Teilen

Kontrak Pernikahan

last update Veröffentlichungsdatum: 07.09.2026 12:28:47

Tiga hari setelah pertemuan dengan Om Hartono, Alena dipanggil kembali ke Pradipta Tower. Kali ini bukan untuk membahas dendam masa lalu, melainkan dokumen yang akan mengikat hidupnya secara resmi—kontrak pernikahan.

Ruang pertemuan yang sama. Meja kaca yang sama. Bedanya, kali ini hanya ada Alena, Raka, dan seorang pengacara keluarga yang duduk di ujung meja dengan setumpuk dokumen tebal di hadapannya.

"Sebelum kita mulai," kata pengacara itu, "saya akan bacakan poin-poin utama kontrak ini. Silakan berikan tanggapan jika ada yang keberatan."

Alena mengangguk. Raka duduk diam di seberangnya, wajahnya seperti biasa—datar, sulit dibaca.

"Pasal satu," pengacara mulai membaca. "Pernikahan ini berlangsung minimal tiga tahun, sebagai syarat kerja sama bisnis kedua perusahaan tetap berjalan."

"Pasal dua. Kedua belah pihak sepakat untuk tidak melibatkan perasaan pribadi dalam pengambilan keputusan terkait bisnis maupun rumah tangga."

Alena melirik Raka sekilas. Pria itu tidak menunjukkan reaksi apa pun, seolah mendengarkan pembacaan menu restoran, bukan kontrak yang akan mengubah seluruh hidupnya.

"Pasal tiga. Kedua belah pihak dilarang menjalin hubungan romantis dengan pihak ketiga selama masa kontrak berlangsung, demi menjaga reputasi kedua keluarga di mata publik."

"Pasal empat. Apabila salah satu pihak melanggar kontrak atau berusaha membatalkan pernikahan secara sepihak sebelum masa tiga tahun berakhir, pihak yang melanggar wajib mengembalikan seluruh dana talangan yang sudah dicairkan, beserta denda tambahan sebesar dua puluh persen."

Angka yang disebutkan pengacara itu membuat Alena menelan ludah. Jumlahnya sangat besar—cukup untuk memastikan tidak ada yang berani main-main dengan kontrak ini.

"Ada pertanyaan sejauh ini?" tanya pengacara itu.

"Ya," Alena angkat suara. "Bagaimana dengan kehidupan pribadi di luar hal-hal bisnis? Apakah aku tetap bisa bekerja di posisiku sekarang?"

Raka akhirnya bicara. "Selama itu tidak mengganggu kewajibanmu sebagai istriku di depan publik dan keluarga, aku tidak keberatan."

"Kewajiban seperti apa?"

"Menghadiri acara keluarga. Acara bisnis penting. Bersikap sebagaimana pasangan suami istri seharusnya di depan orang lain." Raka menjawab tanpa ekspresi. "Di luar itu, kehidupan pribadi kita masing-masing bukan urusan satu sama lain."

Terdengar dingin, tapi entah kenapa jawaban itu justru melegakan Alena. Setidaknya jelas. Tidak ada ekspektasi tersembunyi.

"Baik. Aku setuju dengan syarat itu," kata Alena.

Pengacara melanjutkan membacakan beberapa pasal teknis lainnya—soal harta gono-gini, hak asuh jika suatu saat ada anak (klausul yang membuat Alena merasa aneh membicarakannya dengan pria yang baru dikenalnya beberapa hari), dan prosedur jika kontrak berakhir sesuai waktu yang disepakati.

Setelah hampir satu jam, dokumen itu akhirnya siap ditandatangani. Pengacara menyerahkan pena kepada Alena terlebih dahulu.

Alena menatap lembaran kontrak itu lama. Tanda tangannya di sini berarti resmi menyerahkan tiga tahun hidupnya untuk menyelamatkan keluarga—menikahi pria yang keluarganya mungkin, atau mungkin tidak, bertanggung jawab atas kehancuran masa lalu keluarganya sendiri.

Ia menoleh sekilas ke arah Raka. Pria itu sudah menandatangani bagiannya, tenang seolah ini hanya kontrak kerja sama bisnis biasa.

Dengan tarikan napas dalam, Alena akhirnya menandatangani dokumen itu.

"Selamat," kata pengacara itu, tersenyum formal. "Secara hukum, kalian resmi terikat. Upacara pernikahan akan dilaksanakan sesuai jadwal yang sudah ditentukan kedua keluarga."

Setelah pengacara keluar ruangan, hanya tersisa Alena dan Raka. Hening beberapa saat.

