Share

Sugar Baby Dosen Tampan
Sugar Baby Dosen Tampan
Author: Mariahlia

Bab 1

Author: Mariahlia
last update publish date: 2025-11-09 01:51:38

“Jadi sugar baby mau? Bayarannya lumayan.”

Kalimat itu tidak terdengar keras dan disampaikan dengan nada memaksa. Justru ringan, seolah hanya menawarkan pekerjaan paruh waktu biasa.

Tapi bagi Febi, kata-kata itu seperti palu godam yang menghantam kepalanya.

Ia duduk diam di bangku taman kampus yang mulai sepi menjelang sore. Angin menggerakkan helaian rambut panjangnya yang tergerai, menyapu pipinya yang memucat. Ia menghela nafasnya kasar.

‘Sugar baby’.

Dua kata itu selama ini hanya ia dengar sebagai gosip atau bahan candaan di tongkrongan mahasiswa.

Namun kini, kata itu ditujukan padanya.

“Gue nggak maksa. Cuma nawarin. Kliennya aman, tajir, gak ribet. Kontrak jelas. Bayaran per bulan langsung transfer,” lanjut suara di seberang panggilan, terdengar santai dan profesional.

Febi menelan ludah.

Orang di panggilan itu adalah salah satu temannya yang merupakan pekerja di sebuah cafe tempatnya juga bekerja, yang disebut “punya koneksi”.

Awalnya hanya obrolan basa-basi. Lalu bergeser pada keluh kesah Febi soal biaya kuliah yang menunggak, tagihan rumah sakit ibunya, dan ancaman DO jika ia tak segera melunasi pembayaran semester.

Dan kini… sebuah tawaran datang.

“Lo cuma perlu nemenin. Datang kalau dipanggil. Jaga sikap. Selebihnya… ya, ngerti lah.”

Deg.

Jantungnya berdebar semakin kencang.

Febi Cantika, usia dua puluh tahun, mahasiswi hukum semester empat. Selama ini ia bangga dengan jalur hidupnya. Masuk universitas negeri favorit dengan jalur beasiswa. Berusaha mandiri. Tidak merepotkan siapa pun.

Tapi hidup tak pernah benar-benar adil.

Beasiswa itu dipotong karena keterlambatan administrasi. Ibunya tiba-tiba sakit keras dan harus dirawat. Ayahnya sudah lama tidak ada dalam hidup mereka. Tabungan yang sedikit habis hanya dalam hitungan minggu.

Kini, Febi seperti berdiri di ujung jurang.

“Bayarannya berapa?” tanyanya pelan, hampir tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.

Terdengar tawa kecil di seberang sana. “Gue tahu lo bakal nanya itu.”

Temannya itu menyebutkan angka. Mendengar angka yang disebutkan membuat napas Febi tercekat.

Itu cukup untuk melunasi semua tunggakan kuliahnya. Bahkan masih tersisa untuk biaya pengobatan ibunya selama beberapa bulan ke depan.

Tangannya langsung gemetar.

Konsekuensinya?

Tak perlu dijelaskan. Ia tahu. Ia bukan anak kecil.

“Gue kirim kontraknya. Kalau setuju, tanda tangan. Transfer langsung cair,” lanjut suara di seberang sana.

Febi memejamkan mata.

Dalam kepalanya berputar bayangan ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Bayangan staf administrasi kampus yang menatapnya dengan dingin. Bayangan teman-temannya yang tak pernah tahu bahwa ia bekerja paruh waktu setiap malam demi sesuap nasi.

Sekarang ia berpikir. Harga dirinya… atau keselamatan hidup ibu dan masa depannya?

Ia menarik napas panjang. Lalu…

“Oke,” ucap Febi akhirnya, meski suara itu terasa asing di telinganya sendiri.

“Oke bagus, gue transfer langsung uangnya.”

Panggilan terputus.

Febi tetap duduk diam, seolah dunia di sekitarnya berhenti bergerak.

Ia tahu, setelah ini tidak ada jalan kembali.

***

Tiga hari kemudian.

Febi sudah berdiri di depan lobi apartemen mewah di tengah kota. Febi mengenakan dress sederhana berwarna krem dan blazer tipis. Rambutnya ia ikat rapi. Riasannya tipis—cukup untuk terlihat dewasa, tapi tidak berlebihan.

Tangannya terasa dingin.

Uang yang dijanjikan sudah masuk ke rekeningnya. Ia sudah melunasi tunggakan kuliah. Ia sudah membayar tunggakan rumah sakit.

Semua berjalan begitu cepat bagi Febi. Rasanya terlalu baik untuk menjadi nyata.

Tapi tidak ada waktu untuk berlarut dalam kelegaan itu. Sebab sekarang, ia harus menjalankan bagian dari perjanjiannya.

