로그인Hari yang ditakutkan sekaligus dinanti akhirnya tiba. Alena berdiri di depan cermin besar di ruang rias, memandangi pantulan dirinya sendiri dengan gaun pengantin putih yang dijahit khusus untuknya. Cantik, tapi terasa asing—seperti melihat orang lain memakai wajahnya.
"Kamu terlihat luar biasa, Non," kata penata riasnya, tersenyum bangga dengan hasil kerjanya.
Alena hanya tersenyum tipis, tidak menjawab. Bagaimana caranya menjelaskan bahwa di balik gaun indah ini, ia merasa seperti sedang berjalan menuju ruang sidang, bukan pelaminan?
Pintu ruang rias terbuka. Ayahnya masuk, mengenakan setelan jas terbaiknya, tapi matanya tampak lelah—lebih lelah dari yang pernah Alena lihat.
"Kamu siap?" tanya ayahnya lembut.
"Apa aku punya pilihan lain, Yah?"
Pak Wijaya terdiam, tidak menjawab pertanyaan itu. Sebagai gantinya, ia mendekat, menggenggam tangan putrinya erat.
"Ayah minta maaf, Alena. Untuk semua ini. Suatu hari, Ayah janji akan menjelaskan semuanya padamu."
Kata-kata itu membuat Alena semakin curiga. Menjelaskan apa? Apa ayahnya menyembunyikan lebih banyak hal dari yang sudah diketahuinya?
Namun tidak ada waktu untuk bertanya lebih jauh. Suara musik pernikahan mulai terdengar dari luar, tanda upacara akan segera dimulai.
***
Gedung pernikahan dipenuhi ratusan tamu—kalangan pebisnis, kolega, keluarga besar dari kedua belah pihak. Semua mata tertuju ke arah pintu masuk saat Alena melangkah masuk digandeng ayahnya, menyusuri karpet merah menuju altar.
Di ujung altar, Raka sudah berdiri menunggu, mengenakan jas hitam formal yang membuatnya terlihat semakin tegas. Untuk sesaat, mata mereka bertemu, dan Alena melihat sesuatu yang tidak ia duga—sekilas kegugupan di balik wajah dingin Raka yang biasanya begitu terkendali.
Upacara berjalan sesuai skenario yang sudah diatur rapi. Janji pernikahan diucapkan dengan nada formal, tanpa getaran emosi berlebihan—persis seperti kesepakatan bisnis yang dibungkus seremoni mewah.
Namun di tengah acara, Alena menangkap sesuatu yang mengganggu pikirannya. Di barisan tamu keluarga Pradipta, seorang wanita paruh baya duduk dengan ekspresi yang jauh dari bahagia. Wajahnya kaku, matanya menatap tajam ke arah Alena—seolah menahan amarah besar yang siap meledak kapan saja.
"Siapa itu?" bisik Alena pelan pada Raka, saat mereka berdiri berdampingan menerima ucapan selamat dari tamu.
Raka mengikuti arah pandang Alena, dan rahangnya sedikit mengeras. "Ibuku."
Kalimat singkat itu menjelaskan banyak hal. Ingatan Alena kembali ke percakapan terakhir mereka di ruang pertemuan—soal ibu Raka yang tidak akan menerima pernikahan ini semudah yang mereka kira.
Di sisi lain ruangan, Alena juga melihat kakak iparnya untuk pertama kali—seorang pria berwajah tampan dengan senyum yang terlalu ramah untuk terasa tulus, berdiri di samping seorang wanita anggun yang terus berbisik-bisik dengannya sambil sesekali melirik ke arah Alena dan Raka.
"Itu kakakku, Dimas, dan istrinya," jelas Raka, seolah membaca kebingungan di wajah Alena. "Berhati-hatilah dengan mereka berdua."
"Kenapa?"
Raka tidak sempat menjawab karena tamu lain sudah mendekat untuk memberi ucapan selamat. Namun kalimat peringatan itu tersimpan baik-baik di kepala Alena—satu lagi nama yang harus diwaspadai dalam keluarga barunya.
Di sudut lain ruangan, tanpa disadari Alena, Ratna berdiri berbincang serius dengan seorang pria yang tidak dikenalinya. Pria itu mengenakan setelan mahal, tapi ada sesuatu yang mencurigakan dari cara mereka bicara—terlalu dekat, terlalu rahasia untuk sekadar obrolan tamu undangan biasa.
Jika Alena sempat melihat momen itu, mungkin ia akan langsung mengenali wajah pria tersebut dari foto lama yang mungkin masih tersimpan di arsip perusahaan—Broto, nama yang baru saja diberitahukan Om Hartono beberapa hari lalu.
