Teilen

bab 5

last update Veröffentlichungsdatum: 23.11.2025 20:20:05

Jantung Febi hampir lepas rasanya ketika mendengar namanya dipanggil Langga seperti itu.

Ia mengangkat kepala perlahan. “I-iya, Pak?”

Febi dapat merasakan Langga yang menatapnya sesaat. Febi tahu pria itu adalah dosennya pagi ini, namun rasanya berbeda ketika telah terjadi sebuah obrolan tadi malam.

Pada akhirnya, Langga bersuara.

“Bagaimana menurut Anda batas antara diskresi dan penyalahgunaan kekuasaan?”

Seluruh kelas menoleh padanya.

Febi menelan ludah. Pertanyaan itu sederhana dalam konteks akademik. Namun, di kepalanya, maknanya terasa jauh lebih dalam.

Ia menarik napas perlahan. “Diskresi masih berada dalam koridor hukum dan etika, Pak,” jawab Febi, berusaha menjaga suaranya tetap stabil dan tenang, walaupun jantungnya sudah tak karuan. “Sedangkan penyalahgunaan kekuasaan terjadi saat kewenangan digunakan untuk kepentingan pribadi dan merugikan pihak lain.”

Langga tidak langsung menjawab. Ia membolak-balikan halaman buku di atas mejanya, kemudian bergantian menatap Febi. “Dan siapa yang menentukan batas etika itu?”

Febi terdiam sejenak, ia sedang berpikir. “Norma sosial dan sistem hukum, Pak. Serta integritas pribadi pejabat yang bersangkutan.”

Beberapa mahasiswa mengangguk pelan, seolah membenarkan jawaban lugas dari Febi.

Langga tidak langsung memberikan komentar.

Tatapannya justru tetap tertuju pada Febi beberapa detik.

“Bagus,” kata Langga.

Febi menghela napas lega. Nisa menyenggolnya dari samping, lalu memberikan ibu jari sambil memaparkan wajah kagum dengan jawaban Febi.

Baru saja Febi menghela napasnya, tiba-tiba Langga bersuara lagi.

“Jangan menunduk ketika di kelas. Kalau mau tidur, lebih baik keluar saja.”

Febi mengerjap. Mata Langga tidak tertuju padanya. Febi menoleh ke belakang, ternyata ada beberapa mahasiswa yang juga menundukkan kepala. Namun, Febi tahu bahwa perkataan itu juga ditujukan untuknya.

"Baik, baca materi yang sudah saya berikan di email. Lalu kerjakan soal-soalnya. Jika ada yang tidak paham, silakan ditanyakan.”

Terdengar jawaban lesu dari para mahasiswa. Sementara itu, Febi memberanikan diri menatap Langga lagi. Tanpa disangka, pria itu sudah lebih dahulu menatapnya.

Febi langsung cepat-cepat memalingkan wajahnya.

“Feb,” Nisa tiba-tiba berbisik. “Pak Langga kenapa ngeliatin kamu mulu, ya?”

Febi berdebar lagi. Namun ia buru-buru berdalih. “Kayaknya gara-gara tadi aku sempat nunduk, Nis. Dikira nggak merhatiin mungkin.”

Nisa meringis. "Huh, makanya, Feb. Jangan macem-macem di kelas dia deh!” bisik Nisa lagi.

Febi tersenyum kecil dan mengangguk, ia kembali fokus pada materi yang ada di depannya, walaupun matanya sesekali melirik ke arah Langga, yang saat itu tampak santai sambil sibuk dengan laptopnya.

Padahal Febi saja sangat canggung berada di kelas itu, tapi bisa-bisanya pria itu malah bersikap santai!

Tanpa terasa, kelas sudah berakhir. Febi memerhatikan Langga yang mengemasi tumpukkan kertas dan laptopnya, kemudian berjalan keluar kelas.

"Feb, temenin aku ketemu sama Bu Yosi, yuk! Ada yang mau aku bahas sama beliau," kata Nisa tiba-tiba saat Febi sedang sibuk berkemas.

Febi menganggukkan kepalanya. Ia masih punya banyak waktu hari ini. "Oke."

