FAZER LOGINFebi terhenyak dengan perkataan pria itu. Ada rasa takut dan cemas bercampur jadi satu.
Sungguh ia tidak mengerti dengan perkataan dari dosennya itu. ‘Seseorang yang dipilih? Pak Langga pasti melantur,’ batin Febi. Ia ingin sekali berlari keluar dari apartemen ini. Membuka pintu di depannya, turun ke lantai dasar, dan menghirup udara bebas kemudian melupakan semua ini. Namun sialnya, ia sama sekali tidak punya kekuatan apa pun. Dihadapi dengan pembayaran penalti dua kali lipat, tentu saja Febi langsung tidak mampu berkutat. Febi menghela nafasnya kasar. Matanya melirik ke arah pria tampan itu. Ia sedang sibuk mengutak-atik tablet yang ada di tangannya. Pria itu bahkan terlihat sangat santai sekali, seperti tidak terjadi sesuatu di antara mereka. Mata Febi kembali memindai apartemen mewah itu. Apartemennya terlihat betul-betul mewah bahkan barang-barang yang ada di sana terlihat begitu mengilap dan mahal. Febi menelan ludah. Keadaannya benar-benar jauh dari kondisinya, tidak seperti rumahnya seolah yang hampir ambruk. “Pak..” suara Febi pelan masuk ke dalam gendang telinga Langga, membuat pria tampan itu mendongak, menatap Febi. Febi kembali menghela nafasnya kasar. “Bapak tau itu saya… Lalu … Ehm… kenapa bapak memilih saya?” tanya Febi dengan hati-hati, matanya bahkan bergerak gelisah ke sana kemari, ia takut salah bicara. Langga mengangkat alisnya. “Saya hanya ingin.” Febi terdiam mendengar dua kata yang keluar dari mulut pria tampan itu. Itu saja? “Maksudnya, Pak?” Febi memberanikan diri untuk bertanya lagi. Langga menghembuskan nafas, raut wajahnya yang sempat tenang berubah menjadi kesal. “Kamu terlalu banyak tanya,” ucap Langga singkat. Febi yang masih mematung hanya bisa menelan ludahnya lagi. Febi bergerak gelisah di tempatnya. “Lagipula,” lanjut Langga tiba-tiba. “Kalau melanggar kontrak ini, bukan saya yang rugi. Tapi kamu.” Febi terbelalak mendengarnya. Febi hampir berlari keluar dari lobi apartemen itu. * Udara malam langsung menyergap wajahnya begitu pintu kaca otomatis terbuka. Angin kota berembus lebih kencang daripada biasanya, atau mungkin hanya perasaannya saja yang sedang tidak stabil. Ia masuk ke dalam sebuah taksi online yang tadi ia pesan. “Pak, ke rumah sakit pelita ya.” Ucap Febi pada supir itu. “Baik mbak.” Mobil melaju meninggalkan gedung unit mewah itu, Febi menjatuhkan tubuhnya pada sandaran kursi, pikirannya benar-benar sangat kacau. Ia masih terngiang begitu jelas percakapan ia dengan dosennya itu. Ck, statusnya bukan hanya sebagai mahasiswi pria itu lagi, tapi sekarang menjadi sugar Baby Dosen Tampan itu. ‘Saya sama sekali tidak rugi. Kamu yang rugi.’ Langga kembali mengambil map yang ada di atas meja lalu memberikannya pada Febi. Kembali Febi mengambilnya dengan tangan yang gemetar hebat. Ia kembali membaca beberapa point yang memang jujur saja belum sempat ia baca, dan langsung tanda tangan saja. Bodohnya Febi yang tidak teliti dan terkesan terburu-buru. ‘Bagaimana? Semua keputusan ada di tangan kamu.’ Suara Langga kembali terdengar, membuat Febi menelan ludahnya susah payah. Ia tidak bisa berbuat apapun. Ia tidak bisa menolak lagi seperti ini. ‘Ba–baik. Saya mau’ sahut Febi terbata. Langga menarik satu sudut bibirnya ke atas, sebuah senyum kecil terbit di bibirnya. Namun, Febi sama sekali tidak melihatnya. Langga berdekhem. ‘Oke. Sekarang kamu boleh pulang,’ Febi mengerjap. ‘Bapak tidak–’ ‘Kenapa? Kamu berharap melakukan hal yang seperti orang pada umumnya saat bertemu dengan –” belum sempat perkataan Langga selesai, Febi langsung bangkit dan berlari keluar dari unit itu dengan terburu-buru. Di dalam mobil taksi online, Febi berulangkali memukul kepalanya, “Ck, otak kamu Febi. Kenapa wajah pak Langga nggak bisa hilang sih!!” Gerutu Febi kesal.Tiga minggu berlalu. Rumah kayu di kaki gunung itu menjadi tempat berlindung baru bagi Febi, Dalung, dan Miko. Meski sederhana, tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan mereka. Setiap pagi Dalung pergi bekerja di bengkel milik sahabat lama pamannya di kota kecil terdekat, sementara Febi mulai perlahan memulihkan diri. Mualnya masih sering datang. Namun setidaknya... Ia sudah bisa tersenyum lagi. Di sisi lain kota... Keadaan justru berbalik menghantam Sintia. Sejak Langga mengajukan gugatan cerai, rekening-rekening yang selama ini digunakan Sintia mulai diperiksa karena berkaitan dengan proses pembagian harta. Hal itu tanpa sengaja membuka sebuah fakta lain. Seorang perempuan bernama Rika datang ke kantor polisi dengan membawa setumpuk bukti transfer. "Aku ditipu..." katanya sambil menangis. Rika mengaku telah menginvestasikan uang miliaran rupiah ke sebuah usaha yang ditawarkan oleh teman lamanya, Sintia. Janji keuntungan besar membuatnya percaya. Namun usaha itu te
Deg. Febi refleks memeluk Miko semakin erat. "Kak..." Miko mulai menangis pelan. Febi mengusap rambut adiknya dengan tangan yang gemetar. "Nggak apa-apa... jangan bersuara." Padahal bibirnya sendiri bergetar hebat. Di luar rumah... Wanita itu melipat kedua tangannya. "Masih nggak mau keluar?" Salah seorang pria menggeleng. "Nggak." "Lalu?" Pria itu mengedarkan pandangan ke sekitar rumah. Tatapannya berhenti pada meteran listrik yang berada di sisi tembok depan. "Kita matikan listriknya." Wanita itu mengangguk pelan. "Bagus. Kalau rumah gelap dan panas, mereka pasti panik." Pria itu berjalan mendekati meteran. Klik! Dalam sekejap... Seluruh aliran listrik di rumah itu padam. Kipas angin berhenti berputar. Kulkas ikut mati. Rumah kecil itu mendadak sunyi. Di dalam... Febi langsung menoleh ke arah ruang tengah. "Listrik..." bisiknya lirih. Miko mulai panik. "Kak... kok mati?" Febi menggigit bibirnya. "Mereka... Mereka kayaknya memang sengaja." Belum sempat
Dalung membeku beberapa detik. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendengar kalimat itu keluar dari mulut Langga. "Saya takut Febi akan dicelakai wanita itu," suara Langga terdengar serak. "Saya mohon... bawa Febi sejauh mungkin. Masalah biayanya saya yang akan menanggung semuanya. Saya akan kirim uang untuk kalian, Dalung..." Dalung mengepalkan rahangnya. "Lagian kenapa gue harus percaya sama lo?" Sunyi. Beberapa detik kemudian Langga menjawab pelan. "Saya memang tidak pantas dipercaya. Tapi kali ini... saya tidak sedang memikirkan diri saya. Saya memikirkan Febi." Dan... "Anak saya." Kalimat terakhir itu membuat Dalung memejamkan mata sejenak. Jadi... Langga benar-benar sudah tahu. Dalung mengembuskan napas kasar. "Lo udah tahu soal bayinya." "Iya." Suara Langga nyaris tidak terdengar. "Saya baru tahu semalam." Dalung menggeleng pelan. "Gue harusnya nutup telepon ini sekarang." "Saya tidak keberatan kalau nanti kamu memukul saya. Tapi sekarang, tolong selamatkan Febi dulu
