Share

Bab 7

Author: Anisnca
last update publish date: 2026-06-10 23:34:44

Aina melangkah perlahan di sisi Ditrian, membawanya menjauh dari kerumunan yang semakin ramai. Sejak insiden dengan Vincent tadi, rasanya seluruh perhatian di ballroom tertuju kemanapun mereka bergerak.

Semua orang tentu penasaran, mereka tidak percaya dan terang-terangan bergosip tanpa perduli apakah mereka akan terdengar atau tidak.

Aina tahu alasan mereka bereaksi seperti itu.

Tidak ada seorang pun di ibu kota yang tidak tahu bahwa Yuniver terobsesi pada Vincent dan membenci Ditrian. Perasaannya begitu terang-terangan hingga menjadi rahasia umum di kalangan bangsawan. 

Namun, Yuniver yang biasanya selalu mengejar Vincent kini justru datang bersama Ditrian. Ia bahkan tetap berada di sisi pria itu sepanjang malam dan membelanya di depan banyak orang. 

Siapa yang akan percaya perubahan seperti itu begitu saja? 

Tapi tentu saja Aina tidak terlalu memikirkannya. Ia mengalihkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari tempat yang lebih tenang.

Matanya menyapu ruangan, mencari tempat yang sedikit lebih tenang.

"Akan lebih baik jika tempatnya sedikit sepi."

Aina menoleh.

Pria itu tetap menghadap lurus ke depan saat berbicara. Wajah tampannya tenang seperti biasa, membuat sulit menebak apa yang sedang dipikirkannya.

“Aku tidak terlalu menyukai tempat yang ramai,” lanjutnya setelah jeda singkat. “Dan aku tidak suka menjadi pusat perhatian.”

Aina berkedip sesaat sebelum akhirnya terkekeh kecil. Entah kenapa, mendengar kalimat itu dari seorang Duke terasa sedikit lucu baginya.

“Mengapa Anda seperti itu?”

Ditrian tidak menjawab dan hanya terdiam. Aina tidak perduli, Ia hanya mengajaknya ke sudut ballroom yang lebih tenang.

Seorang pelayan kebetulan lewat membawa wine. Aina mengambil satu gelas dan menyerahkannya kepada Ditrian.

Pria itu menerimanya dengan mudah lalu menyesapnya perlahan.

Aina tanpa sadar memperhatikannya. Sulit dipercaya bahwa Ditrian buta. Gerakannya selalu tenang dan tidak pernah terlihat canggung.

Menyadari tatapannya, Ditrian sedikit memalingkan wajah.

“Ada sesuatu?”

Aina langsung tersadar.

“Tidak.” Jawabannya terlalu cepat hingga membuatnya merasa canggung.  Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke arah keramaian di depan mereka.

"Yuni." Panggil Ditrian pelan.

Aina menatapnya, "Ya?"

"Kau tadi cukup berlebihan, kau tidak takut hubunganmu dengan Vincent memburuk?"

Aina tertegun, tetapi ia segera menenangkan diri. Ia hampir lupa bahwa sekarang dirinya adalah Yuniver. Tidak mungkin ia mengatakan alasan sebenarnya di balik semua tindakannya. 

Memikirkan itu, Aina sadar bahwa ia harus mulai membiasakan diri dengan identitas barunya. 

“Anda tidak perlu memikirkan Vincent.”

Ditrian berhenti sejenak sebelum menurunkan gelasnya.

“Apa?”

“Hubungan saya dengannya.”

Aina berusaha terdengar santai meski sebenarnya masih merasa aneh setiap kali membahas pria itu.

“Sekarang saya sepenuhnya istri Anda.”

Ditrian terdiam namun matanya yang kosong terus menatap ke arah Aina.

Yuniver kembali memandang aula utama. Musik mengalun lembut sementara para bangsawan mulai menari di lantai dansa.

Gaun-gaun mewah berputar mengikuti langkah para wanita, dan cahaya lampu kristal membuat suasana pesta terlihat semakin megah. 

Yuniver hanya memperhatikan pemandangan itu dalam diam, namun wajahnya bersemu.

“Orang-orang sedang berdansa.” Ucapan itu keluar begitu saja tanpa ia sadari.

Di sampingnya, Ditrian sedikit memalingkan wajah ke arahnya.

“Kau ingin berdansa?”

Aina langsung menoleh. Pertanyaan itu membuatnya terkekeh kecil.

“Tidak.” Ia menggeleng pelan sambil tersenyum. “Saya hanya memberitahu Anda tentang apa yang saya lihat.”

Ditrian terdiam, matanya tetap lurus.

