Share

Bab 2

Penulis: Mariahlia
last update Tanggal publikasi: 2025-11-09 23:07:59

Ruangan itu mendadak terasa menyempit. Febi berdiri kaku sambil berusaha mencerna keadaan.

Langga.

Dosen hukum pidana yang setiap pertemuan selalu datang lima menit lebih awal dari jadwal. Ketika berbicara, nadanya selalu tegas, satu kalimat koreksinya saja cukup membuat mahasiswa merasa bodoh selama seminggu.

Langga juga selalu mengenakan kemeja rapi, jam tangan mahal, dan ekspresi datar seolah dunia tak pernah benar-benar mampu mengusiknya.

Tapi sekarang pria yang berdiri di hadapannya ini nampak seperti sosok yang berbeda. Keduanya bukan sedang di ruang kelas, melainkan di apartemen mewah dengan lampu tamaram, dan sebagai seorang klien?

“Kenapa diam?” suaranya tenang, dan dingin.

Febi menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.

“Saya… saya nggak tahu kalau… kalau kliennya Bapak.”

Tatapan yang tajam mengunci Febi. Di wajah Langga tidak ada senyum hangat sama sekali.

“Saya sengaja tidak memberi tahu,” jawab Langga santai. “Kalau tahu lebih dulu, kamu pasti tidak akan datang.”

Kalimat itu diucapkan tanpa nada mengejek. Langga hanya mengatakan fakta yang membuat Febi tidak bisa mengelak.

Namun, dengan cepat Febi tersadar sesuatu. Ah, berarti pria itu tau kalau ia yang menjadi sugar baby-nya?

“Bapak berarti tahu…”

“Saya tahu, Febi,” potong Langga cepat.

Deg! Febi memalingkan wajah, mencoba mengatur napas. Di dalam dadanya, campuran rasa malu, marah, takut, dan sesuatu yang lebih sulit didefinisikan.

“Pak, maaf saya tidak bermaksud.. anu… emm kalau begitu saya tidak mungkin melanjutkan ini. Maaf, ya, Pak, saya salah.”

Langga hanya menatap Febi dengan tatapan tajam yang sama. Ia lalu mengangkat kedua bahunya.

“Baik.” ucap Langga cepat, membuat Febi menatap pria itu. Jadi, segampang itu memutuskan semuanya?

Tanpa basa-basi dan melewatkan kesempatan untuk pergi, Febi langsung berpamitan.

“Kalau begitu saya permisi.”

Ketika Febi ingin berbalik keluar, suara Langga tiba-tiba bergema lagi dan langsung membuatnya menegang.

“Silahkan. Tapi, kamu harus bayar semua pinaltinya.”

Mata Febi terbelalak, ia membalikkan badannya ke arah pria itu lagi.

“Pinalti…?”

“Tidak baca kontraknya dengan teliti?” Langga melempar kertas yang berisi kontrak perjanjian mereka.

Febi dengan sigap mengambilnya. Tangannya langsung gemetar saat ia membaca beberapa poin yang ada di sana. Jantungnya nyaris loncat, bahunya terkulai lemas.

“Tapi … Bapak sudah beristri,” katanya pelan.

Langga tidak langsung menjawab. Ia berjalan pelan mendekat, langkahnya mantap dan tidak terburu-buru. Jarak di antara mereka kini hanya beberapa meter.

“Kontraknya cukup jelas,” ujar Langga datar. “Tidak ada paksaan. Kamu menerima. Saya membayar. Dan jika kamu akhiri, berarti kamu harus bayar semua pinaltinya. Dua kali lipat.”

Nada suaranya tetap datar dan terdengar profesional. Langga bicara seolah yang mereka lakukan hanyalah transaksi kerja sama hukum.

Febi meremas ujung blazer-nya. “Kalau saya tahu itu Bapak… saya—”

“Kamu akan menolak?” potong Langga pelan.

Pertanyaan itu menggantung. Febi ingin berkata iya. Ingin memuntahkan semua rasa jijik pada situasi ini, kemudian berbalik dan pergi.

Tapi bayangan ibunya di ranjang rumah sakit kembali muncul. Tagihan rumah sakit. Ancaman DO. Saldo rekeningnya yang kini tidak lagi kosong. Dan jika ia harus membayar pinaltinya, dari mana ia bisa dapat uang sebanyak itu?

Febi menggigit bibir. Langga nampaknya mengamati perubahan ekspresi itu dengan tenang.

“Kamu tidak dipaksa,” ulang Langga tenang. “Kalau sekarang kamu ingin pergi, pintu masih terbuka.”

Febi menoleh ke arah pintu. Benar. Pintu itu belum tertutup rapat. Ia bisa pergi.