Deg. Tubuh Febi langsung menegang. Bukan, jelas tentu itu bukan suara Nisa. Selama bertahun-tahun berteman, Febi hafal betul nada bicara sahabatnya itu. Suara perempuan di luar terdengar dibuat lebih lembut, seolah sengaja menyamar. "Nggak..." bisiknya sangat pelan. Miko mengernyit bingung menatap sang kakak. "Kenapa, Kak?" Febi langsung menggenggam erat pergelangan tangan adiknya. "Itu bukan Nisa." Ucap Febi. "Hah?" Miko cengoh, ia sungguh sama sekali tidak paham dengan apa yang di katakan oleh sang kakak. "Kak–" "Sssst... Jangan bersuara." Febi membekap mulut adiknya, wajah Febi mendadak pucat. Jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa memenuhi telinganya sendiri. Di luar... Tok... Tok... Tok... "Febi..." Suara perempuan itu kembali terdengar. Ketukan di pintu terus berlanjut, seolah tidak akan pernah berhenti. "Ini aku, Nisa. Mbak, buka sebentar. Aku khawatir sama kamu." Air mata Febi hampir jatuh. Justru karena ia mengenal Nisa, ia tahu sahabatnya tidak mungkin m
Laura menutup telepon dengan tangan yang sedikit gemetar. Beberapa detik ia hanya menatap layar ponselnya. Entah mengapa, sejak berita tentang Febi tersebar, perasaannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia memang pernah ikut mempermalukan Febi. Namun melihat keadaan perempuan itu sekarang, muncul sedikit rasa bersalah yang terus menghantuinya. Sementara di rumah besar itu... Sintia meletakkan ponselnya perlahan. Tatapannya kembali jatuh pada foto keluarga di dinding. "Aku nggak akan kalah..." bisiknya lirih. "Aku sudah kehilangan terlalu banyak dan kali ini aku tidak akan mau kehilangan apapun lagi." Ucap Sintia penuh dendam. * Keesokan paginya. Rumah kecil Dalung mulai ramai oleh aroma sarapan. Dalung sedang menggoreng telur di dapur. Sedangkan Miko sibuk menyapu halaman sambil bersenandung kecil. Febi duduk di ruang tengah. Tangannya memegang secangkir teh hangat. Namun wajahnya masih terlihat pucat. Semalaman ia hampir tidak bisa memejamkan mata. "Loh, Kak?" Miko masuk sa
Ruangan itu mendadak terasa begitu sunyi. Kalimat Langga masih menggantung di udara. "Secepatnya saya akan urus surat perceraian kita." Sintia membeku. Wajahnya perlahan kehilangan warna. Air mata terus mengalir tanpa bisa dihentikan. "Mas... jangan..." suaranya bergetar hebat. Ia kembali meraih ujung celana Langga dengan tangan gemetar. "Tolong jangan tinggalin aku..." Namun Langga menatap tangan itu dengan dingin. Tidak ada lagi rasa iba. Tidak ada lagi kelembutan yang selama puluhan tahun selalu ia berikan. Perlahan ia melepaskan genggaman Sintia. "Apa menurut kamu saya masih bisa tinggal setelah tahu semua ini?" "Mas... aku memang salah... tapi aku benar-benar cinta sama kamu..." Langga tertawa pelan. Tawa yang terdengar pahit. "Cinta?" Matanya memerah, menahan penuh amarah. "Kamu menyebut ini cinta setelah mengambil seluruh hidup saya?" Sintia hanya bisa menangis. "Aku takut waktu itu..." "Dan karena ketakutanmu, kamu membangun hidup di atas kebohongan." Suara Langga







