Share

bab 7

Auteur: Mariahlia
last update Dernière mise à jour: 2026-02-26 14:37:40

Tubuh Febi gemetar bukan main. Napasnya tertahan. Ia menunggu dan menunggu. Meski di luar sedikit berisik, tapi Febi hanya bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang tidak karuan.

Detik yang terlewat terasa seperti berjam-jam lamanya.

Febi dapat merasakan napas Langga yang berhembus. Kali ini pria itu benar-benar dekat!

Namun, yang ditunggu tidak kunjung datang.

Langga melepaskan jari-jari yang bertengger di atas dagu Febi.

“Angkat teleponku nanti,” kata Langga.

Mendengar itu membuat Febi terkejut. Ia membuka matanya perlahan.

Meski bukan hal ‘buruk’ yang diharapkannya, kaki Febi tetap terasa lemas. Ia sedikit terhuyung, kehilangan keseimbangannya.

Saat ia hampir jatuh, Langga dengan sigap memegang legannya.

“Ceroboh,” kata Langga sambil melepaskan genggaman tangannya.

Febi mengedipkan matanya berkali-kali. Berusaha mencerna suasana. Lagi-lagi, ia merasa dipermainkan.

Sementara itu, ponselnya bergetar lagi. Nisa masih terus meneleponnya.

Febi menatap Langga dengan wajah yang panik. “Ma-maaf, Pak, saya harus-”

“Keluar,” potong Langga sambil mengarahkan wajahnya ke arah pintu.

Febi langsung meraih gagang pintu, mengatur wajah paniknya sesaat, kemudian beranjak keluar ruangan.

“Feb!” Nisa sudah menyambutnya. Gadis memanggil di lorong saat Febi menutup pintu.

“E-eh, Nisa,” jawab Febi sedikit canggung. “Maaf, aku tadi dipanggil Pak Langga.”

“Kamu dimarahin, Feb?” tanya Nisa.

Febi menggeleng.

Lebih parah dari itu! batin Febi.

“Nggak, Nisa. Tadi, Pak Langga cuma minta diskusiin ulang jawabanku di kelas,” dalih Febi. Ia tahu itu adalah kebohongan yang konyol. Ia hanya berharap Nisa tidak terlalu mempertanyakan itu.

“Begitu, ya?” Nisa mengangguk. “Ya sudah kalau begitu, ayo pulang.”

Febi mengiyakan. Dengan dada yang masih berdegup. Ia berjalan lemas menyusuri lorong kampus.

***

Rutinitas Febi pun masih sama. Selepas pulang dari kampus, ia bergegas pergi ke cafe tempatnya bekerja paruh waktu.

Sesampainya di cafe, Febi langsung berganti seragam dan mulai bekerja. Ia mulai dari menyapu lantai dan merapikan meja-meja yang berantakan.

Saat kembali ke dapur, seseorang menepuk bahunya. “Feb!”

Itu Dalung. Pria yang menawarkan ‘pekerjaan’ sugar baby-nya.

“Eh, Lung.”

“Gimana, Feb? Aman ‘kan ‘sugar daddy’ lo? Tajir banget ‘kan dia!?” Dalung langsung melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu sambil berbisik.

Sebetulnya Febi sama sekali tidak ingin membahas atau pun mengingat-ingat soal kliennya, yang ternyata adalah dosennya sendiri itu.

“Iya, Lung,” jawab Febi singkat.

“Lo disuruh macem-macem, Feb?” tanya Dalung lagi. Raut wajahnya seperti orang yang penasaran.

Febi menghela napas. Lalu menggeleng. “Nggak, Lung.”

Febi pikir, disuruh macam-macam oleh orang lain akan jauh lebih baik dari pada “dikurung” oleh dosennya sendiri. Namun, ia tidak mungkin memberitahu itu kepada Dalung.

“Baguslah. Memang yang ini, nggak suka macem-macem, Feb. Dulu, sama sugar baby yang lama juga begitu.”

Deg!

Febi terdiam sesaat. Jadi, ini bukan kali pertama Langga memiliki seorang sugar baby? Tapi bagaimana pun, pria itu terlihat memiliki segalanya. Wajar saja jika ia bisa semena-mena dengan uangnya.

Ketika sedang melamun, ponsel Febi bergetar. Ada notifikasi masuk. Febi membuka notifikasi itu.

Sebuah transferan uang. Jumlahnya … mengejutkan. Setelah itu, notifikasi pesan dari kontak bernama ‘L’ masuk. Itu Langga.

[Pakailah.]

“Wah!” seru Dalung yang ikut melihat. “Sugar daddy lo transfer secara cuma-cuma begitu!?”

