مشاركة

PINTU DORAEMON

مؤلف: Rr716
last update تاريخ النشر: 2026-06-10 23:28:46

"Ada di dapur...!" ucap Vani dan Vano kompak bersamaan sembari telunjuk mereka menunjuk ke arah sudut ruangan yang sama.

Mendengar petunjuk itu, mereka akhirnya berbondong-bondong berjalan ke area dapur rumah Vani. Langkah kaki mereka terhenti di depan sebuah pintu kayu bernuansa kuno yang terletak pas di sebelah rak piring. Begitu pintu itu dibuka, mereka langsung masuk ke dalam satu pintu yang ada di sana, yang ternyata merupakan lorong pendek penghubung antar bangunan.

Begitu berhasil melewa
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Suamiku, Tuan Mudaku    PINTU DORAEMON

    "Ada di dapur...!" ucap Vani dan Vano kompak bersamaan sembari telunjuk mereka menunjuk ke arah sudut ruangan yang sama.Mendengar petunjuk itu, mereka akhirnya berbondong-bondong berjalan ke area dapur rumah Vani. Langkah kaki mereka terhenti di depan sebuah pintu kayu bernuansa kuno yang terletak pas di sebelah rak piring. Begitu pintu itu dibuka, mereka langsung masuk ke dalam satu pintu yang ada di sana, yang ternyata merupakan lorong pendek penghubung antar bangunan.Begitu berhasil melewati pintu tersebut, Devan langsung celingukan menatap sekeliling arsitektur bangunan yang baru saja mereka masuki. Kedua tangannya berkacak pinggang dengan wajah penuh rasa heran yang tak habis pikir."Astaga... bener-bener ini mah! Desain rumah macam apa begini? Gimana kalau dulu ibu bapak kalian selingkuh satu sama lain, hah?! Aksesnya gampang banget begini!" tanya Devan dengan nada penuh selidik, curiga dengan kedekatan luar biasa antar kedua keluarga dari masa lalu."Amit-amit! Ya gak atuh!"

  • Suamiku, Tuan Mudaku    RUMAH VANO

    "Hah.... Om Devan mah gak lihat-lihat sih, rumah aku itu posisinya strategis banget tahu! Lihat aja tuh, rumah aku pas banget di belokan jalan, dan di sebelah sana itu deket banget sama sekolah SD, SMP, dan SMA. Jadi, kalau Mang Kardi mau jualan di sana, jelas bakal lebih strategis dan ramai pembeli. Kalau jualan di halaman sini mah ketutup posisinya, udah gitu rumah aku juga jauh lebih luas halaman depannya. Kan dulu almarhumah Mamah sama Bunda itu BESTiean. Karena Ayah Vani sama Bapaknya aku itu aslinya masih saudaraan gitu lah, sepupu," ucap Vano panjang lebar menjelaskan silsilah keluarga sekaligus keuntungan lokasi rumahnya.Mang Kardi yang mendengarkan penuturan Vano langsung paham, lalu menoleh ke arah Eko. "Mungkin hubungan keluarga dekat itu yang buat garis muka mereka berdua jadi kelihatan mirip, Den Eko," ucap Mang Kardi.Eko menyipitkan matanya, pikirannya masih tertuju pada kecurigaan sang mami di telepon tadi. Dia menepuk bahu asistennya pelan. "Bisa jadi karena faktor i

  • Suamiku, Tuan Mudaku    VANI DAN VANO

    Mendengar pertanyaan menantang dari Vano yang menuntut kejelasan, Devan langsung menegakkan punggungnya. Dia melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh sembari menatap tajam ke arah remaja laki-laki di hadapannya itu."Gue kan udah bilang tadi ke loe, kalau gue ini suaminya dia! Suami sahnya Vani!" ucap Devan.Vani yang sedang mengunyah bakso mendadak menoleh, lalu mencibir pelan dengan bibir dikerucutkan sebal. "Iiiiiiiiiiiihhhhhhh..... kan nikah kontrak!" ucap Vani dengan polosnya membongkar status hubungan mereka di depan Vano tanpa beban.Wajah Devan seketika berganti masam mendengar bantahan blak-blakan dari istrinya sendiri. Dia berdeham pelan untuk menutupi rasa gengsinya yang tercoreng. "Tetep ajah! Mau kontrak atau bukan, secara agama dan hukum kamu tetep istri saya yang sah!" ucap Devan tidak mau kalah, menatap Vani dengan pandangan mengancam agar wanita itu diam.Vano yang mendengarkan perdebatan itu langsung menggaruk tatanan rambut palsunya yang agak gatal. Dia menatap