Kontraknya jelas. Tidak ada kekerasan atau paksaan. Ia bebas berhenti kapan saja, dengan konsekuensi mengembalikan sisa uang.

Tapi tetap saja.

Ia akan menjadi sugar baby seorang pria yang sudah beristri. Bahkan memiliki anak.

Hatinya terasa seperti diremas.

Setelah mengerjap dari lamunannya, Febi melangkah masuk ke dalam lift, lalu bergerak naik dengan hening yang mencekik. Lantai demi lantai terlewati. Pantulan wajahnya di cermin lift terlihat pucat.

“Tenang,” bisik Febi pada diri sendiri. “Ini cuma kontrak….”

Ting

Pintu lift terbuka di lantai tertinggi.

Koridor itu sunyi. Karpet tebal meredam langkahnya. Nomor unit yang tertera di pesan berhenti tepat di depan matanya.

Tangannya terangkat, tapi ragu untuk mengetuk.

Sebelum ia sempat melakukannya—

“Masuk.”

Suara yang tegas tiba-tiba mengagetkan Febi. Febi lantas terkejut. Pintu itu ternyata memang tidak terkunci.

Perlahan ia mendorongnya dan melangkah masuk.

Unit itu luas. Desainnya minimalis dan elegan. Aroma kayu dan parfum maskulin samar memenuhi udara. Lampu temaram menciptakan bayangan panjang di dinding.

Langkah Febi begitu berat.

Mata Febi langsung memindai seisi ruang. Tak perlu waktu lama sampai ia melihat sosok yang menunggunya.

Ia melihat siluet tubuh tinggi tegap berdiri membelakanginya, menghadap jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota malam.

Febi lalu berhenti. Detak jantungnya menggema di telinganya sendiri.

“Febi Cantika,” suara itu kembali terdengar. Tenang namun penuh penekanan. “Usia dua puluh tahun. Mahasiswi hukum semester empat.”

Tubuhnya tiba-tiba menegang.

Suara itu…

Ia mengenalnya! Suara itu betul-betul tidak asing di telinga.

Sosok itu perlahan berbalik.

Wajahnya tegas, rahangnya kuat. Tatapan tajam yang biasa menatap kelas dengan penuh wibawa.

Febi gemetar bukan main.

“Selamat datang, Febi,” ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan. “Mahasiswi saya.”

Dunia Febi seolah runtuh dalam satu detik.

“P-pak Langga…?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
17seven
ternyata dosennya sendiri toh
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 113

    Pagi itu berjalan jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Untuk setelah sekian lama, Febi bisa duduk tanpa merasa sedang dihakimi siapa pun. Miko bahkan terus mengoceh sejak tadi sambil memakan mie goreng buatan Dalung. “Bang Dalung bisa masak, bisa nyetir, bisa berantem…” Miko menghitung dengan jari. “Kurang apa coba?” Dalung langsung mendelik kecil. “Kurang kaya.” Miko tertawa keras. Sedangkan Febi hanya tersenyum tipis kecil. Dan senyum itu… Entah kenapa membuat Dalung diam beberapa detik. Karena sudah lama sekali ia tidak melihat Febi tersenyum walaupun hanya sedikit. “Kalau Kak Febi nikah sama Bang Dalung kayaknya cocok deh.” Deg. Sendok di tangan Febi langsung berhenti bergerak. “MIKO!” perempuan itu langsung memerah panik. Sedangkan Dalung malah tertawa kecil sambil menyandarkan tubuh ke kursi. “Boleh juga idenya.” “Lung!” Miko makin semangat. “Nah kan! Aku bilang juga apa!” Febi buru-buru berdiri sambil membawa piring kotor ke dapur. “Kalian aneh.” Namun

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 112

    Mobil tua milik Dalung melaju pelan meninggalkan kota yang selama ini terasa seperti neraka bagi Febi. Hujan rintik masih turun membasahi kaca mobil. Lampu jalan memantul samar di aspal basah. Dan di kursi penumpang depan, Febi duduk diam memeluk dirinya sendiri. Matanya kosong. Terlalu banyak yang terjadi dalam waktu singkat sampai perasaannya seperti mati rasa. Sedangkan di kursi belakang, Miko justru terlihat jauh lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Remaja itu sesekali melirik Dalung dengan mata berbinar kecil. “Bang Dalung keren ya…” bisiknya pelan pada Febi. Febi menoleh lemah. Miko tersenyum kecil. “Dateng pas banget kayak pahlawan.” Kalimat itu membuat Dalung tertawa kecil hambar di balik kemudi. “Pahlawan apaan.” gumamnya pelan. "Kak Febi lagi sedih karena ibu. bang Dalung datang jadi pahlawan dong, buat hibur kakak!!" Namun diam-diam, lelaki itu menggenggam setir lebih erat saat matanya melirik Febi sekilas. Karena sejak tadi, perempuan itu terlalu di

