Share

Bab 53

Author: Fei Adhista
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-27 10:01:19

Risa duduk di kursi ruang tunggu rumah sakit sambil menggoyang-goyangkan kakinya.

Wajahnya cemberut.

Sangat cemberut.

Ponselnya terus ia lihat setiap beberapa detik.

“Papa lama banget sih…” gumamnya kesal.

Satpam rumah sakit sampai melirik beberapa kali karena anak kecil itu dari tadi mondar-mandir sendiri sambil ngomel pelan.

Lalu sebuah mobil hitam berhenti di depan lobby.

Pintu terbuka. Seorang wanita turun dengan langkah cepat
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 53

    Risa duduk di kursi ruang tunggu rumah sakit sambil menggoyang-goyangkan kakinya.Wajahnya cemberut.Sangat cemberut.Ponselnya terus ia lihat setiap beberapa detik.“Papa lama banget sih…” gumamnya kesal.Satpam rumah sakit sampai melirik beberapa kali karena anak kecil itu dari tadi mondar-mandir sendiri sambil ngomel pelan.Lalu sebuah mobil hitam berhenti di depan lobby.Pintu terbuka. Seorang wanita turun dengan langkah cepat. Tinggi. Cantik. Dan terlalu percaya diri.Risa langsung menyipitkan mata. Ia kenal wajah itu. Pernah lihat. Bersama papanya.Dan seketika insting perang anak kecilnya aktif.Wanita itu mendekat.Tatapannya langsung menemukan Risa.“Hai Risa kita ketemu lagi?”Risa tidak langsung jawab.Ia malah melipat tangan.“Kenapa?”Wanita itu menghela napas kecil.“Papa kamu minta aku jemput.”Nah.

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 52

    Area parkir hotel mulai semakin sepi.Suara kendaraan dari jalan utama terdengar samar di kejauhan, sementara lampu-lampu gedung memantul redup di permukaan motor Gilang.Namun di antara mereka, suasana justru terasa semakin berat.Gilang masih berdiri bersandar pada motornya.Tatapannya lurus pada Naya.Tenang.Terlalu tenang.“Kalau memang punya suami,” tanyanya akhirnya, “kenapa cari orang lain untuk berpura-pura?”Naya tidak langsung menjawab.Tatapannya turun pelan.“Kenapa tidak cari suamimu saja?”Sunyi.Pertanyaan itu sederhana.Namun entah kenapa menghantam tepat ke tempat yang paling sakit.Naya mencoba membuka mulut.Namun tidak ada suara keluar.Dadanya tiba-tiba terasa sesak.Dan sebelum sempat ia tahan air matanya jatuh.Satu tetes.Lalu satu lagi.Naya langsung memalingkan wajah cepat.Kaget pada dirinya sendiri.Ia bahkan tidak sadar sejak kapan matanya mulai panas.Gilang terdiam.Tatapannya berubah samar.Bukan lembut.Namun jelas tidak sedingin tadi.Untuk pertama k

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 51

    Ponsel itu terus berdering.Nama di layar menyala terang.Risa Calling.Dalam sekejap, sesuatu di wajah Gilang berubah.Tatapannya yang tadi dingin sedikit melunak.Tangannya perlahan melepas pinggang Naya.Namun sebelum Naya sempat menjauh penuh panggilan itu sudah lebih dulu diangkat.“Hallo.”Suara Gilang kembali datar.Tenang.Seolah beberapa detik lalu ia tidak sedang membuat seseorang hampir kehilangan napas.Di seberang sana Risa berteriak. “PAPAAA!”Suara Risa langsung menggema.Keras.Panik.Dan sangat hidup.Naya yang berdiri dekat otomatis mendengar.Ia langsung melirik tajam."Papa? Suara itu mirip sekali dengan Risa" batinnya. Gilang memejamkan mata sebentar.Pendek sekali.Seolah sedang menyiapkan kesabaran. Gilang pun berjalan menjauh dari Naya dan mematikan loud speaker. “Iya.”“Papa di mana?!”“Kerja.”“BOHONG!”Naya mengangkat alis.Sementara Gilang hanya menghela napas pelan.Malam ini benar-benar melelahkan.Satu perempuan keras kepala saja sudah cukup membuat k

