تسجيل الدخولAina melangkah perlahan di sisi Ditrian, membawanya menjauh dari kerumunan yang semakin ramai. Sejak insiden dengan Vincent tadi, rasanya seluruh perhatian di ballroom tertuju kemanapun mereka bergerak.
Semua orang tentu penasaran, mereka tidak percaya dan terang-terangan bergosip tanpa perduli apakah mereka akan terdengar atau tidak.
Aina tahu alasan mereka bereaksi seperti itu.
Tidak ada seorang pun di ibu kota yang tidak tahu bahwa Yuniver terobsesi pada Vincent dan membenci Ditrian. Perasaannya begitu terang-terangan hingga menjadi rahasia umum di kalangan bangsawan.
Namun, Yuniver yang biasanya selalu mengejar Vincent kini justru datang bersama Ditrian. Ia bahkan tetap berada di sisi pria itu sepanjang malam dan membelanya di depan banyak orang.
Siapa yang akan percaya perubahan seperti itu begitu saja?
Tapi tentu saja Aina tidak terlalu memikirkannya. Ia mengalihkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari tempat yang lebih tenang.
Matanya menyapu ruangan, mencari tempat yang sedikit lebih tenang.
"Akan lebih baik jika tempatnya sedikit sepi."
Aina menoleh.
Pria itu tetap menghadap lurus ke depan saat berbicara. Wajah tampannya tenang seperti biasa, membuat sulit menebak apa yang sedang dipikirkannya.
“Aku tidak terlalu menyukai tempat yang ramai,” lanjutnya setelah jeda singkat. “Dan aku tidak suka menjadi pusat perhatian.”
Aina berkedip sesaat sebelum akhirnya terkekeh kecil. Entah kenapa, mendengar kalimat itu dari seorang Duke terasa sedikit lucu baginya.
“Mengapa Anda seperti itu?”
Ditrian tidak menjawab dan hanya terdiam. Aina tidak perduli, Ia hanya mengajaknya ke sudut ballroom yang lebih tenang.
Seorang pelayan kebetulan lewat membawa wine. Aina mengambil satu gelas dan menyerahkannya kepada Ditrian.
Pria itu menerimanya dengan mudah lalu menyesapnya perlahan.
Aina tanpa sadar memperhatikannya. Sulit dipercaya bahwa Ditrian buta. Gerakannya selalu tenang dan tidak pernah terlihat canggung.
Menyadari tatapannya, Ditrian sedikit memalingkan wajah.
“Ada sesuatu?”
Aina langsung tersadar.
“Tidak.” Jawabannya terlalu cepat hingga membuatnya merasa canggung. Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke arah keramaian di depan mereka.
"Yuni." Panggil Ditrian pelan.
Aina menatapnya, "Ya?"
"Kau tadi cukup berlebihan, kau tidak takut hubunganmu dengan Vincent memburuk?"
Aina tertegun, tetapi ia segera menenangkan diri. Ia hampir lupa bahwa sekarang dirinya adalah Yuniver. Tidak mungkin ia mengatakan alasan sebenarnya di balik semua tindakannya.
Memikirkan itu, Aina sadar bahwa ia harus mulai membiasakan diri dengan identitas barunya.
“Anda tidak perlu memikirkan Vincent.”
Ditrian berhenti sejenak sebelum menurunkan gelasnya.
“Apa?”
“Hubungan saya dengannya.”
Aina berusaha terdengar santai meski sebenarnya masih merasa aneh setiap kali membahas pria itu.
“Sekarang saya sepenuhnya istri Anda.”
Ditrian terdiam namun matanya yang kosong terus menatap ke arah Aina.
Yuniver kembali memandang aula utama. Musik mengalun lembut sementara para bangsawan mulai menari di lantai dansa.
Gaun-gaun mewah berputar mengikuti langkah para wanita, dan cahaya lampu kristal membuat suasana pesta terlihat semakin megah.
Yuniver hanya memperhatikan pemandangan itu dalam diam, namun wajahnya bersemu.
“Orang-orang sedang berdansa.” Ucapan itu keluar begitu saja tanpa ia sadari.
Di sampingnya, Ditrian sedikit memalingkan wajah ke arahnya.
“Kau ingin berdansa?”
Aina langsung menoleh. Pertanyaan itu membuatnya terkekeh kecil.
“Tidak.” Ia menggeleng pelan sambil tersenyum. “Saya hanya memberitahu Anda tentang apa yang saya lihat.”
Ditrian terdiam, matanya tetap lurus.