“Kalau kau ingin, aku bisa menemanimu.”

Yuniver menatap Ditrian sejenak, seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Jantungnya berdegup lebih cepat, dan wajahnya memanas. 

Ia buru-buru mengalihkan pandangan, berusaha menenangkan diri. Kalau di dunia aslinya, mungkin ia sudah langsung memeluknya karena terlalu senang.

Bagaimana tidak, karakter kesayangannya baru saja mengajaknya berdansa., Tapi sayangnya sekarang ia hanya bisa menahan diri sekuat mungkin.

“Benarkah?”

“Tentu. Aku masih mengingat gerakannya.”

Yuniver berkedip.

“Benar-benar ingat?” Yuniver ragu-ragu sejenak.

“Hm.” Pria itu menganggukkan kepala sedikit. “Aku hanya khawatir akan menabrak orang.”

Yuniver tidak bisa menahan tawanya yang pecah begitu saja sebelum ia sempat menahannya.

Entah mengapa membayangkan Ditrian yang selalu terlihat tenang dan sempurna mengkhawatirkan hal seperti itu terasa lucu baginya.

Namun begitu menyadari apa yang ia lakukan, Yuniver langsung menutup mulutnya.

“Maaf.”

Ditrian tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri diam membuat Yuniver merasa pria itu terlihat sedikit tertegun mendengar tawanya.

Perasaan aneh itu membuatnya ikut terdiam.

Untungnya sebelum suasana menjadi semakin canggung, sebuah suara terdengar dari belakang.

“Yang Mulia.” Sapa Kael hati-hati dari belakang.

Ditrian menoleh ke arah pengawalnya.

Kael berjalan mendekat dengan ekspresi serius sebelum membungkukkan tubuh sedikit. Lalu pria itu membisikkan sesuatu di telinga Ditrian.

Yuniver tidak dapat mendengar isi pembicaraan mereka. Kemudian Ditrian mengangguk pelan.

“Aku mengerti.” Setelah itu ia memalingkan wajah ke arah Yuniver. “Aku harus minum obat.”

Yuniver langsung mengangkat kepala.

“Saya bisa membantu Anda.”

“Tidak perlu.” Jawaban Ditrian terdengar lembut namun tegas. “Aku akan pergi bersama Kael.”

“Tapi—”

“Tunggulah di sini.” Suara pria itu memotong perkataannya. “Aku pasti kembali.”

Yuniver terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

“Baik.”

Ditrian lalu pergi bersama Kael dan Yuniver memperhatikan punggung mereka hingga menghilang di antara kerumunan para tamu.

Baru setelah keduanya benar-benar tidak terlihat, ia menghela napas panjang., Ssuasana di sekitarnya terasa jauh lebih sepi setelah Ditrian pergi.

Yuniver menunduk menatap gelas wine di tangannya. Jarinya berputar perlahan pada tangkai gelas sambil membiarkan pikirannya mengembara. 

Apakah Ditrian sakit hingga ia harus minum obat? Apa yang terjadi padanya, dan obat apa yang harus ia minum?

Belum sempat Yuniver melanjutnya pikirannya, tangan Yuniver tiba-tiba ditarik paksa.

“Ah!”

Sebelum sempat bereaksi, tubuhnya sudah ditarik menjauh dari aula.

“Apa— tunggu!”

Orang itu tidak menghentikan langkahnya.

Yuniver nyaris kehilangan keseimbangan saat dipaksa mengikuti tarikan tersebut melewati lorong samping yang jauh lebih sepi dari aula utama.

Jantungnya berdetak semakin cepat. Baru ketika mereka tiba di sebuah sudut yang tidak terlihat dari keramaian, langkah orang itu berhenti.

Brak!

Punggung Yuniver menabrak dinding. Ia mengangkat kepala dengan napas memburu dan langsung membeku.

“Vincent?”J

Pria itu berdiri tepat di hadapannya.

“Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan sekarang, Yuniver?!” Vincent nyaris berteriak saat mengatakan itu. Kedua bola matanya melebar, jelas terlihat kesal.

Yuniver mengernyit.

“Apa maksudmu?”

Vincent tertawa pendek, detik selanjutnya tangannya terulur dan mengungkung Yuniver yang membeku seketika. 

Yuniver yang panik segera menahan dada pria di hadapannya sekuat mungkin.

“Hey, jangan dekat-dekat—”

“Aku memintamu berpura-pura, Yuni!”

Suara Vincent rendah dan penuh tekanan merendah, membuat bulu kuduk Yuniver meremang. Jantungnya langsung berdegup keras.