Namun Alena terlalu sibuk menghadapi rangkaian acara pernikahannya sendiri untuk menyadari pertemuan mencurigakan itu.
Malam harinya, setelah seluruh rangkaian acara selesai, Alena akhirnya bisa duduk sejenak sendirian di ruang tunggu pengantin, melepas lelah sebelum harus pindah ke rumah baru—rumah keluarga Pradipta.
Pintu terbuka pelan. Raka masuk, sudah melepas jas formalnya, terlihat sedikit lebih santai dari sebelumnya.
"Hari yang panjang," katanya, duduk di kursi seberang Alena.
"Sangat panjang," Alena setuju, tersenyum lelah.
Untuk sesaat, keduanya diam, menikmati jeda singkat dari sandiwara yang harus mereka mainkan sepanjang hari.
"Alena," kata Raka tiba-tiba, nada suaranya berubah lebih serius. "Mulai besok, kau akan tinggal di rumah keluargaku. Aku ingin memperingatkanmu—rumah itu tidak akan semudah yang kau bayangkan."
"Aku sudah siap menghadapi apa pun," jawab Alena, meski dalam hati ia tidak seyakin itu.
Raka menatapnya lama, seperti mempertimbangkan sesuatu.
"Semoga begitu," katanya pelan. "Karena mulai besok, kau bukan hanya menghadapi ibuku. Kau juga akan menghadapi seluruh keluarga besar yang masing-masing punya kepentingan sendiri terhadap pernikahan ini."
Kalimat itu menggantung di udara, membawa firasat yang sama seperti yang dirasakan Alena sejak awal—bahwa pernikahan ini baru permulaan dari perang yang jauh lebih besar.
Tiga hari setelah kedatangan Broto, nggak ada kejadian aneh apa pun. Nggak ada pesan misterius, nggak ada tamu tak diundang. Justru itu yang bikin Alena makin nggak tenang."Kayak nunggu badai," katanya suatu malam, waktu dia dan Raka lagi makan malam berdua di kamar—kebiasaan yang udah jadi rutinitas mereka belakangan ini."Mungkin emang lagi nyusun strategi," jawab Raka, nyuil ayam di piringnya tanpa nafsu makan yang jelas. "Orang kayak dia nggak gerak sembarangan."Alena ngangguk pelan. Dia udah coba fokus ke kerjaan, ke urusan rumah tangga sehari-hari, tapi pikirannya terus aja balik ke percakapan sama Broto. Pion di papan yang lebih besar."Eh," katanya tiba-tiba, "kamu masih inget nggak, dulu waktu kita tanda tangan kontrak, kamu bilang nggak mau ada perasaan pribadi ikut campur?"Raka ngangkat alis, agak bingung arah pembicaraan tiba-tiba pindah. "Inget. Kenapa?""Cuma mikir aja," Alena senyum kecil, "gimana kita sekarang."Raka taruh sendoknya, natap Alena lama. "Kalau boleh j
Dua hari setelah malam pengakuan Pak Pradipta, semuanya kelihatan tenang. Terlalu tenang, menurut Alena.Dia lagi di dapur, bikin teh sendiri—kebiasaan baru sejak beberapa minggu terakhir, karena entah kenapa itu bikin dia lebih tenang mikir—waktu Nadia masuk dengan wajah aneh. Bukan panik kayak biasanya. Lebih ke... bingung."Kak, ada tamu. Katanya mau ketemu Ayah, tapi Ayah lagi di kantor.""Tamu siapa?""Nggak mau kasih tau nama depannya. Cuma bilang... 'teman lama'."Sesuatu di cara Nadia ngomong bikin Alena langsung waspada. Dia taruh cangkirnya, jalan ke ruang tamu.Pria itu berdiri deket jendela, mbelakangin pintu masuk. Jas abu-abu, rapi, umur mungkin sekitar enam puluhan tapi masih keliatan bugar. Waktu dia noleh, Alena langsung tau siapa ini—meski belum pernah ketemu langsung.Wajahnya sama kayak di foto lama yang pernah ditunjukkan Om Hartono."Kau pasti Alena," katanya, senyumnya sopan, tapi ada sesu