Namun itu berarti ada konsekuensi yang harus ia hadapi. Itu juga berarti Febi harus mengembalikan uangnya dan membayar pinalti. Dua hal yang tidak mungkin ia lakukan sekarang.

Ia benar-benar tidak punya uang sebanyak itu untuk membayar pinalti!

Sunyi mengisi ruangan itu selama beberapa detik yang terasa seperti jam.

“Apa… apa tujuan Bapak melakukan ini?” sebuah keberanian tiba-tiba menghampiri Febi. Kali ini, suaranya lebih stabil, meski jari-jarinya masih gemetar.

Sementara itu, Langga terdiam sesaat.

“Duduk,” kata Langga pelan namun penuh penekanan. Aura pria itu lebih mendominasi.

Nada itu refleks membuat Febi ingin menurut—kebiasaan sebagai mahasiswi yang terbiasa mendengar instruksi darinya di kelas. Ia lalu duduk di ujung sofa.

Sementara itu, Langga tidak ikut duduk di atas sofa. Pria itu mengambil kursi tunggal di seberang, menyisakan ruang di antara mereka.

“Tujuan…,” ulang Langga pelan. “Kamu belajar hukum, Febi. Kamu tahu dunia ini tidak selalu berjalan sesuai moral ideal.”

Febi menatapnya beberapa detik, menatap wajah tampan bagai dewa Yunani itu, ada keberanian kecil yang menyala dalam diri Febi.

“Tapi, ini tidak benar! Bapak memiliki istri …”

Langga memperhatikannya cukup lama sebelum menjawab.

“Kamu tidak perlu tahu urusan pernikahan saya,” ucap Langga. “Itu bukan pilihan saya.”

Febi membeku. Ia jadi teringat tentang gosip dosen-dosen di kampus yang menggema di kantin beberapa minggu lalu. Sempat muncul juga gosip tentang hubungan rumah tangga Langga yang dingin.

Saat itu, Febi mengabaikannya. Namun, hari ini, nampaknya Langga seperti mengkonfirmasi sesuatu.

Febi hanya bisa terdiam.

“Jadi, apa maksud Pak Langga…?” tanya Febi lirih.

Pria itu menatap Febi cukup lama. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat Febi tersentak kaget.

“Tidak seperti pernikahan saya…” ucap Langga pelan. “Kamu adalah seseorang yang saya pilih.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 124

    Tiga minggu berlalu. Rumah kayu di kaki gunung itu menjadi tempat berlindung baru bagi Febi, Dalung, dan Miko. Meski sederhana, tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan mereka. Setiap pagi Dalung pergi bekerja di bengkel milik sahabat lama pamannya di kota kecil terdekat, sementara Febi mulai perlahan memulihkan diri. Mualnya masih sering datang. Namun setidaknya... Ia sudah bisa tersenyum lagi. Di sisi lain kota... Keadaan justru berbalik menghantam Sintia. Sejak Langga mengajukan gugatan cerai, rekening-rekening yang selama ini digunakan Sintia mulai diperiksa karena berkaitan dengan proses pembagian harta. Hal itu tanpa sengaja membuka sebuah fakta lain. Seorang perempuan bernama Rika datang ke kantor polisi dengan membawa setumpuk bukti transfer. "Aku ditipu..." katanya sambil menangis. Rika mengaku telah menginvestasikan uang miliaran rupiah ke sebuah usaha yang ditawarkan oleh teman lamanya, Sintia. Janji keuntungan besar membuatnya percaya. Namun usaha itu te

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 123

    Deg. Febi refleks memeluk Miko semakin erat. "Kak..." Miko mulai menangis pelan. Febi mengusap rambut adiknya dengan tangan yang gemetar. "Nggak apa-apa... jangan bersuara." Padahal bibirnya sendiri bergetar hebat. Di luar rumah... Wanita itu melipat kedua tangannya. "Masih nggak mau keluar?" Salah seorang pria menggeleng. "Nggak." "Lalu?" Pria itu mengedarkan pandangan ke sekitar rumah. Tatapannya berhenti pada meteran listrik yang berada di sisi tembok depan. "Kita matikan listriknya." Wanita itu mengangguk pelan. "Bagus. Kalau rumah gelap dan panas, mereka pasti panik." Pria itu berjalan mendekati meteran. Klik! Dalam sekejap... Seluruh aliran listrik di rumah itu padam. Kipas angin berhenti berputar. Kulkas ikut mati. Rumah kecil itu mendadak sunyi. Di dalam... Febi langsung menoleh ke arah ruang tengah. "Listrik..." bisiknya lirih. Miko mulai panik. "Kak... kok mati?" Febi menggigit bibirnya. "Mereka... Mereka kayaknya memang sengaja." Belum sempat

