로그인"Lo gak lihat gimana pacar kesayangan lo itu ngebuli dia? Dia cuma diam, Dev! Padahal posisinya dia itu istri sah lo," ucap Eko dengan nada kesal yang tertahan. "Vani bisa saja lempar gelas itu ke muka Lana kalau dia mau, tapi dia gak sebodoh itu. Dia cuma gak mau cari masalah karena dia tahu sekarang dia sendirian. Dia butuh lo sebagai pelindung dan tempat tinggal, makanya dia diam saja dihina-hina sama Lana."
"Gak, malas banget gue ngurusin hal sepele kayak begitu," sahut Devan acuh tak acuh. "Dev... ini dosa lo! Walaupun lo gak cinta sama Vani, lo tetap harus lindungin dia. Dia sudah jadi bagian dari hidup lo sekarang. Kalau lo masih menyesal nikah sama dia, mending Vani gue bawa pulang saja ke rumah. Darah gue sudah mengalir di badan dia, gue bakal jadiin dia adik gue sendiri. Kalau jadi istri jelas gak mungkin, kan lo gak boleh cerai sama dia," tantang Eko. "Evan Kosasih, gak segampang itu, Pea!" balas Devan ketus. "Gampang saja kalau lo mau kerja dari nol lagi tanpa ketergantungan sama harta warisan orang tua lo. Dan gue yakin, Vani juga gak butuh harta itu. Buat apa coba dia capek-capek kerja di warteg Sari kalau emang dia ngincar harta lo?" cecar Eko telak. "Tahu ah... pusing gue!" Devan mengalihkan pandangannya, lalu matanya menyipit. "Hey... Emran! Ngapain lo ngedusel-ngedusel gitu?" tanya Devan saat melihat Emran tampak nyaman menyandarkan kepalanya di dada Vani. "Namanya juga bocah, ngantuk dia," sahut Eko santai. "Gue saja suaminya belum pernah begitu," gumam Devan pelan, ada sedikit nada iri yang terselip. "Salah sendiri, ada yang bening dianggurin. Mana masih perawan tingting lagi," sindir Eko tajam. "Emran, kalau mau tidur sini sama Om!" panggil Devan. "Gak mau... Emran mau sama Aunty," tolak Emran sambil semakin mengeratkan pelukannya pada Vani. "Astaga... Vani, kamu harus istirahat," ucap Devan akhirnya. "Ini juga mau istirahat, Tuan. Vani mau tidur bareng Emran saja," jawab Vani lembut. "Sayang...!" Suara melengking Lana tiba-tiba memecah suasana. "Kenapa gak ke apartemen tadi malam? Ih, terus kenapa HP kamu gak aktif, sih?" Lana merengek sambil menghambur ke arah Devan. "Oh, itu... baterainya habis, lagi dicas," jawab Devan pendek. "Lho, Emran ada di sini juga?" tanya Lana dengan nada tidak suka. "Iya, emang kenapa? Bapaknya di sini ya anaknya juga di sini dong," sahut Eko sinis. "Ih... gak malu apa numpang hidup terus sama Devan?" cibir Lana. "Bodo amat! Gue cuma numpang tidur, gak numpang segalanya. Makan sama jajan juga masih pakai duit sendiri. Walaupun gue cuma guru SMA, gue masih punya harga diri, gak ngemis apalagi jadi beban orang!" balas Eko pedas. Mata Lana beralih ke sofa, wajahnya langsung memerah marah. "Hey, Pembantu! Gak sopan banget kamu tiduran di situ!" teriaknya pada Vani. "Berisik, Lana! Saya mau istirahat!" potong Devan tiba-masing dingin, membuat Lana terdiam sesaat. "Sayang... ih, kamu janji lho hari ini mau ajak aku ke mall," rengek Lana lagi, mencoba mencari perhatian. "Mulai deh morotin harta orang. Malu dong sama Vani, dia masih sekolah tapi sudah bisa cari duit sendiri. Dia gak malu kerja di warteg Sari demi hidup halal," timpal Eko. "Ih, gak level!" sahut Lana angkuh. "Iya, jelas gak level. Level lo sama Vani itu jauh banget. Lo itu pengemis, kalau Vani itu pejuang!" Eko tertawa mengejek. "Sayang, usir si Eko miskin ini!" rengek Lana pada Devan. "Jangan