MasukAbram tidak tidur malam itu.Lampu ruang kerjanya masih menyala ketika rumah lain telah lama tenggelam dalam gelap. Di atas meja kayu tua, beberapa berkas terbuka rapi—laporan, catatan singkat, nama-nama yang tidak ingin ia baca terlalu lama.Di sudut meja, ponselnya tergeletak diam. Tidak berdering. Tidak bergetar. Seolah ikut memahami bahwa malam ini, tak ada kabar baik yang pantas datang.Abram duduk dengan punggung sedikit membungkuk, kedua tangannya bertumpu di tepi meja. Usianya terasa berat di persendian, tapi bukan itu yang membuat napasnya sesak. Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih pelan, tapi jauh lebih melelahkan.Keputusan.Ia telah membuat terlalu banyak keputusan sepanjang hidupnya. Untuk perusahaan. Untuk keluarga. Untuk orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya. Tapi tak satu pun yang terasa seberat ini—keputusan yang ia buat diam-diam, tanpa persetujuan siapa pun.Mengubur jejak seseorang.Bukan untuk menyakiti Aria. Hanya … untuk membeli waktu.Abram memejam
Lampu di langit-langit menyala tanpa ampun. Terang, putih, dan dingin. Tidak pernah benar-benar padam, hanya meredup sebentar sebelum kembali menyilaukan, seolah waktu di tempat itu menolak memberi jeda.Aditya duduk bersandar pada dinding sel. Punggungnya terasa kaku, tulang lehernya nyeri karena posisi tidur yang tak pernah nyaman. Bau logam, lembap, dan sesuatu yang terlalu lama terkurung menyusup ke napasnya.Di sini, waktu bukan garis lurus—ia pecah, melambat, lalu menghilang begitu saja.‘Dia baik-baik saja.’Itu yang Davis katakan. Tapi Aditya tahu. Terlalu mengenal pria itu untuk tidak menangkap keraguan yang diselipkan di antara jeda napasnya. Ada sesuatu yang disembunyikan. Sesuatu yang sengaja tidak diucapkan.Dan itu tentang Aria.Jari Aditya mengepal perlahan.Baik-baik saja versi siapa?Aria tidak pernah benar-benar “baik-baik saja” jika dia tidak di sisinya. Apalagi setelah semua yang terjadi. Setelah Martha. Setelah hari-hari panjang menunggu yang tidak pernah dijelask
Sejak pemakaman Martha, keheningan seolah menetap dan menolak pergi.Ia duduk di sofa ruang keluarga, memeluk bantal kecil yang sejak tadi tidak benar-benar ia sadari keberadaannya. Matanya sembab, tapi air mata sudah lama berhenti jatuh. Yang tersisa hanyalah rasa nyeri tumpul, seperti luka yang tak lagi berdarah tapi belum sembuh.Martha telah pergi.Dan Aditya … tidak pulang.Janji itu masih terngiang jelas di kepalanya.‘Aku tidak akan lama.’Aditya mengucapkannya malam itu, sambil menggenggam tangannya dengan erat—terlalu erat untuk seseorang yang berkata akan segera kembali.Aria ingat ia sempat menatap wajah suaminya lama, merasa ada sesuatu yang tidak beres, tapi memilih diam. Ia terlalu lelah untuk bertanya.Sekarang, sudah tiga hari berlalu.Ponsel Aria kembali menyala di tangannya. Tidak ada notifikasi baru. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada panggilan tak terjawab.Nomor Aditya tidak aktif.Ia sudah mencoba berkali-kali—pagi, siang, malam—bahkan di jam-jam tidak masuk akal k
Klinik itu masih sepi ketika Ava datang. Bau antiseptik menyambutnya, dingin dan bersih, kontras dengan dadanya yang terasa sesak sejak pagi. Ia duduk di salah satu kursi tunggu, jemarinya saling mengait di pangkuan, gelisah tanpa sadar.Isla keluar dari ruang praktik beberapa menit kemudian. Melihat Ava di sana, langkahnya melambat. “Kenapa tidak bilang kalau kau mau datang?” tanyanya lembut, meski ada kekhawatiran yang jelas di matanya.“Aku hanya … ingin bicara,” jawab Ava pelan.Isla mengajaknya masuk ke ruangannya. Begitu pintu tertutup, Ava menunduk, seolah lantai lebih aman untuk ditatap daripada wajah ibunya sendiri.“Bu,” ucapnya akhirnya, suaranya bergetar tipis. “Bagaimana kalau … kita salah? Bagaimana kalau Ayah terlalu jauh dan mereka menahan Aditya tanpa alasan yang benar?”Isla tidak langsung menjawab. Ia duduk berhadapan dengan putrinya, menautkan pandangan mereka dengan tenang—terlalu tenang untuk kegelisahan yang Ava rasakan.“Kami tidak menahannya, Ava,” kata Isla p
Pagi itu turun dengan cahaya pucat yang menyelinap melalui jendela ruang makan. Meja kayu panjang telah terisi rapi—piring, cangkir, dan makanan hangat yang nyaris tak tersentuh.Abram duduk di ujung meja, kedua tangannya melingkar di sekitar cangkir kopi yang sudah dingin. Gustav duduk berseberangan dengannya, punggung tegak, rahang mengeras. Isla di sisi Gustav, lebih banyak diam, tapi sorot matanya tidak pernah benar-benar lepas dari wajah ayah mertuanya.“Aku menerima telepon dari rumah sakit tadi subuh,” ucap Abram akhirnya, memecah sunyi yang sejak tadi menggantung. Suaranya tenang, terlalu tenang untuk kabar yang akan ia sampaikan. “Kondisi Jordan tidak menunjukkan perkembangan apa pun.”Isla menghela napas panjang, seolah sudah menunggu kalimat itu. “Jadi … tetap seperti itu?”Abram mengangguk pelan. “Dokter mengatakan respons otaknya semakin minimal. Mereka mulai berbicara tentang fase vegetatif permanen.”Cangkir di tangan Gustav diletakkan agak terlalu keras di atas meja. B
Martha meninggal setelah tujuh hari menjalani perawatan di rumah sakit.Tidak ada keajaiban. Tidak ada kabar membaik yang bertahan lama. Tubuhnya terlalu lelah untuk terus bertahan.Aria mengingat semuanya dalam potongan-potongan singkat—suara dokter yang rendah, genggaman tangan yang semakin ringan, dan wajah neneknya yang terlihat damai untuk terakhir kalinya.Pemakaman berlangsung sederhana.Aria hampir tidak mendengar apa pun selain suara langkah kakinya sendiri. Ucapan belasungkawa datang dan pergi seperti angin, tanpa benar-benar menyentuhnya. Dunia terasa jauh, seolah semua orang berada di balik kaca tebal yang tidak bisa ia tembus.Setelah semuanya selesai, mereka pulang.Rumah terasa terlalu sunyi.Begitu pintu tertutup, Aria akhirnya kehilangan kendali. Tubuhnya melemah, bahunya gemetar. Tangis yang sejak tadi ia tahan runtuh begitu saja.Aditya segera memeluknya.Pelukannya erat, hangat, dan nyata. Tangannya mengusap punggung Aria perlahan, seolah mencoba menenangkan sesuat