Nisa tersenyum lebar, keduanya lalu berjalan menyusuri koridor kampus sambil berbincang kecil.

Beberapa dari mahasiswa menyapa Febi. Di kampus, Febi memang cukup populer. Tak heran, wajahnya begitu cantik dan prestasinya cukup mengesankan.

Begitu sampai di depan ruangan Bu Yosi, Nisa segera mengetuk pintu itu dengan pelan.

Nisa menoleh ke arah Febi sebelum melangkah masuk, ia berbisik. "Feb, tungguin aku di sini, ya!”

Febi terkekeh kecil dan mengiyakan. Nisa nampaknya begitu gugup untuk bertemu dosen galak itu.

Febi memutuskan untuk duduk di sebuah kursi yang ada di depan ruangan itu. Namun, belum sempat bokongnya menyentuh kursi itu, sebuah tangan besar menarik pergelangan tangannya, membuat Febi tersentak.

Ia dibawa masuk ke sebuah ruangan yang sangat ia kenal.

Klek!

Bunyi pintu yang langsung dikunci membuat jantung Febi berdebar keras. Febi menengadah dan langsung terkejut.

"Pak Langga! Apa yang bapak-"

Pria itu langsung menunduk dan berbisik.

"Diam, kalau kamu tidak mau teman-teman kamu tau tentang kita."

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 119

    Ruangan itu mendadak terasa begitu sunyi. Kalimat Langga masih menggantung di udara. "Secepatnya saya akan urus surat perceraian kita." Sintia membeku. Wajahnya perlahan kehilangan warna. Air mata terus mengalir tanpa bisa dihentikan. "Mas... jangan..." suaranya bergetar hebat. Ia kembali meraih ujung celana Langga dengan tangan gemetar. "Tolong jangan tinggalin aku..." Namun Langga menatap tangan itu dengan dingin. Tidak ada lagi rasa iba. Tidak ada lagi kelembutan yang selama puluhan tahun selalu ia berikan. Perlahan ia melepaskan genggaman Sintia. "Apa menurut kamu saya masih bisa tinggal setelah tahu semua ini?" "Mas... aku memang salah... tapi aku benar-benar cinta sama kamu..." Langga tertawa pelan. Tawa yang terdengar pahit. "Cinta?" Matanya memerah, menahan penuh amarah. "Kamu menyebut ini cinta setelah mengambil seluruh hidup saya?" Sintia hanya bisa menangis. "Aku takut waktu itu..." "Dan karena ketakutanmu, kamu membangun hidup di atas kebohongan." Suara Langga

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 118

    Malam itu terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Di teras belakang rumah kecil Dalung, Febi masih duduk memeluk kedua lututnya. Hasil USG itu berada di genggamannya. Sesekali jemarinya mengusap gambar kecil yang bahkan belum terlihat jelas. Air matanya jatuh tanpa suara. “Aku nggak tahu harus gimana...” bisiknya lirih. Angin malam berembus pelan. Dan sejak mengetahui dirinya hamil, Febi benar-benar merasa takut. Melainkan takut pada masa depan anaknya. “Apa nanti kamu bakal benci sama Ibunya?.” suaranya pecah. “Karena Ibu nggak bisa ngasih keluarga yang utuh buat kamu...” Tangannya kembali menempel di perutnya. Namun tiba-tiba... “Kamu nggak tidur?” Febi tersentak. Dalung berdiri di ambang pintu teras sambil membawa dua cangkir teh hangat. “Lung...” Dalung berjalan mendekat lalu duduk di sampingnya. Matanya sempat menangkap kertas USG yang masih berada di tangan Febi. Namun lelaki itu tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menyodorkan teh hangat. “Minum.” Febi me