Dilihatnya pria di hadapannya itu begitu menakutkan, berbeda dengan sosok yang sebelumnya pernah ia lihat pertama kali. 

“Tapi sepertinya kau benar-benar mulai jatuh cinta pada kakakku yang buta itu!”

Suara Vincent merendah, membuat bulu kuduk Aina meremang. Jantungnya berdegup keras. 

“Tapi sepertinya kau benar-benar mulai jatuh cinta pada kakakku yang buta itu!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 92

    Hari pesta teh akhirnya tiba.Sejak pagi, kediaman Duke Elgard sudah dipenuhi kesibukan. Para pelayan memastikan taman kaca, meja, hidangan, dan semua kebutuhan tamu telah siap. Yuniver bahkan berkali-kali memeriksa semuanya hingga kepala pelayan hampir kehilangan hitungan.Ketika kereta para tamu mulai berdatangan, Yuniver baru menyadari bahwa pesta ini mungkin tidak akan semudah yang ia bayangkan.Satu per satu wanita bangsawan memasuki taman kaca dengan pakaian dan perhiasan indah. Mereka menyapa Yuniver dengan sopan, memberi hormat, lalu duduk di tempat masing-masing.Dari luar, semuanya terlihat sempurna.Namun Yuniver segera menyadari tatapan mereka. Bisikan kecil terdengar setiap kali ia berbalik, beberapa senyum tampak dipaksakan, dan sebagian wanita memandangnya seolah sedang menilai dirinya.Yuniver berusaha mengabaikannya. Ia tetap menyambut para tamu dengan tenang. Bagaimanapun, ini adalah pesta teh pertamanya sebagai Duchess yang mulai memasuki lingkungan sosial para bang

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 91

    Ditrian terdiam. Namun, kali ini bukan karena tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya sedang mencerna perkataan Yuniver yang terdengar begitu polos, seolah bagi wanita itu, memiliki seorang suami yang seorang Duke adalah sesuatu yang patut disyukuri setiap hari.Sudut bibirnya perlahan terangkat.Ia memang sudah menyadari perubahan Yuniver sejak beberapa waktu terakhir. Wanita itu tidak lagi menjaga jarak darinya seperti dahulu. Sebaliknya, Yuniver semakin sering berada di sisinya, memanggilnya hanya untuk menanyakan hal-hal kecil, bahkan tidak ragu meminta bantuannya meskipun tahu Ditrian tidak dapat melihat apa yang sedang ia tunjukkan.Anehnya, semua itu tidak pernah membuatnya merasa terganggu.Justru sebaliknya.Ada sesuatu yang membuat Ditrian merasa senang setiap kali Yuniver datang mencarinya.Seperti sekarang.Yuniver masih berdiri di hadapannya dengan wajah cerah, seolah baru saja menemukan sesuatu yang sangat menguntungkan dalam hidupnya."Aku hanya merasa hidupku sekarang

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 90

    Yuniver terdiam sesaat. Entah mengapa, jawaban sederhana dari Ditrian itu kembali membuat sudut bibirnya terangkat. Ia kemudian merangkul lengan pria itu lebih erat, seolah ingin menunjukkan betapa senangnya dirinya mendengar persetujuan tersebut.“Kalau begitu, aku akan melakukannya.”“Baik.” Ditrian mengangguk kecil. “Aku akan menunggu hasilnya.”Yuniver yang semula tersenyum tiba-tiba menyipitkan mata.“Kenapa terdengar seperti Anda sedang menunggu saya gagal?”Ditrian sedikit mengangkat alis.“Aku tidak mengatakan itu.”“Tapi nada suara Anda begitu.”Ditrian hanya diam. Lalu senyum tipis muncul di wajahnya.“Kalau begitu, buktikan aku salah.”Yuniver mendengus pelan, tetapi bukannya tersinggung, ia justru semakin mengeratkan rangkulannya pada lengan Ditrian.“Baik. Jangan menyesal nanti.”“Aku tidak akan menyesal.”“Kalau pestanya berhasil, Anda harus memujiku.”Ditrian terkekeh kecil.“Kalau begitu, aku akan menunggu sampai hari itu.”Yuniver tersenyum puas. Ia kemudian menarik l

