Inicio / Romansa / Suamiku, Musuh Keluargaku / Rumah Baru, Musuh Baru

Compartir

Rumah Baru, Musuh Baru

Autor: Nusagung
last update Fecha de publicación: 2026-09-07 12:35:18

Rumah keluarga Pradipta jauh lebih besar dari yang Alena bayangkan. Bangunan bergaya klasik itu berdiri megah di lahan seluas dua hektar, dikelilingi taman rapi dan kolam air mancur di halaman depan. Namun kemegahan itu tidak membuat Alena merasa nyaman—justru sebaliknya, setiap sudut rumah ini terasa seperti medan asing yang penuh jebakan tak terlihat.

Raka membawakan koper terakhir Alena masuk ke kamar mereka di lantai dua. Kamar itu luas, didekorasi mewah, tapi terasa dingin—sama seperti hubungan mereka.

"Istirahatlah dulu," kata Raka. "Nanti malam ada makan malam keluarga. Semua akan hadir untuk menyambutmu secara resmi."

"Semua siapa saja?"

"Ibuku. Dimas dan istrinya, Sarah. Juga adikku, Nadia." Raka menyebutkan nama-nama itu dengan nada datar, seolah membacakan daftar tamu rapat, bukan anggota keluarganya sendiri.

Setelah Raka pergi, Alena duduk sejenak di tepi ranjang, menatap sekeliling kamar yang akan jadi rumahnya selama tiga tahun ke depan. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum menghadapi makan malam yang sudah pasti akan penuh ketegangan.

***

Ruang makan keluarga Pradipta dirancang formal, dengan meja panjang yang bisa menampung lebih dari dua puluh orang. Malam itu, hanya diisi keluarga inti—tapi suasananya tetap terasa seperti ruang sidang.

Ibu Raka, yang diperkenalkan sebagai Ibu Wulan, duduk di ujung meja dengan postur tegak, menatap Alena dari balik gelas kristal berisi anggur merah.

"Jadi kau yang bernama Alena," katanya, nada suaranya sopan tapi dingin. "Selamat datang di keluarga kami."

"Terima kasih, Bu," jawab Alena, berusaha terdengar tenang.

"Aku harap kau paham," lanjut Ibu Wulan, "pernikahan ini terjadi karena kebutuhan bisnis, bukan karena keluarga kami menerimamu sepenuhnya. Jangan salah mengira posisimu di rumah ini."

Kalimat itu menusuk tajam, tapi Alena menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan. "Saya mengerti posisi saya, Bu. Saya di sini untuk memenuhi kesepakatan, bukan mencari penerimaan yang tidak diinginkan."

Jawaban itu membuat Ibu Wulan sedikit terkejut—tidak menyangka menantu barunya akan menjawab setegas itu. Di sisi lain meja, Raka diam-diam melirik Alena dengan ekspresi yang sulit diartikan, mungkin sedikit terkesan.

"Berani juga kau bicara begitu pada Ibu," sela suara lain. Dimas, kakak Raka, tersenyum tipis sambil memotong steak di piringnya. "Semoga keberanian itu tidak berubah jadi masalah untuk kami semua."

"Aku hanya jujur," jawab Alena singkat, menatap balik Dimas tanpa gentar.

Sarah, istri Dimas, tertawa kecil, suaranya terdengar dibuat-buat. "Wah, sepertinya kita punya anggota keluarga baru yang cukup menarik."

Ada nada sindiran dalam kalimat itu, tapi Alena memilih untuk tidak menanggapinya secara langsung.

Satu-satunya orang di meja itu yang menunjukkan sikap ramah adalah Nadia, adik bungsu Raka, yang duduk di sebelah Alena. Gadis muda itu tersenyum kecil, sedikit berbisik.

"Jangan terlalu dipikirkan," katanya pelan. "Mereka semua begitu ke siapa pun yang baru masuk keluarga ini."

Alena menoleh, sedikit terkejut mendapat kebaikan tak terduga di tengah suasana yang begitu dingin. "Terima kasih," bisiknya balik.

Makan malam berlanjut dengan obrolan formal seputar bisnis dan rencana kerja sama kedua perusahaan. Namun di balik obrolan itu, Alena bisa merasakan tatapan menilai dari hampir semua orang di meja—kecuali Nadia.

Menjelang akhir makan malam, Ibu Wulan tiba-tiba mengangkat topik baru.

"Raka, bagaimana dengan proyek pengembangan properti di distrik selatan? Ayahmu bilang ada masalah dengan salah satu investor."

Raka menjawab singkat, tapi Alena menangkap sesuatu yang aneh—Dimas tampak sedikit gelisah mendengar topik itu, matanya sekilas melirik ke arah Sarah sebelum kembali fokus ke piringnya.

