Masuk
“Jadi sugar baby mau? Bayarannya lumayan.”
Kalimat itu tidak terdengar keras dan disampaikan dengan nada memaksa. Justru ringan, seolah hanya menawarkan pekerjaan paruh waktu biasa. Tapi bagi Febi, kata-kata itu seperti palu godam yang menghantam kepalanya. Ia duduk diam di bangku taman kampus yang mulai sepi menjelang sore. Angin menggerakkan helaian rambut panjangnya yang tergerai, menyapu pipinya yang memucat. Ia men ‘Sugar baby’. Dua kata itu selama ini hanya ia dengar sebagai gosip atau bahan candaan di tongkrongan mahasiswa. Namun kini, kata itu ditujukan padanya. “Gue nggak maksa. Cuma nawarin. Kliennya aman, tajir, gak ribet. Kontrak jelas. Bayaran per bulan langsung transfer,” lanjut suara di seberang panggilan, terdengar santai dan profesional. Febi menelan ludah. Orang di panggilan itu adalah salah satu temannya yang merupakan pekerja di sebuah cafe tempatnya juga bekerja, yang disebut “punya koneksi”. Awalnya hanya obrolan basa-basi. Lalu bergeser pada keluh kesah Febi soal biaya kuliah yang menunggak, tagihan rumah sakit ibunya, dan ancaman DO jika ia tak segera melunasi pembayaran semester. Dan kini… sebuah tawaran datang. “Lo cuma perlu nemenin. Datang kalau dipanggil. Jaga sikap. Selebihnya… ya, ngerti lah.” Deg. Jantungnya berdebar semakin kencang. Febi Cantika, usia dua puluh tahun, mahasiswi hukum semester empat. Selama ini ia bangga dengan jalur hidupnya. Masuk universitas negeri favorit dengan jalur beasiswa. Berusaha mandiri. Tidak merepotkan siapa pun. Tapi hidup tak pernah benar-benar adil. Beasiswa itu dipotong karena keterlambatan administrasi. Ibunya tiba-tiba sakit keras dan harus dirawat. Ayahnya sudah lama tidak ada dalam hidup mereka. Tabungan yang sedikit habis hanya dalam hitungan minggu. Kini, Febi seperti berdiri di ujung jurang. “Bayarannya berapa?” tanyanya pelan, hampir tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri. Terdengar tawa kecil di seberang sana. “Gue tahu lo bakal nanya itu.” Temannya itu menyebutkan angka. Mendengar angka yang disebutkan membuat napas Febi tercekat. Itu cukup untuk melunasi semua tunggakan kuliahnya. Bahkan masih tersisa untuk biaya pengobatan ibunya selama beberapa bulan ke depan. Tangannya langsung gemetar. Konsekuensinya? Tak perlu dijelaskan. Ia tahu. Ia bukan anak kecil. “Gue kirim kontraknya. Kalau setuju, tanda tangan. Transfer langsung cair,” lanjut suara di seberang sana. Febi memejamkan mata. Dalam kepalanya berputar bayangan ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Bayangan staf administrasi kampus yang menatapnya dengan dingin. Bayangan teman-temannya yang tak pernah tahu bahwa ia bekerja paruh waktu setiap malam demi sesuap nasi. Sekarang ia berpikir. Harga dirinya… atau keselamatan hidup ibu dan masa depannya? Ia menarik napas panjang. Lalu… “Oke,” ucap Febi akhirnya, meski suara itu terasa asing di telinganya sendiri. “Oke bagus, gue transfer langsung uangnya.” Panggilan terputus. Febi tetap duduk diam, seolah dunia di sekitarnya berhenti bergerak. Ia tahu, setelah ini tidak ada jalan kembali. *** Tiga hari kemudian. Febi sudah berdiri di depan lobi apartemen mewah di tengah kota. Febi mengenakan dress sederhana berwarna krem dan blazer tipis. Rambutnya ia ikat rapi. Riasannya tipis—cukup untuk terlihat dewasa, tapi tidak berlebihan. Tangannya terasa dingin. Uang yang dijanjikan sudah masuk ke rekeningnya. Ia sudah melunasi tunggakan kuliah. Ia sudah membayar tunggakan rumah sakit. Semua berjalan begitu cepat bagi Febi. Rasanya terlalu baik untuk menjadi nyata. Tapi tidak ada waktu untuk berlarut dalam kelegaan itu. Sebab sekarang, ia harus menjalankan bagian dari perjanjiannya. Kontraknya jelas. Tidak ada kekerasan atau paksaan. Ia bebas berhenti kapan saja, dengan konsekuensi mengembalikan sisa uang. Tapi tetap saja. Ia akan menjadi sugar baby seorang pria yang sudah