  • Suamiku, Tuan Mudaku    Mulai ada Rasa

    Mendengar rentetan pertanyaan dari Devan dan Vani, laki-laki bernama Vano itu malah terkekeh santai tanpa merasa bersalah sedikit pun. Dia mengusap sisa-sisa bedak tebal di lehernya dengan cuek."Hehehehe.... iya, kebetulan tadi kan banyak yang keliling ngamen, akhirnya ikutan deh. Tapi pas baru nyampe ke rumah kamu, eh udah dapat uang lima puluh ribu ini dari Om itu. Jadi ya gak usah keliling lagi, udah banyak hasil hari ini mah. Lumayan kan uangnya buat makan kita berdua sore ini," ucap Vano sambil menggoyang-goyangkan selembar uang biru di depan wajah Vani dengan bangga.Vani langsung menepis pelan tangan Vano, wajahnya cemas sekaligus ngeri membayangkan penampilan heboh sahabatnya tadi. "Astaga... jangan pake baju itu lagi atuh, ah...! Vani takut lihatnya.... Kamu emang gak kerja hari ini di warteg Mbak Sari?" tanya Vani heran.Vano langsung mendengus pelan, menatap Vani dengan pandangan menuntut. "Kamu juga gak kerja, aku nyariin kamu tau gak ini teh dari kemarin-kemarin. Mbak Sa

  • Suamiku, Tuan Mudaku    TERNYATA TEMAN KECIL VANI

    "Gak, ah! Saya mendingan di sini ajah, Den Eko. Cari aman!" ucap Mang Kardi keukeuh, langsung memundurkan langkahnya menjauhi pintu utama dan memilih tiarap di belakang sofa.Sementara itu, situasi di luar ruangan bener-bener berbanding terbalik. Di teras rumah, Devan bener-bener ketakutan setengah mati sekaligus ngerasa kesel luar biasa sama Eko yang tega-teganya gak mau buka pintu. Napasnya memburu, matanya melotot panik menatap sosok pengamen bencong berdandan menor yang terus melangkah maju sambil menggoyangkan pinggul seksi palsunya di hadapan Devan."Jangan deket-deket loe sama gue...! Menjauh gak loe?! Gue banting nih pot bunga ke muka loe gera kalau berani maju lagi!" teriak Devan histeris dengan suara melengking, tangannya sudah siap-siap memeluk pot tanaman hias di sudut teras untuk dijadikan senjata darurat.Melihat reaksi panik dari pria tampan di hadapannya, pengamen itu justru sengaja mengedipkan sebelah matanya yang dihiasi bulu mata palsu super lentik. "Waduh...... Tua

  • Suamiku, Tuan Mudaku    Pengamen Bencong

    "Dung... cak.. cak.. dung... cak... cak..."Suara petikan senar bas betot yang bernada sumbang itu terdengar makin jelas dan nyaring mendekati pagar halaman rumah.Mata Eko melotot sempurna begitu melihat penampakan di luar teras. "Anjir! Setan alas, ternyata pengamen bencong...!" teriak Eko histeris yang langsung lari kencang dan membanting pintu utama untuk menutupnya rapat-rapat. "Braaaakkk!"Di luar rumah, Mang Kardi yang baru saja ingin melangkah ke teras mendadak syok karena pintu utama langsung dikunci dari dalam. "Den Eko..... buka pintunya, Den! Saya masih di luar ini, aduh tolong buka pintu nya...!" teriak Mang Kardi panik sambil menggedor-gedor pintu."Lewat belakang, Mang! Cepetan lewat belakang rumah...!" teriak Eko yang gak mau buka pintu sedikit pun karena takut pengamen berdandan menor itu ikut menerobos masuk.Mang Kardi yang juga sudah ketakutan setengah mati melihat pengamen berbaju seksi itu mulai melirik ke arahnya, akhirnya langsung mengambil langkah seribu lewa

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status