MasukBulu kuduk Febi langsung meremang. Dominasi Langga membuatnya langsung terdiam.
Pria ini terlalu dekat! Febi bahkan bisa merasakan napas hangat milik Langga di samping lehernya. Langga tidak menyentuhnya sama sekali, namun itu cukup membuat Febi bergetar. “Pak…?” Suaranya nyaris tak terdengar. Lebih seperti hembusan yang lolos tanpa sengaja dari sela bibirnya. Febi meremas kedua tangannya. Jari-jarinya saling bertaut, kuku menekan kulit sendiri hingga memucat. Ia menunduk, tidak berani menatap pria yang ada di depannya ini. Ruangan itu sangat sepi, hanya terdengar suara detak jantung Febi yang tak karuan. Febi berharap suara debarannya tidak dapat terdengar Langga. Febi menghembuskan nafasnya berulang kali, mencoba menetralkan detak jantungnya, namun sial, jantungnya sama sekali tidak mau bekerjasama dengannya. Dan Langga, pria itu tidak langsung menjauh. “Pak Langga, jangan seperti ini! Ini di dalam kampus,” Febi memberanikan diri untuk bersuara, meski masih menunduk. Febi dapat mendengar Langga yang mendengus remeh. “Saya tidak berbuat apa-apa.” kata Langga pelan. Febi menelan ludah. Kerongkongannya terasa kering. “Tapi … Bapak terlalu dekat!” Langga terdiam beberapa detik. Kemudian, perlahan Langga mundur setengah langkah. Meski hanya setengah langkah, jarak yang kembali ada mampu membuat Febi bernapas lega. Ia menghela napas panjang. Dengan begitu berhati-hati, Febi bertanya. "Bapak … ada perlu apa sampai membawa saya ke sini?" suara Febi begitu pelan. Ia menunduk lagi, masih tidak berani menatap ke arah Langga. Febi masih merasa canggung bukan main, apalagi sejak pembicaraan mengenai kontrak tadi malam. “Kamu memang selalu banyak tanya, ya, rupanya. Tapi di kelas, kerjaannya menunduk saja,” sahut Langga. Febi langsung menatap Langga cepat. Ia ingin membela diri, namun hanya mampu mengucap seadanya. “Ti-tidak, Pak. Maaf, tadi saya hanya-” “Jangan banyak alasan,” potong Langga. Febi hanya bisa mengangguk diam. Dominasi pria ini benar-benar membuat Febi takut. Tiba-tiba, ponsel di saku Febi bergetar beberapa kali. Itu tanda bahwa ada telepon masuk. Dengan cepat Febi merogoh sakunya, takut jika yang menelepon adalah Miko atau pihak rumah sakit. Benar saja. Nama ‘Miko’ tertera di sana. Namun, belum sempat diangkat oleh Febi, telepon itu sudah dimatikan. Kemudian ada pesan yang datang dengan cepat di layar. [Ada biaya obat tambahan untuk ibu.] Febi langsung terdiam. “Febi?” panggil Langga. “Maaf, Pak. Tadi adik saya kirim pesan. Memberi kabar soal … ibu,” tanpa sadar, Febi langsung menjelaskan alasan Miko menghubunginya. Langga hanya mengangguk, wajahnya masih datar. “Berikan saya nomor ponselmu,” pinta Langga. Febi mengerjap. “Nomor ponsel saya …? Untuk apa, Pak?” Bukan jawaban yang datang, melainkan sebuah decak keluar dari mulut Langga. Pria itu lalu kembali mendekat, ia sedikit menunduk. “Kalau disuruh, langsung lakukan, Febi,” bisiknya. “Jangan banyak tanya.” Febi merasakan bulu-bulu di tubuhnya berdiri lagi. “Tapi-” Belum sempat Febi melanjutkan kalimatnya, Langga sudah terlebih dahulu meraih ponsel dalam genggamannya. Pria itu menekan-nekan layar, lalu mengembalikannya kepada Febi. Gerakannya tidak kasar, namun Febi justru semakin takut. Di layar, nomor Langga sudah tersimpan dengan nama kontak ‘L’. Selain itu, ada riwayat telepon keluar ke nomor itu. Sepertinya, Langga sengaja melakukannya agar nomor Febi langsung masuk dalam ponselnya. “Pak, apakah ini tidak terlalu berbahaya?” tanya Febi. “Bagaimana jika ada yang tau?” Langga hanya mengangkat kedua bahunya. “Bukan urusanku. Itu tugasmu menjaga rahasia dengan baik.” Febi menutup mata dan menghela napas. Tidak menyangka bahwa ia ada dalam situasi seperti ini. “Ada masalah, Febi?” tanya Langga. Itu terdengar seperti ancaman di telinga Febi. “Tidak ada,” jawab Febi tegas. Harga dirinya sudah jatuh ke tanah sekarang, jadi Febi pikir percuma jika mengambil langkah mundur. Langga adalah seorang ‘sugar daddy’-nya sekarang. Orang yang akan membiayai hidup Febi. Jadi, ia tidak bisa menolak perintah apapun. Febi tahu itu. “Kalau begitu, saya pamit dulu, Pak,” kata Febi pelan. Langga menatapnya lagi. Ia menyeringai. Sementara itu, di luar ruangan, Febi dapat mendengar suara yang dikenalnya. Nisa! “Feb!” Nisa mencarinya! Ia sudah berjanji untuk menunggu Nisa di luar. Febi tidak ingin Nisa mengetahui bahwa dirinya ada di sini. Meski hanya di ruang dosen, Febi tetap panik sendiri. “Pak, ma- maaf. Saya harus segera pergi!” Febi berbisik. Takut jika suaranya terdengar sampai luar. Bukannya mempersilakan, Langga malah mendekat kepada Febi. Ia lalu menggeleng. Apa!? Langga semakin mendekat, sebuah jarak yang ditakutkan Febi sedari tadi. Tanpa Febi sangka, pria itu meletakkan tangannya di atas dagu Febi, membuat Febi mendongak dan menatap matanya. Mata tajam dan garis-garis wajah yang jelas, pantas saja Langga populer di antara mahasiswi. Namun, bukan itu yang harusnya dipikirkan Febi sekarang. “Pak!” Febi setengah berbisik, setengah teriak. “Jangan begini, saya mohon!” Di tengah kepanikannya, ponsel Febi di tangannya bergetar lagi. Febi meliriknya. Nama ‘Nisa’ muncul di layar kali ini. Di luar, Febi juga samar-samar mendengar suara Nisa yang mengomel. “Duh, kemana sih Febi itu!” Di tengah lirikannya, Febi dapat merasakan Langga yang menarik kembali dagunya, memaksa Febi untuk menatap pria itu. “Lihat sini, Febi.” Febi kembali menatap mata Langga. Apa pria ini akan menciumnya…? Di sini!? Febi menutup matanya rapat-rapat.Suara di seberang sana terputus begitu saja setelah kalimat itu selesai diucapkan. Tidak ada salam. Tidak ada penjelasan. Hanya sebuah perintah yang mutlak. Febi masih memegang ponselnya di dekat telinga, meski layar sudah kembali gelap. Jantungnya berdetak begitu keras sampai ia takut orang-orang di sekitarnya bisa mendengarnya. Angin malam menyentuh pipinya yang terasa panas. Lampu-lampu jalan menyala redup, memantulkan cahaya kekuningan di aspal yang mulai lembap oleh embun. Datang ke tempat saya malam ini. Tidak ada penolakan. Kalimat itu berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak yang terus mengulang bagian yang sama. Tangannya perlahan turun. Ponsel itu terasa berat, seolah bukan benda kecil yang biasa ia genggam setiap hari. Ia menelan ludahnya pelan. Rumah sakit. Ibu. Miko. Semua itu melintas cepat di benaknya. Ia baru saja mentransfer uang untuk obat ibunya. Ia baru saja merasa sedikit lega. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia ber
Tubuh Febi gemetar bukan main. Napasnya tertahan. Ia menunggu dan menunggu. Meski di luar sedikit berisik, tapi Febi hanya bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang tidak karuan. Detik yang terlewat terasa seperti berjam-jam lamanya. Febi dapat merasakan napas Langga yang berhembus. Kali ini pria itu benar-benar dekat! Namun, yang ditunggu tidak kunjung datang. Langga melepaskan jari-jari yang bertengger di atas dagu Febi. “Angkat teleponku nanti,” kata Langga. Mendengar itu membuat Febi terkejut. Ia membuka matanya perlahan. Meski bukan hal ‘buruk’ yang diharapkannya, kaki Febi tetap terasa lemas. Ia sedikit terhuyung, kehilangan keseimbangannya. Saat ia hampir jatuh, Langga dengan sigap memegang legannya. “Ceroboh,” kata Langga sambil melepaskan genggaman tangannya. Febi mengedipkan matanya berkali-kali. Berusaha mencerna suasana. Lagi-lagi, ia merasa dipermainkan. Sementara itu, ponselnya bergetar lagi. Nisa masih terus meneleponnya. Febi menatap Langg
Bulu kuduk Febi langsung meremang. Dominasi Langga membuatnya langsung terdiam.Pria ini terlalu dekat! Febi bahkan bisa merasakan napas hangat milik Langga di samping lehernya. Langga tidak menyentuhnya sama sekali, namun itu cukup membuat Febi bergetar.“Pak…?”Suaranya nyaris tak terdengar. Lebih seperti hembusan yang lolos tanpa sengaja dari sela bibirnya.Febi meremas kedua tangannya. Jari-jarinya saling bertaut, kuku menekan kulit sendiri hingga memucat. Ia menunduk, tidak berani menatap pria yang ada di depannya ini. Ruangan itu sangat sepi, hanya terdengar suara detak jantung Febi yang tak karuan. Febi berharap suara debarannya tidak dapat terdengar Langga. Febi menghembuskan nafasnya berulang kali, mencoba menetralkan detak jantungnya, namun sial, jantungnya sama sekali tidak mau bekerjasama dengannya. Dan Langga, pria itu tidak langsung menjauh.“Pak Langga, jangan seperti ini! Ini di dalam kampus,” Febi memberanikan diri untuk bersuara, meski masih menunduk.Febi dapat
Jantung Febi hampir lepas rasanya ketika mendengar namanya dipanggil Langga seperti itu. Ia mengangkat kepala perlahan. “I-iya, Pak?”Febi dapat merasakan Langga yang menatapnya sesaat. Febi tahu pria itu adalah dosennya pagi ini, namun rasanya berbeda ketika telah terjadi sebuah obrolan tadi malam.Pada akhirnya, Langga bersuara.“Bagaimana menurut Anda batas antara diskresi dan penyalahgunaan kekuasaan?”Seluruh kelas menoleh padanya.Febi menelan ludah. Pertanyaan itu sederhana dalam konteks akademik. Namun, di kepalanya, maknanya terasa jauh lebih dalam.Ia menarik napas perlahan. “Diskresi masih berada dalam koridor hukum dan etika, Pak,” jawab Febi, berusaha menjaga suaranya tetap stabil dan tenang, walaupun jantungnya sudah tak karuan. “Sedangkan penyalahgunaan kekuasaan terjadi saat kewenangan digunakan untuk kepentingan pribadi dan merugikan pihak lain.”Langga tidak langsung menjawab. Ia membolak-balikan halaman buku di atas mejanya, kemudian bergantian menatap Febi. “Dan s
Febi yakin wajahnya semakin memerah. Ia menggeleng cepat. “Bukan begitu maksud saya!” sanggah Febi.“Kalau begitu,” Langga membentangkan tangannya ke arah pintu. “Kamu boleh pulang.” ulangnya lagi. Febi menahan napasnya sesaat. Kemudian tanpa banyak basa-basi yang mungkin bisa merugikan dirinya lagi, Febi segera bergegas untuk pulang.Ia melesat ke luar unit apartemen itu dengan cepat dan masuk ke dalam lift. Di dalam lift, detak jantung Febi betul-betul tidak beraturan.Baru sampai di lantai dasar, ponsel Febi bergetar tiba-tiba.Ah, itu notifikasi pengingat bahwa Febi harus ke rumah sakit untuk menengok ibunya. Sebelum pergi ke rumah sakit, Febi menoleh ke belakang. Melihat lagi gedung apartemen mewah itu. Kemudian Febi menggeleng dan bergidik ngeri.Apa lagi yang menunggunya nanti? ***Begitu melangkah masuk ke rumah sakit, Febi seolah langsung lupa sesaat dengan kejadian di apartemen tadi. Isi kepala Febi langsung dipenuhi dengan kondisi ibunya. Setelah menyusuri lorong yang
Febi terhenyak dengan perkataan pria itu. Ada rasa takut dan cemas bercampur jadi satu. Sungguh ia tidak mengerti dengan perkataan dari dosennya itu. ‘Seseorang yang dipilih? Pak Langga pasti melantur,’ batin Febi. Ia ingin sekali berlari keluar dari apartemen ini. Membuka pintu di depannya, turun ke lantai dasar, dan menghirup udara bebas kemudian melupakan semua ini. Namun sialnya, ia sama sekali tidak punya kekuatan apa pun. Dihadapi dengan pembayaran penalti dua kali lipat, tentu saja Febi langsung tidak mampu berkutat. Febi menghela nafasnya kasar. Matanya melirik ke arah pria tampan itu. Ia sedang sibuk mengutak-atik tablet yang ada di tangannya. Pria itu bahkan terlihat sangat santai sekali, seperti tidak terjadi sesuatu di antara mereka. Mata Febi kembali memindai apartemen mewah itu. Apartemennya terlihat betul-betul mewah bahkan barang-barang yang ada di sana terlihat begitu mengilap dan mahal. Febi menelan ludah. Keadaannya benar-benar jauh dari kondisinya, tidak se