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 50

    .Mesin meraung lagi.Namun kali ini Naya langsung melangkah mendekat.Dan sebelum Gilang sempat bergerak ia naik begitu saja ke jok belakang motor itu.Brak.Kedua tangannya langsung mencengkeram sisi jaket Gilang.“Jalan.”Sunyi.Rani menutup mulut.Pak Tito sampai salah tarik napas.Sementara Gilang mematung sepersekian detik.Lalu menoleh sedikit ke belakang.“Apa yang kamu lakukan?”Naya mengangkat dagu.“Naik motor.”“Aku bisa lihat.”“Bagus.”“Dokter Naya.”Nada Gilang mulai turun.Lebih berat.“Turun.”“Enggak.”“Turun.”“Enggak.”Angin malam lewat di antara mereka.Dan entah kenapa adegan itu tiba-tiba terasa sangat mirip seseorang.Keras kepala.Seenaknya sendiri.Suka memaksa.Bahkan cara duduknya di motor mengingatkan Gilang pada satu anak kecil yang terlalu cerewet.Dadanya mendadak terasa sesak.Namun ekspresinya tetap datar.“Naya, aku nggak bercanda.”“Aku juga.”Naya malah duduk makin nyaman.“Sekarang kamu harus tanggung jawab.”Kalimat itu membuat Gilang mengernyit.

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 49

    Jalan itu mulai sepi.Lampu-lampu jalan menggantung redup, menciptakan bayangan panjang di atas aspal yang dingin. Angin malam berembus pelan, membawa sisa panas yang belum sepenuhnya hilang.Di tengah suasana yang nyaris sunyi itu, keributan kecil terdengar terlalu jelas.Egi masih berdiri limbung di pinggir jalan. Wajahnya babak belur, napasnya tersengal, dan egonya yang tadi besar kini tinggal sisa-sisa.“Tolooong! Ini penganiayaan!” teriaknya, setengah panik, setengah dramatis.Sebuah motor yang melaju dari kejauhan melambat.Lampunya menyorot lurus ke arah mereka.Berhenti.Mesin masih menyala beberapa detik sebelum akhirnya dimatikan.Pengendara itu turun dengan gerakan tenang, tapi jelas tidak suka dengan situasi di depannya.Helm hitamnya dilepas.Rahangnya mengeras.Tatapannya langsung jatuh pada Egi.Lalu beralih ke mobil.Langkahnya mantap saat mendekat.“Ini apa?” suaranya datar. Tidak tinggi, tapi cukup untuk membuat suasana menegang.Egi langsung menunjuk dengan penuh se

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 48

    Mobil berhenti di pinggir jalan yang mulai sepi.Lampu jalan menyinari samar bagian dalam mobil. Suasana mendadak sunyi, tapi penuh tekanan.Naya sudah turun lebih dulu.Ia berjalan ke sisi mobil, membuka pintu tempat Egi duduk dengan satu tarikan.“Turun.”Nada suaranya datar, tanpa emosi.Egi menoleh santai, masih dengan senyum yang sama.“Kenapa harus turun? Aku kan belum selesai kerja.”Naya menatapnya lurus, tidak berkedip.“Kontrak selesai.”Egi malah tertawa kecil.“Belum selesai. Belum dibayar juga.”Rani di dalam mobil langsung menutup mulut. Ia tahu arah situasi ini tidak akan baik.Pak Tito memilih menatap lurus ke depan.Sementara itu, Egi bersandar makin santai di kursinya, seolah ia tidak sedang diusir.“Kalau kamu mau aku turun,” lanjutnya ringan, “pakai cara yang lebih sopan.”Sunyi.Beberapa detik berlalu.Tatapan Naya berubah. Tidak lagi sekadar dingin. Ada sesuatu yang lebih tajam, lebih dalam, lebih berbahaya.“Baik.”Satu kata.Pelan.Namun cukup.Naya melangkah m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status