Reaksi kecil itu mungkin tidak berarti apa-apa. Tapi insting Alena, yang mulai terlatih sejak menerima pesan-pesan misterius beberapa hari terakhir, mengatakan sebaliknya.

Setelah makan malam selesai dan semua orang mulai membubarkan diri, Nadia sempat menghampiri Alena di lorong menuju kamar.

"Kak Alena," panggilnya pelan, memastikan tidak ada orang lain di sekitar. "Boleh aku kasih saran?"

"Tentu."

"Hati-hati sama Kak Dimas dan Sarah. Mereka... tidak seperti kelihatannya. Terutama soal proyek distrik selatan yang baru saja disebut Ibu tadi." Nadia berbicara cepat, seperti takut ketahuan. "Aku tidak bisa cerita lebih detail sekarang. Tapi kalau kau ingin tahu kebenaran, coba cari tahu soal laporan keuangan proyek itu."

Sebelum Alena sempat bertanya lebih jauh, langkah kaki terdengar mendekat dari ujung lorong. Nadia buru-buru pamit dan berjalan cepat menuju kamarnya sendiri, meninggalkan Alena dengan rasa penasaran baru yang menumpuk di atas semua misteri yang belum terpecahkan.

Malam itu, sebelum tidur, Alena menatap langit-langit kamar barunya, memikirkan semua kejadian hari ini. Ibu mertua yang terang-terangan tidak menyukainya. Kakak ipar yang mencurigakan. Dan sekarang, petunjuk baru soal proyek properti yang tampaknya menyimpan masalah tersembunyi.

Ia mulai sadar, pernikahan ini bukan hanya soal menyelamatkan bisnis keluarganya sendiri. Ada terlalu banyak rahasia yang berputar di sekeliling keluarga Pradipta—dan cepat atau lambat, Alena tahu ia akan terseret masuk lebih dalam ke pusaran itu.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Suamiku, Musuh Keluargaku   Ancaman Baru

    Tiga hari setelah kedatangan Broto, nggak ada kejadian aneh apa pun. Nggak ada pesan misterius, nggak ada tamu tak diundang. Justru itu yang bikin Alena makin nggak tenang."Kayak nunggu badai," katanya suatu malam, waktu dia dan Raka lagi makan malam berdua di kamar—kebiasaan yang udah jadi rutinitas mereka belakangan ini."Mungkin emang lagi nyusun strategi," jawab Raka, nyuil ayam di piringnya tanpa nafsu makan yang jelas. "Orang kayak dia nggak gerak sembarangan."Alena ngangguk pelan. Dia udah coba fokus ke kerjaan, ke urusan rumah tangga sehari-hari, tapi pikirannya terus aja balik ke percakapan sama Broto. Pion di papan yang lebih besar."Eh," katanya tiba-tiba, "kamu masih inget nggak, dulu waktu kita tanda tangan kontrak, kamu bilang nggak mau ada perasaan pribadi ikut campur?"Raka ngangkat alis, agak bingung arah pembicaraan tiba-tiba pindah. "Inget. Kenapa?""Cuma mikir aja," Alena senyum kecil, "gimana kita sekarang."Raka taruh sendoknya, natap Alena lama. "Kalau boleh j

  • Suamiku, Musuh Keluargaku   Wajah di Balik Bayangan

    Dua hari setelah malam pengakuan Pak Pradipta, semuanya kelihatan tenang. Terlalu tenang, menurut Alena.Dia lagi di dapur, bikin teh sendiri—kebiasaan baru sejak beberapa minggu terakhir, karena entah kenapa itu bikin dia lebih tenang mikir—waktu Nadia masuk dengan wajah aneh. Bukan panik kayak biasanya. Lebih ke... bingung."Kak, ada tamu. Katanya mau ketemu Ayah, tapi Ayah lagi di kantor.""Tamu siapa?""Nggak mau kasih tau nama depannya. Cuma bilang... 'teman lama'."Sesuatu di cara Nadia ngomong bikin Alena langsung waspada. Dia taruh cangkirnya, jalan ke ruang tamu.Pria itu berdiri deket jendela, mbelakangin pintu masuk. Jas abu-abu, rapi, umur mungkin sekitar enam puluhan tapi masih keliatan bugar. Waktu dia noleh, Alena langsung tau siapa ini—meski belum pernah ketemu langsung.Wajahnya sama kayak di foto lama yang pernah ditunjukkan Om Hartono."Kau pasti Alena," katanya, senyumnya sopan, tapi ada sesu

