Se connecterRuangan itu mendadak terasa menyempit. Febi berdiri kaku sambil berusaha mencerna keadaan.
Langga. Dosen hukum pidana yang setiap pertemuan selalu datang lima menit lebih awal dari jadwal. Ketika berbicara, nadanya selalu tegas, satu kalimat koreksinya saja cukup membuat mahasiswa merasa bodoh selama seminggu. Langga juga selalu mengenakan kemeja rapi, jam tangan mahal, dan ekspresi datar seolah dunia tak pernah benar-benar mampu mengusiknya. Tapi sekarang pria yang berdiri di hadapannya ini nampak seperti sosok yang berbeda. Keduanya bukan sedang di ruang kelas, melainkan di apartemen mewah dengan lampu tamaram, dan sebagai seorang klien? “Kenapa diam?” suaranya tenang, dan dingin. Febi menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. “Saya… saya nggak tahu kalau… kalau kliennya Bapak.” Tatapan yang tajam mengunci Febi. Di wajah Langga tidak ada senyum hangat sama sekali. “Saya sengaja tidak memberi tahu,” jawab Langga santai. “Kalau tahu lebih dulu, kamu pasti tidak akan datang.” Kalimat itu diucapkan tanpa nada mengejek. Langga hanya mengatakan fakta yang membuat Febi tidak bisa mengelak. Namun, dengan cepat Febi tersadar sesuatu. Ah, berarti pria itu tau kalau ia yang menjadi sugar baby-nya? “Bapak berarti tahu…” “Saya tahu, Febi,” potong Langga cepat. Deg! Febi memalingkan wajah, mencoba mengatur napas. Di dalam dadanya, campuran rasa malu, marah, takut, dan sesuatu yang lebih sulit didefinisikan. “Pak, maaf saya tidak bermaksud.. anu… emm kalau begitu saya tidak mungkin melanjutkan ini. Maaf, ya, Pak, saya salah.” Langga hanya menatap Febi dengan tatapan tajam yang sama. Ia lalu mengangkat kedua bahunya. “Baik.” ucap Langga cepat, membuat Febi menatap pria itu. Jadi, segampang itu memutuskan semuanya? Tanpa basa-basi dan melewatkan kesempatan untuk pergi, Febi langsung berpamitan. “Kalau begitu saya permisi.” Ketika Febi ingin berbalik keluar, suara Langga tiba-tiba bergema lagi dan langsung membuatnya menegang. “Silahkan. Tapi, kamu harus bayar semua pinaltinya.” Mata Febi terbelalak, ia membalikkan badannya ke arah pria itu lagi. “Pinalti…?” “Tidak baca kontraknya dengan teliti?” Langga melempar kertas yang berisi kontrak perjanjian mereka. Febi dengan sigap mengambilnya. Tangannya langsung gemetar saat ia membaca beberapa poin yang ada di sana. Jantungnya nyaris loncat, bahunya terkulai lemas. “Tapi … Bapak sudah beristri,” katanya pelan. Langga tidak langsung menjawab. Ia berjalan pelan mendekat, langkahnya mantap dan tidak terburu-buru. Jarak di antara mereka kini hanya beberapa meter. “Kontraknya cukup jelas,” ujar Langga datar. “Tidak ada paksaan. Kamu menerima. Saya membayar. Dan jika kamu akhiri, berarti kamu harus bayar semua pinaltinya. Dua kali lipat.” Nada suaranya tetap datar dan terdengar profesional. Langga bicara seolah yang mereka lakukan hanyalah transaksi kerja sama hukum. Febi meremas ujung blazer-nya. “Kalau saya tahu itu Bapak… saya—” “Kamu akan menolak?” potong Langga pelan. Pertanyaan itu menggantung. Febi ingin berkata iya. Ingin memuntahkan semua rasa jijik pada situasi ini, kemudian berbalik dan pergi. Tapi bayangan ibunya di ranjang rumah sakit kembali muncul. Tagihan rumah sakit. Ancaman DO. Saldo rekeningnya yang kini tidak lagi kosong. Dan jika ia harus membayar pinaltinya, dari mana ia bisa dapat uang sebanyak itu? Febi menggigit bibir. Langga nampaknya mengamati perubahan ekspresi itu dengan tenang. “Kamu tidak dipaksa,” ulang Langga tenang. “Kalau sekarang kamu ingin pergi, pintu masih terbuka.” Febi menoleh ke arah pintu. Benar. Pintu itu belum tertutup rapat. Ia bisa pergi. Namun itu berarti ada konsekuensi yang harus ia hadapi. Itu juga berarti Febi harus mengembalikan uangnya dan membayar pinalti. Dua hal yang tidak mungkin ia lakukan sekarang. Ia benar-benar tidak punya