beristri. Bahkan memiliki anak. Hatinya terasa seperti diremas. Setelah mengerjap dari lamunannya, Febi melangkah masuk ke dalam lift, lalu bergerak naik dengan hening yang mencekik. Lantai demi lantai terlewati. Pantulan wajahnya di cermin lift terlihat pucat. “Tenang,” bisik Febi pada diri sendiri. “Ini cuma kontrak….” Ting Pintu lift terbuka di lantai tertinggi. Koridor itu sunyi. Karpet tebal meredam langkahnya. Nomor unit yang tertera di pesan berhenti tepat di depan matanya. Tangannya terangkat, tapi ragu untuk mengetuk. Sebelum ia sempat melakukannya— “Masuk.” Suara yang tegas tiba-tiba mengagetkan Febi. Febi lantas terkejut. Pintu itu ternyata memang tidak terkunci. Perlahan ia mendorongnya dan melangkah masuk. Unit itu luas. Desainnya minimalis dan elegan. Aroma kayu dan parfum maskulin samar memenuhi udara. Lampu temaram menciptakan bayangan panjang di dinding. Langkah Febi begitu berat. Mata Febi langsung memindai seisi ruang. Tak perlu waktu lama sampai ia melihat sosok yang menunggunya. Ia melihat siluet tubuh tinggi tegap berdiri membelakanginya, menghadap jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota malam. Febi lalu berhenti. Detak jantungnya menggema di telinganya sendiri. “Febi Cantika,” suara itu kembali terdengar. Tenang namun penuh penekanan. “Usia dua puluh tahun. Mahasiswi hukum semester empat.” Tubuhnya tiba-tiba menegang. Suara itu… Ia mengenalnya! Suara itu betul-betul tidak asing di telinga. Sosok itu perlahan berbalik. Wajahnya tegas, rahangnya kuat. Tatapan tajam yang biasa menatap kelas dengan penuh wibawa. Febi gemetar bukan main. “Selamat datang, Febi,” ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan. “Mahasiswi saya.” Dunia Febi seolah runtuh dalam satu detik. “P-pak Langga…?”Suara di seberang sana terputus begitu saja setelah kalimat itu selesai diucapkan. Tidak ada salam. Tidak ada penjelasan. Hanya sebuah perintah yang mutlak. Febi masih memegang ponselnya di dekat telinga, meski layar sudah kembali gelap. Jantungnya berdetak begitu keras sampai ia takut orang-orang di sekitarnya bisa mendengarnya. Angin malam menyentuh pipinya yang terasa panas. Lampu-lampu jalan menyala redup, memantulkan cahaya kekuningan di aspal yang mulai lembap oleh embun. Datang ke tempat saya malam ini. Tidak ada penolakan. Kalimat itu berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak yang terus mengulang bagian yang sama. Tangannya perlahan turun. Ponsel itu terasa berat, seolah bukan benda kecil yang biasa ia genggam setiap hari. Ia menelan ludahnya pelan. Rumah sakit. Ibu. Miko. Semua itu melintas cepat di benaknya. Ia baru saja mentransfer uang untuk obat ibunya. Ia baru saja merasa sedikit lega. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia ber
Tubuh Febi gemetar bukan main. Napasnya tertahan. Ia menunggu dan menunggu. Meski di luar sedikit berisik, tapi Febi hanya bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang tidak karuan. Detik yang terlewat terasa seperti berjam-jam lamanya. Febi dapat merasakan napas Langga yang berhembus. Kali ini pria itu benar-benar dekat! Namun, yang ditunggu tidak kunjung datang. Langga melepaskan jari-jari yang bertengger di atas dagu Febi. “Angkat teleponku nanti,” kata Langga. Mendengar itu membuat Febi terkejut. Ia membuka matanya perlahan. Meski bukan hal ‘buruk’ yang diharapkannya, kaki Febi tetap terasa lemas. Ia sedikit terhuyung, kehilangan keseimbangannya. Saat ia hampir jatuh, Langga dengan sigap memegang legannya. “Ceroboh,” kata Langga sambil melepaskan genggaman tangannya. Febi mengedipkan matanya berkali-kali. Berusaha mencerna suasana. Lagi-lagi, ia merasa dipermainkan. Sementara itu, ponselnya bergetar lagi. Nisa masih terus meneleponnya. Febi menatap Langg