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 117

    Hujan masih mengguyur di luar gedung hotel. Namun bagi Langga, suara hujan itu sudah tidak terdengar lagi. Yang terdengar hanya dengungan keras di kepalanya sendiri. Puluhan tahun hidupnya. Puluhan tahun yang mungkin dibangun di atas sebuah kebohongan. Rendra berdiri beberapa langkah darinya dengan wajah penuh penyesalan. "Langga..." Namun lelaki itu hanya tertawa kecil. Tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan. "Gue ninggalin hidup gue sendiri..." suaranya serak. Tangannya gemetar. "Gue ninggalin perempuan yang gue cintai..." Matanya memerah. "Gue nikahin Sintia." Napasnya mulai memburu. "Gue jadi bapak buat Samuel." Brak! Tinju Langga menghantam dinding dekatnya. Sampai buku-buku jarinya memerah. "Dan sekarang lo bilang semua itu mungkin bohong?!" Beberapa orang di lounge mulai memperhatikan mereka. Namun Langga tidak peduli. Karena semua kemarahan yang selama ini terkubur seperti meledak sekaligus. Rendra memejamkan mata. "Gue nggak pernah berani ngomong...

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 116

    Malam itu, rumah besar keluarga Langga tidak benar-benar tidur. Lampu ruang tengah masih menyala terang meski waktu sudah lewat tengah malam. Namun suasana rumah itu terasa dingin. Kosong. Dan penuh kemarahan yang belum selesai. Sintia duduk diam di sofa sambil menatap layar ponselnya tanpa ekspresi. Rambutnya berantakan. Matanya sembab. Tetapi kali ini… tidak ada lagi tangisan. Yang tersisa hanya sakit hati. Dan kebencian. Tatapannya perlahan bergerak membaca ulang berita tentang Febi yang masih ramai di media sosial. Komentar-komentar menghina perempuan itu terus bertambah. Pelakor. Murahan. Penghancur rumah tangga orang. Sudut bibir Sintia perlahan terangkat tipis. Namun rasa puas itu ternyata belum cukup. Karena perempuan itu sadar satu hal— Febi menghilang. Dan selama Febi masih bebas di luar sana… Langga tidak akan pernah berhenti mencarinya. Dada Sintia langsung kembali terasa panas saat mengingat bagaimana Langga pergi dua hari terakhir hanya untuk

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 115

    Dalung langsung menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya kasar. Tatapannya jatuh pada tangan Febi yang terus memegangi perutnya sendiri dengan gemetar. Dan untuk beberapa detik, lelaki itu terlihat benar-benar berpikir keras. “Dia udah mulai curiga tentang semuanya…” gumamnya pelan. Febi langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Aku nggak siap…” isaknya pecah lirih. “Aku nggak siap kalau dia tau…” Dalung berjongkok pelan di depan perempuan itu. “Lihat aku.” Namun Febi terus menangis sambil menggeleng. “Feb…” Perlahan Dalung menggenggam kedua tangan perempuan itu agar turun dari wajahnya. Dan saat mata mereka bertemu, dada Dalung langsung terasa nyeri. Karena perempuan di depannya benar-benar ketakutan sekarang. “Aku janji…” suara Dalung rendah. “Gue nggak bakal biarin siapa pun nyakitin lo lagi.” Air mata Febi jatuh semakin deras. “Tapi ini anak dia, Lung…” napasnya bergetar hebat. “Mana mungkin bisa terus disembunyiin…” Dalung terdiam. Karena itu me

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 114

    Dalung langsung menangkap arah tatapan Langga. Dan dalam satu detik, lelaki itu tahu bahaya besar baru saja datang. Suara muntah Febi masih terdengar samar dari dalam kamar mandi. Membuat wajah Langga perlahan berubah kaku. Tatapannya kembali mengarah ke pintu kamar mandi dengan napas mulai tidak teratur. “Dia sakit apa?” Pertanyaan itu terdengar pelan. Namun justru itulah yang membuat suasana semakin menegangkan. Dalung langsung menyahut cepat sebelum siapa pun sempat berpikir lebih jauh. “Maag.” Langga menoleh tajam. “Dia emang gampang kambuh kalau stres.” lanjut Dalung santai sambil menyandarkan tubuh ke dinding. “Lo sendiri bikin hidup dia kayak neraka.” Namun Langga tidak langsung percaya. Karena tadi… wajah Febi terlalu pucat. Dan cara perempuan itu buru-buru menutup mulutnya terasa familiar di kepalanya, seperti Sintia yang dulu saat hamil Samuel. “Udah berapa lama dia muntah-muntah?” Dalung langsung menatap Langga dingin. “Lo interogasi gue?” “Jawab.” “Gu

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status