LOGINSejak pemakaman Martha, keheningan seolah menetap dan menolak pergi.Ia duduk di sofa ruang keluarga, memeluk bantal kecil yang sejak tadi tidak benar-benar ia sadari keberadaannya. Matanya sembab, tapi air mata sudah lama berhenti jatuh. Yang tersisa hanyalah rasa nyeri tumpul, seperti luka yang tak lagi berdarah tapi belum sembuh.Martha telah pergi.Dan Aditya … tidak pulang.Janji itu masih terngiang jelas di kepalanya.‘Aku tidak akan lama.’Aditya mengucapkannya malam itu, sambil menggenggam tangannya dengan erat—terlalu erat untuk seseorang yang berkata akan segera kembali.Aria ingat ia sempat menatap wajah suaminya lama, merasa ada sesuatu yang tidak beres, tapi memilih diam. Ia terlalu lelah untuk bertanya.Sekarang, sudah tiga hari berlalu.Ponsel Aria kembali menyala di tangannya. Tidak ada notifikasi baru. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada panggilan tak terjawab.Nomor Aditya tidak aktif.Ia sudah mencoba berkali-kali—pagi, siang, malam—bahkan di jam-jam tidak masuk akal k
Klinik itu masih sepi ketika Ava datang. Bau antiseptik menyambutnya, dingin dan bersih, kontras dengan dadanya yang terasa sesak sejak pagi. Ia duduk di salah satu kursi tunggu, jemarinya saling mengait di pangkuan, gelisah tanpa sadar.Isla keluar dari ruang praktik beberapa menit kemudian. Melihat Ava di sana, langkahnya melambat. “Kenapa tidak bilang kalau kau mau datang?” tanyanya lembut, meski ada kekhawatiran yang jelas di matanya.“Aku hanya … ingin bicara,” jawab Ava pelan.Isla mengajaknya masuk ke ruangannya. Begitu pintu tertutup, Ava menunduk, seolah lantai lebih aman untuk ditatap daripada wajah ibunya sendiri.“Bu,” ucapnya akhirnya, suaranya bergetar tipis. “Bagaimana kalau … kita salah? Bagaimana kalau Ayah terlalu jauh dan mereka menahan Aditya tanpa alasan yang benar?”Isla tidak langsung menjawab. Ia duduk berhadapan dengan putrinya, menautkan pandangan mereka dengan tenang—terlalu tenang untuk kegelisahan yang Ava rasakan.“Kami tidak menahannya, Ava,” kata Isla p
Pagi itu turun dengan cahaya pucat yang menyelinap melalui jendela ruang makan. Meja kayu panjang telah terisi rapi—piring, cangkir, dan makanan hangat yang nyaris tak tersentuh.Abram duduk di ujung meja, kedua tangannya melingkar di sekitar cangkir kopi yang sudah dingin. Gustav duduk berseberangan dengannya, punggung tegak, rahang mengeras. Isla di sisi Gustav, lebih banyak diam, tapi sorot matanya tidak pernah benar-benar lepas dari wajah ayah mertuanya.“Aku menerima telepon dari rumah sakit tadi subuh,” ucap Abram akhirnya, memecah sunyi yang sejak tadi menggantung. Suaranya tenang, terlalu tenang untuk kabar yang akan ia sampaikan. “Kondisi Jordan tidak menunjukkan perkembangan apa pun.”Isla menghela napas panjang, seolah sudah menunggu kalimat itu. “Jadi … tetap seperti itu?”Abram mengangguk pelan. “Dokter mengatakan respons otaknya semakin minimal. Mereka mulai berbicara tentang fase vegetatif permanen.”Cangkir di tangan Gustav diletakkan agak terlalu keras di atas meja. B
Martha meninggal setelah tujuh hari menjalani perawatan di rumah sakit.Tidak ada keajaiban. Tidak ada kabar membaik yang bertahan lama. Tubuhnya terlalu lelah untuk terus bertahan.Aria mengingat semuanya dalam potongan-potongan singkat—suara dokter yang rendah, genggaman tangan yang semakin ringan, dan wajah neneknya yang terlihat damai untuk terakhir kalinya.Pemakaman berlangsung sederhana.Aria hampir tidak mendengar apa pun selain suara langkah kakinya sendiri. Ucapan belasungkawa datang dan pergi seperti angin, tanpa benar-benar menyentuhnya. Dunia terasa jauh, seolah semua orang berada di balik kaca tebal yang tidak bisa ia tembus.Setelah semuanya selesai, mereka pulang.Rumah terasa terlalu sunyi.Begitu pintu tertutup, Aria akhirnya kehilangan kendali. Tubuhnya melemah, bahunya gemetar. Tangis yang sejak tadi ia tahan runtuh begitu saja.Aditya segera memeluknya.Pelukannya erat, hangat, dan nyata. Tangannya mengusap punggung Aria perlahan, seolah mencoba menenangkan sesuat
Beberapa hari setelahnya, Aria menepati ucapannya. Dia membawa Aditya ke rumah Martha saat pria itu tidak terlalu sibuk di perusahaan.Namun, Aditya tidak pernah tahu kalau sebelumnya Aria juga sudah menghubungi kakeknya, meminta pria tua itu datang segera.Karena ketidaktahuan itulah, Abram dan Aditya bertatap muka di rumah Martha.Beberapa detik berlalu. Tidak ada sapaan. Tidak ada senyum.Hanya tatapan.Ada sedikit keterkejutan samar yang melintas di mata Aditya.Sementara Tuan Abram berdiri di depan pintu dengan ekspresi dingin—seolah kehadiran Aditya bukan hal yang ingin ia sambut.Berdiri di antara mereka, Aria merasakan udara berubah tegang dalam sekejap.Dari cara kakeknya menatap Aditya, dia tahu tatapan itu tidak lagi hangat. Bahkan dinginnya terasa, meski tak satu pun dari mereka berucap.Aria memandang mereka bergantian, bingung.Padahal terakhir mereka bertemu, kakeknya dan Aditya sangat akrab. Namun kini, dalam sekejap, tatapan itu berubah seperti permusuhan yang tak diu
Pintu butik kembali terbuka pelan.Milan masuk dengan langkah ragu, jelas tidak berniat menyela—tapi wajahnya sudah lebih dulu menunjukkan bahwa dia mendengar semuanya.“Aria ….” Suaranya hati-hati, hampir takut. “Maaf … aku tidak sengaja dengar tadi.”Aria tidak langsung menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menelan perasaan yang terasa terlalu besar untuk tubuhnya.Milan mendekat beberapa langkah, ekspresinya penuh kekesalan yang tak ia sembunyikan. “Aku … aku benar-benar tidak habis pikir,” katanya, suaranya bergetar karena emosi. “Bagaimana bisa ada seorang ibu yang bicara seperti itu ke anaknya sendiri?”Tangannya mengepal. “Itu kejam. Sangat kejam.” Nada suara Milan melemah, berubah cemas. “Tapi … aku juga takut, Aria. Amit-amit ….” Ia menelan ludah. “Katanya omongan ibu itu mujarab. Aku cuma—aku takut kata-katanya jadi kenyataan.”Kata ‘ibu’ itu jatuh seperti batu ke dada Aria.Ia menunduk. Tenggorokannya mengeras, seolah ada sesuatu yang ingin keluar tapi tercekik d







