MasukJantung Febi hampir lepas rasanya ketika mendengar namanya dipanggil Langga seperti itu.
Ia mengangkat kepala perlahan. “I-iya, Pak?” Febi dapat merasakan Langga yang menatapnya sesaat. Febi tahu pria itu adalah dosennya pagi ini, namun rasanya berbeda ketika telah terjadi sebuah obrolan tadi malam. Pada akhirnya, Langga bersuara. “Bagaimana menurut Anda batas antara diskresi dan penyalahgunaan kekuasaan?” Seluruh kelas menoleh padanya. Febi menelan ludah. Pertanyaan itu sederhana dalam konteks akademik. Namun, di kepalanya, maknanya terasa jauh lebih dalam. Ia menarik napas perlahan. “Diskresi masih berada dalam koridor hukum dan etika, Pak,” jawab Febi, berusaha menjaga suaranya tetap stabil dan tenang, walaupun jantungnya sudah tak karuan. “Sedangkan penyalahgunaan kekuasaan terjadi saat kewenangan digunakan untuk kepentingan pribadi dan merugikan pihak lain.” Langga tidak langsung menjawab. Ia membolak-balikan halaman buku di atas mejanya, kemudian bergantian menatap Febi. “Dan siapa yang menentukan batas etika itu?” Febi terdiam sejenak, ia sedang berpikir. “Norma sosial dan sistem hukum, Pak. Serta integritas pribadi pejabat yang bersangkutan.” Beberapa mahasiswa mengangguk pelan, seolah membenarkan jawaban lugas dari Febi. Langga tidak langsung memberikan komentar. Tatapannya justru tetap tertuju pada Febi beberapa detik. “Bagus,” kata Langga. Febi menghela napas lega. Nisa menyenggolnya dari samping, lalu memberikan ibu jari sambil memaparkan wajah kagum dengan jawaban Febi. Baru saja Febi menghela napasnya, tiba-tiba Langga bersuara lagi. “Jangan menunduk ketika di kelas. Kalau mau tidur, lebih baik keluar saja.” Febi mengerjap. Mata Langga tidak tertuju padanya. Febi menoleh ke belakang, ternyata ada beberapa mahasiswa yang juga menundukkan kepala. Namun, Febi tahu bahwa perkataan itu juga ditujukan untuknya. "Baik, baca materi yang sudah saya berikan di email. Lalu kerjakan soal-soalnya. Jika ada yang tidak paham, silakan ditanyakan.” Terdengar jawaban lesu dari para mahasiswa. Sementara itu, Febi memberanikan diri menatap Langga lagi. Tanpa disangka, pria itu sudah lebih dahulu menatapnya. Febi langsung cepat-cepat memalingkan wajahnya. “Feb,” Nisa tiba-tiba berbisik. “Pak Langga kenapa ngeliatin kamu mulu, ya?” Febi berdebar lagi. Namun ia buru-buru berdalih. “Kayaknya gara-gara tadi aku sempat nunduk, Nis. Dikira nggak merhatiin mungkin.” Nisa meringis. "Huh, makanya, Feb. Jangan macem-macem di kelas dia deh!” bisik Nisa lagi. Febi tersenyum kecil dan mengangguk, ia kembali fokus pada materi yang ada di depannya, walaupun matanya sesekali melirik ke arah Langga, yang saat itu tampak santai sambil sibuk dengan laptopnya. Padahal Febi saja sangat canggung berada di kelas itu, tapi bisa-bisanya pria itu malah bersikap santai! Tanpa terasa, kelas sudah berakhir. Febi memerhatikan Langga yang mengemasi tumpukkan kertas dan laptopnya, kemudian berjalan keluar kelas. "Feb, temenin aku ketemu sama Bu Yosi, yuk! Ada yang mau aku bahas sama beliau," kata Nisa tiba-tiba saat Febi sedang sibuk berkemas. Febi menganggukkan kepalanya. Ia masih punya banyak waktu hari ini. "Oke." Nisa tersenyum lebar, keduanya lalu berjalan menyusuri koridor kampus sambil berbincang kecil. Beberapa dari mahasiswa menyapa Febi. Di kampus, Febi memang cukup populer. Tak heran, wajahnya begitu cantik dan prestasinya cukup