“Ssst! Suaramu terlalu kencang!” bisik Febi sambil menyuruh Dalung menutup mulutnya.

Dalung mengangguk sambil tertawa. “Kapan-kapan traktir gue, Feb, dengan uang itu!”

Febi hanya mengangguk asal. Matanya masih fokus dengan layar ponsel. Ia jadi teringat pesan Miko yang belum sempat dibalasnya tadi.

Dengan cepat Febi mengetik pesan kepada Miko.

[Dek, nanti kakak transfer uang untuk obat baru ibu.]

Setelah mengirim pesannya, jari-jari Febi cekatan ke aplikasi bank dalam ponselnya. Ia segera mengirim uang kepada adiknya, uang dari transferan dadakan Langga itu.

Transaksi berhasil.

Febi lalu kembali ke aplikasi pesan, lalu mengirimkan balasan kepada Langga: [Terima kasih].

Apakah pria itu membaca pesan dia tadi …?

Febi langsung menggeleng. Mengalihkan perhatiannya sendiri. Ia tidak mau berpikir macam-macam.

Rencananya sekarang adalah uang-uang yang mengalir di tabungannya akan ia tabung dan atur dengan baik. Kemudian jika kontrak dengan Langga sudah berakhir, setidaknya Febi masih akan memiliki simpanan yang cukup.

Ia tidak mau terikat selamanya dengan dosennya sendiri!

Tanpa berlarut, Febi segera meletakkan ponselnya ke dalam saku, kemudian kembali bekerja.

Setelah shift-nya berakhir, Febi bergegas untuk mengunjungi ibunya lagi di rumah sakit. Ia sempat menerima pesan dari Miko, bahwa adiknya itu meminta Febi untuk menjaga ibunya di rumah sakit malam ini sebab Miko harus membetulkan motornya.

Baru saja Febi berjalan beberapa langkah dari cafe, ponselnya berdering. ‘L’.

Febi berlari kecil menjauh dari kerumunan orang.

“Halo?” bisik Febi.

“Datang ke tempat saya malam ini. Tidak ada penolakan.”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 8

    Suara di seberang sana terputus begitu saja setelah kalimat itu selesai diucapkan. Tidak ada salam. Tidak ada penjelasan. Hanya sebuah perintah yang mutlak. Febi masih memegang ponselnya di dekat telinga, meski layar sudah kembali gelap. Jantungnya berdetak begitu keras sampai ia takut orang-orang di sekitarnya bisa mendengarnya. Angin malam menyentuh pipinya yang terasa panas. Lampu-lampu jalan menyala redup, memantulkan cahaya kekuningan di aspal yang mulai lembap oleh embun. Datang ke tempat saya malam ini. Tidak ada penolakan. Kalimat itu berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak yang terus mengulang bagian yang sama. Tangannya perlahan turun. Ponsel itu terasa berat, seolah bukan benda kecil yang biasa ia genggam setiap hari. Ia menelan ludahnya pelan. Rumah sakit. Ibu. Miko. Semua itu melintas cepat di benaknya. Ia baru saja mentransfer uang untuk obat ibunya. Ia baru saja merasa sedikit lega. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia ber

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 7

    Tubuh Febi gemetar bukan main. Napasnya tertahan. Ia menunggu dan menunggu. Meski di luar sedikit berisik, tapi Febi hanya bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang tidak karuan. Detik yang terlewat terasa seperti berjam-jam lamanya. Febi dapat merasakan napas Langga yang berhembus. Kali ini pria itu benar-benar dekat! Namun, yang ditunggu tidak kunjung datang. Langga melepaskan jari-jari yang bertengger di atas dagu Febi. “Angkat teleponku nanti,” kata Langga. Mendengar itu membuat Febi terkejut. Ia membuka matanya perlahan. Meski bukan hal ‘buruk’ yang diharapkannya, kaki Febi tetap terasa lemas. Ia sedikit terhuyung, kehilangan keseimbangannya. Saat ia hampir jatuh, Langga dengan sigap memegang legannya. “Ceroboh,” kata Langga sambil melepaskan genggaman tangannya. Febi mengedipkan matanya berkali-kali. Berusaha mencerna suasana. Lagi-lagi, ia merasa dipermainkan. Sementara itu, ponselnya bergetar lagi. Nisa masih terus meneleponnya. Febi menatap Langg

