Share

SUMPAH SERAPAH

Author: Rr716
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-11 23:45:58

Mang Kardi yang masih berdiri di ambang pintu penghubung berbentuk coklat tua itu langsung menggaruk kepalanya sembari menenteng kantong belanjaan. Dia menatap Devan dengan wajah kikuk sekaligus serba salah.

"Cemilannya ada di rumah sebelah, Den Devan. Saya gak bawa apa-apa ke sini, semuanya langsung saya taruh di dapur sana tadi pas baru dateng. Di rumah utama, aduh... Aden, Nona Lana dari tadi nyariin Aden terus-terusan! Udah dibilangin berkali-kali sama satpam kalau Aden udah pindah juga dia
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Suamiku, Tuan Mudaku    AKHIRNYA ORANG TUA EKO KETEMU VANO

    "Ada apa nyariin Daddy, kangen kamu sama Daddy? Sini kamu, kangen kamu sama tendangan Daddy?" tanya Daddy Eko langsung menantang anak bujangnya itu dengan gaya bercanda khas mereka.Eko langsung mendengkus jengkel, melambaikan tangannya malas sembari beralih menatap pemuda di sebelahnya yang bertingkah aneh sejak masuk ke dalam rumah."Gak lah..... males pisan, cape, lagi males berantem. Vano...... iiiiiiiiiiiihhhhhhh...... sini dulu, buka gera masker sama helm kamu! Di dalam rumah juga masih pake masker helm," ucap Eko mengomeli Vano yang masih setia dengan atribut berkendara lengkapnya di tengah ruangan.Vano tersenyum di balik maskernya, lalu buru-buru memutar kaca helm sebelum melepaskan pelindung kepala tersebut dengan gerakan buru-buru."Hehehehe... lupa atuh, jangan marah-marah, cepet tua gera iiiiiiiiiiiihhhhhhh...." ucap Vano yang langsung buka helmnya dan buka maskernya, mengibas-ngibaskan rambutnya yang sedikit lepek.Begitu masker dan helm itu terlepas sempurna, wajah asli

  • Suamiku, Tuan Mudaku    GARA-GARA VANO

    Mendengar dari Mang Kardi mengenai kemungkinan adanya musuh dalam selimut, Mamih Eko justru mengibaskan tangannya di udara dengan ekspresi wajah yang sangat tegas dan penuh keyakinan seorang ibu."Biarin Kardi saya sudah gak butuh tes itu saya yakin dia anak saya. Saya yakin karena muka dia mirip pisan sama Aki-aki jelek itu." Ucap Mamih Eko yang nunjuk suaminya sendiri tanpa ragu, membuat Daddy Eko hanya bisa mengelus dada sabar disebut sebagai aki-aki jelek, padahal ketampanannya menurun telak pada anak-anak mereka.Mang Kardi yang berdiri di dekat warung, menatap iba sekaligus kagum pada ketangguhan sang nyonya besar. "Kasihan nyonya cuma di jadiin tempat tabungan ajah." Ucap Kardi berseloroh polos, menyindir kenyataan bahwa anak-anak mereka secara fisik semuanya menjiplak habis garis wajah sang Daddy.Mamih Eko mendengus bangga, lalu melipat kedua tangannya di depan dada sembari melemparkan tatapan penuh kemenangan ke arah suaminya. "Iya bener tapi gak apa-apa saya puas mereka pas

  • Suamiku, Tuan Mudaku    PERTEMUAN VANI DAN ORANG TUA EKO

    Emran menggeliat kecil di dalam dekapan hangat Mamih Eko, lalu mulai bercerita dengan menggebu-gebu mengenai pengalaman serunya di lingkungan barunya. Matanya yang bulat berbinar-binar penuh keceriaan."Nyaman sekolah di sini anak-anak nya gak sombong Emran suka. Mereka juga suka berbagi sama Emran dan Emran juga kadang suka berbagi makanan sama mereka. Kita suka makan barengan Oma tiap istirahat ibu-ibu di sana suka makan barengan botram kata ibu-ibu nya mah makan nasi yang ada rasanya itu Emran suka di kasih tau. Tuh kang Kardi juga suka ngasih sama ibu-ibu yang suka botram." Ucap Emran panjang lebar menceritakan indahnya kebersamaan warga lokal yang hobi makan bersama alias botram beralaskan daun pisang, bahkan Mang Kardi pun sering ikut menyumbang lauk pauk.Mamih Eko tersenyum takjub mendengarnya, hatinya mendadak ikut menghangat membayangkan suasana merakyat yang begitu rukun dan jauh dari kesan angkuh seperti di lingkungan sosialita lamanya."Oma harus gabung sama mereka kaya a