mengesankan. Begitu sampai di depan ruangan Bu Yosi, Nisa segera mengetuk pintu itu dengan pelan. Nisa menoleh ke arah Febi sebelum melangkah masuk, ia berbisik. "Feb, tungguin aku di sini, ya!” Febi terkekeh kecil dan mengiyakan. Nisa nampaknya begitu gugup untuk bertemu dosen galak itu. Febi memutuskan untuk duduk di sebuah kursi yang ada di depan ruangan itu. Namun, belum sempat bokongnya menyentuh kursi itu, sebuah tangan besar menarik pergelangan tangannya, membuat Febi tersentak. Ia dibawa masuk ke sebuah ruangan yang sangat ia kenal. Klek! Bunyi pintu yang langsung dikunci membuat jantung Febi berdebar keras. Febi menengadah dan langsung terkejut. "Pak Langga! Apa yang bapak-" Pria itu langsung menunduk dan berbisik. "Diam, kalau kamu tidak mau teman-teman kamu tau tentang kita.""Kakak mau ke minimarket dulu, kamu istirahat dulu." Febi mengelus kepala adiknya dengan sayang.Miko menganggukkan kepalanya, walaupun tengah berkabung dengan kepergian ibunya, ia tetap berpikir waras untuk selalu menyayangi kakaknya, hanya kakaknya lah satu-satunya keluarganya sekarang.“Kak… jangan lama-lama, ya.” Suara Miko lirih, serak oleh tangis yang belum benar-benar reda. Bocah itu duduk di tepi kasur dengan mata sembab, memeluk lututnya sendiri seperti sedang menahan dunia agar tidak runtuh lagi.Febi tersenyum tipis. Senyum yang rapuh. Senyum yang dipaksakan tetap hidup meski hatinya sendiri sedang berduka.“Iya, Kakak cuma sebentar.”Ia membungkuk pelan, merapikan poni Miko yang berantakan lalu mengusap kepalanya dengan lembut. “Kalau capek, tidur dulu.”Miko menunduk sesaat sebelum akhirnya berbisik pelan, “Kakak jangan sedih sendirian di luar.”Kalimat itu membuat dada Febi terasa sesak.Rumah kecil itu masih dipenuhi aroma kehilangan. Masih ada jejak tangisan di setiap
“Mas...” Suara itu pecah pelan di tengah koridor rumah sakit yang mulai dipenuhi aroma obat dan langkah kaki tergesa. Sintia berlari kecil menghampiri Langga yang baru tiba di depan ruangan UGD. Wajah perempuan itu tampak kacau, matanya sembab, rambutnya bahkan sedikit berantakan seolah ia sudah terlalu lama menangis sendirian. Dan tanpa menunggu apa pun lagi, Sintia langsung memeluk tubuh pria itu erat. Seakan Langga adalah satu-satunya tempat yang masih mampu membuatnya berdiri. Langga membeku. Tubuhnya menegang sesaat. Tangannya menggantung di udara, tidak membalas, namun juga tidak benar-benar menolak. Pria itu sebenarnya ingin melepaskan pelukan tersebut. Ingin menghempaskan tubuh wanita itu. Ingin menjaga jarak yang sejak lama mulai retak di antara mereka. Namun langkahnya tertahan. Matanya menangkap sosok mertuanya, yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Di ujung sana. Pria paruh baya itu menatap mereka dengan mata yang penuh selidik, seolah memastika
"Lepas bangsat!" "Beraninya kalian sama orang kayak gue!!" Dalung duduk di atas kursi. Punggungnya bersandar pada dinding dingin, tubuhnya sedikit merosot, seolah lelah menahan sesuatu yang terlalu lama ia pendam. Lampu di atas berkedip samar, menciptakan bayangan yang bergerak pelan di wajahnya. Tangannya terikat kencang, bahkan ia kesulitan membukanya. Wajahnya… tidak lagi utuh seperti biasanya. Lebam di sana-sini. Sudut bibirnya pecah. Ada garis darah yang sudah mengering, menempel seperti jejak cerita yang belum selesai. Ia meringis pelan. Seolah rasa sakit itu datang bergelombang, tidak pernah benar-benar pergi, hanya berganti cara untuk menyiksa. Namun anehnya di balik semua itu, senyumnya masih ada, sebuah senyuman miring tercetak jelas di bibir pria itu. Seolah dunia boleh saja menghancurkannya, tapi tidak akan pernah benar-benar memiliki dirinya. Ia mengangkat sedikit wajahnya, pelan… sangat pelan… seakan bahkan gerakan sekecil itu pun terasa seperti menga