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 89

    Setelah pembicaraan mengenai penculikan itu selesai, suasana di ruang tamu perlahan kembali lebih ringan. Ketiga wanita bangsawan itu tidak lagi menanyakan kejadian tersebut dan mulai mengarahkan pembicaraan pada hal-hal yang lebih berkaitan dengan kehidupan Yuniver sebagai Duchess Elgard.Salah seorang dari mereka membuka buku kecil yang sejak tadi dibawanya, lalu menatap Yuniver dengan senyum sopan.“Duchess, sebelum kita mulai membicarakan pelajaran hari ini, kami ingin mengetahui sedikit tentang kehidupan sosial Anda selama ini.”Yuniver mengangguk.“Maksudnya?”“Seberapa sering Anda menghadiri acara yang diadakan para bangsawan? Jamuan makan, pesta, pertunjukan, atau pertemuan kecil di kediaman bangsawan lain?”Yuniver terdiam.Ia mencoba mengingat kehidupan Yuniver sebelum dirinya datang ke dunia ini. Sayangnya, sebagian besar ingatan yang tersisa justru berkaitan dengan Vincent. Hampir tidak ada kenangan tentang bagaimana Yuniver berhubungan dengan wanita-wanita bangsawan lainn

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 88

    Ditrian langsung menoleh ke arah Yuniver. Meskipun kedua matanya tidak dapat melihat, perubahan kecil dalam suara istrinya membuatnya tahu bahwa pertanyaan itu bukan sekadar rasa ingin tahu biasa. Ada sesuatu yang sedang dipikirkan Yuniver, sesuatu yang belum ingin ia katakan.Yuniver sendiri sedikit menegang. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan membawa percakapan mereka sejauh ini. Seharusnya ia hanya ingin mengetahui bagaimana perasaan Ditrian terhadap Vincent, tetapi tanpa sadar ia justru sedang mencari jawaban atas sesuatu yang jauh lebih besar.“Aku akan menghadapinya ketika saatnya tiba.” Jawab Ditrian akhirnya.Nada suaranya tetap tenang, seolah kemungkinan harus berhadapan dengan adiknya sendiri bukan sesuatu yang membuatnya gentar.Yuniver mengerutkan kening.“Bahkan jika dia adikmu?”Ditrian terdiam sejenak.“Hubungan darah tidak membuat seseorang bebas melakukan apa saja.”Jawaban itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat Yuniver terdiam.Ada ketegasan di balik suara Dit

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 87

    Yuniver langsung terdiam. Ia tidak membutuhkan penjelasan lebih jauh. Dari cara ayahnya mengatakannya, ia sudah tahu jawabannya.Vincent mungkin bisa memaafkan banyak hal selama semuanya masih menguntungkan dirinya. Namun jika pria itu mengetahui bahwa Count Vernois diam-diam memiliki kesepakatan dengan Ditrian, kemungkinan besar semua itu akan berakhir dalam satu malam.Yuniver menatap ayahnya dengan perasaan yang semakin rumit, ia menyadari bahwa Count Vernois bukan hanya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.Pria itu juga sedang menyembunyikan sesuatu dari Vincent. Dan jika rahasia itu terbongkar, bukan hanya dirinya yang akan berada dalam bahaya. Seluruh keluarga Vernois bisa ikut terseret ke dalamnya.Begitu Yuniver kembali ke kediaman Duke Elgard, hari sudah mulai sore. Kereta yang membawanya berhenti di depan tangga utama, dan Erin segera turun lebih dahulu untuk membukakan pintu. Yuniver melangkah keluar dengan tenang, berusaha menyembunyikan semua yang baru saja ia dengar da

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 6

    Suara Ainaa terdengar begitu keras hingga membuat percakapan di sekitar mereka terhenti.Alunan musik yang sejak tadi memenuhi ballroom seakan menghilang sesaat ketika puluhan pasang mata beralih ke arah mereka. Para bangsawan yang sebelumnya sibuk berbincang kini menoleh dengan rasa penasaran yang

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 5

    Kereta keluarga Elgard berhenti di depan kediaman Marquis Varell yang malam itu dipenuhi para bangsawan, cahaya mewah, dan alunan musik dari ballroom megah di dalam.Namun suasana di depan kediaman itu berubah sedikit aneh saat pintu kereta keluarga Elgard terbuka.Aina turun lebih dulu.Gaun hitam

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 4

    “Apa?!” Suara Aina langsung meninggi tanpa bisa ia tahan.Tangannya refleks mencengkeram ujung meja kaca di depannya hingga rangkaian bunga yang tadi diberikan Vincent hampir jatuh ke lantai. Dadanya naik turun tidak beraturan, sementara matanya membelalak menatap pria di hadapannya.Membunuh Ditri

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 3

    Taman kaca milik keluarga Elgard dipenuhi cahaya matahari pagi yang menembus dinding-dinding bening di sekeliling ruangan.Pantulan sinarnya jatuh di antara hamparan bunga yang tumbuh rapi, membuat seluruh tempat itu terlihat hangat dan indah, jauh berbeda dari suasana kastil utama yang dingin dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status