uang sebanyak itu untuk membayar pinalti! Sunyi mengisi ruangan itu selama beberapa detik yang terasa seperti jam. “Apa… apa tujuan Bapak melakukan ini?” sebuah keberanian tiba-tiba menghampiri Febi. Kali ini, suaranya lebih stabil, meski jari-jarinya masih gemetar. Sementara itu, Langga terdiam sesaat. “Duduk,” kata Langga pelan namun penuh penekanan. Aura pria itu lebih mendominasi. Nada itu refleks membuat Febi ingin menurut—kebiasaan sebagai mahasiswi yang terbiasa mendengar instruksi darinya di kelas. Ia lalu duduk di ujung sofa. Sementara itu, Langga tidak ikut duduk di atas sofa. Pria itu mengambil kursi tunggal di seberang, menyisakan ruang di antara mereka. “Tujuan…,” ulang Langga pelan. “Kamu belajar hukum, Febi. Kamu tahu dunia ini tidak selalu berjalan sesuai moral ideal.” Febi menatapnya beberapa detik, menatap wajah tampan bagai dewa Yunani itu, ada keberanian kecil yang menyala dalam diri Febi. “Tapi, ini tidak benar! Bapak memiliki istri …” Langga memperhatikannya cukup lama sebelum menjawab. “Kamu tidak perlu tahu urusan pernikahan saya,” ucap Langga. “Itu bukan pilihan saya.” Febi membeku. Ia jadi teringat tentang gosip dosen-dosen di kampus yang menggema di kantin beberapa minggu lalu. Sempat muncul juga gosip tentang hubungan rumah tangga Langga yang dingin. Saat itu, Febi mengabaikannya. Namun, hari ini, nampaknya Langga seperti mengkonfirmasi sesuatu. Febi hanya bisa terdiam. “Jadi, apa maksud Pak Langga…?” tanya Febi lirih. Pria itu menatap Febi cukup lama. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat Febi tersentak kaget. “Tidak seperti pernikahan saya…” ucap Langga pelan. “Kamu adalah seseorang yang saya pilih.”Suara di seberang sana terputus begitu saja setelah kalimat itu selesai diucapkan. Tidak ada salam. Tidak ada penjelasan. Hanya sebuah perintah yang mutlak. Febi masih memegang ponselnya di dekat telinga, meski layar sudah kembali gelap. Jantungnya berdetak begitu keras sampai ia takut orang-orang di sekitarnya bisa mendengarnya. Angin malam menyentuh pipinya yang terasa panas. Lampu-lampu jalan menyala redup, memantulkan cahaya kekuningan di aspal yang mulai lembap oleh embun. Datang ke tempat saya malam ini. Tidak ada penolakan. Kalimat itu berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak yang terus mengulang bagian yang sama. Tangannya perlahan turun. Ponsel itu terasa berat, seolah bukan benda kecil yang biasa ia genggam setiap hari. Ia menelan ludahnya pelan. Rumah sakit. Ibu. Miko. Semua itu melintas cepat di benaknya. Ia baru saja mentransfer uang untuk obat ibunya. Ia baru saja merasa sedikit lega. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia ber
Tubuh Febi gemetar bukan main. Napasnya tertahan. Ia menunggu dan menunggu. Meski di luar sedikit berisik, tapi Febi hanya bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang tidak karuan. Detik yang terlewat terasa seperti berjam-jam lamanya. Febi dapat merasakan napas Langga yang berhembus. Kali ini pria itu benar-benar dekat! Namun, yang ditunggu tidak kunjung datang. Langga melepaskan jari-jari yang bertengger di atas dagu Febi. “Angkat teleponku nanti,” kata Langga. Mendengar itu membuat Febi terkejut. Ia membuka matanya perlahan. Meski bukan hal ‘buruk’ yang diharapkannya, kaki Febi tetap terasa lemas. Ia sedikit terhuyung, kehilangan keseimbangannya. Saat ia hampir jatuh, Langga dengan sigap memegang legannya. “Ceroboh,” kata Langga sambil melepaskan genggaman tangannya. Febi mengedipkan matanya berkali-kali. Berusaha mencerna suasana. Lagi-lagi, ia merasa dipermainkan. Sementara itu, ponselnya bergetar lagi. Nisa masih terus meneleponnya. Febi menatap Langg