Langkah kaki itu datang tergesa, beberapa dokter memasuki ruangan dengan wajah yang mencoba tetap tenang, meski terselip sesuatu yang tak bisa mereka sembunyikan sepenuhnya. Febi masih di sana, ia masih setia menggenggam tangan ibunya. Masih berharap… keajaiban itu datang kembali. Satu dokter memeriksa, yang lain ikut membantu. Gerakan mereka cepat, terlatih, seperti waktu masih bisa dikejar jika cukup sigap. Alat-alat berbunyi lebih nyaring sesaat, seolah ikut berusaha mempertahankan sesuatu yang perlahan sudah pergi. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tidak bisa dibohongi. Tatapan mereka. Saling bertemu sekejap. Dan kembali lagi—dengan diam yang terlalu panjang. Seorang dokter menarik napas pelan. Dan hingga detik-detik itu terasa seperti menggantung di udara, menunggu untuk jatuh dan menghancurkan segalanya. Febi tidak bergerak. Ia hanya menatap, bergantian, dari wajah para dokter, ke wajah ibunya, lalu kembali lagi. Hingga akhirnya… dokter itu menoleh
Febi hampir tak sempat menutup pintu taksi itu dengan benar—ia sudah berlari lebih dulu, seolah waktu sedang mengejarnya dari belakang. Aspal masih menyimpan sisa panas, namun tubuhnya terasa dingin, dingin yang merambat dari dada hingga ke ujung jemari. Nafasnya tersengal, pecah di antara langkah-langkah yang tak lagi beraturan. Ia tidak peduli pada tatapan orang-orang, tidak peduli pada suara-suara yang berseliweran. Yang ia dengar hanya satu—detak jantungnya sendiri, yang berdentam terlalu keras, terlalu cepat, seperti ingin keluar dari tubuhnya. Lorong rumah sakit itu terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Lampu-lampu putih menggantung dingin di atas kepalanya, memantulkan bayangan yang tampak asing. Setiap langkahnya menggema, seakan menegaskan bahwa ia sedang berlari menuju sesuatu yang belum siap ia hadapi. “Ibu...” Nama itu hanya berani ia ucapkan dalam hati, lirih, hampir tak terdengar, seolah jika diucapkan terlalu keras, kenyataan akan menjadi lebih nyata. K
"Kebetulan sekali, kamu mengajak saya bertemu sekarang Dalung. Ada hal yang sangat penting yang ingin saya tanyakan. Terlebih kamu juga susah sekali di hubungi." Ucap Langga saat keduanya kini berada di sebuah cafe tempat Dalung dulu bekerja. Dalung tersenyum tipis, ia berusaha keras untuk menahan gumpalan emosi yang memuncak saat melihat pria yang ada di hadapannya ini. Rasanya ia ingin menerjang pria itu, meluapkan semua emosi yang membara di dalam dadanya sana. Bagaimana Febi menceritakan apa yang di alami oleh gadis itu, bagaimana air matanya mengalir itu sungguh masih terngiang sangat jelas di kepala Dalung. Persetan jika pria itu yang memberikannya uang kemarin, ia sama sekali tidak peduli. Mau pria itu kaya raya dan punya power besar, ia tidak takut. "Tolong saya, Lung. Kamu pasti tau dimana tempat tinggal Febi. Tolong kamu beritahu saya dimana dia tinggal. Saya ingin bertemu dengannya." Ucap Langga lagi. Ia mengutarakan semua apa yang ingin ia katakan pada Dalung. Dalu







