Compartir

bab 6

Autor: Mariahlia
last update Fecha de publicación: 2026-02-26 14:04:52

Bulu kuduk Febi langsung meremang. Dominasi Langga membuatnya langsung terdiam.

Pria ini terlalu dekat!

Febi bahkan bisa merasakan napas hangat milik Langga di samping lehernya. Langga tidak menyentuhnya sama sekali, namun itu cukup membuat Febi bergetar.

“Pak…?”

Suaranya nyaris tak terdengar. Lebih seperti hembusan yang lolos tanpa sengaja dari sela bibirnya.

Febi meremas kedua tangannya.

Jari-jarinya saling bertaut, kuku menekan kulit sendiri hingga memucat. Ia menunduk, tidak berani menatap pria yang ada di depannya ini.

Ruangan itu sangat sepi, hanya terdengar suara detak jantung Febi yang tak karuan. Febi berharap suara debarannya tidak dapat terdengar Langga.

Febi menghembuskan nafasnya berulang kali, mencoba menetralkan detak jantungnya, namun sial, jantungnya sama sekali tidak mau bekerjasama dengannya.

Dan Langga, pria itu tidak langsung menjauh.

“Pak Langga, jangan seperti ini! Ini di dalam kampus,” Febi memberanikan diri untuk bersuara, meski masih menunduk.

Febi dapat mendengar Langga yang mendengus remeh.

“Saya tidak berbuat apa-apa.” kata Langga pelan.

Febi menelan ludah. Kerongkongannya terasa kering. “Tapi … Bapak terlalu dekat!”

Langga terdiam beberapa detik. Kemudian, perlahan Langga mundur setengah langkah.

Meski hanya setengah langkah, jarak yang kembali ada mampu membuat Febi bernapas lega.

Ia menghela napas panjang.

Dengan begitu berhati-hati, Febi bertanya.

"Bapak … ada perlu apa sampai membawa saya ke sini?" suara Febi begitu pelan. Ia menunduk lagi, masih tidak berani menatap ke arah Langga. Febi masih merasa canggung bukan main, apalagi sejak pembicaraan mengenai kontrak tadi malam.

“Kamu memang selalu banyak tanya, ya, rupanya. Tapi di kelas, kerjaannya menunduk saja,” sahut Langga.

Febi langsung menatap Langga cepat. Ia ingin membela diri, namun hanya mampu mengucap seadanya. “Ti-tidak, Pak. Maaf, tadi saya hanya-”

“Jangan banyak alasan,” potong Langga.

Febi hanya bisa mengangguk diam. Dominasi pria ini benar-benar membuat Febi takut.

Tiba-tiba, ponsel di saku Febi bergetar beberapa kali. Itu tanda bahwa ada telepon masuk.

Dengan cepat Febi merogoh sakunya, takut jika yang menelepon adalah Miko atau pihak rumah sakit.

Benar saja. Nama ‘Miko’ tertera di sana. Namun, belum sempat diangkat oleh Febi, telepon itu sudah dimatikan. Kemudian ada pesan yang datang dengan cepat di layar.

[Ada biaya obat tambahan untuk ibu.]

Febi langsung terdiam.

“Febi?” panggil Langga.

“Maaf, Pak. Tadi adik saya kirim pesan. Memberi kabar soal … ibu,” tanpa sadar, Febi langsung menjelaskan alasan Miko menghubunginya.

Langga hanya mengangguk, wajahnya masih datar.

“Berikan saya nomor ponselmu,” pinta Langga.

Febi mengerjap. “Nomor ponsel saya …? Untuk apa, Pak?”

Bukan jawaban yang datang, melainkan sebuah decak keluar dari mulut Langga. Pria itu lalu kembali mendekat, ia sedikit menunduk.

“Kalau disuruh, langsung lakukan, Febi,” bisiknya. “Jangan banyak tanya.”

Febi merasakan bulu-bulu di tubuhnya berdiri lagi. “Tapi-”

Belum sempat Febi melanjutkan kalimatnya, Langga sudah terlebih dahulu meraih ponsel dalam genggamannya. Pria itu menekan-nekan layar, lalu mengembalikannya kepada Febi. Gerakannya tidak kasar, namun Febi justru semakin takut.

Di layar, nomor Langga sudah tersimpan dengan nama kontak ‘L’. Selain itu, ada riwayat telepon keluar ke nomor itu. Sepertinya, Langga sengaja melakukannya agar nomor Febi langsung masuk dalam ponselnya.

“Pak, apakah ini tidak terlalu berbahaya?” tanya Febi. “Bagaimana jika ada yang tau?”

Langga hanya mengangkat kedua bahunya. “Bukan urusanku. Itu tugasmu menjaga rahasia dengan baik.”

Febi menutup mata dan menghela napas. Tidak menyangka bahwa ia ada dalam situasi seperti ini.

“Ada masalah, Febi?” tanya Langga. Itu terdengar seperti ancaman di telinga Febi.

“Tidak ada,” jawab Febi tegas. Harga dirinya sudah jatuh ke tanah sekarang, jadi Febi pikir percuma jika mengambil langkah mundur.

Langga adalah seorang ‘sugar daddy’-nya sekarang. Orang yang akan membiayai hidup Febi. Jadi, ia tidak bisa menolak perintah apapun. Febi tahu itu.

“Kalau begitu, saya pamit dulu, Pak,” kata Febi pelan.

Langga menatapnya lagi. Ia menyeringai.

Sementara itu, di luar ruangan, Febi dapat mendengar suara yang dikenalnya. Nisa!

“Feb!”

Nisa mencarinya! Ia sudah berjanji untuk menunggu Nisa di luar. Febi tidak ingin Nisa mengetahui bahwa dirinya ada di sini. Meski hanya di ruang dosen, Febi tetap panik sendiri.

“Pak, ma- maaf. Saya harus segera pergi!” Febi berbisik. Takut jika suaranya terdengar sampai luar.

Bukannya mempersilakan, Langga malah mendekat kepada Febi. Ia lalu menggeleng.

Apa!?

Langga semakin mendekat, sebuah jarak yang ditakutkan Febi sedari tadi.

Tanpa Febi sangka, pria itu meletakkan tangannya di atas dagu Febi, membuat Febi mendongak dan menatap matanya.

Mata tajam dan garis-garis wajah yang jelas, pantas saja Langga populer di antara mahasiswi. Namun, bukan itu yang harusnya dipikirkan Febi sekarang.

“Pak!” Febi setengah berbisik, setengah teriak. “Jangan begini, saya mohon!”

Di tengah kepanikannya, ponsel Febi di tangannya bergetar lagi. Febi meliriknya. Nama ‘Nisa’ muncul di layar kali ini.

Di luar, Febi juga samar-samar mendengar suara Nisa yang mengomel. “Duh, kemana sih Febi itu!”

Di tengah lirikannya, Febi dapat merasakan Langga yang menarik kembali dagunya, memaksa Febi untuk menatap pria itu. “Lihat sini, Febi.”

Febi kembali menatap mata Langga. Apa pria ini akan menciumnya…? Di sini!?

Febi menutup matanya rapat-rapat.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 134

    Tak lama kemudian, Febi keluar dari dalam rumah. Perempuan itu mengenakan tunik sederhana berwarna krem dengan kerudung cokelat muda. Wajahnya terlihat segar, meskipun masih ada sedikit kelelahan di matanya. Begitu melihat Langga, langkahnya terhenti. "Kamu sudah datang?" Langga tersenyum lebar. "Iya." Febi melirik kantong belanjaan di tangannya. "Itu apa?" "Makanan." "Aku bisa membeli makanan sendiri." "Aku tahu." "Lalu kenapa kamu membawanya?" Langga terdiam sejenak. Kemudian ia menjawab dengan suara lembut, "Karena aku ingin." Febi mengerjap. Lagi-lagi, jawaban sederhana itu membuatnya tidak tahu harus berkata apa. Langga kemudian mengulurkan salah satu kantong belanjaan. "Ini untukmu. Ada buah-buahan dan makanan yang mudah kamu makan. Aku juga membeli beberapa camilan yang kamu sukai." Febi menatap kantong itu dengan heran. "Kamu masih ingat?" Langga mengangguk. "Tentu." Ia tersenyum tipis. "Ada banyak hal tentangmu yang masih kuingat, Febi. Bahkan hal-ha

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 133

    Beberapa Minggu Kemudian...Kondisi Langga akhirnya berangsur-angsur membaik.Luka di sisi perutnya mulai mengering. Setelah menjalani perawatan intensif dan serangkaian pemeriksaan, dokter mengizinkannya pulang dengan beberapa pantangan. Ia belum boleh melakukan aktivitas berat, harus rutin mengonsumsi obat, dan wajib kembali ke rumah sakit untuk kontrol.Namun, ada satu hal yang membuat Langga jauh lebih bersemangat daripada kabar kepulangannya sendiri.Febi.Ya, perempuan itu sekarang tidak lagi menghilang setiap kali Langga ingin berbicara dengannya.Meskipun belum sepenuhnya memaafkan masa lalu, Febi mulai bersedia menerima kehadirannya. Sesekali, perempuan itu bahkan mengirim pesan untuk menanyakan kondisinya.Bagi orang lain, perhatian sekecil itu mungkin tidak berarti apa-apa.Namun, bagi Langga, satu pesan dari Febi sudah cukup membuatnya tersenyum sepanjang hari.Pagi itu, Langga berdiri di depan cermin apartemennya. Ia mengenakan kemeja biru muda dengan celana panjang hitam

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 132

    Rumah Sakit, Pagi Hari... Langga masih menatap Febi yang duduk di samping ranjangnya. Ada banyak hal yang ingin ia katakan kepada perempuan itu, tetapi untuk pertama kalinya, ia memilih menahan diri. Ia tidak ingin membuat Febi merasa tertekan. Perempuan itu sudah cukup banyak terluka karena dirinya. "Febi..." "Hm?" "Kamu sudah sarapan?" Febi mengerutkan kening. "Apa?" Langga tersenyum tipis. "Aku cuma bertanya. Kamu pasti belum makan sejak semalam, kan?" Febi terdiam. Sebenarnya, Langga benar. Sejak kejadian semalam, ia bahkan tidak memikirkan makanan. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan keadaan Langga, sampai-sampai ia lupa bahwa dirinya sendiri sedang mengandung. "Sudah," jawab Febi asal. Langga mengangkat sebelah alis. "Bohong." "Memangnya kamu tahu?" "Kelihatan dari wajahmu." Febi mendengus pelan. "Sudahlah, jangan sok tahu. Urus saja dirimu sendiri. Kamu itu pasien." Langga terkekeh, tetapi segera meringis karena luka di perutnya kembali terasa nyeri.

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 131

    Rumah Sakit, Pagi Hari... Cahaya matahari mulai menembus jendela ruang perawatan. Suasana ruangan itu begitu tenang. Hanya terdengar bunyi alat medis yang sesekali berbunyi pelan, mengiringi seorang laki-laki yang masih terbaring dengan selang infus terpasang di tangannya. Langga. Lelaki itu perlahan menggerakkan jari-jarinya. Keningnya berkerut samar. Rasa nyeri di sisi perutnya membuatnya kesulitan bergerak. Ia mencoba membuka mata, tetapi pandangannya masih terasa kabur. Beberapa detik kemudian, matanya akhirnya terbuka sepenuhnya. Langga menatap langit-langit putih di atasnya. Di mana dia? Kenapa tubuhnya terasa begitu sakit? Lalu, ingatan tentang kejadian semalam perlahan kembali memenuhi pikirannya. Langga langsung berusaha bangkit. "Akh!" Teriak Langga. Rasa sakit membuatnya meringis. Tangannya refleks memegang sisi perutnya yang terluka. "Pak! Anda sudah sadar?" Seorang perawat yang sedang memeriksa pasien di sebelahnya segera menghampiri. "Jangan bergerak dulu, Pak.

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 130

    "Kak, tenang. Kita berdoa saja, dia... selamat." Miko memeluk Febi erat. Meskipun ia belum mengenal Langga, Miko bisa melihat betapa ketakutan kakaknya saat ini. Laki-laki itu jelas bukan orang biasa bagi Febi. Bahkan, melihat cara Febi menangis, Miko mulai menduga ada sesuatu yang jauh lebih rumit di antara mereka. Namun, ia memilih diam. Ia tidak ingin bertanya sekarang. Bukan saat kakaknya sedang begitu ketakutan. Febi mengangguk kecil di dalam pelukan Miko. "Dia harus selamat, Mik..." Suaranya bergetar. "Aku belum sempat mengatakan sesuatu kepadanya." Miko mengusap punggung kakaknya. "Kalau begitu, nanti Kakak bilang sendiri. Makanya, sekarang kita berdoa supaya dia cepat sembuh." Febi memejamkan mata. Kedua tangannya bertaut di depan dada. "Ya Allah, aku mohon..." Air matanya kembali mengalir. "Kalau memang masih ada kesempatan untukku memperbaiki semuanya dengan dia, tolong jangan ambil dia sekarang." Febi menarik napas yang terasa begitu berat. "Aku masih marah kepa

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 129

    "Aku takut kehilangan dia." Kalimat itu menggantung di udara. Miko yang berdiri di samping Febi terdiam. Ia menatap kakaknya cukup lama. Miko memilih tidak bertanya. Ia tidak ingin mencampuri privasi Febi. Ia melihat sendiri bagaimana seorang laki-laki datang dan mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi kakaknya. Dan sekarang... kakaknya menangis karena takut kehilangan laki-laki itu. Miko akhirnya menghela napas."Kak..." Febi tidak menjawab. "Dia bakal selamat." Febi mengusap air matanya. "Kamu nggak tahu." "Iya." Miko menatap jalan yang sudah kembali gelap. "Aku memang nggak tahu." Kemudian ia menatap Febi. "Tapi aku rasa dia nggak akan menyerah hanya karena luka seperti itu." Febi terdiam. "Kenapa?" "Karena..." Miko tersenyum kecil. "Dia baru saja datang sejauh ini cuma buat memastikan Kakak aman." Febi menunduk. Air matanya kembali jatuh. Ia menggigit bibir untuk menahan tangis. "Dia bodoh." Miko mengangguk. "Banget." Febi menatapnya. Miko mengangkat bahu. "Kalau ad

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status