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 6

    Bulu kuduk Febi langsung meremang. Dominasi Langga membuatnya langsung terdiam.Pria ini terlalu dekat! Febi bahkan bisa merasakan napas hangat milik Langga di samping lehernya. Langga tidak menyentuhnya sama sekali, namun itu cukup membuat Febi bergetar.“Pak…?”Suaranya nyaris tak terdengar. Lebih seperti hembusan yang lolos tanpa sengaja dari sela bibirnya.Febi meremas kedua tangannya. Jari-jarinya saling bertaut, kuku menekan kulit sendiri hingga memucat. Ia menunduk, tidak berani menatap pria yang ada di depannya ini. Ruangan itu sangat sepi, hanya terdengar suara detak jantung Febi yang tak karuan. Febi berharap suara debarannya tidak dapat terdengar Langga. Febi menghembuskan nafasnya berulang kali, mencoba menetralkan detak jantungnya, namun sial, jantungnya sama sekali tidak mau bekerjasama dengannya. Dan Langga, pria itu tidak langsung menjauh.“Pak Langga, jangan seperti ini! Ini di dalam kampus,” Febi memberanikan diri untuk bersuara, meski masih menunduk.Febi dapat

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 5

    Jantung Febi hampir lepas rasanya ketika mendengar namanya dipanggil Langga seperti itu. Ia mengangkat kepala perlahan. “I-iya, Pak?”Febi dapat merasakan Langga yang menatapnya sesaat. Febi tahu pria itu adalah dosennya pagi ini, namun rasanya berbeda ketika telah terjadi sebuah obrolan tadi malam.Pada akhirnya, Langga bersuara.“Bagaimana menurut Anda batas antara diskresi dan penyalahgunaan kekuasaan?”Seluruh kelas menoleh padanya.Febi menelan ludah. Pertanyaan itu sederhana dalam konteks akademik. Namun, di kepalanya, maknanya terasa jauh lebih dalam.Ia menarik napas perlahan. “Diskresi masih berada dalam koridor hukum dan etika, Pak,” jawab Febi, berusaha menjaga suaranya tetap stabil dan tenang, walaupun jantungnya sudah tak karuan. “Sedangkan penyalahgunaan kekuasaan terjadi saat kewenangan digunakan untuk kepentingan pribadi dan merugikan pihak lain.”Langga tidak langsung menjawab. Ia membolak-balikan halaman buku di atas mejanya, kemudian bergantian menatap Febi. “Dan s

  • Sugar Baby Dosen Tampan   bab 4

    Febi yakin wajahnya semakin memerah. Ia menggeleng cepat. “Bukan begitu maksud saya!” sanggah Febi.“Kalau begitu,” Langga membentangkan tangannya ke arah pintu. “Kamu boleh pulang.” ulangnya lagi. Febi menahan napasnya sesaat. Kemudian tanpa banyak basa-basi yang mungkin bisa merugikan dirinya lagi, Febi segera bergegas untuk pulang.Ia melesat ke luar unit apartemen itu dengan cepat dan masuk ke dalam lift. Di dalam lift, detak jantung Febi betul-betul tidak beraturan.Baru sampai di lantai dasar, ponsel Febi bergetar tiba-tiba.Ah, itu notifikasi pengingat bahwa Febi harus ke rumah sakit untuk menengok ibunya. Sebelum pergi ke rumah sakit, Febi menoleh ke belakang. Melihat lagi gedung apartemen mewah itu. Kemudian Febi menggeleng dan bergidik ngeri.Apa lagi yang menunggunya nanti? ***Begitu melangkah masuk ke rumah sakit, Febi seolah langsung lupa sesaat dengan kejadian di apartemen tadi. Isi kepala Febi langsung dipenuhi dengan kondisi ibunya. Setelah menyusuri lorong yang

  • Sugar Baby Dosen Tampan   Bab 3

    Febi terhenyak dengan perkataan pria itu. Ada rasa takut dan cemas bercampur jadi satu. Sungguh ia tidak mengerti dengan perkataan dari dosennya itu. ‘Seseorang yang dipilih? Pak Langga pasti melantur,’ batin Febi. Ia ingin sekali berlari keluar dari apartemen ini. Membuka pintu di depannya, turun ke lantai dasar, dan menghirup udara bebas kemudian melupakan semua ini. Namun sialnya, ia sama sekali tidak punya kekuatan apa pun. Dihadapi dengan pembayaran penalti dua kali lipat, tentu saja Febi langsung tidak mampu berkutat. Febi menghela nafasnya kasar. Matanya melirik ke arah pria tampan itu. Ia sedang sibuk mengutak-atik tablet yang ada di tangannya. Pria itu bahkan terlihat sangat santai sekali, seperti tidak terjadi sesuatu di antara mereka. Mata Febi kembali memindai apartemen mewah itu. Apartemennya terlihat betul-betul mewah bahkan barang-barang yang ada di sana terlihat begitu mengilap dan mahal. Febi menelan ludah. Keadaannya benar-benar jauh dari kondisinya, tidak se

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status