berisik, Sayang... Sini, nanti sore kita ke mall. Sekarang kita istirahat dulu," ucap Devan berusaha menenangkan pacarnya. "Hem... ya sudah." Lana langsung naik ke kasur yang ada di ruang TV, memeluk Devan dengan manja. Eko hanya bisa menghela napas panjang. "Hah... ada yang halal malah pilih yang haram. Vani, kamu istirahat di kamar sana. Sini Emran biar sama saya," ucap Eko lembut. "Pak... eh, Abang... Emran boleh ya Vani bawa ke kamar? Biar Vani ada teman tidurnya," pinta Vani dengan mata sayu. "Oke, boleh. Sini biar saya yang pindahin Emran ke kamar kamu. Ingat ya Vani, kunci pintu kamar kamu kalau lagi tidur," pesan Eko penuh arti. "Iya, Abang." Setelah memindahkan Emran ke kamar Vani, Eko berjalan menuju gazebo di belakang rumah Devan untuk menenangkan pikiran. "Hah... untung Vani juga gak cinta sama lo, Dev. Gue yakin Om dan Tante jodohin lo sama Vani itu karena mereka gak mau lo terbawa arus yang gak bener kayak sekarang. Kalau bukan gue yang ngerem, habis lo, Dev," gumam Eko pada diri sendiri. Eko memang selalu mengikuti Devan. Ia tidak peduli dianggap menumpang hidup. Orang-orang hanya tahu Eko guru olahraga, tanpa tahu rahasia besar di baliknya. "Den..." Suara Mang Kardi tiba-tiba terdengar di belakangnya. "Astaga! Mang... iiiiiiiiihhhhhhhh, kaget pisan!" seru Eko sambil mengelus dada. "Aden malah ngelamun atuh," ucap Mang Kardi tertawa kecil. "Ada apa, Mang?" "Ini baju seragam, baju olahraga, sama semua keperluan sekolah Non Vani yang Aden pesan sudah ada," ucap Mang Kardi sambil menyerahkan beberapa tas. "Makasih, Mang. Simpan di situ dulu saja. Vaninya lagi tidur sama Emran," jawab Eko. "Tumben Den Emran mau tidur siang?" tanya Mang Kardi heran. "Gak tahu, Mang. Tadi lagi main sama Vani, tiba-tiba naik ke pangkuan Vani, ngedusel langsung tidur," cerita Eko tersenyum tipis. "Nyaman mungkin ya, Den. Non Vani emang kelihatan orang baik pisan, tulus sama Den Emran juga. Den, saya mau ke belakang lagi ya. Makanan sudah saya angetin kalau Aden mau makan lagi, sudah ada di meja makan," pamit Mang Kardi. "Iya Mang, oh iya... nanti sore tolong beliin bakso yang kemarin ya, enak itu. Beliin juga buat Vani sama Emran. Jangan pakai saus atau kecap, kuah bening saja buat mereka. Ini uangnya," ucap Eko menyodorkan beberapa lembar uang. "Uangnya masih ada, Den. Kemarin sebelum Tuan Besar pergi, beliau juga kasih ATM buat jajan Aden sama Den Emran serta kebutuhan sehari-hari," tolak Mang Kardi halus. "Oke atuh kalau gitu. Mang, tolong jangan sampai ada yang tahu tentang saya ya. Biarin orang tahunya saya ini cuma Eko si miskin, guru olahraga," pesan Eko serius. "Iya Den, tenang saja, aman," jawab Mang Kardi mantap. "Jangan sampai pacar Devan juga tahu kebenarannya ya, Mang." "Iya Den... siap!" Baru saja Eko hendak duduk tenang, tiba-tiba terdengar suara teriakan histeris dari arah kamar Vani. "Abang! Tolong! Tolong, Abang!" teriak Vani sambil menggedor-gedor kaca kamarnya dengan panik.Damian terkekeh geli melihat tingkah cucunya yang berkacak pinggang penuh rasa percaya diri di tengah-tengah ruang makan kantin. Dengan usapan lembut di kepala Emran, sang Opa memberikan pengakuan mutlak atas status sultan cilik tersebut."Iya cucu kesayangannya Opa paling kaya." Ucap Damian menyetujui klaim sepihak Emran dengan nada bangga.Emran yang merasa mendapat dukungan penuh seketika melompat turun dari pangkuan, menepuk