Ruang kerja Pak Pradipta gelap kecuali lampu meja yang menyala redup. Raka dan Alena duduk di kursi tamu, sementara pria tua itu berdiri membelakangi mereka, menatap keluar jendela yang menghadap kota.Sudah lima menit dia diam saja."Ayah?" Raka akhirnya memanggil.Pak Pradipta menghela napas panjang, tapi tidak langsung berbalik."Kalian tahu kenapa dulu aku dan ayah Alena bisa jadi rekan bisnis?" Dia bertanya, suaranya aneh—bukan nada berwibawa yang biasa dipakai di rapat direksi. "Bukan cuma soal keuntungan. Kami berteman. Teman baik, sebenarnya. Sebelum semua kekacauan itu."Alena menegakkan duduknya. Ini bukan sesuatu yang pernah diceritakan padanya."Dua puluh tahun lalu, wijaya—ayahmu—dia yang menyelamatkan bisnisku waktu aku baru mulai. Aku hampir bangkrut sebelum sempat besar. Dia pinjamkan modal tanpa jaminan apa pun. Cuma percaya."Pak Pradipta akhirnya berbalik. Matanya berkaca-kaca, hal yang tidak pernah dilihat Raka sebelumnya dari ayahnya sendiri."Terus apa yang terja
Pagi itu, Raka mengumpulkan semua pihak yang bisa dipercaya di ruang kerja pribadinya—Pak Handoko dan dua anak buahnya, serta seorang kenalan lama Raka yang kebetulan bekerja sebagai perwira polisi, Komisaris Wibowo, yang bersedia membantu secara tidak resmi sebelum kasus ini dilaporkan penuh."Kita tidak bisa menyerbu langsung," kata Komisaris Wibowo, menatap peta lokasi gudang yang sudah ditandai Pak Handoko semalam. "Kalau memang ada penyanderaan, tindakan gegabah bisa membahayakan korban. Saya bisa bantu urus izin operasi kecil, tapi harus cepat dan senyap.""Berapa lama itu bisa diurus?" tanya Raka."Dengan koneksi saya, mungkin sore ini bisa jalan. Tapi saya butuh alasan resmi untuk masuk tanpa membuat kecurigaan bocor ke pihak dalam yang mungkin terlibat."Alena, yang duduk di sudut ruangan sejak pagi, akhirnya angkat suara. "Bagaimana kalau alasannya laporan dugaan penyekapan dari warga sekitar? Tidak perlu menyebut nama Pradipta sama sekali di laporan awal."Komisaris Wibowo
Raka tidak tidur lagi malam itu. Ia duduk di meja kerja, memperbesar foto blur itu berkali-kali, mencoba mengenali bangunan di latar belakang."Ini gudang," katanya akhirnya, menunjuk bagian sudut foto yang nyaris tidak terlihat. "Lihat atapnya. Model seng bergelombang seperti ini biasanya dipakai gudang tua di kawasan industri pinggiran."Alena mendekat, memperhatikan detail yang ditunjuk Raka. "Kawasan industri mana?""Aku tidak yakin. Tapi Pak Handoko mungkin bisa membantu melacaknya. Dia lebih berpengalaman soal hal semacam ini."Raka langsung menghubungi Pak Handoko meski waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Pria itu menjawab tanpa terdengar terganggu, seolah sudah terbiasa dihubungi di jam-jam aneh."Kirim fotonya, Pak Raka. Saya coba analisis."***Kabar berikutnya datang keesokan siang, lebih cepat dari yang diperkirakan. Pak Handoko berhasil mempersempit lokasi ke sebuah kawasan pergudangan tua di daerah Cakung, berdasarkan analisis bayangan dan sudut bangunan di foto
Pagi itu, Raka bangun lebih awal dari biasanya, sudah duduk di meja kerja kamar mereka dengan laptop menyala saat Alena membuka mata."Kau tidak tidur?" tanya Alena, masih setengah mengantuk."Sempat, sebentar," jawab Raka, tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Aku menyuruh orang kepercayaanku melacak alamat terakhir staf yang menghilang itu. Namanya Pak Yudo. Menurut catatan HR, dia sudah delapan tahun bekerja di divisi keuangan sebelum tiba-tiba mengundurkan diri minggu lalu."Alena bangun, duduk di sisi ranjang. "Ada hasil?""Alamat rumahnya di catatan HR sudah tidak berpenghuni. Tetangga bilang keluarganya pindah mendadak, sekitar waktu yang sama dengan pengunduran dirinya.""Pindah mendadak, tanpa jejak?" Alena merasa perutnya mual mendengar itu. "Itu bukan kepindahan biasa.""Aku setuju." Raka menutup laptopnya, menatap Alena serius. "Tapi kita harus hati-hati. Kalau benar dia 'dibungkam' seperti kata pesan semalam, menc