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 111

    Hujan rintik kembali turun saat Febi keluar dari area kampus. Tubuhnya masih basah oleh air got. Bau kotor itu masih melekat di bajunya. Rambutnya lengket berantakan. Dan orang-orang yang dilewatinya masih terus menatap dengan jijik atau kasihan. Namun Febi sudah terlalu mati rasa untuk peduli. Langkahnya limbung menyusuri trotoar pinggir jalan. Air matanya terus jatuh tanpa henti. Dadanya sesak sampai terasa sakit untuk bernapas. Dan akhirnya, perempuan itu berhenti di dekat halte kecil yang sepi. Tangannya gemetar memeluk tubuh sendiri. Lalu perlahan… Febi terduduk lemah di bangku halte. Tangisnya pecah lagi. “Hiks…”Tubuhnya sampai membungkuk karena terlalu sakit menahan semuanya sendirian. Ia dihina. Dipermalukan. Dibully seperti sampah di depan satu kampus. Dan yang paling menghancurkannya, ia bahkan tidak bisa membela diri. Karena semua memang berawal dari kesalahannya. “Febi…” Suara itu tiba-tiba terdengar pelan dari depan. Febi langsung mengangkat wajahnya perlahan. D

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 110

    Febi berjalan pelan melewati koridor kampus dengan kepala tertunduk. Tangannya menggenggam tali tas begitu erat sampai jemarinya memutih. Ia bisa merasakan tatapan orang-orang menusuk tubuhnya dari segala arah. Bisik-bisik itu terus terdengar. Semakin lama semakin keras. “Eh itu dia…” “Berani juga masih masuk kampus.” “Kalau aku sih malu.” Air mata Febi hampir jatuh lagi. Namun perempuan itu terus berjalan meski langkahnya mulai goyah. Ia hanya ingin masuk kelas. Hanya ingin semuanya cepat selesai. Namun baru beberapa langkah... Brugh Seseorang sengaja menabrak pundaknya keras. Tubuh Febi langsung oleng kecil. Dan saat menoleh, Laura berdiri di depannya bersama tiga orang temannya. Senyum perempuan itu sinis sekali. “Oh maaf…” ucap Laura pura-pura terkejut. “Nggak lihat ternyata ada pelakor lewat.” Teman-temannya langsung terkekeh. Jantung Febi langsung terasa jatuh. “Aku mau lewat…” suaranya lirih, ia ingin pergi segera dari sana. Sungguh ia tidak mau berurusan dengan

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 109

    Pagi itu berjalan lambat di rumah kecil mereka. Setelah Miko berangkat sekolah, suasana kembali sunyi. Hanya suara kipas angin tua dan sesekali bunyi kendaraan dari luar gang yang terdengar samar. Febi berdiri lama di depan wastafel dapur sambil menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca kecil yang tergantung di dinding. Matanya masih sembab. Wajahnya bahkan pucat. Dan perempuan itu bahkan hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Perlahan, tangannya kembali menyentuh perutnya. Dadanya langsung kembali sesak lagi. Namun kali ini, Febi memejamkan matanya kuat-kuat lalu menarik napas panjang. “Enggak…” bisiknya lirih. Air matanya kembali menggenang, tetapi kali ini ia menahannya mati-matian. “Aku nggak boleh hancur sekarang.” Karena sejak semalam, sebuah kenyataan akhirnya benar-benar masuk ke dalam kepalanya. Ia tidak sendiri lagi. Ada Miko. Dan ada bayi ini. Febi langsung menutup wajahnya sebentar sambil menahan tangis. Ia memang merasa hidupnya sudah berantakan. Bahkan sempat

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 108

    Malam sudah sangat larut saat Febi akhirnya tiba di rumah kecilnya. Tidak ada suara siapa pun menyambutnya. Pintu rumah terbuka pelan. Dan begitu tubuhnya masuk ke dalam, benteng terakhir yang selama ini ia tahan akhirnya runtuh sepenuhnya. Brak. Tasnya jatuh begitu saja ke lantai. Febi menutup pintu rumah cepat lalu menahan mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Tangisnya pecah dan begitu amat sangat menyakitkan. Tubuhnya gemetar hebat sampai lututnya perlahan jatuh menyentuh lantai. “Ya Tuhan…” suaranya hancur di sela tangis. Dadanya terasa sesak. Bayangan wajah Samuel terus muncul di kepalanya. Tatapan hancur lelaki itu di rumah sakit tadi. Tangisan Sintia. Amarah keluarga Langga. Dan yang paling menghancurkannya, kalimat Langga. Karena pria yang dulu memeluknya seperti takut kehilangan, kini menjadi orang pertama yang membuangnya. “Kenapa jadi kayak gini…” isaknya lirih. Tubuhnya membungkuk lemah di lantai. Air matanya terus jatuh tanpa henti. Dan perlahan tangannya berge

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status