LOGINSiang itu, mereka baru saja keluar dari kamar resort, Dalung yang memang sudah menunggu keduanya jadi berdecak kesal saat melihat keduanya menggeret koper masing-masing. “Puas banget kayaknya buat orang nungguin sampai kayak begini?” Oceh Dalung, ia sudah menunggu beberapa jam sedari pagi, saat tadi malam Langga menghubunginya, dan meminta Dalung untuk stay di resort yang ia pesan, karena mereka akan pulang. Febi meringis melihat wajah kesal Dalung, sedangkan Langga hanya menatap datar pria itu, tanpa peduli mau seberapa kesal pria itu. “Sorry ya, Lung. Tadi aku kemasnya lama banget.” Alasan! Jelas saja ia harus berasalan seperti itu, tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya jika pagi tadi kembali di gempur oleh Langga. Mau di taruh dimana wajahnya. Langga mengangkat alisnya tenang, di dalam hati ia tertawa mendengar apa yang di katakan oleh Febi. ‘Pandai sekali kamu berbohong, Febi..’ batin Langga gemas, andai saja ia tidak pulang hari ini, mungkin Langga akan mengurung Febi
Pagi datang sangat cepat, angin berhembus pelan menggerakkan jendela, matahari menyelinap masuk melalui celah-celah kecil di atas jendela. Febi sudah terbangun sedari tadi, matanya terus menatap ke arah Langga yang masih terlelap. Ia memperhatikan wajah tampan yang nyaris tanpa celah itu. “Kok bisa ada orang kayak gini?” Tangan Febi bahkan dengan berani terulur mengelus rahang tegas milik Langga. Ia sampai terkekeh melihat wajah tampan yang sama sekali tidak terusik dalam tidur itu. “Mengagumi sebentar kayaknya nggak apa-apa deh. Sebelum semuanya berakhir.” Gumam Febi pelan. Tangannya naik ke hidung mancung milik Langga, ia tersenyum lebar. “Ini hidung mancung banget kayak apa ya… lucu banget deh.” Kembali ia tersenyum, tangannya naik ke mata Langga. “Ini mata yang sering natap tajam ke mahasiswa. Sampai mereka takut.” Febi terkekeh pelan, ia mengingat bagaimana dulu ia dan teman-temannya takut dengan dosennya itu. Langga yang otoriter dan tidak bisa memaklumi kesalahan barang sed
Setelah percintaan panas yang kembali mereka lakukan, Langga akhirnya berguling di samping Febi. Nafasnya masih berat, akibat rasa yang menggebu-gebu yang baru saja ia rasakan.Tangannya bertumpu, matanya yang tajam menatap Febi. “Mas, aku capek.” Ucap Febi pelan, nafasnya bahkan ngos-ngosan, Febi di buat kelimpungan dengan percintaan yang Langga lakukan. Pria itu sangat kuat sekali. Febi takut saja, jika Langga meminta ronde-ronde selanjutnya, karena jujur saja ia lelah sekali. Langga terkekeh pelan, menikmati wajah cantik yang tampak sangat kelelahan itu, dan sialnya, malah membuat Langga ingin lagi. Namun, ia menahannya, ia tahu Febi sedang amat kelelahan. “Yasudah tidur. Besok pagi-pagi kita harus packing barang-barang. Karena siangnya kita sudah pulang.” Kata Langga.Matanya yang terpejam jadi terbelalak, Febi menoleh ke arah Langga, Febi baru tau kalau esoklah mereka pulang. Ia pikir masih lama berada di sini. “Loh, kita udah mau pulang kah?” Tanya Febi. Langga menghela nafas
Mendengar perkataan Febi, membuat nafas Dalung tercekat, ia jadi merasa bersalah dengan gadis itu, karena semula bermula dari dirinya, yang sebelumnya menawarkan gadis itu menjadi sugar baby seseorang, dan Dalung juga ikut menikmati hasil dari Febi bekerja. “Aku udah kayak gini. Jadi nggak akan mungkin ada yang mau sama aku. Aku juga merasa kecil sama siapapun.” Kembali suara Febi terdengar lirih, membuat Dalung semakin membendung rasa bersalah dalam dirinya. “Setiap orang berpasangan Feb. Nggak mungkin elo bakalan terus ngejomblo seumur hidup ini.” Dalung mencoba berbicara tenang walaupun di hatinya bergemuruh sesuatu. Febi menggelengkan kepalanya kencang, hidupnya sudah habis, dan ia hanya seorang wanita hina yang tidak pantas untuk siapapun. “Siapa yang mau sama orang kayak aku, Lung? Di dunia ini bahkan banyak wanita cantik dan baik. Sedangkan aku?” Febi menunjuk dirinya sendiri, tatapannya sendu membayangkan kehidupan mendatang yang sepertinya tidak akan berjalan mulus, ia b
“Papa kamu keluar kota Sam. Dia ada yang di urus.” Sintia menatap anaknya satu-satunya itu dengan senyuman miris. Andai saja Samuel tau jika selama ini Langga benar-benar tidak memperlakukan dirinya dengan baik, ia yakin Samuel akan marah besar. Dan kepulangan Samuel ini benar-benar di luar dugaan. Padahal masih ada waktu beberapa hari lagi, tapi Samuel pulang lebih cepat dari waktu yang di sebutkan. “Mama penasaran, kenapa kamu kok pulang cepet banget? Padahal kan kata kamu seminggu lagi ya?” Samuel tersenyum lebar. “Ma. Aku kangen banget sama mama dan papa. Jadi aku pulang lebih cepat dari jadwal yang aku bilang.” Ujar Samuel, Sintia mengangkat alisnya, “yakin cuman karena mama dan papa? Kok mama nggak yakin ya kalau kamu pulang cuman karena kami?” Sindirnya. Samuel terkekeh kecil, mamanya ini tau saja. “ck, nggak surprise lagi kalau mama tau.” “Cerita sama mama. Hadiah yang indah banget yang langsung kamu masukin ke dalam kamar itu buat siapa hm?” Tanya Sintia penasaran, pasal
“Ini gila! Elo mau beli satu toko antik bapak itu tadi? Banyak duit elo.” Dalung berdecih sinis, ia menatap barang bawaan yang merupakan kerajinan tangan dari seorang bapak-bapak tadi, yang katanya hadiah untuk buk Yosi, agar Febi tak mendapatkan nilai jelek. Febi menghela nafasnya kasar. “Cantik gitu. Lagian aku nggak beli banyak kok. Cuman beberapa aja. Kamu aja yang lebay banget Lung. Udahlah kita balik. Mumpung belum sore.” Febi berjalan mendahuluinya membuat Dalung mendelik kesal. “Astaga! Untung elo itu sekarang atasan gue. Kalau masih temen pelayan kayak dulu, gue jitak tuh kepala.” Omel Dalung, namun ia tetap melangkahkan kakinya menyusul Febi ke sebuah taksi yang ada di depan sana. Saat ia sampai di sana, wajah Febi malah tampak tak seperti sebelumnya, gadis itu tampak gelisah bukan main. “Eh elo kenapa?”Febi malah meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, memberikan isyarat agar Dalung diam. Dalung pun mengatupkan bibirnya rapat-rapat, “Maaf, Sam.” “Kenapa sayang?