  • Suamiku, Musuh Keluargaku   Pengakuan Ayah

    Ruang kerja Pak Pradipta gelap kecuali lampu meja yang menyala redup. Raka dan Alena duduk di kursi tamu, sementara pria tua itu berdiri membelakangi mereka, menatap keluar jendela yang menghadap kota.Sudah lima menit dia diam saja."Ayah?" Raka akhirnya memanggil.Pak Pradipta menghela napas panjang, tapi tidak langsung berbalik."Kalian tahu kenapa dulu aku dan ayah Alena bisa jadi rekan bisnis?" Dia bertanya, suaranya aneh—bukan nada berwibawa yang biasa dipakai di rapat direksi. "Bukan cuma soal keuntungan. Kami berteman. Teman baik, sebenarnya. Sebelum semua kekacauan itu."Alena menegakkan duduknya. Ini bukan sesuatu yang pernah diceritakan padanya."Dua puluh tahun lalu, wijaya—ayahmu—dia yang menyelamatkan bisnisku waktu aku baru mulai. Aku hampir bangkrut sebelum sempat besar. Dia pinjamkan modal tanpa jaminan apa pun. Cuma percaya."Pak Pradipta akhirnya berbalik. Matanya berkaca-kaca, hal yang tidak pernah dilihat Raka sebelumnya dari ayahnya sendiri."Terus apa yang terja

  • Suamiku, Musuh Keluargaku   Operasi Penyelamatan

    Pagi itu, Raka mengumpulkan semua pihak yang bisa dipercaya di ruang kerja pribadinya—Pak Handoko dan dua anak buahnya, serta seorang kenalan lama Raka yang kebetulan bekerja sebagai perwira polisi, Komisaris Wibowo, yang bersedia membantu secara tidak resmi sebelum kasus ini dilaporkan penuh."Kita tidak bisa menyerbu langsung," kata Komisaris Wibowo, menatap peta lokasi gudang yang sudah ditandai Pak Handoko semalam. "Kalau memang ada penyanderaan, tindakan gegabah bisa membahayakan korban. Saya bisa bantu urus izin operasi kecil, tapi harus cepat dan senyap.""Berapa lama itu bisa diurus?" tanya Raka."Dengan koneksi saya, mungkin sore ini bisa jalan. Tapi saya butuh alasan resmi untuk masuk tanpa membuat kecurigaan bocor ke pihak dalam yang mungkin terlibat."Alena, yang duduk di sudut ruangan sejak pagi, akhirnya angkat suara. "Bagaimana kalau alasannya laporan dugaan penyekapan dari warga sekitar? Tidak perlu menyebut nama Pradipta sama sekali di laporan awal."Komisaris Wibowo

  • Suamiku, Musuh Keluargaku   Jejak yang Ditemukan

    Raka tidak tidur lagi malam itu. Ia duduk di meja kerja, memperbesar foto blur itu berkali-kali, mencoba mengenali bangunan di latar belakang."Ini gudang," katanya akhirnya, menunjuk bagian sudut foto yang nyaris tidak terlihat. "Lihat atapnya. Model seng bergelombang seperti ini biasanya dipakai gudang tua di kawasan industri pinggiran."Alena mendekat, memperhatikan detail yang ditunjuk Raka. "Kawasan industri mana?""Aku tidak yakin. Tapi Pak Handoko mungkin bisa membantu melacaknya. Dia lebih berpengalaman soal hal semacam ini."Raka langsung menghubungi Pak Handoko meski waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Pria itu menjawab tanpa terdengar terganggu, seolah sudah terbiasa dihubungi di jam-jam aneh."Kirim fotonya, Pak Raka. Saya coba analisis."***Kabar berikutnya datang keesokan siang, lebih cepat dari yang diperkirakan. Pak Handoko berhasil mempersempit lokasi ke sebuah kawasan pergudangan tua di daerah Cakung, berdasarkan analisis bayangan dan sudut bangunan di foto

  • Suamiku, Musuh Keluargaku   Mencari yang Hilang

    Pagi itu, Raka bangun lebih awal dari biasanya, sudah duduk di meja kerja kamar mereka dengan laptop menyala saat Alena membuka mata."Kau tidak tidur?" tanya Alena, masih setengah mengantuk."Sempat, sebentar," jawab Raka, tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Aku menyuruh orang kepercayaanku melacak alamat terakhir staf yang menghilang itu. Namanya Pak Yudo. Menurut catatan HR, dia sudah delapan tahun bekerja di divisi keuangan sebelum tiba-tiba mengundurkan diri minggu lalu."Alena bangun, duduk di sisi ranjang. "Ada hasil?""Alamat rumahnya di catatan HR sudah tidak berpenghuni. Tetangga bilang keluarganya pindah mendadak, sekitar waktu yang sama dengan pengunduran dirinya.""Pindah mendadak, tanpa jejak?" Alena merasa perutnya mual mendengar itu. "Itu bukan kepindahan biasa.""Aku setuju." Raka menutup laptopnya, menatap Alena serius. "Tapi kita harus hati-hati. Kalau benar dia 'dibungkam' seperti kata pesan semalam, menc

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status