LOGINTubuh Febi gemetar bukan main. Napasnya tertahan. Ia menunggu dan menunggu. Meski di luar sedikit berisik, tapi Febi hanya bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang tidak karuan.
Detik yang terlewat terasa seperti berjam-jam lamanya. Febi dapat merasakan napas Langga yang berhembus. Kali ini pria itu benar-benar dekat! Namun, yang ditunggu tidak kunjung datang. Langga melepaskan jari-jari yang bertengger di atas dagu Febi. “Angkat teleponku nanti,” kata Langga. Mendengar itu membuat Febi terkejut. Ia membuka matanya perlahan. Meski bukan hal ‘buruk’ yang diharapkannya, kaki Febi tetap terasa lemas. Ia sedikit terhuyung, kehilangan keseimbangannya. Saat ia hampir jatuh, Langga dengan sigap memegang legannya. “Ceroboh,” kata Langga sambil melepaskan genggaman tangannya. Febi mengedipkan matanya berkali-kali. Berusaha mencerna suasana. Lagi-lagi, ia merasa dipermainkan. Sementara itu, ponselnya bergetar lagi. Nisa masih terus meneleponnya. Febi menatap Langga dengan wajah yang panik. “Ma-maaf, Pak, saya harus-” “Keluar,” potong Langga sambil mengarahkan wajahnya ke arah pintu. Febi langsung meraih gagang pintu, mengatur wajah paniknya sesaat, kemudian beranjak keluar ruangan. “Feb!” Nisa sudah menyambutnya. Gadis memanggil di lorong saat Febi menutup pintu. “E-eh, Nisa,” jawab Febi sedikit canggung. “Maaf, aku tadi dipanggil Pak Langga.” “Kamu dimarahin, Feb?” tanya Nisa. Febi menggeleng. Lebih parah dari itu! batin Febi. “Nggak, