Share

bab 51

Author: Mariahlia
last update publish date: 2026-04-12 21:08:15

Febi membeku.

Kata-kata itu jatuh begitu saja sangat pelan, namun menghantam tepat di dadanya.

“Maaf. Saya lihat kamu pengen makan udang tadi…” perkataan itu sederhana, namun justru itu yang membuatnya terasa jauh lebih berat.

Febi menatap Langga. Matanya perlahan membesar. Bibirnya sedikit terbuka namun tidak ada kata yang keluar. Ia memang tadi ingin makan udang, tapi ia sama sekali tidak tahu jika Langga tau keinginannya. Dan ini, pria itu juga punya alergi? Kenapa Langga bisa sebodoh ini
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 119

    Ruangan itu mendadak terasa begitu sunyi. Kalimat Langga masih menggantung di udara. "Secepatnya saya akan urus surat perceraian kita." Sintia membeku. Wajahnya perlahan kehilangan warna. Air mata terus mengalir tanpa bisa dihentikan. "Mas... jangan..." suaranya bergetar hebat. Ia kembali meraih ujung celana Langga dengan tangan gemetar. "Tolong jangan tinggalin aku..." Namun Langga menatap tangan itu dengan dingin. Tidak ada lagi rasa iba. Tidak ada lagi kelembutan yang selama puluhan tahun selalu ia berikan. Perlahan ia melepaskan genggaman Sintia. "Apa menurut kamu saya masih bisa tinggal setelah tahu semua ini?" "Mas... aku memang salah... tapi aku benar-benar cinta sama kamu..." Langga tertawa pelan. Tawa yang terdengar pahit. "Cinta?" Matanya memerah, menahan penuh amarah. "Kamu menyebut ini cinta setelah mengambil seluruh hidup saya?" Sintia hanya bisa menangis. "Aku takut waktu itu..." "Dan karena ketakutanmu, kamu membangun hidup di atas kebohongan." Suara Langga

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 118

    Malam itu terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Di teras belakang rumah kecil Dalung, Febi masih duduk memeluk kedua lututnya. Hasil USG itu berada di genggamannya. Sesekali jemarinya mengusap gambar kecil yang bahkan belum terlihat jelas. Air matanya jatuh tanpa suara. “Aku nggak tahu harus gimana...” bisiknya lirih. Angin malam berembus pelan. Dan sejak mengetahui dirinya hamil, Febi benar-benar merasa takut. Melainkan takut pada masa depan anaknya. “Apa nanti kamu bakal benci sama Ibunya?.” suaranya pecah. “Karena Ibu nggak bisa ngasih keluarga yang utuh buat kamu...” Tangannya kembali menempel di perutnya. Namun tiba-tiba... “Kamu nggak tidur?” Febi tersentak. Dalung berdiri di ambang pintu teras sambil membawa dua cangkir teh hangat. “Lung...” Dalung berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya. Matanya sempat menangkap kertas USG yang masih berada di tangan Febi. Namun lelaki itu tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menyodorkan teh hangat. “Minum.” Febi me

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 117

    Hujan masih mengguyur di luar gedung hotel. Namun bagi Langga, suara hujan itu sudah tidak terdengar lagi. Yang terdengar hanya dengungan keras di kepalanya sendiri. Puluhan tahun hidupnya. Puluhan tahun yang mungkin dibangun di atas sebuah kebohongan. Rendra berdiri beberapa langkah darinya dengan wajah penuh penyesalan. "Langga..." Namun lelaki itu hanya tertawa kecil. Tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan. "Gue ninggalin hidup gue sendiri..." suaranya serak. Tangannya gemetar. "Gue ninggalin perempuan yang gue cintai..." Matanya memerah. "Gue nikahin Sintia." Napasnya mulai memburu. "Gue jadi bapak buat Samuel." Brak! Tinju Langga menghantam dinding dekatnya. Sampai buku-buku jarinya memerah. "Dan sekarang lo bilang semua itu mungkin bohong?!" Beberapa orang di lounge mulai memperhatikan mereka. Namun Langga tidak peduli. Karena semua kemarahan yang selama ini terkubur seperti meledak sekaligus. Rendra memejamkan mata. "Gue nggak pernah berani ngomong...