  • Suamiku, Tuan Mudaku    KEDATANGAN OMA DAN OPA

    Mendengar pertanyaan ragu dari Vani, Devan hanya mendengus pelan sembari melambaikan tangannya seolah mengusir sang istri agar segera masuk ke dalam rumah."Iya sana kamu ganti baju sana bau acem." Ucap Devan meledek aroma tubuh Vani yang seharian belajar di kelas, padahal aslinya wajah Devan hanya sedang menutupi rasa gengsinya yang ketahuan mulai perhatian.Vani langsung mencibirkan bibirnya, menatap suaminya dengan pandangan mata melotot tidak terima dibilang bau matahari. "Enak ajah gak ya." Ucap Vani membela diri, karena dia yakin dia sudah memakai minyak wangi tadi siang sebelum bel pulang sekolah berbunyi.Si kecil Emran yang masih berdiri di dekat mereka langsung berkacak pinggang, menatap pamannya dengan pandangan mata menantang demi membela bibi kesayangannya. "Jangan di dengerin si Om mah aunty orang Om yang bau ketek juga bukan aunty." Ucap Emran dengan polosnya membalikkan ejekan Devan, membuat Vani seketika tertawa kecil menahan geli.Wajah Devan langsung berubah masam s

  • Suamiku, Tuan Mudaku    MAKAN DI WARTEG SARI

    "Itu ambilin keripik kacang." Ucap Devan memberi perintah dengan dagu yang sedikit terangkat, menunjuk ke arah stoples tersebut.Vani yang sedang menata sendok langsung menoleh ke arah yang ditunjuk suaminya, lalu terkekeh pelan melihat ketidaktahuan Tuan Muda di hadapannya itu. Vani langsung membuka tutup toples dan mengambil beberapa bungkus camilan renyah tersebut."Ini bukan keripik kacang tapi rempeyek." Ucap Vani yang langsung kasih rempeyek nya ke Devan dengan senyuman tipis di wajahnya.Devan menerima camilan itu, lalu langsung menggigitnya hingga terdengar suara kriuk yang sangat nyaring. Matanya seketika berbinar karena rasa gurih dan asinnya bener-bener pas di lidah tingginya. "Siapa yang bikin ini?" Tanya Devan sembari terus mengunyah dengan lahap."Mbak Sari lah." Ucap Vani dengan nada bangga, pamer kalau masakan pemilik warteg yang dulu bantu Vani kerja di warteg ini.Devan manggut-manggut menikmati kegaringan rempeyek tersebut. Rasanya yang nagih membuat pria kaya itu l

  • Suamiku, Tuan Mudaku    SKAKMAT SISKA

    Dengan langkah tegap yang memancarkan aura mengintimidasi, Devan jalan ke arah kumpulan anak-anak perempuan yang suka buli Vani selama ini di sekolah. Siska dan gengnya yang tadi tertawa mengejek seketika membeku saat menyadari pria jangkung berwajah tampan namun dingin itu melangkah lurus ke arah mereka dengan tatapan mata yang seolah siap menguliti mereka hidup-hidup.Devan berhenti tepat di depan Siska, melipat kedua tangannya di dada sembari menyunggingkan senyum meremehkan yang sangat sinis."Kamu bukannya jalang yang di club f?" tanya Devan dengan nada suara lantang yang sengaja dibuat terdengar oleh murid-murid lain di sekitar gerbang. Wajah Siska seketika berubah pucat pasi mendengar rahasia kelamnya dibongkar begitu saja.Devan mendengus jijik, lalu melanjutkan ucapannya dengan penuh penekanan. "Ternyata cuma jalang yang buli orang saya, dasar tak tau diri! Kalian semua harus tau kalau yang harus kalian buli itu bukan Vani yang kata kalian miskin. Vani itu orang saya! Dia mau

  • Suamiku, Tuan Mudaku    JEMPUT VANI

    Devan terus majuin motor nya dengan kecepatan penuh membelah jalanan raya. Fokus matanya menatap lurus ke depan, dia tak mau lagi lihat kebelakang untuk meratapi wanita parasit seperti Lana. Dada Devan naik turun menahan rasa muak yang teramat sangat. Dia tahu pasti Zidan dan Lana ada sesuatu yang

  • Suamiku, Tuan Mudaku    KLINIK

    Suasana di area luar bangunan sore itu terasa cukup hangat. Emran yang bertubuh mungil tampak mulai menunjukkan tanda-tante kelelahan, enggan melangkahkan kakinya sendiri di atas paving blok. Dia mendongak, menatap ke arah pria paruh baya yang selalu setia menemani keluarganya dengan pandangan manj

  • Suamiku, Tuan Mudaku    Pengamen Bencong

    "Dung... cak.. cak.. dung... cak... cak..."Suara petikan senar bas betot yang bernada sumbang itu terdengar makin jelas dan nyaring mendekati pagar halaman rumah.Mata Eko melotot sempurna begitu melihat penampakan di luar teras. "Anjir! Setan alas, ternyata pengamen bencong...!" teriak Eko hister

  • Suamiku, Tuan Mudaku    Tak Berharap Lebih

    "Nggak diminum lagi...." gumam Vani lirih. Matanya menatap nanar pada cangkir berisi kopi jahe yang sudah mendingin di atas meja makan. Padahal, ia sudah bangun sebelum subuh untuk meracik jahe segar agar tubuh suaminya hangat sebelum berangkat kerja. Namun, Devan bahkan tidak menyentuhnya sama sek

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status