Bulu kuduk Febi langsung meremang. Dominasi Langga membuatnya langsung terdiam.Pria ini terlalu dekat! Febi bahkan bisa merasakan napas hangat milik Langga di samping lehernya. Langga tidak menyentuhnya sama sekali, namun itu cukup membuat Febi bergetar.“Pak…?”Suaranya nyaris tak terdengar. Lebih seperti hembusan yang lolos tanpa sengaja dari sela bibirnya.Febi meremas kedua tangannya. Jari-jarinya saling bertaut, kuku menekan kulit sendiri hingga memucat. Ia menunduk, tidak berani menatap pria yang ada di depannya ini. Ruangan itu sangat sepi, hanya terdengar suara detak jantung Febi yang tak karuan. Febi berharap suara debarannya tidak dapat terdengar Langga. Febi menghembuskan nafasnya berulang kali, mencoba menetralkan detak jantungnya, namun sial, jantungnya sama sekali tidak mau bekerjasama dengannya. Dan Langga, pria itu tidak langsung menjauh.“Pak Langga, jangan seperti ini! Ini di dalam kampus,” Febi memberanikan diri untuk bersuara, meski masih menunduk.Febi dapat
Jantung Febi hampir lepas rasanya ketika mendengar namanya dipanggil Langga seperti itu. Ia mengangkat kepala perlahan. “I-iya, Pak?”Febi dapat merasakan Langga yang menatapnya sesaat. Febi tahu pria itu adalah dosennya pagi ini, namun rasanya berbeda ketika telah terjadi sebuah obrolan tadi malam.Pada akhirnya, Langga bersuara.“Bagaimana menurut Anda batas antara diskresi dan penyalahgunaan kekuasaan?”Seluruh kelas menoleh padanya.Febi menelan ludah. Pertanyaan itu sederhana dalam konteks akademik. Namun, di kepalanya, maknanya terasa jauh lebih dalam.Ia menarik napas perlahan. “Diskresi masih berada dalam koridor hukum dan etika, Pak,” jawab Febi, berusaha menjaga suaranya tetap stabil dan tenang, walaupun jantungnya sudah tak karuan. “Sedangkan penyalahgunaan kekuasaan terjadi saat kewenangan digunakan untuk kepentingan pribadi dan merugikan pihak lain.”Langga tidak langsung menjawab. Ia membolak-balikan halaman buku di atas mejanya, kemudian bergantian menatap Febi. “Dan s
Febi yakin wajahnya semakin memerah. Ia menggeleng cepat. “Bukan begitu maksud saya!” sanggah Febi.“Kalau begitu,” Langga membentangkan tangannya ke arah pintu. “Kamu boleh pulang.” ulangnya lagi. Febi menahan napasnya sesaat. Kemudian tanpa banyak basa-basi yang mungkin bisa merugikan dirinya lagi, Febi segera bergegas untuk pulang.Ia melesat ke luar unit apartemen itu dengan cepat dan masuk ke dalam lift. Di dalam lift, detak jantung Febi betul-betul tidak beraturan.Baru sampai di lantai dasar, ponsel Febi bergetar tiba-tiba.Ah, itu notifikasi pengingat bahwa Febi harus ke rumah sakit untuk menengok ibunya. Sebelum pergi ke rumah sakit, Febi menoleh ke belakang. Melihat lagi gedung apartemen mewah itu. Kemudian Febi menggeleng dan bergidik ngeri.Apa lagi yang menunggunya nanti? ***Begitu melangkah masuk ke rumah sakit, Febi seolah langsung lupa sesaat dengan kejadian di apartemen tadi. Isi kepala Febi langsung dipenuhi dengan kondisi ibunya. Setelah menyusuri lorong yang
Febi terhenyak dengan perkataan pria itu. Ada rasa takut dan cemas bercampur jadi satu. Sungguh ia tidak mengerti dengan perkataan dari dosennya itu. ‘Seseorang yang dipilih? Pak Langga pasti melantur,’ batin Febi. Ia ingin sekali berlari keluar dari apartemen ini. Membuka pintu di depannya, turun ke lantai dasar, dan menghirup udara bebas kemudian melupakan semua ini. Namun sialnya, ia sama sekali tidak punya kekuatan apa pun. Dihadapi dengan pembayaran penalti dua kali lipat, tentu saja Febi langsung tidak mampu berkutat. Febi menghela nafasnya kasar. Matanya melirik ke arah pria tampan itu. Ia sedang sibuk mengutak-atik tablet yang ada di tangannya. Pria itu bahkan terlihat sangat santai sekali, seperti tidak terjadi sesuatu di antara mereka. Mata Febi kembali memindai apartemen mewah itu. Apartemennya terlihat betul-betul mewah bahkan barang-barang yang ada di sana terlihat begitu mengilap dan mahal. Febi menelan ludah. Keadaannya benar-benar jauh dari kondisinya, tidak se