"Terima kasih sudah bekerja sama soal ini," kata Raka akhirnya, nada suaranya sedikit lebih lunak dari sebelumnya. "Aku tahu ini bukan situasi yang mudah untukmu."

Alena terkejut mendengar nada itu. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, terdengar sedikit ketulusan dalam suara Raka.

"Bukan situasi mudah untuk kita berdua, kupikir," jawab Alena.

Raka mengangguk pelan. Untuk sesaat, mata mereka bertemu—dan ada sesuatu yang lewat di sana, sesuatu yang tidak terucap.

Namun momen itu terputus cepat ketika ponsel Raka berbunyi. Ia melirik layar, wajahnya berubah tegang seketika.

"Aku harus pergi," katanya buru-buru, mengambil jas dan tasnya.

"Ada masalah?"

Raka berhenti sejenak di pintu, tampak mempertimbangkan apakah harus menjawab jujur atau tidak.

"Ibuku," katanya akhirnya, singkat. "Dia baru dengar soal pernikahan ini. Dan dia... tidak akan menerimanya semudah yang kita kira."

Raka pergi tanpa penjelasan lebih lanjut, meninggalkan Alena sendirian di ruangan itu dengan satu pertanyaan baru yang mengganjal.

Jika Raka saja terlihat khawatir menghadapi reaksi ibunya sendiri—seberapa besar masalah yang menunggu Alena begitu ia resmi menjadi bagian dari keluarga Pradipta?

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Suamiku, Musuh Keluargaku   Ancaman Baru

    Tiga hari setelah kedatangan Broto, nggak ada kejadian aneh apa pun. Nggak ada pesan misterius, nggak ada tamu tak diundang. Justru itu yang bikin Alena makin nggak tenang."Kayak nunggu badai," katanya suatu malam, waktu dia dan Raka lagi makan malam berdua di kamar—kebiasaan yang udah jadi rutinitas mereka belakangan ini."Mungkin emang lagi nyusun strategi," jawab Raka, nyuil ayam di piringnya tanpa nafsu makan yang jelas. "Orang kayak dia nggak gerak sembarangan."Alena ngangguk pelan. Dia udah coba fokus ke kerjaan, ke urusan rumah tangga sehari-hari, tapi pikirannya terus aja balik ke percakapan sama Broto. Pion di papan yang lebih besar."Eh," katanya tiba-tiba, "kamu masih inget nggak, dulu waktu kita tanda tangan kontrak, kamu bilang nggak mau ada perasaan pribadi ikut campur?"Raka ngangkat alis, agak bingung arah pembicaraan tiba-tiba pindah. "Inget. Kenapa?""Cuma mikir aja," Alena senyum kecil, "gimana kita sekarang."Raka taruh sendoknya, natap Alena lama. "Kalau boleh j

  • Suamiku, Musuh Keluargaku   Wajah di Balik Bayangan

    Dua hari setelah malam pengakuan Pak Pradipta, semuanya kelihatan tenang. Terlalu tenang, menurut Alena.Dia lagi di dapur, bikin teh sendiri—kebiasaan baru sejak beberapa minggu terakhir, karena entah kenapa itu bikin dia lebih tenang mikir—waktu Nadia masuk dengan wajah aneh. Bukan panik kayak biasanya. Lebih ke... bingung."Kak, ada tamu. Katanya mau ketemu Ayah, tapi Ayah lagi di kantor.""Tamu siapa?""Nggak mau kasih tau nama depannya. Cuma bilang... 'teman lama'."Sesuatu di cara Nadia ngomong bikin Alena langsung waspada. Dia taruh cangkirnya, jalan ke ruang tamu.Pria itu berdiri deket jendela, mbelakangin pintu masuk. Jas abu-abu, rapi, umur mungkin sekitar enam puluhan tapi masih keliatan bugar. Waktu dia noleh, Alena langsung tau siapa ini—meski belum pernah ketemu langsung.Wajahnya sama kayak di foto lama yang pernah ditunjukkan Om Hartono."Kau pasti Alena," katanya, senyumnya sopan, tapi ada sesu

