LOGINSekitar jam 10 Vani dan keluarga nya sudah ada di sekolah. Suasana area persekolahan tampak ramai oleh lalu lalang wali murid dan para siswa yang menghadiri acara rapat serta kegiatan olahraga. Damian dan Mamih Eko masuk ke kelas Vani, Vano dan Eko mereka ke sekolah seberang untuk ikut turnamen lagi membawa nama baik sekolah. Sedangkan Vani, Devan dan Emran sekarang di kantin dalam sekolah menunggu prosesi rapat selesai.Di salah satu sudut kantin yang cukup rindang, Devan sedang memangku Emran sembari mencoba menggendong bocah cilik itu naik turun hingga napasnya sedikit terengah-engah."Emran tambah gendut tau meni berat ini...." Ucap Devan mengeluhkan bobot tubuh keponakan kecilnya yang makin padat berisi.Emran memajukan bibirnya, melipat kedua tangan di dada sembari mendongak menatap Devan dengan pandangan tak terima."Om.... Ya ajah ini mah yang kurang gagah..." Ucap Emran membalas ejekan sang paman dengan celetukan polos yang menohok.Devan seketika membelalakkan matanya, mengh
Mamih Eko yang mendengar pertanyaan cemburu Damian mendadak tertawa renyah, menatap sang suami dengan sepasang mata berbinar penuh kasih sayang sembari melayangkan cubitan gemas di lengannya."Baik tapi pikasebelen pisan..." Ucap Mamih Eko memuji kebaikan suaminya walau tetap diselingi canda gemas yang sudah menjadi ciri khas mereka.Damian yang mendengar jawaban sang istri seketika tersenyum lebar penuh kemenangan, langsung merengkuh tubuh Mamih Eko ke dalam dekapannya yang teramat hangat."Muuuuuaaaaahhhh..." Damian meluk erat mamih Eko mendaratkan ciuman mesra di pipinya tanpa peduli lirikan anak-anak mereka.---Malam hari Vani dan Devan ada di rumah Vani sedangkan yang lain ada di rumah Vano. Suasana malam terasa sangat tenang dan damai, hanya terdengar deru halus pendingin ruangan di dalam kamar.Devan yang baru saja kembali dari area dapur melangkah mendekati tempat tidur, menatap sang istri dengan raut wajah penuh perhatian."Sayang..... Mau minum susu gak?" Tanya Devan menawa
Vani makin menjadi-jadi menangisnya, memeluk erat pinggang Mamih Eko sembari meraung meluapkan kecemburuan dan kekesalan yang salah alamat di depan seluruh anggota keluarga."Nama perempuan itu Elisabeth Kosasih Huuuuuaaaa.... Daddy mah playboy Huuuuuaaaa... Gimana. Nanti Vani kalau di selingkuin sama mas Devan juga berati itu karma dari Daddy....." Teriak Vani meratap histeris, membayangkan skenario terburuk dalam pikirannya sendiri akibat pengaruh hormon menstruasi.Eko yang berdiri di samping sofa membelalakkan mata, melipat kedua tangannya di dada dengan raut wajah kepo setengah mati."Emang ngomong apa tadi Daddy sama dia?" Tanya Eko memancing detail aduan adiknya.Vani mengusap air matanya yang menetes deras dengan punggung tangan, menyahut dengan nada sesenggukan."Ngomong kalau Elisabeth paling cantik belahan jiwa Daddy Daddy gak akan pernah ninggalin Elisabeth..." Ucap Vani membeberkan kalimat romantis yang tak sengaja didengarnya dari percakapan telepon sang ayah.Eko seketi
Mamih Eko menepuk pelan pundak Eko sambil memutar bola matanya gemas, meluapkan kekesalan penuh kasih sayang seorang ibu pada putra sulungnya."Pikasebelen pisan.... Kalau gak sayang udah mamih buang ke Cikapundung kamu..." Ucap Mamih Eko mengancam akan membuang Eko ke sungai terkenal di Kota Bandung tersebut.Hana yang berdiri di samping Sandi menatap sosok wanita kaya berpenampilan anggun itu dengan sepasang mata dipenuhi rasa penasaran yang tak membendung."Anda siapanya Pak Eko?" Tanya Hana memberanikan diri mencari kepastian status hubungan mereka.Mamih Eko berkacak pinggang pelan, menyunggingkan senyum bangga dan percaya diri tinggi di hadapan Hana dan Sandi."Saya orang tua kandungnya Eko emang anda gak tau kalau anak saya yang ganteng gagah perkasa dan agak tengil ini anak orang kaya?" Tanya Mamih Eko balik mempertanyakan ketahuannya mereka akan latar belakang keluarga Eko yang sebenarnya.Sandi yang mendengarnya langsung mendengus geli, mengibaskan tangannya dengan raut waja
