Home / Romansa / Suamiku Selalu Ingin Bercerai / Bab 122 Menuntut Atas Imajinasinya

Share

Bab 122 Menuntut Atas Imajinasinya

Author: Fachra. L
last update Last Updated: 2026-01-16 09:26:28

Rumah itu masih berdiri seperti yang Aria ingat.

Lampu-lampu halaman menyala rapi dan jendela-jendela besar memantulkan cahaya hangat dari dalam. Dari luar, segalanya tampak tenang.

Aria berdiri di depan pintu beberapa detik lebih lama dari perlu.

Di dalam, makan malam berlangsung dalam keheningan yang canggung.

Piring-piring tersaji rapi di meja panjang, uap makanan masih mengepul tipis. Biasanya, suara sendok dan percakapan ringan akan mengisi ruang makan itu. Candaan kecil, komentar soal hari yang melelahkan, atau teguran Abram yang singkat tapi hangat.

Malam ini, tidak ada apa pun.

Abram duduk di ujung meja, punggungnya tegak, tatapannya tertuju ke piring tanpa benar-benar melihatnya. Gustav duduk diseberang kursinya, rahangnya mengeras, nyaris tidak menyentuh makanannya. Isla menunduk, memotong makanan perlahan, seolah gerakan itu satu-satunya cara menjaga dirinya tetap tenang.

Ava duduk di tempatnya, kedua tangannya bertumpu di pangkuan. Punggungnya lurus, tapi bahunya tegang. S
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 122 Menuntut Atas Imajinasinya

    Rumah itu masih berdiri seperti yang Aria ingat.Lampu-lampu halaman menyala rapi dan jendela-jendela besar memantulkan cahaya hangat dari dalam. Dari luar, segalanya tampak tenang.Aria berdiri di depan pintu beberapa detik lebih lama dari perlu.Di dalam, makan malam berlangsung dalam keheningan yang canggung.Piring-piring tersaji rapi di meja panjang, uap makanan masih mengepul tipis. Biasanya, suara sendok dan percakapan ringan akan mengisi ruang makan itu. Candaan kecil, komentar soal hari yang melelahkan, atau teguran Abram yang singkat tapi hangat.Malam ini, tidak ada apa pun.Abram duduk di ujung meja, punggungnya tegak, tatapannya tertuju ke piring tanpa benar-benar melihatnya. Gustav duduk diseberang kursinya, rahangnya mengeras, nyaris tidak menyentuh makanannya. Isla menunduk, memotong makanan perlahan, seolah gerakan itu satu-satunya cara menjaga dirinya tetap tenang.Ava duduk di tempatnya, kedua tangannya bertumpu di pangkuan. Punggungnya lurus, tapi bahunya tegang. S

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 121 Tidak Bisa Menunggu

    Sore itu bar Jordan belum ramai.Lampu-lampu gantung masih redup, musik diputar rendah—cukup untuk mengisi ruang tanpa benar-benar mengundang keramaian. Bau alkohol dan kayu tua bercampur, akrab. Aria berjalan pelan, menarik kursi di meja bar.Seorang bartender yang sedang mengusap gelas mendekat dan bertanya ramah, “Mau pesan apa?”“Hanya … air saja,” jawab Aria sedikit ragu.Bartender itu mengangguk, meletakkan gelas di hadapannya. “Kalau berubah pikiran, panggil saja.”Aria membalasnya dengan senyum tipis.Ia tidak memesan apa pun selain segelas air. Tangannya melingkar di sekeliling gelas itu, tapi tidak ia sentuh. Pandangannya bergerak pelan, mengamati setiap sudut—rak botol, meja-meja tinggi, pintu menuju area VIP di belakang yang setengah tertutup.Di sinilah semuanya bermula.Ia ingat jelas apa yang dikatakan pengacara Aditya.Semua bartender memberi kesaksian yang sama.Aditya ada di sini.Aditya menggendong Ava.Aditya membawanya pergi.Tapi tidak ada satu pun yang mengatak

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 120 Jangan Menyerah ....

