Share

5. Ternyata Manis

Malam sudah larut namun Balqis tak dapat memejamkan kedua matanya. Rasa gelisah dan takut selalu saja muncul dimanapun. 

Balqis merubah posisi menjadi duduk. Sementara Ashraf sudah tertidur lelap di karpet bawah.

Namun Ashraf terlihat sangat kedinginan, Balqis lalu memberikan selimut yang dia kenakan untuk menutupi tubuh Ashraf. Lalu dia sendiri tetap membuka matanya sampai dini hari menjelang.

"Disaat orang lain bersenang-senang dengan pasangan, namun aku merasa sepi dan sendirian. Beginikah nasib orang yang suka membuat onar. Atau memang sudah nasibku dari dulu, tak akan pernah bahagia," lirih Balqis.

Derai air mata Balqis membasahi kedua pipinya. Seakan mengeluh terhadap takdir yang tak pernah berpihak padanya.

"Bukankah aku ini rendahan kata mereka? Tak pernah seorang pun merasakan keberadaanku. Tapi aku masih berharap setelah ini bisa menjadi lebih baik lagi," keluh Balqis.

Tangis Balqis semakin pecah, tak seharusnya dia menangisi takdirnya. Tapi dia sudah tidak tahan sedari kemarin mencoba menerima.

"Kamu kenapa?" tanya Ashraf. Ashraf terbangun dari tidurnya yang lelap.

"Tidak apa-apa, Ustadz. Ini kelilipan," Balqis berusaha menghapus air matanya.

"Sudah jangan sering bohong, nanti gak ada yang percaya lagi gimana," gertak Ashraf bangun dari tidurnya.

"Sampai kapan kita begini, Ustadz?" tanya Balqis akhirnya.

"Sampai semua orang melupakan kesalahpahaman pada hari itu. Perjanjian kita akan selesai," jawab Ashraf.

"Tapi berapa lama, Ustadz?" Balqis tetap bertanya waktu tepatnya.

Ashraf berdiri lalu meminum segelas air putih di dekat meja belajarnya. Lalu duduk dan langsung meneguknya hingga tandas.

"Dua bulan mungkin. Saya juga tidak tau," papar Ashraf memandangi langit-langit kamarnya.

Balqis mengambil nafas panjang. "Hufft, serendah itukah saya di mata orang-orang. Sampai selalu dipandang sebelah mata." 

Ashraf menoleh ke arah Balqis. "Kamu sendiri yang menyebabkan itu. Jika mau orang lain berpandang baik, maka berubahlah. Tapi sepertinya itu tidak mungkin," ledek Ashraf.

Kalimat terakhir Ashraf begitu menusuk relung hati Balqis. Selalu begitu.

"Tidak ada yang tidak mungkin, iya kan Ustadz Ashraf?" Balqis menentang pendapat Ashraf.

"Saya tidak tau," ujar Ashraf lalu meninggalkan kamarnya.

Balqis tak ingin larut dalam kesedihan, lalu mencoba untuk menutup mata agar bisa tertidur.

***

"Ayra tunggu. Kamu harus dengar penjelasan saya dulu," pinta Ashraf saat melihat Ayra keluar dari ruang pengurus putri.

"Buat apa Ustadz Ashraf? Bukankah urusan kita sudah selesai. Jadi jangan muncul dihadapan saya lagi," jawab Ayra.

"Tapi kamu harus tau sesuatu. Saya dan Balqis menikah hanya beberapa waktu. Dan kami memiliki perjanjian yang dimana kami hanya menikah berpura-pura. Setelah semua selesai saya akan bersama kamu lagi," ungkap Ashraf meyakinkan Ayra.

Ayra tersenyum tipis, namun tak memperlihatkan kesenangan nya pada Ashraf. "Aku tidak peduli bukan urusanku."

"Saya tidak berbohong, Ayra. Siapa juga yang mau sama santri seperti Balqis. Sangat berbeda dengan saya, kami bagaikan langit dan bumi. Jauh sekali perbandingannya dengan kamu, Ayra. Jadi tunggu saya, saya mohon. Saya janji akan meninggalkan Balqis setelah ini," bujuk Ashraf kepada Ayra.

"Aku butuh bukti, bukan janji. Apalagi hanya omongan kosong," lalu Ayra meninggalkan Ashraf dengan penuh puas tersendiri.

"Baiklah, Ayra. Saya akan membuktikan kalau kamu selalu berada dalam hati saya."

***

"Ashraf, sebaiknya kamu libur dulu mengajarnya. Umi sudah izin ke Kyai Zulkifli. Jadi kamu jangan ke pesantren dulu," ucap Risma saat Ashraf baru sampai.

