LOGINRuangan itu terasa lebih sempit daripada sebelumnya.
Sera duduk di sisi sofa, kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Sejak meninggalkan rumah Sukma, tidak satu pun dari mereka banyak berbicara.
Pertanyaan perempuan tua itu masih melekat di kepalanya.
Siapa sebenarnya anak yang dicari Ratna malam sebelum kematiannya?
Dan mengapa nama Sera selalu berada di dekat rahasia itu?
Miriam duduk di hadapan mereka.
Wajahnya pucat.
S
“Bagaimana kalau aku menjadi ayah yang buruk?”Pertanyaan itu meluncur dari mulut Damian saat ia menatap buku panduan menjadi orang tua yang terbuka di atas meja.Sera, yang sedang menikmati segelas susu hangat di sofa, mengangkat wajah.“Apa?”Damian menutup buku itu dengan gerakan tegas, seolah baru saja tertangkap melakukan sesuatu yang memalukan.“Tidak ada.”“Damian.”Ia mengembuskan napas panjang. “Aku bertanya bagaimana kalau aku tidak bisa menjadi ayah yang baik.”Senyum kecil Sera perlahan menghilang.Untuk pertama kalinya sejak mereka mengetahui kehamilan itu, ia melihat sesuatu di mata suaminya yang tidak bisa disembunyikan oleh sikap dinginnya.Ketakutan.“Apa yang membuatmu berpikir begitu?” tanya Sera lembut.Damian tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih ke jendela, tetapi pikirannya justru kembali pada rumah m
“Sera, kamu yakin tidak apa-apa?”Damian meletakkan cangkir teh ketika melihat istrinya bergegas meninggalkan meja makan.Sera menutup mulutnya, lalu berlari menuju kamar mandi.Beberapa detik kemudian, Damian menyusul dengan wajah tegang.“Sayang?”“Aku tidak apa-apa.” Sera membasuh wajahnya, berusaha menghilangkan rasa mual yang sejak beberapa hari terakhir terus mengganggunya.Damian mengusap punggungnya.“Kamu sudah beberapa kali seperti ini. Kita ke dokter sekarang.”Sera menggeleng pelan. “Mungkin aku hanya kelelahan.”“Kalau begitu, biarkan dokter yang memastikannya.”Nada Damian terdengar tegas, tetapi sorot matanya penuh kekhawatiran.Sera akhirnya mengangguk.Ia sendiri mulai menyadari tubuhnya terasa berbeda. Ia lebih mudah lelah, lebih sensitif terhadap bau makanan, dan belakangan ini sering merasa mual pada pagi hari
“Kenapa kamu harus tersenyum seperti itu kepadanya?”Sera menghentikan gerakan tangannya di atas dokumen.Ia menoleh kepada Damian yang berdiri di ambang pintu ruang kerja yayasan. Wajah suaminya tampak tenang, tetapi rahangnya mengeras.Sera mengikuti arah pandang Damian.Theo sedang berdiri di samping meja, menjelaskan rancangan program kesehatan gratis untuk anak-anak penerima beasiswa. Dokter itu baru saja menawarkan bantuan untuk menghubungkan yayasan dengan beberapa rumah sakit.“Apa maksudmu?” tanya Sera.Damian melirik Theo. “Sepertinya kalian sangat menikmati waktu bersama.”Theo mengangkat alis, lalu menatap Sera dengan ekspresi geli.“Ah, aku mengerti.” Ia merapikan dokumennya. “Kurasa aku sebaiknya pergi sebelum suasana di sini semakin menarik.”“Duduklah,” kata Damian datar.“Terima kasih, tapi aku masih punya pasien.”
“Sepertinya hanya kamu yang bisa membuat Damian Wijaya tersenyum seperti itu.”Sera berhenti di depan ruang kerja suaminya.Seorang perempuan cantik berdiri terlalu dekat dengan Damian. Bahunya hampir menyentuh lengan pria itu saat mereka melihat layar laptop bersama.“Presentasi ini jauh lebih baik,” ujar Damian sambil tersenyum tipis. “Kamu tahu apa yang saya butuhkan.”Perempuan itu tertawa kecil.Sera merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan di dadanya.Ia tahu Damian mencintainya. Namun, melihat perempuan lain begitu dekat dengan suaminya ternyata berbeda dari sekadar meyakinkan diri bahwa ia dipercaya.Sera mengetuk pintu.Damian langsung menoleh. “Sera? Ada apa, Sayang?”Perempuan itu tersenyum sopan. “Saya Olivia, rekan kerja Pak Damian. Kami sedang membahas kerja sama dengan investor baru.”“Senang bertemu denganmu,” jawab Sera.
“Damian, kenapa alarm asap berbunyi?”Sera berlari memasuki dapur dengan rambut masih sedikit berantakan. Ia berhenti di ambang pintu ketika melihat suaminya berdiri di depan kompor, memegang spatula dengan wajah setegang saat menghadapi rapat direksi.Asap tipis mengepul dari wajan.Di atas meja, dua potong roti tampak terlalu gosong untuk disebut sarapan.Damian menoleh. “Semuanya terkendali.”Sera menatap roti itu, lalu menatap wajah suaminya.“Benarkah?”“Telurnya hanya sedikit terlalu matang.”Sera melirik wajan.“Damian, telurnya hitam.”“Bagian pinggirnya saja.”Sera menggigit bibir, berusaha menahan tawa. Bahunya mulai bergetar.Damian menyipitkan mata. “Kamu menertawakanku?”“Tidak.”“Kamu jelas sedang menertawakanku.”“Aku hanya…” Sera menutup m
“Damian, kalau kamu terus mengirimkan bunga ke kantorku, orang-orang akan mengira yayasan ini dibiayai oleh toko bunga.”Damian mengangkat wajah dari tabletnya. “Bukankah memang begitu? Aku membeli hampir seluruh persediaan mereka minggu ini.”Sera menatap suaminya tidak percaya.“Damian!”Pria itu tersenyum santai, sama sekali tidak terlihat menyesal.Sera menggeleng sambil menahan tawa. Sudah tiga bulan sejak ia mengambil alih pengembangan yayasan yang didirikannya dari sebagian warisan Armand. Kini, yayasan itu mulai menjalankan program beasiswa dan bantuan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.Pekerjaannya semakin banyak. Jadwal pertemuan, laporan anggaran, dan kunjungan lapangan memenuhi hari-harinya.Sementara itu, Damian mulai melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Sera.Ia pulang lebih awal.Bahkan terkadang sebelum matahari terbenam.Awalnya, Se







