로그인Nama itu membuat suasana aula berubah dan cukup bagi Yuniver untuk menangkap perubahan kecil pada wajah ayahnya. Kemarahan yang sejak tadi memenuhi tatapan Count Vernois mendadak menghilang, digantikan oleh sesuatu yang lebih sulit dibaca. Matanya menjadi tajam, sementara rahangnya mengeras."Kenapa kau menanyakan Vincent?"Yuniver tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan pria itu beberapa saat, mencoba membaca sesuatu dari ekspresinya. Namun seperti biasa, Count Vernois terlalu pandai menyembunyikan pikirannya."Karena semakin banyak hal yang terjadi," jawab Yuniver akhirnya, "semakin aku merasa ada sesuatu yang selama ini disembunyikan dariku."Count Vernois tetap diam. Yuniver melangkah maju satu langkah."Dan aku ingin tahu apakah Ayah salah satu orang yang mengetahuinya."Tidak ada jawaban. Count Vernois justru mengalihkan pandangannya ke arah para pengawal yang berdiri di belakang Yuniver. Ia tidak perlu mengatakan apa pun. Yuniver langsung mengerti.Apa pun yang ingin dibicara
Yuniver langsung terdiam. Ia tahu persis apa yang dimaksud Ditrian. Penculikan itu masih terlalu jelas dalam ingatannya—ruangan gelap yang pengap, rantai yang membelenggu tangan dan kakinya, suara tawa para pria yang memperlakukannya dengan kasar, hingga saat Ditrian akhirnya menemukannya dalam keadaan terluka. Semua kejadian itu membuatnya sadar bahwa kekhawatiran suaminya bukan tanpa alasan.Ekspresi Yuniver perlahan melunak. Ia menghela napas kecil sebelum akhirnya mengangguk."Baiklah."Ditrian pun mengangguk kecil. "Besok kau boleh pergi."Senyum tipis muncul di wajah Yuniver. "Terima kasih."Namun baru saja ia hendak berbalik, suara Ditrian kembali menghentikan langkahnya."Dan malam ini, jangan terlalu banyak memikirkan apa pun."Yuniver menoleh. "Kenapa?""Kau masih harus beristirahat."Nada suara Ditrian tetap tenang, tetapi Yuniver tahu pria itu benar-benar memperhatikannya. Selama beberapa hari terakhir, Ditrian bahkan hampir tidak pernah membiarkannya sendirian terlalu lam
Pintu kemudian tertutup. Yuniver tetap duduk di tempatnya, menatap pintu dengan pikiran yang semakin berat. Ia tahu Vincent sedang marah dan bukan orang yang mudah menerima kekalahan. Namun, yang lebih mengganggunya adalah perjanjian tentang keluarganya, gelar Duke, dan janji yang pernah dibuat Yuniver asli kepada Vincent.Jika semua itu berkaitan dengan kematian Ditrian dalam cerita asli, Yuniver tidak boleh membiarkan Vincent bertindak sesuka hati. Ia menghela napas panjang dan bersandar di kursinya. Sekarang, ia merasa telah menyentuh bagian paling berbahaya dari cerita yang selama ini berusaha ia ubah.***Ketika Ditrian akhirnya kembali ke kediaman, hari sudah mulai sore. Suara langkah para pelayan terdengar samar di lorong, sementara Yuniver masih duduk di ruang tengah dengan pikirannya yang sejak tadi tidak bisa tenang. Percakapannya dengan Vincent terus terbayang di kepalanya, terutama ketika pria itu mengingatkannya tentang sebuah perjanjian yang bahkan tidak ia ingat pernah
"Aku memang tidak mengingatnya," jawab Yuniver tenang. "Kalau kau mengatakan aku pernah berjanji, jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya pernah kita sepakati."Rahang Vincent mengeras."Kau yang mengatakan akan membantuku."Yuniver tetap menatapnya."Kalau begitu, katakan apa yang pernah kujanjikan."Beberapa saat Vincent hanya diam. Kemudian ia menghela napas pelan, seolah mulai kehilangan kesabarannya."Yuni, apakah kau sekarang lupa perjanjian kita?"Yuniver mengerutkan kening. "Perjanjian apa?"Tatapan Vincent berubah. Tidak ada lagi kelembutan seperti ketika ia pertama kali datang menemuinya. Ia menatap Yuniver seolah sedang mengingatkan seseorang yang telah melupakan tempatnya."Keluargamu," katanya akhirnya.Yuniver terdiam, sementara Vincent menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi."Keluargamu ada di dalam genggamanku."Jantung Yuniver seakan berhenti berdetak sesaat."Apa maksudmu?"Vincent hanya tersenyum tipis. "Kau benar-benar ingin membuatku menjelaskan semuanya?"Yuniver t