perutnya pelan sembari menoleh kearah Oma tercinta."Oma.... Emran udah kenyang yuk... Kita jalan-jalan." Ucap Emran dengan sepasang mata bulatnya yang berbinar-binar tak sabar untuk segera meluncur mencari hiburan.Vano yang sedang meneguk es teh manisnya mendadak menoleh, melayangkan pertanyaan pada sang keponakan."Mau ke mana?" Tanya Vano penasaran dengan destinasi wahana impian si kecil.Emran menangkupkan kedua tangannya di depan dada, mendongak menatap Damian dengan tatapan memelas yang teramat menggemaskan."Trans studio boleh gak Opa?" Tanya Emran mem
Devan makin merapatkan posisinya di samping Vani, menundukkan kepalanya sedikit lalu membisikkan kata-kata ancaman penuh kecemburuan yang amat sangat dalam tepat di samping telinga sang istri."Awas kalau selingkuh....." Bisik Devan dengan intonasi berat nan posesif.Vani yang mendengar bisikan itu seketika memutar bola matanya gemas, menepis pelan dada Devan dengan sepasang mata bulatnya yang melebar."Apa sih gak jelas pisan iiiiiiiiiiiihhhhhhh...." Ucap Vani memprotes tuduhan tak berdasar dari suaminya yang mendadak hilang akal sehat gara-gara cemburu.Eko yang duduk di seberang meja mengibaskan tangannya, berusaha mengalihkan perhatian dan memecah ketegangan di antara pasangan muda itu."Abis ini kalian mau kemana?" Tanya Eko menyapa murid-muridnya yang sedang menikmati mangkuk bakso.salah satu siswa yang duduk bersama rombongan Vani langsung menyahut dengan penuh semangat."Kita mah mau pada ke Mall pak mau nonton biasa kita mah mumpung ada orang tua sama semua orang tua ke mall
Masalah di sekolah sudah selesai mereka langsung ke kantin belakang. Suasana kantin belakang sekolah yang biasa sepi mendadak riuh dan ramai oleh kehadiran rombongan keluarga besar Hartadinata beserta teman-teman Vani.Eko melangkah menghampiri meja panjang tempat teman-teman Vani sudah berkumpul lebih dulu, menyunggingkan senyum lebar tanpa rasa canggung."Maap lama ya nungguin kita." Ucap Eko membuka percakapan dengan nada santai khas seorang guru muda yang ramah.Teman-teman Vani yang sudah hafal betul sifat bercanda guru kesayangan mereka langsung menyahut serempak dengan wajah kompak tanpa rasa takut."Idih... Kita gak nungguin bapak ko..." Kompak semuanya berseru mengoda Eko sembari tertawa renyah.Eko menyilangkan kedua tangannya di dada, melayangkan pandangan pura-pura merajuk."Ya udah kalau gitu kalian bayar masing-masing basonya." Ucap Eko melancarkan ancaman pada murid-muridnya.Salah satu teman Vani yang duduk di sudut meja langsung mengatupkan kedua tangannya, merajuk ma
Suasana di area kantin sekolah yang tadinya riuh mendadak tegang ketika seorang pria berpenampilan rapi membelah kerumunan murid dan wali murid yang menonton."ada apa ini rame-rame begini?" Tanya pria tersebut sembari menatap ke arah Vani, Devan, dan siswi julid yang sedang bersitegang.Siswi julid itu langsung berbinar lega, menunjuk-nunjuk dompet berlogo mewah yang dipegang Emran dengan nada mengadu."Ini pak... Dia maling dompet tuh lihat." Ucap siswi itu memfitnah Vani tanpa rasa malu sedikit pun.Namun belum sempat Devan membalas tuduhan keji itu, pria yang baru datang tersebut melangkah mendekati dompet mewahnya, lalu berseru dengan nada penuh percaya diri tinggi."Eeeeehhh... Itu dompet saya.." ucap laki-laki itu mengklaim kepemilikan benda mewah tersebut.Devan memiringkan kepalanya, menatap pria itu dari atas sampai bawah dengan sepasang mata tajam nan meremehkan."Yakin itu dompet kamu?" Tanya Devan melontarkan pertanyaan singkat namun menusuk.Laki-laki itu membusungkan da