“Kalau kau ingin, aku bisa menemanimu.”
Yuniver menatap Ditrian sejenak, seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Jantungnya berdegup lebih cepat, dan wajahnya memanas.
Ia buru-buru mengalihkan pandangan, berusaha menenangkan diri. Kalau di dunia aslinya, mungkin ia sudah langsung memeluknya karena terlalu senang.
Bagaimana tidak, karakter kesayangannya baru saja mengajaknya berdansa., Tapi sayangnya sekarang ia hanya bisa menahan diri sekuat mungkin.
“Benarkah?”
“Tentu. Aku masih mengingat gerakannya.”
Yuniver berkedip.
“Benar-benar ingat?” Yuniver ragu-ragu sejenak.
“Hm.” Pria itu menganggukkan kepala sedikit. “Aku hanya khawatir akan menabrak orang.”
Yuniver tidak bisa menahan tawanya yang pecah begitu saja sebelum ia sempat menahannya.
Entah mengapa membayangkan Ditrian yang selalu terlihat tenang dan sempurna mengkhawatirkan hal seperti itu terasa lucu baginya.
Namun begitu menyadari apa yang ia lakukan, Yuniver langsung menutup mulutnya.
“Maaf.”
Ditrian tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri diam membuat Yuniver merasa pria itu terlihat sedikit tertegun mendengar tawanya.
Perasaan aneh itu membuatnya ikut terdiam.
Untungnya sebelum suasana menjadi semakin canggung, sebuah suara terdengar dari belakang.
“Yang Mulia.” Sapa Kael hati-hati dari belakang.
Ditrian menoleh ke arah pengawalnya.
Kael berjalan mendekat dengan ekspresi serius sebelum membungkukkan tubuh sedikit. Lalu pria itu membisikkan sesuatu di telinga Ditrian.
Yuniver tidak dapat mendengar isi pembicaraan mereka. Kemudian Ditrian mengangguk pelan.
“Aku mengerti.” Setelah itu ia memalingkan wajah ke arah Yuniver. “Aku harus minum obat.”
Yuniver langsung mengangkat kepala.
“Saya bisa membantu Anda.”
“Tidak perlu.” Jawaban Ditrian terdengar lembut namun tegas. “Aku akan pergi bersama Kael.”
“Tapi—”
“Tunggulah di sini.” Suara pria itu memotong perkataannya. “Aku pasti kembali.”
Yuniver terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
“Baik.”
Ditrian lalu pergi bersama Kael dan Yuniver memperhatikan punggung mereka hingga menghilang di antara kerumunan para tamu.
Baru setelah keduanya benar-benar tidak terlihat, ia menghela napas panjang., Ssuasana di sekitarnya terasa jauh lebih sepi setelah Ditrian pergi.
Yuniver menunduk menatap gelas wine di tangannya. Jarinya berputar perlahan pada tangkai gelas sambil membiarkan pikirannya mengembara.
Apakah Ditrian sakit hingga ia harus minum obat? Apa yang terjadi padanya, dan obat apa yang harus ia minum?
Belum sempat Yuniver melanjutnya pikirannya, tangan Yuniver tiba-tiba ditarik paksa.
“Ah!”
Sebelum sempat bereaksi, tubuhnya sudah ditarik menjauh dari aula.
“Apa— tunggu!”
Orang itu tidak menghentikan langkahnya.
Yuniver nyaris kehilangan keseimbangan saat dipaksa mengikuti tarikan tersebut melewati lorong samping yang jauh lebih sepi dari aula utama.
Jantungnya berdetak semakin cepat. Baru ketika mereka tiba di sebuah sudut yang tidak terlihat dari keramaian, langkah orang itu berhenti.
Brak!
Punggung Yuniver menabrak dinding. Ia mengangkat kepala dengan napas memburu dan langsung membeku.
“Vincent?”J
Pria itu berdiri tepat di hadapannya.
“Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan sekarang, Yuniver?!” Vincent nyaris berteriak saat mengatakan itu. Kedua bola matanya melebar, jelas terlihat kesal.
Yuniver mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Vincent tertawa pendek, detik selanjutnya tangannya terulur dan mengungkung Yuniver yang membeku seketika.
Yuniver yang panik segera menahan dada pria di hadapannya sekuat mungkin.
“Hey, jangan dekat-dekat—”
“Aku memintamu berpura-pura, Yuni!”
Suara Vincent rendah dan penuh tekanan merendah, membuat bulu kuduk Yuniver meremang. Jantungnya langsung berdegup keras.