Vincent menatapnya cukup lama. Wajahnya yang sejak tadi berusaha tenang perlahan menunjukkan kegelisahan yang semakin sulit disembunyikan."Kau menganggap semua yang terjadi di antara kita tidak berarti?"Yuniver terdiam sejenak. Ia tidak ingin meremehkan perasaan Vincent, apalagi berpura-pura bahwa masa lalu mereka tidak pernah ada. Namun itu juga bukan berarti ia ingin kembali ke sana."Aku tidak mengatakan semuanya tidak berarti.""Lalu?"Yuniver menghela napas pelan."Yang aku katakan adalah... semuanya sudah cukup."Rahang Vincent mengeras."Cukup?""Ya."Jawaban itu sederhana, tetapi tegas.Vincent menatapnya seolah masih berusaha mencari celah dari ucapan tersebut."Kau benar-benar ingin mengakhiri semuanya?"Yuniver mengangguk kecil."Aku pikir kita memang seharusnya berhenti sampai di sini.""Kenapa?"Yuniver terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab."Karena sekarang aku mengerti bahwa perasaan saja tidak selalu cukup untuk membuat dua orang pantas bersama."Vincent ti
Tangan Yuniver yang sedang memegang cangkir langsung berhenti dan matanya membelalak."Vincent?""Benar, Nyonya."Suasana di ruangan seketika berubah. Yuniver menatap kepala pelayan itu dengan ekspresi tidak percaya.Ditrian tidak ada di sini dan Kael juga pergi bersamanya. Lalu sekarang, tepat ketika dirinya sendirian di dalam kediaman...Vincent datang, firasat Yuniver langsung terasa tidak enak. Ia meletakkan cangkirnya perlahan."Dia datang sendiri?""Setahu saya, Tuan Vincent datang bersama seorang pelayan."Yuniver terdiam. Ingatan tentang pertemuan mereka sebelumnya kembali muncul begitu saja. Provokasi Vincent kepada Ditrian, kebohongan yang sengaja ia lontarkan tentang hubungan mereka, lalu bagaimana Ditrian memperingatkannya dengan dingin.Sejak saat itu, Yuniver tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di dalam pikiran Vincent. Dan sekarang pria itu datang ketika Ditrian tidak berada di sini."Katakan padanya..." Yuniver berhenti sejenak.Tatapannya mengarah ke pintu. Ia s
“Tahan sebentar. Ini akan terasa sakit.”Kelopak mata Aina terbuka perlahan, ia menggeliat saat merasakan hawa panas menyentuh pundaknya.Namun begitu menyadari pemandangan di atas tubuhnya, Aina langsung membelalak.Tepat di atas tubuhnya, seorang pria dengan tubuh kekar sedang mengukungnya. Kepal
Yuniver sempat ingin langsung menjawab, namun begitu ia membuka mulut, kata-kata yang sudah tersusun di kepalanya mendadak menghilang begitu saja. Ia berhenti, menutup mulutnya kembali, lalu menghela napas pelan seolah kesal pada dirinya sendiri.Di hadapannya, Ditrian tidak mendesaknya. Pria itu h
Kalimat itu membuat Erin membeku, iahanya berdiri diam sambil menatap Yuniver seolah tidak yakin dirinya mendengar dengan benar.“Apa?”“Aku bertanya,” ulang Yuniver pelan. “Apa kau bekerja untuk Vincent?”Wajah Erin langsung berubah, ia terlihat terluka seolah Yuniver baru saja mengatakan sesuatu
Aina melangkah perlahan di sisi Ditrian, membawanya menjauh dari kerumunan yang semakin ramai. Sejak insiden dengan Vincent tadi, rasanya seluruh perhatian di ballroom tertuju kemanapun mereka bergerak.Semua orang tentu penasaran, mereka tidak percaya dan terang-terangan bergosip tanpa perduli apak