Dari balik sambungan telepon, suara Vani yang tadinya sesenggukan mendadak berubah menjadi sengit saat meluapkan kekesalan terendamnya pada sang kembaran."Buat di makan sumsumnya nanti tulang nya buat di lempar ke Vano karena Vano jahat seharian ini gak telepon Vani....." Ucap Vani mengomel panjang lebar meluapkan rasa pundung akibat merasa diabaikan.Vano yang mendengar namanya disalahkan langsung membelalakkan mata, refleks mendekatkan wajahnya ke layar ponsel Eko untuk membela diri."Eeeeehhh.... Vano abis selesai turnamen ini baru istirahat. HP Vano di tas.... Kelasnya udah di tutup iiiiiiiiiiiihhhhhhh... Vano lupa maap..." Ucap Vano meringis panik, berusaha menjelaskan alasannya dengan sejelas-jelasnya.Vani mendengus keras dari seberang telepon, sama sekali tak mau menerima alibi sang kembaran."Gak tau pokoknya mah pundung Vani mah. Nanti bilangin semuanya sama Mamih gera kalian udah gak sayang sama Vani yang sayang sama Vani cuma Emran ajah..." Ucap Vani mengancam akan mengad
Eko mendadak salah tingkah, membuang mukanya ke sembarang arah dengan raut wajah memerah demi menutupi rasa gengsinya yang tertangkap basah oleh sang adik."Pikasebelen siapa yang cemburu. Kamu mah suka gitu pikasebelen... Udah yuk... Buru... Kamu pokoknya ambil HP Abang kalau gak mau minta uang sama Daddy." Ucap Eko mengelak cepat sambil mendorong pelan bahu Vano demi mengalihkan topik pembicaraan.Vano mengembuskan napas panjang, mengalah pada rasa malas abangnya yang sedang merajuk."Ya udah Vano yang ambil HP nya..." Ucap Vano yang langsung lari ke kantor guru sedangkan Eko dan anak-anak yang ada di depan kelas Vano ke kantin belakang menuju ke area gerbang luar tempat penjual bakso langganan mereka berada.Begitu sampai di area gerbang belakang, aroma kuah kaldu sapi yang gurih dan harum mendadak menyambut indra penciuman mereka. Eko melangkah penuh percaya diri menghampiri rombong bakso."Mang..... Beli baso mang.... Buat Eko biasa mang 2 porsi bihun toge sayur dan buat Vano jug
"Lo gak lihat gimana pacar kesayangan lo itu ngebuli dia? Dia cuma diam, Dev! Padahal posisinya dia itu istri sah lo," ucap Eko dengan nada kesal yang tertahan. "Vani bisa saja lempar gelas itu ke muka Lana kalau dia mau, tapi dia gak sebodoh itu. Dia cuma gak mau cari masalah karena dia tahu sekar
"Jam dua malam, Tuan," bisik Vani lirih sambil melirik jam di dinding klinik."Sudah, cepat jangan banyak protes. Kamu itu istri saya, jadi saya sah-sah saja memegang tubuh kamu," potong Devan dengan nada yang tak ingin dibantah."Tapi, Tuan..." Vani masih berusaha menolak."Gak ada tapi-tapian, ce
"Nanti gue ceritain semuanya," ucap Devan pendek, mencoba mengakhiri rasa penasaran Eko.Mereka pun melangkah mengikuti suster dan dokter menuju ruang rawat Vani. Beruntung klinik ini cukup besar dan fasilitasnya lengkap, sehingga ada ruang inap yang memadai."Maaf, Tuan... tolong dijaga ya, jangan
"Nggak diminum lagi...." gumam Vani lirih. Matanya menatap nanar pada cangkir berisi kopi jahe yang sudah mendingin di atas meja makan. Padahal, ia sudah bangun sebelum subuh untuk meracik jahe segar agar tubuh suaminya hangat sebelum berangkat kerja. Namun, Devan bahkan tidak menyentuhnya sama sek