  • Suamiku, Musuh Keluargaku   Pengakuan Ayah

    Ruang kerja Pak Pradipta gelap kecuali lampu meja yang menyala redup. Raka dan Alena duduk di kursi tamu, sementara pria tua itu berdiri membelakangi mereka, menatap keluar jendela yang menghadap kota.Sudah lima menit dia diam saja."Ayah?" Raka akhirnya memanggil.Pak Pradipta menghela napas panjang, tapi tidak langsung berbalik."Kalian tahu kenapa dulu aku dan ayah Alena bisa jadi rekan bisnis?" Dia bertanya, suaranya aneh—bukan nada berwibawa yang biasa dipakai di rapat direksi. "Bukan cuma soal keuntungan. Kami berteman. Teman baik, sebenarnya. Sebelum semua kekacauan itu."Alena menegakkan duduknya. Ini bukan sesuatu yang pernah diceritakan padanya."Dua puluh tahun lalu, wijaya—ayahmu—dia yang menyelamatkan bisnisku waktu aku baru mulai. Aku hampir bangkrut sebelum sempat besar. Dia pinjamkan modal tanpa jaminan apa pun. Cuma percaya."Pak Pradipta akhirnya berbalik. Matanya berkaca-kaca, hal yang tidak pernah dilihat Raka sebelumnya dari ayahnya sendiri."Terus apa yang terja

  • Suamiku, Musuh Keluargaku   Operasi Penyelamatan

    Pagi itu, Raka mengumpulkan semua pihak yang bisa dipercaya di ruang kerja pribadinya—Pak Handoko dan dua anak buahnya, serta seorang kenalan lama Raka yang kebetulan bekerja sebagai perwira polisi, Komisaris Wibowo, yang bersedia membantu secara tidak resmi sebelum kasus ini dilaporkan penuh."Kita tidak bisa menyerbu langsung," kata Komisaris Wibowo, menatap peta lokasi gudang yang sudah ditandai Pak Handoko semalam. "Kalau memang ada penyanderaan, tindakan gegabah bisa membahayakan korban. Saya bisa bantu urus izin operasi kecil, tapi harus cepat dan senyap.""Berapa lama itu bisa diurus?" tanya Raka."Dengan koneksi saya, mungkin sore ini bisa jalan. Tapi saya butuh alasan resmi untuk masuk tanpa membuat kecurigaan bocor ke pihak dalam yang mungkin terlibat."Alena, yang duduk di sudut ruangan sejak pagi, akhirnya angkat suara. "Bagaimana kalau alasannya laporan dugaan penyekapan dari warga sekitar? Tidak perlu menyebut nama Pradipta sama sekali di laporan awal."Komisaris Wibowo

  • Suamiku, Musuh Keluargaku   Jejak yang Ditemukan

    Raka tidak tidur lagi malam itu. Ia duduk di meja kerja, memperbesar foto blur itu berkali-kali, mencoba mengenali bangunan di latar belakang."Ini gudang," katanya akhirnya, menunjuk bagian sudut foto yang nyaris tidak terlihat. "Lihat atapnya. Model seng bergelombang seperti ini biasanya dipakai gudang tua di kawasan industri pinggiran."Alena mendekat, memperhatikan detail yang ditunjuk Raka. "Kawasan industri mana?""Aku tidak yakin. Tapi Pak Handoko mungkin bisa membantu melacaknya. Dia lebih berpengalaman soal hal semacam ini."Raka langsung menghubungi Pak Handoko meski waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Pria itu menjawab tanpa terdengar terganggu, seolah sudah terbiasa dihubungi di jam-jam aneh."Kirim fotonya, Pak Raka. Saya coba analisis."***Kabar berikutnya datang keesokan siang, lebih cepat dari yang diperkirakan. Pak Handoko berhasil mempersempit lokasi ke sebuah kawasan pergudangan tua di daerah Cakung, berdasarkan analisis bayangan dan sudut bangunan di foto

  • Suamiku, Musuh Keluargaku   Mencari yang Hilang

    Pagi itu, Raka bangun lebih awal dari biasanya, sudah duduk di meja kerja kamar mereka dengan laptop menyala saat Alena membuka mata."Kau tidak tidur?" tanya Alena, masih setengah mengantuk."Sempat, sebentar," jawab Raka, tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Aku menyuruh orang kepercayaanku melacak alamat terakhir staf yang menghilang itu. Namanya Pak Yudo. Menurut catatan HR, dia sudah delapan tahun bekerja di divisi keuangan sebelum tiba-tiba mengundurkan diri minggu lalu."Alena bangun, duduk di sisi ranjang. "Ada hasil?""Alamat rumahnya di catatan HR sudah tidak berpenghuni. Tetangga bilang keluarganya pindah mendadak, sekitar waktu yang sama dengan pengunduran dirinya.""Pindah mendadak, tanpa jejak?" Alena merasa perutnya mual mendengar itu. "Itu bukan kepindahan biasa.""Aku setuju." Raka menutup laptopnya, menatap Alena serius. "Tapi kita harus hati-hati. Kalau benar dia 'dibungkam' seperti kata pesan semalam, menc

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status