    Pagi berikutnya, Aria datang seperti biasa.Wajahnya masih pucat, sisa dari ruang dokter. Tangannya dingin, tapi langkahnya tetap lurus—seolah rutinitas ini adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia kendalikan.Saat Aditya duduk di seberang kaca pembatas, Aria langsung tahu.Lebam itu tidak besar, tapi ungu gelap. Bukan hanya di tulang pipinya, tapi sudut bibirnya juga, sampai ada bekas robekan meski kecil di sana.“Aditya, kamu …?”Ya, dia tidak perlu melanjutkan pertanyaannya, karena jawabannya sudah cukup jelas. Dada Aria sesak, dan hatinya terasa sakit.Namun di depannya, Aditya masih menunjukkan senyum meski itu jelas dipaksakan. “Aku tidak apa-apa,” katanya. “Aku tidak sengaja tersandung meja dan jatuh ke lantai.”Dia menyentuh lukanya ringan, seolah benar-benar tidak ada apa-apa. “Kau lihat, ini hanya luka kecil. Tidak perlu kau pedulikan.”Tapi, semakin Aditya mengatakan baik-baik saja, semakin hati Aria terasa perih. Dia tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana, tapi dia je

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 119 Tidak Butuh Perlindungan

    Keesokan paginya, Aria keluar dari kamar seperti seseorang yang lupa bagaimana caranya tidur.Matanya cekung, kulitnya pucat, langkahnya pelan dan tidak sepenuhnya lurus—seperti tubuh yang bergerak hanya karena kebiasaan, bukan karena kemauan.Rambutnya dibiarkan terurai tanpa benar-benar dirapikan, dan sorot matanya kosong, seolah pikirannya tertinggal di tempat lain.Davis dan Norton sama-sama menoleh saat melihatnya.Tak satu pun dari mereka mengatakan apa pun.Tidak ada sapaan yang terlalu ceria. Tidak ada pertanyaan “kau baik-baik saja?”Mereka hanya berdiri di sana, menatap Aria sebentar lebih lama dari biasanya, lalu berpura-pura semuanya normal. Karena mereka tahu—jika satu saja dari mereka membuka mulut, Aria bisa runtuh di tempat.Meja sarapan telah disiapkan.Roti, buah, telur, dan secangkir susu hangat yang Davis letakkan perlahan di depan Aria, seolah benda itu rapuh.“Kau perlu ini,” katanya singkat. Bukan perintah, bukan juga bujukan.Aria hanya diam, tapi tangannya mer

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 118 Ia Tanggung Sendiri

    Jauh dari hotel itu ….Aria berdiri sendirian di bawah lampu jalan yang temaram. Jaketnya terlalu tipis untuk udara malam, dan tangannya yang menggenggam ponsel terus bergetar … tapi tidak ia jawab.Di kepalanya hanya ada satu pikiran yang berulang, semakin keras setiap detik.Jika Aditya sudah menyerah, maka ia tidak boleh.Sebuah mobil melaju normal melewatinya.Aria tidak menoleh. Suara ban yang menyentuh aspal itu hanya lewat seperti banyak hal lain malam ini—tak penting, tak bermakna.Namun beberapa detik kemudian, suara mesin itu kembali terdengar, lebih pelan. Terlalu pelan untuk sekadar lewat.Mobil itu mundur perlahan, lalu berhenti tepat di depannya.Aria menghela napas kecil, nyaris tak terdengar, sebelum akhirnya mendongak. Kaca jendela pengemudi turun, dan wajah yang muncul di baliknya membuat rahangnya mengeras.“Aria?”Nada itu—terkejut, nyaris tidak percaya.Alan.Untuk sesaat, hanya ada sunyi di antara mereka, dipotong sesekali oleh suara kendaraan jauh dan angin mala

  • Suamiku Selalu Ingin Bercerai    Bab 117 Mempertaruhkan Segalanya

    Lorong rumah sakit itu berbau antiseptik dan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.Aria berjalan perlahan, langkahnya hampir tidak bersuara di atas lantai yang mengilap. Jam dinding berdetak pelan, terlalu jelas di antara keheningan yang menggantung.Nama Jordan Hale tertera di papan kecil di samping pintu.Ia berhenti di sana lebih lama dari yang perlu. Tangannya terangkat, lalu turun lagi, seolah mengetuk pintu itu bisa mengubah apa pun. Akhirnya, Aria mendorongnya perlahan.Ruangan itu terang, tapi terasa kosong.Jordan terbaring di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang tampak utuh. Selang infus terpasang rapi. Monitor di sampingnya berdetak stabil, ritmenya tenang, hampir menenangkan … jika bukan karena kenyataan bahwa itu satu-satunya tanda kehidupan yang tersisa.Aria melangkah mendekat.Wajah Jordan pucat, jauh berbeda dari pria yang ia kenal lewat cerita Aditya—pemilik bar yang riuh, yang selalu tertawa keras, yang katanya tidak pernah bisa diam.Sekarang, ia sunyi. Terlalu sun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status