"Ya gak bisa lah, Umi. Ashraf kan punya tugas disana, gak enak kalau gak ngajar. Lagian juga gak seharian kok," jawab Ashraf.

"Tapi kan kasihan Balqis, dia kesepian kalau kamu ngajar. Cuma satu Minggu kok gak usah lama-lama, temani dia dan ajak dia jalan-jalan," saran Risma untuk kebaikan Ashraf tentunya.

"Tapi, Umi Ashraf belum bisa," tolak Ashraf.

"Jangan membantah, Ashraf anak Umi biasanya selalu nurut. Apalagi sekarang sudah menjadi imam, harus lebih dewasa ya, Nak," Risma sedikit tegas dengan kelakuan Ashraf.

Ashraf akhirnya mengangguk patuh. "Maaf Umi, Ashraf tidak akan seperti itu lagi."

"Ya sudah, temani istri kamu, ajak dia jalan-jalan," lalu Risma meninggalkan Ashraf di ruang tamu.

Ashraf pun langsung menuju ke kamarnya. Terlihat Balqis yang sedang merapikan pakaiannya. 

"Ayo kita jalan-jalan," ajak Ashraf.

Balqis yang tak tau kedatangan Ashraf sedikit terkejut. "Loh, Ustadz, mau kemana?"

"Gak tau," Ashraf acuh tak acuh. Lalu menaruh beberapa berkas kerjanya di meja khusus.

"Kalau ngajak jalan-jalan , minimal tau mau jalan-jalan kemana," sindir Balqis berusaha mencairkan suasana.

"Ini perintah Umi, bukan kemauan saya sendiri. Lebih baik kamu nurut, segera siap-siap dan kita langsung pergi," kata Ashraf.

Balqis termenung sebentar, padahal barusan dia sudah sedikit bahagia karena Ashraf ada perubahan. Ternyata Ashraf hanya disuruh.

Selalu saja dingin, dari dulu sampai sekarang. "Ustadz gak capek ya jadi orang cuek terus? Emang gak bisa ya cairan dikit, jangan dingin terus gitu," sindir Balqis. Siapa tahu Ashraf sadar dengan sikap dinginnya.

"Gak bisa, ini sudah jati diri," jawab Ashraf angkuh.

"Terus gak pernah ketawa gitu selama hidup?" tanya usil Balqis.

"Pernah," jawab Ashraf singkat.

"Kapan, Ustadz?" Balqis semakin penasaran dengan sosok Ashraf. Meskipun Ashraf tetap tak acuh kepada dirinya.

"Saat bersama Ayra," ujar Ashraf. Tiga kata itu seolah menusuk hati Balqis detik ini juga.

Pasangan mana yang tak cemburu saat mendengar sang suami bisa tertawa karena perempuan lain.

Balqis hanya terdiam, berusaha mengingatkan kembali siapa dirinya dan siapa Ashraf.

"Ouhh," respon Balqis dengan cuek.

"Kalau kamu kapan bahagianya?" tanya Ashraf.

Balqis yang tak fokus tak segera menjawab Ashraf. Namun detik berikutnya dia tak sengaja melihat tikus yang berjalan di atas tumpukan buku Ashraf.

"Aaaaa ada tikus," teriak Balqis lalu segera melompat dari kasur.

Ashraf yang juga terkejut pun ikut berdiri, namun saat berbalik arah tak sengaja Balqis menubruk badannya.

Jadilah Balqis jatuh di atas Ashraf yang jatuh tersungkur. Beberapa detik keduanya saling menatap.

Tak dapat dipungkiri, jika Ashraf memiliki fisik yang bagus. Apalagi wajah tegasnya, Ashraf yang dijuluki ustadz dingin itu sangatlah tampan. Siapapun pasti akan menyukainya saat pandangan pertama.

Begitupun dengan Balqis, meskipun selalu membuat onar, namun wajah dia manis, selalu membuat laki-laki terpesona. 

"Maaf Ustadz, saya tidak sengaja," ucap Balqis sedikit ketakutan.

"Saya baru tau kalau kamu semanis ini, Balqis Khansa Alya."

Pandangan mereka menyatu, sorot tajam Ashraf seakan menghipnotis Balqis untuk tak bangun dari tubuh Ashraf.

"Maaf Ustadz, saya mau berdiri," Balqis berusaha melepas tubuhnya dari Ashraf.

Namun Ashraf malah semakin menahan bahu Balqis. "Saya tidak yakin dengan perjanjian kemarin, kamu ternyata manis ya?"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status