Dilihatnya pria di hadapannya itu begitu menakutkan, berbeda dengan sosok yang sebelumnya pernah ia lihat pertama kali.
“Tapi sepertinya kau benar-benar mulai jatuh cinta pada kakakku yang buta itu!”
Suara Vincent merendah, membuat bulu kuduk Aina meremang. Jantungnya berdegup keras.
“Tapi sepertinya kau benar-benar mulai jatuh cinta pada kakakku yang buta itu!”
Pintu ruangan itu kembali terbuka. Beberapa pria masuk hampir bersamaan. Wajah mereka sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan. Salah seorang di antara mereka membawa rantai panjang, sementara yang lain berjalan mendekati Yuniver tanpa sedikit pun keraguan.Yuniver yang sejak tadi duduk bersandar di dinding langsung menegakkan tubuhnya. Rantai yang mengikat kedua tangannya bergemerincing ketika ia bergerak."Apa yang kalian lakukan?"Tidak ada jawaban. Salah seorang pria meraih lengannya dan menariknya berdiri. Yuniver spontan menarik tubuhnya ke belakang, tetapi rantai di kakinya membuat gerakannya terbatas."Lepaskan aku!"Pria itu justru tertawa."Bawa saja. Sudah waktunya.""Untuk apa?""Kau akan tahu nanti."Jantung Yuniver berdegup semakin cepat. Ia menatap satu per satu wajah mereka, berusaha mencari sedikit celah untuk melarikan diri, tetapi jumlah mereka terlalu banyak.Kemudian salah seorang pria berkata dengan santai, "Orang seperti dia pasti bisa dijual dengan harga tin
Ketika Yuniver membuka mata, hal pertama yang ia rasakan adalah sakit kepala yang menusuk. Ia mengerang pelan dan mencoba bangun, tetapi pandangannya masih buram. Cahaya redup di sekitarnya membuatnya sulit mengenali tempat itu.Lalu terdengar suara gemerincing.Yuniver langsung membeku. Ia menunduk dan melihat kedua tangannya. Pergelangan tangannya terikat rantai besi, begitu pula kedua kakinya. Saat ia mencoba menarik tangannya, suara rantai kembali terdengar.Dadanya seketika terasa sesak."Di mana aku...?"Suaranya serak dan nyaris tidak terdengar.Yuniver mencoba mengingat apa yang terjadi. Perlahan, ingatannya kembali dan mata Yuniver melebar. Ia segera melihat sekeliling.Ruangan itu gelap dan pengap. Dinding batunya lembap, sementara beberapa lampu kecil hanya menerangi sebagian ruangan. Di salah satu sudut, beberapa anak duduk berdesakan. Tubuh mereka kurus dan wajah mereka pucat. Tak satu pun berani menatapnya.Tidak ada yang berbicara. Yuniver menelan ludah. Rasa takut mula
Anak itu menatap uang tersebut dengan mata berkaca-kaca."Terima kasih." Ia membungkuk berkali-kali. "Terima kasih banyak, Kak."Yuniver tersenyum kecil."Pergilah."Anak itu pun berlari. Awalnya Yuniver hanya memperhatikannya dari tempatnya berdiri. Namun kemudian ia menyadari sesuatu. Anak itu berbelok ke sebuah gang sempit di antara dua bangunan.Yuniver mengerutkan kening. Ada sesuatu yang terasa tidak benar. Ia melirik ke belakang kearah bangunan tempat Ditrian masuk masih terlihat tidak jauh dari sana.Ia seharusnya menunggu. Ia sudah berjanji, namun rasa khawatir terhadap anak tadi membuatnya sulit mengabaikannya. Akhirnya Yuniver menarik napas."Aku hanya melihat sebentar."Ia mengikuti anak tersebut. Gang itu semakin sepi setelah beberapa meter. Suara pasar perlahan menghilang di belakang mereka. Jalan yang tadi ramai berubah menjadi sempit dan dipenuhi bangunan tua.Anak itu terus berjalan sampai akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan yang tampak seperti gudang lama. Ia