Sekitar jam 10 Vani dan keluarga nya sudah ada di sekolah. Suasana area persekolahan tampak ramai oleh lalu lalang wali murid dan para siswa yang menghadiri acara rapat serta kegiatan olahraga. Damian dan Mamih Eko masuk ke kelas Vani, Vano dan Eko mereka ke sekolah seberang untuk ikut turnamen lagi membawa nama baik sekolah. Sedangkan Vani, Devan dan Emran sekarang di kantin dalam sekolah menunggu prosesi rapat selesai.Di salah satu sudut kantin yang cukup rindang, Devan sedang memangku Emran sembari mencoba menggendong bocah cilik itu naik turun hingga napasnya sedikit terengah-engah."Emran tambah gendut tau meni berat ini...." Ucap Devan mengeluhkan bobot tubuh keponakan kecilnya yang makin padat berisi.Emran memajukan bibirnya, melipat kedua tangan di dada sembari mendongak menatap Devan dengan pandangan tak terima."Om.... Ya ajah ini mah yang kurang gagah..." Ucap Emran membalas ejekan sang paman dengan celetukan polos yang menohok.Devan seketika membelalakkan matanya, mengh
Mamih Eko yang mendengar pertanyaan cemburu Damian mendadak tertawa renyah, menatap sang suami dengan sepasang mata berbinar penuh kasih sayang sembari melayangkan cubitan gemas di lengannya."Baik tapi pikasebelen pisan..." Ucap Mamih Eko memuji kebaikan suaminya walau tetap diselingi canda gemas yang sudah menjadi ciri khas mereka.Damian yang mendengar jawaban sang istri seketika tersenyum lebar penuh kemenangan, langsung merengkuh tubuh Mamih Eko ke dalam dekapannya yang teramat hangat."Muuuuuaaaaahhhh..." Damian meluk erat mamih Eko mendaratkan ciuman mesra di pipinya tanpa peduli lirikan anak-anak mereka.---Malam hari Vani dan Devan ada di rumah Vani sedangkan yang lain ada di rumah Vano. Suasana malam terasa sangat tenang dan damai, hanya terdengar deru halus pendingin ruangan di dalam kamar.Devan yang baru saja kembali dari area dapur melangkah mendekati tempat tidur, menatap sang istri dengan raut wajah penuh perhatian."Sayang..... Mau minum susu gak?" Tanya Devan menawa
"Jam dua malam, Tuan," bisik Vani lirih sambil melirik jam di dinding klinik."Sudah, cepat jangan banyak protes. Kamu itu istri saya, jadi saya sah-sah saja memegang tubuh kamu," potong Devan dengan nada yang tak ingin dibantah."Tapi, Tuan..." Vani masih berusaha menolak."Gak ada tapi-tapian, ce
"Nanti gue ceritain semuanya," ucap Devan pendek, mencoba mengakhiri rasa penasaran Eko.Mereka pun melangkah mengikuti suster dan dokter menuju ruang rawat Vani. Beruntung klinik ini cukup besar dan fasilitasnya lengkap, sehingga ada ruang inap yang memadai."Maaf, Tuan... tolong dijaga ya, jangan
"Sayang, ada apa?" tanya Devan dengan nada khawatir begitu menghampiri pacarnya."Ini, Sayang... pembantu kamu ceroboh banget! Dia mecahin gelas kesayangan aku, Sayang," adu Lana dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.Plak! Tanpa aba-aba dan tanpa bertanya lebih dulu, tangan Devan melayang kera
"Nggak diminum lagi...." gumam Vani lirih. Matanya menatap nanar pada cangkir berisi kopi jahe yang sudah mendingin di atas meja makan. Padahal, ia sudah bangun sebelum subuh untuk meracik jahe segar agar tubuh suaminya hangat sebelum berangkat kerja. Namun, Devan bahkan tidak menyentuhnya sama sek







