INICIAR SESIÓNMobil berhenti di pinggir jalan yang mulai sepi.Lampu jalan menyinari samar bagian dalam mobil. Suasana mendadak sunyi, tapi penuh tekanan.Naya sudah turun lebih dulu.Ia berjalan ke sisi mobil, membuka pintu tempat Egi duduk dengan satu tarikan.“Turun.”Nada suaranya datar, tanpa emosi.Egi menoleh santai, masih dengan senyum yang sama.“Kenapa harus turun? Aku kan belum selesai kerja.”Naya menatapnya lurus, tidak berkedip.“Kontrak selesai.”Egi malah tertawa kecil.“Belum selesai. Belum dibayar juga.”Rani di dalam mobil langsung menutup mulut. Ia tahu arah situasi ini tidak akan baik.Pak Tito memilih menatap lurus ke depan.Sementara itu, Egi bersandar makin santai di kursinya, seolah ia tidak sedang diusir.“Kalau kamu mau aku turun,” lanjutnya ringan, “pakai cara yang lebih sopan.”Sunyi.Beberapa detik berlalu.Tatapan Naya berubah. Tidak lagi sekadar dingin. Ada sesuatu yang lebih tajam, lebih dalam, lebih berbahaya.“Baik.”Satu kata.Pelan.Namun cukup.Naya melangkah m
Mobil melaju membelah jalanan malam.Lampu kota berkelebat di balik jendela, memantul samar di wajah Naya yang sejak tadi menatap lurus ke depan. Tangannya terlipat rapi di pangkuan. Rahangnya sedikit mengeras.Di sampingnya, Egi duduk terlalu santai.Terlalu dekat.Awalnya hanya bahunya yang bergeser sedikit. Lalu lututnya ikut mendekat. Hingga jarak di antara mereka nyaris tidak ada.Naya tidak langsung bereaksi.Namun matanya perlahan melirik.Satu detik.Cukup untuk menilai masalah.“Duduk yang benar,” ucapnya tanpa menoleh.Nada suaranya datar.Namun jelas.Egi malah tersenyum kecil.“Ini kan lagi latihan peran,” jawabnya santai.Naya tetap menatap ke depan.“Peran tidak berarti kamu bebas.”Egi bersandar lebih dalam ke kursi.Seolah tidak mendengar.“Kalau nanti di depan keluarga kamu kita kelihatan kaku, bisa gagal total,” katanya ringan. “Harus dibiasain dari sekarang.”Pak Tito yang menyetir melirik sekilas lewat kaca spion.Lalu kembali fokus ke jalan.Dalam hati, ia mulai m
Rani akhirnya menghela napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sandaran kursi.“Udah,” katanya sambil menatap layar tablet untuk terakhir kali. “Kita gak akan nemu yang sempurna malam ini.”Naya menatapnya datar. “Aku gak cari sempurna.”“Kamu cari normal,” sambung Rani cepat. “Dan sejauh ini… kita gagal total.”Naya tidak membantah.Itu fakta.Rani lalu mengetuk layar tablet pelan. “Masih ada satu nama. Egi.”Naya mengernyit. “Yang tadi?”Rani mengangguk. “Iya. Dia paling mendekati manusia.”“Standar kamu rendah sekali.”“Standar kita memang harus diturunin kalau waktunya tinggal satu jam,” balas Claudia santai.Naya terdiam sejenak.Menimbang.Tidak banyak pilihan.Akhirnya ia menghela napas pelan. “Panggil dia.”Rani langsung tersenyum. “Nah, gitu dong.”Tidak butuh waktu lama.Egi datang lagi.Kali ini dengan langkah lebih santai. Senyumnya percaya diri, bahkan cenderung berlebihan. Ia duduk tanpa menunggu dipersilakan, menyandarkan tubuhnya seperti sudah akrab sejak lama.“Ja
Malam itu restoran terasa lebih ramai dari biasanya.Lampu gantung berpendar hangat, musik lembut mengalun, dan suara percakapan bercampur dengan denting gelas yang beradu pelan. Namun di salah satu sudut ruangan, suasananya jauh dari kata santai.Naya duduk dengan punggung tegak. Wajahnya tegang. Jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme tidak sabar.Di depannya, Rani sahabat yang dia kenal ketika di Amerika tampak jauh lebih santai. Ia bersandar, satu kaki disilangkan, tablet di tangannya terus digeser naik turun.“Next,” gumam Rani tanpa mengangkat kepala.Seorang pria datang.Tinggi, rapi, senyumnya terlalu lebar.Ia duduk di depan Naya.“Selamat malam, cantik.”Naya langsung menghela napas pelan.Rani mengangkat satu alis. “Silakan perkenalkan diri.”Pria itu tersenyum lebih lebar lagi. “Saya bisa jadi apa pun yang kamu mau, sayang.”Naya menatap Rani dengan wajah kosong.Rani pun menahan tawa. “Next.”Pria itu bahkan belum sempat membuka CV. Ia pergi dengan wajah bingung.Kandidat
Pagi itu rumah sudah ramai sejak matahari belum benar-benar tinggi.Naya sibuk sendiri.Satu tangan merapikan rambut, satu tangan lagi nyari kunci mobil yang entah ke mana.Tas kerja sudah siap.Sepatu sudah di depan pintu.Tinggal satu hal yang belum siap.Risa.Di meja makan, anak itu duduk santai.Kakinya goyang ke kiri ke kanan.Di depannya bukan nasi.Bukan roti.Tapi keripik, cokelat, dan minuman manis.Sarapan ala anak yang tidak punya niat hidup sehat.“Risa.”Hening.“Risa.”Masih hening.Naya berhenti.Menoleh pelan.“Risa Anindya.”Risa langsung menoleh.“Lengkap banget nyebutnya, Ma. Aku takut.”“Kenapa kamu belum siap sekolah?”Risa mengunyah pelan.Sengaja dileletin.“Aku lagi kerja.”Naya melipat tangan.“Kerja apa?”Ris
Pagi itu suasana rumah besar tidak sehangat biasanya.Udara terasa tegang.Dan sumbernya hanya satu orang.Ia berdiri di ruang tengah, masih mengenakan pakaian kerja sederhana. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tegas.Di hadapannya, Eyang Wulan duduk dengan elegan.Namun jelas tidak senang.“Mulai hari ini kamu bekerja di rumah sakit eyang,” ucap Eyang Wulan tanpa basa-basi.Naya tidak langsung menjawab.“Rumah sakit kita,” lanjutnya. “Semua sudah eyang siapkan.”Naya menghela napas pelan.“Aku tidak minta disiapkan.”Eyang Wulan menatap tajam.“Kamu tidak punya pilihan.”“Kenapa tidak?”“Karena izin praktikmu bisa dicabut kapan saja.”Sunyi.Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada tinggi.Namun cukup untuk menekan.Naya menatap lurus.“Aku tetap bekerja. Tapi aku ingin seperti dokter lain pada umumnya. Aku tidak mau jabatan, eyang.”Eyang Wulan mengernyit.“Maksud kamu?”“Aku mau di UGD.”Jawaban itu langsung membuat suasana berubah.“Tidak,” potong Eyang tegas.“Kamu tidak dididik