Ditrian membeku, pria itu tidak bergerak sama sekali. Yuniver masih tersenyum puas sambil memeluk boneka kain yang baru saja didapatkannya, sama sekali tidak menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya.Sementara Kael yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka langsung menutup wajah dengan satu tangan.Ia mengusap keningnya pelan."Astaga..."Ditrian perlahan menoleh ke arah suara Yuniver. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tetapi telinganya tampak sedikit memerah. Ia membuka mulut seolah hendak mengatakan sesuatu, lalu mengurungkan niatnya.Yuniver akhirnya menyadari keheningan itu."Ada apa?"Ditrian terdiam beberapa saat."Tidak ada."Ia kemudian menggenggam tangan Yuniver dan mengajaknya kembali berjalan. Kael hanya bisa menggelengkan kepala sambil mengikuti dari belakang. Ia tidak tahu mana yang lebih berbahaya, Yuniver yang semakin bebas bertingkah di depan umum atau Ditrian yang tampaknya sama sekali tidak mampu menolak apa pun yang dilakukan istrinya.Waktu berla
Jawaban itu membuat Yuniver tersenyum puas, sementara Kael hanya menggelengkan kepala.Mereka kembali berjalan menyusuri pasar. Kali ini Yuniver tidak berhenti di setiap kios, meski matanya masih melihat-lihat barang yang dijual. Sesekali ia bertanya tentang tempat yang mereka lewati. Ditrian menjawab singkat, sementara Kael akan menjelaskan jika Ditrian tidak tahu.Namun, lama-kelamaan Yuniver menyadari bahwa Ditrian datang ke pasar bukan hanya untuk berjalan-jalan. Beberapa kali ia berhenti dan mendengarkan. Ia memperhatikan keluhan para pedagang dan warga tentang pajak, harga gandum, serta keadaan pasar.Yuniver tersenyum kecil. Ternyata Ditrian benar-benar memperhatikan rakyatnya. Ia pun kembali merangkul lengan pria itu lebih erat.Ditrian menoleh sedikit ke arahnya."Apa?"Yuniver menggeleng."Tidak apa-apa."Yuniver merasa bahwa pria yang selama ini hanya ia kenal dari dalam novel ternyata jauh lebih nyata dari yang ia bayangkan. Dulu, ia hanya tahu Duke Elgard adalah penguasa
Kael sudah beberapa kali mencoba meyakinkan Ditrian bahwa membawa Yuniver ikut dalam pemeriksaan wilayah bukanlah ide yang baik. Namun, setelah mendengar keinginan istrinya yang begitu antusias, Ditrian sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan membatalkannya. Ia hanya terdiam beberapa saat, seolah mempertimbangkan sesuatu, sebelum akhirnya mengangguk."Baik."Kael langsung menatap tuannya dengan tidak percaya."Yang Mulia—""Dia boleh ikut." Jawaban Ditrian terdengar tenang, seolah keputusan itu sudah final.Kael menghela napas panjang. Ia sudah menduga akan seperti ini."Kalau begitu, Duchess harus mengikuti semua aturan yang saya berikan," katanya kepada Yuniver. "Tidak boleh menyebut nama keluarga. Tidak boleh memanggil Yang Mulia dengan gelarnya. Jangan menarik perhatian. Dan yang paling penting, jangan sampai ada seorang pun mengetahui siapa kalian sebenarnya."Yuniver mengangguk cepat."Tidak masalah."Melihat ekspresinya yang terlalu bersemangat, Kael justru merasa semaki
Yuniver sempat ingin langsung menjawab, namun begitu ia membuka mulut, kata-kata yang sudah tersusun di kepalanya mendadak menghilang begitu saja. Ia berhenti, menutup mulutnya kembali, lalu menghela napas pelan seolah kesal pada dirinya sendiri.Di hadapannya, Ditrian tidak mendesaknya. Pria itu h
Kalimat itu membuat Erin membeku, iahanya berdiri diam sambil menatap Yuniver seolah tidak yakin dirinya mendengar dengan benar.“Apa?”“Aku bertanya,” ulang Yuniver pelan. “Apa kau bekerja untuk Vincent?”Wajah Erin langsung berubah, ia terlihat terluka seolah Yuniver baru saja mengatakan sesuatu
Suara Ainaa terdengar begitu keras hingga membuat percakapan di sekitar mereka terhenti.Alunan musik yang sejak tadi memenuhi ballroom seakan menghilang sesaat ketika puluhan pasang mata beralih ke arah mereka. Para bangsawan yang sebelumnya sibuk berbincang kini menoleh dengan rasa penasaran yang
Kereta keluarga Elgard berhenti di depan kediaman Marquis Varell yang malam itu dipenuhi para bangsawan, cahaya mewah, dan alunan musik dari ballroom megah di dalam.Namun suasana di depan kediaman itu berubah sedikit aneh saat pintu kereta keluarga Elgard terbuka.Aina turun lebih dulu.Gaun hitam