Bulu kuduk Febi langsung meremang. Dominasi Langga membuatnya langsung terdiam.Pria ini terlalu dekat! Febi bahkan bisa merasakan napas hangat milik Langga di samping lehernya. Langga tidak menyentuhnya sama sekali, namun itu cukup membuat Febi bergetar.“Pak…?”Suaranya nyaris tak terdengar. Lebih seperti hembusan yang lolos tanpa sengaja dari sela bibirnya.Febi meremas kedua tangannya. Jari-jarinya saling bertaut, kuku menekan kulit sendiri hingga memucat. Ia menunduk, tidak berani menatap pria yang ada di depannya ini. Ruangan itu sangat sepi, hanya terdengar suara detak jantung Febi yang tak karuan. Febi berharap suara debarannya tidak dapat terdengar Langga. Febi menghembuskan nafasnya berulang kali, mencoba menetralkan detak jantungnya, namun sial, jantungnya sama sekali tidak mau bekerjasama dengannya. Dan Langga, pria itu tidak langsung menjauh.“Pak Langga, jangan seperti ini! Ini di dalam kampus,” Febi memberanikan diri untuk bersuara, meski masih menunduk.Febi dapat
Jantung Febi hampir lepas rasanya ketika mendengar namanya dipanggil Langga seperti itu. Ia mengangkat kepala perlahan. “I-iya, Pak?”Febi dapat merasakan Langga yang menatapnya sesaat. Febi tahu pria itu adalah dosennya pagi ini, namun rasanya berbeda ketika telah terjadi sebuah obrolan tadi malam.Pada akhirnya, Langga bersuara.“Bagaimana menurut Anda batas antara diskresi dan penyalahgunaan kekuasaan?”Seluruh kelas menoleh padanya.Febi menelan ludah. Pertanyaan itu sederhana dalam konteks akademik. Namun, di kepalanya, maknanya terasa jauh lebih dalam.Ia menarik napas perlahan. “Diskresi masih berada dalam koridor hukum dan etika, Pak,” jawab Febi, berusaha menjaga suaranya tetap stabil dan tenang, walaupun jantungnya sudah tak karuan. “Sedangkan penyalahgunaan kekuasaan terjadi saat kewenangan digunakan untuk kepentingan pribadi dan merugikan pihak lain.”Langga tidak langsung menjawab. Ia membolak-balikan halaman buku di atas mejanya, kemudian bergantian menatap Febi. “Dan s
Febi yakin wajahnya semakin memerah. Ia menggeleng cepat. “Bukan begitu maksud saya!” sanggah Febi.“Kalau begitu,” Langga membentangkan tangannya ke arah pintu. “Kamu boleh pulang.” ulangnya lagi. Febi menahan napasnya sesaat. Kemudian tanpa banyak basa-basi yang mungkin bisa merugikan dirinya lagi, Febi segera bergegas untuk pulang.Ia melesat ke luar unit apartemen itu dengan cepat dan masuk ke dalam lift. Di dalam lift, detak jantung Febi betul-betul tidak beraturan.Baru sampai di lantai dasar, ponsel Febi bergetar tiba-tiba.Ah, itu notifikasi pengingat bahwa Febi harus ke rumah sakit untuk menengok ibunya. Sebelum pergi ke rumah sakit, Febi menoleh ke belakang. Melihat lagi gedung apartemen mewah itu. Kemudian Febi menggeleng dan bergidik ngeri.Apa lagi yang menunggunya nanti? ***Begitu melangkah masuk ke rumah sakit, Febi seolah langsung lupa sesaat dengan kejadian di apartemen tadi. Isi kepala Febi langsung dipenuhi dengan kondisi ibunya. Setelah menyusuri lorong yang
Febi terhenyak dengan perkataan pria itu. Ada rasa takut dan cemas bercampur jadi satu. Sungguh ia tidak mengerti dengan perkataan dari dosennya itu. ‘Seseorang yang dipilih? Pak Langga pasti melantur,’ batin Febi. Ia ingin sekali berlari keluar dari apartemen ini. Membuka pintu di depannya, turun ke lantai dasar, dan menghirup udara bebas kemudian melupakan semua ini. Namun sialnya, ia sama sekali tidak punya kekuatan apa pun. Dihadapi dengan pembayaran penalti dua kali lipat, tentu saja Febi langsung tidak mampu berkutat. Febi menghela nafasnya kasar. Matanya melirik ke arah pria tampan itu. Ia sedang sibuk mengutak-atik tablet yang ada di tangannya. Pria itu bahkan terlihat sangat santai sekali, seperti tidak terjadi sesuatu di antara mereka. Mata Febi kembali memindai apartemen mewah itu. Apartemennya terlihat betul-betul mewah bahkan barang-barang yang ada di sana terlihat begitu mengilap dan mahal. Febi menelan ludah. Keadaannya benar-benar jauh dari kondisinya, tidak se







