登入Ruang tamu masih dipenuhi suara tangisan Risa. Anak itu duduk di sofa sambil memeluk boneka kelincinya.Matanya merah.Hidungnya merah.Pipinya juga merah.Pokoknya merah semua.Sementara Gilang sudah mulai kehabisan cara."Risa.""Hiks...""Coba tenang dulu.""Nggak bisa.""Kenapa?""Karena Mama diusir.""Oke.""Terus Papa nggak nolong.""Oke.""Terus Papa jahat.""Oke.""Terus Papa harus nikahin Mama."Gilang yang sedang mengambil tisu langsung tersedak."Apa?"Risa mengusap air mata.Namun jawabannya tetap mantap."Papa harus nikahin Mama."Gilang berkedip.Lalu berkedip lagi.Merasa mungkin pendengarannya bermasalah."Sebentar."katanya."Kita ulang dari awal."Risa mengangguk.Gilang menarik napas."Mama diusir.""Iya.""Kamu sedih.""Iya.""Lalu aku harus bantu.""Iya.""Kenapa ujung-ujungnya aku harus nikahin Mamamu?"Risa menatapnya seperti pertanyaan itu sangat bodoh."Karena Papa.""...""Dan Mama.""...""Kalau nikah kan beres."Gilang langsung menatap langit-langit rumah.
Di dalam mobil. Suasana sebenarnya tenang.Terlalu tenang. Dan itu justru membuat Pak Ahmad waspada. Karena selama mengenal Risa, kalau anak itu diam terlalu lama, biasanya sedang merencanakan sesuatu.Dan benar saja. Risa duduk di kursi belakang sambil memeluk boneka kelincinya.Wajahnya serius.Sangat serius.Seperti direktur perusahaan yang sedang menghadapi krisis nasional.Tiga menit.Lima menit.Tujuh menit.Lalu tiba-tiba—"Pak Ahmad.""Iya, Non?""Ada keadaan darurat."Pak Ahmad langsung melirik lewat kaca spion."Tumben."Risa mengangguk berat."Sangat darurat."Tari yang duduk di samping ikut menoleh."Darurat apa?"Risa menarik napas panjang.Lalu berkata dengan suara penuh beban."Mama diusir."Pak Ahmad langsung terdiam."Lalu Papa hilang."Tari menahan senyum."Lalu Eyang marah."Pak Ahmad mengangguk pelan."Lalu Papa bohong.""Masih marah ya?"tanya Tari."Masih."jawab Risa cepat."Lalu kenapa wajahnya sedih?"Risa menghela napas."Karena ini lebih besar dari kemarahan
Pagi datang lebih cepat dari biasanya.Sinar matahari masuk melalui jendela kamar yang sudah setengah kosong.Beberapa koper berdiri di dekat pintu.Sebagian pakaian sudah dilipat.Sebagian lagi masih berserakan karena Naya tidak sempat membereskannya semalam.Di atas tempat tidur, Risa masih duduk sambil memeluk boneka kelincinya.Wajahnya cemberut sejak bangun tidur."Mama.""Hm?""Aku mimpi.""Mimpi apa?"Risa mendengus."Aku ngejar Papa pakai sapu."Naya langsung tertawa."Kasihan sekali Papanya.""Nggak kasihan."Risa melipat tangan."Dia salah."Naya menggeleng geli.Tidak lama kemudian mereka turun ke lantai bawah.Namun baru sampai ruang keluarga...suasana panas langsung terasa.Eyang Wulan sudah duduk di sofa utama.Wajahnya dingin.Di sebelahnya Clara berdiri sambil menyilangkan tangan.Jelas masih membawa kemarahan semalam.Begitu melihat Naya turun, Clara langsung mendecak."Akhirnya."Naya tidak menjawab.Ia hanya menggenggam tangan Risa lebih erat.Eyang Wulan mengangka
Di dalam mobil. Untuk pertama kalinya sejak tadi Risa tidak banyak bicara. Ia hanya duduk sambil memeluk bonekanya.Wajahnya cemberut. Sesekali menghela napas panjang. Sesekali menggerutu pelan.Naya yang duduk di samping mulai memperhatikan. Biasanya anak ini tidak pernah diam selama lebih dari lima menit.Jadi pasti ada sesuatu."Kamu kenapa?" tanya Naya.Risa mendengus."Nggak kenapa-kenapa.""Itu namanya kenapa-kenapa.""Nggak.""Muka kamu kayak ikan buntal.""Aku bukan ikan."Naya tertawa kecil.Lalu mencubit pelan pipi gembungnya."Jadi apa yang terjadi?"Risa akhirnya menyerah.Ia menyandarkan kepala ke kursi."Papa jahat."Naya berkedip."Loh?""Papa bohong.""Apa yang dia lakukan?""Dia janji.""Hm.""Terus nggak datang."Naya mendengarkan.Sementara Risa mulai bercerita panjang.Tentang bagaimana ia menunggu.Tentang bagaimana papanya pergi mendadak.Tentang bagaimana ia merasa ditinggalkan.Dan semakin lama ceritanya semakin dramatis.Sampai akhirnya Naya menahan tawa."Jad
"Aku tidak setuju!"Seluruh ruangan membeku.Naya berkedip."Hah?"Risa berjalan masuk dengan langkah mantap."Aku cuma punya satu Papa!"Semua orang saling pandang.Tidak ada yang mengerti.Sementara Risa menunjuk lurus ke arah Erwin."Jadi Mama nggak boleh tunangan sama Om itu!"Sunyi.Benar-benar sunyi.Naya membeku di tempat.Erwin melongo.Ibu Erwin hampir menjatuhkan gelas.Dan Eyang Wulan...untuk pertama kalinya malam itu benar-benar kehilangan kata-kata.Risa lalu menoleh ke arah wanita paruh baya yang tadi memarahinya di lobby.Matanya langsung menyipit."Oh iya."Katanya sambil menunjuk."Aku juga nggak suka nenek itu.""NENEK ITU?"Wajah wanita itu langsung berubah.Risa mengangguk mantap."Iya.""Lho kenapa?"Karena baginya ini pertanyaan yang sangat penting."Tadi dia marah-marah."Ruangan langsung hening lagi.Beberapa orang mulai saling melirik.Sementara wajah Bu Riana perlahan memanas."Apa maksudmu?"Risa langsung menjawab polos."Di lobby.""Kamu marah sama aku.""
"Kamu pikir saya serius mau ngajak nikah orang baru kenal beberapa jam?"Naya langsung tersedak.Wajahnya memerah.Entah kenapa ada sedikit rasa kesal yang muncul."Ya mana aku tahu!""Hm."Gilang mengangguk pelan.Naya langsung tersedak.Wajahnya memerah.Entah kenapa ada sedikit rasa kesal yang muncul."Ya mana aku tahu!""Hm."Gilang mengangguk pelan."Jadi kamu sempat mikir saya serius?""TIDAK!"Jawaban Naya terlalu cepat.Membuat Gilang akhirnya tertawa kecil.Dan itu membuat Naya semakin kesal."Kamu sengaja kan?""Mungkin.""Gilang!""Oke, oke."Pria itu mengangkat kedua tangan tanda menyerah."Tapi satu hal yang benar.""Apa?""Identitas baru kamu memang memudahkan sandiwara."Naya langsung mendengus."Tetap saja aku nggak mungkin menikah lagi.""Karena masih punya suami?""Iya."Jawaban itu keluar begitu saja.Tanpa berpikir.Namun entah kenapa membuat Gilang terdiam beberapa detik.Naya sendiri tidak menyadarinya.Ia hanya melipat tangan di dada."Meskipun aku marah sama di