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 116

    Malam itu, rumah besar keluarga Langga tidak benar-benar tidur. Lampu ruang tengah masih menyala terang meski waktu sudah lewat tengah malam. Namun suasana rumah itu terasa dingin. Kosong. Dan penuh kemarahan yang belum selesai. Sintia duduk diam di sofa sambil menatap layar ponselnya tanpa ekspresi. Rambutnya berantakan. Matanya sembab. Tetapi kali ini… tidak ada lagi tangisan. Yang tersisa hanya sakit hati. Dan kebencian. Tatapannya perlahan bergerak membaca ulang berita tentang Febi yang masih ramai di media sosial. Komentar-komentar menghina perempuan itu terus bertambah. Pelakor. Murahan. Penghancur rumah tangga orang. Sudut bibir Sintia perlahan terangkat tipis. Namun rasa puas itu ternyata belum cukup. Karena perempuan itu sadar satu hal— Febi menghilang. Dan selama Febi masih bebas di luar sana… Langga tidak akan pernah berhenti mencarinya. Dada Sintia langsung kembali terasa panas saat mengingat bagaimana Langga pergi dua hari terakhir hanya untuk

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 115

    Dalung langsung menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya kasar. Tatapannya jatuh pada tangan Febi yang terus memegangi perutnya sendiri dengan gemetar. Dan untuk beberapa detik, lelaki itu terlihat benar-benar berpikir keras. “Dia udah mulai curiga tentang semuanya…” gumamnya pelan. Febi langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Aku nggak siap…” isaknya pecah lirih. “Aku nggak siap kalau dia tau…” Dalung berjongkok pelan di depan perempuan itu. “Lihat aku.” Namun Febi terus menangis sambil menggeleng. “Feb…” Perlahan Dalung menggenggam kedua tangan perempuan itu agar turun dari wajahnya. Dan saat mata mereka bertemu, dada Dalung langsung terasa nyeri. Karena perempuan di depannya benar-benar ketakutan sekarang. “Aku janji…” suara Dalung rendah. “Gue nggak bakal biarin siapa pun nyakitin lo lagi.” Air mata Febi jatuh semakin deras. “Tapi ini anak dia, Lung…” napasnya bergetar hebat. “Mana mungkin bisa terus disembunyiin…” Dalung terdiam. Karena itu me

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 114

    Dalung langsung menangkap arah tatapan Langga. Dan dalam satu detik, lelaki itu tahu bahaya besar baru saja datang. Suara muntah Febi masih terdengar samar dari dalam kamar mandi. Membuat wajah Langga perlahan berubah kaku. Tatapannya kembali mengarah ke pintu kamar mandi dengan napas mulai tidak teratur. “Dia sakit apa?” Pertanyaan itu terdengar pelan. Namun justru itulah yang membuat suasana semakin menegangkan. Dalung langsung menyahut cepat sebelum siapa pun sempat berpikir lebih jauh. “Maag.” Langga menoleh tajam. “Dia emang gampang kambuh kalau stres.” lanjut Dalung santai sambil menyandarkan tubuh ke dinding. “Lo sendiri bikin hidup dia kayak neraka.” Namun Langga tidak langsung percaya. Karena tadi… wajah Febi terlalu pucat. Dan cara perempuan itu buru-buru menutup mulutnya terasa familiar di kepalanya, seperti Sintia yang dulu saat hamil Samuel. “Udah berapa lama dia muntah-muntah?” Dalung langsung menatap Langga dingin. “Lo interogasi gue?” “Jawab.” “Gu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status