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 122

    Dalung membeku beberapa detik. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendengar kalimat itu keluar dari mulut Langga. "Saya takut Febi akan dicelakai wanita itu," suara Langga terdengar serak. "Saya mohon... bawa Febi sejauh mungkin. Masalah biayanya saya yang akan menanggung semuanya. Saya akan kirim uang untuk kalian, Dalung..." Dalung mengepalkan rahangnya. "Lagian kenapa gue harus percaya sama lo?" Sunyi. Beberapa detik kemudian Langga menjawab pelan. "Saya memang tidak pantas dipercaya. Tapi kali ini... saya tidak sedang memikirkan diri saya. Saya memikirkan Febi." Dan... "Anak saya." Kalimat terakhir itu membuat Dalung memejamkan mata sejenak. Jadi... Langga benar-benar sudah tahu. Dalung mengembuskan napas kasar. "Lo udah tahu soal bayinya." "Iya." Suara Langga nyaris tidak terdengar. "Saya baru tahu semalam." Dalung menggeleng pelan. "Gue harusnya nutup telepon ini sekarang." "Saya tidak keberatan kalau nanti kamu memukul saya. Tapi sekarang, tolong selamatkan Febi dulu

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 121

    Deg. Tubuh Febi langsung menegang. Bukan, jelas tentu itu bukan suara Nisa. Selama bertahun-tahun berteman, Febi hafal betul nada bicara sahabatnya itu. Suara perempuan di luar terdengar dibuat lebih lembut, seolah sengaja menyamar. "Nggak..." bisiknya sangat pelan. Miko mengernyit bingung menatap sang kakak. "Kenapa, Kak?" Febi langsung menggenggam erat pergelangan tangan adiknya. "Itu bukan Nisa." Ucap Febi. "Hah?" Miko cengoh, ia sungguh sama sekali tidak paham dengan apa yang di katakan oleh sang kakak. "Kak–" "Sssst... Jangan bersuara." Febi membekap mulut adiknya, wajah Febi mendadak pucat. Jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa memenuhi telinganya sendiri. Di luar... Tok... Tok... Tok... "Febi..." Suara perempuan itu kembali terdengar. Ketukan di pintu terus berlanjut, seolah tidak akan pernah berhenti. "Ini aku, Nisa. Mbak, buka sebentar. Aku khawatir sama kamu." Air mata Febi hampir jatuh. Justru karena ia mengenal Nisa, ia tahu sahabatnya tidak mungkin m

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 120

    Laura menutup telepon dengan tangan yang sedikit gemetar. Beberapa detik ia hanya menatap layar ponselnya. Entah mengapa, sejak berita tentang Febi tersebar, perasaannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia memang pernah ikut mempermalukan Febi. Namun melihat keadaan perempuan itu sekarang, muncul sedikit rasa bersalah yang terus menghantuinya. Sementara di rumah besar itu... Sintia meletakkan ponselnya perlahan. Tatapannya kembali jatuh pada foto keluarga di dinding. "Aku nggak akan kalah..." bisiknya lirih. "Aku sudah kehilangan terlalu banyak dan kali ini aku tidak akan mau kehilangan apapun lagi." Ucap Sintia penuh dendam. * Keesokan paginya. Rumah kecil Dalung mulai ramai oleh aroma sarapan. Dalung sedang menggoreng telur di dapur. Sedangkan Miko sibuk menyapu halaman sambil bersenandung kecil. Febi duduk di ruang tengah. Tangannya memegang secangkir teh hangat. Namun wajahnya masih terlihat pucat. Semalaman ia hampir tidak bisa memejamkan mata. "Loh, Kak?" Miko masuk sa

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 119

    Ruangan itu mendadak terasa begitu sunyi. Kalimat Langga masih menggantung di udara. "Secepatnya saya akan urus surat perceraian kita." Sintia membeku. Wajahnya perlahan kehilangan warna. Air mata terus mengalir tanpa bisa dihentikan. "Mas... jangan..." suaranya bergetar hebat. Ia kembali meraih ujung celana Langga dengan tangan gemetar. "Tolong jangan tinggalin aku..." Namun Langga menatap tangan itu dengan dingin. Tidak ada lagi rasa iba. Tidak ada lagi kelembutan yang selama puluhan tahun selalu ia berikan. Perlahan ia melepaskan genggaman Sintia. "Apa menurut kamu saya masih bisa tinggal setelah tahu semua ini?" "Mas... aku memang salah... tapi aku benar-benar cinta sama kamu..." Langga tertawa pelan. Tawa yang terdengar pahit. "Cinta?" Matanya memerah, menahan penuh amarah. "Kamu menyebut ini cinta setelah mengambil seluruh hidup saya?" Sintia hanya bisa menangis. "Aku takut waktu itu..." "Dan karena ketakutanmu, kamu membangun hidup di atas kebohongan." Suara Langga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status