengatakan semuanya baik-baik saja."Ia menarik napas yang terasa sesak."Tapi saya tahu... senyum itu bukan karena Nyonya benar-benar baik-baik saja."Yuniver tidak m
Yuniver sempat ingin langsung menjawab, namun begitu ia membuka mulut, kata-kata yang sudah tersusun di kepalanya mendadak menghilang begitu saja. Ia berhenti, menutup mulutnya kembali, lalu menghela napas pelan seolah kesal pada dirinya sendiri.Di hadapannya, Ditrian tidak mendesaknya. Pria itu h
Kalimat itu membuat Erin membeku, iahanya berdiri diam sambil menatap Yuniver seolah tidak yakin dirinya mendengar dengan benar.“Apa?”“Aku bertanya,” ulang Yuniver pelan. “Apa kau bekerja untuk Vincent?”Wajah Erin langsung berubah, ia terlihat terluka seolah Yuniver baru saja mengatakan sesuatu
Aina melangkah perlahan di sisi Ditrian, membawanya menjauh dari kerumunan yang semakin ramai. Sejak insiden dengan Vincent tadi, rasanya seluruh perhatian di ballroom tertuju kemanapun mereka bergerak.Semua orang tentu penasaran, mereka tidak percaya dan terang-terangan bergosip tanpa perduli apak
Kereta keluarga Elgard berhenti di depan kediaman Marquis Varell yang malam itu dipenuhi para bangsawan, cahaya mewah, dan alunan musik dari ballroom megah di dalam.Namun suasana di depan kediaman itu berubah sedikit aneh saat pintu kereta keluarga Elgard terbuka.Aina turun lebih dulu.Gaun hitam







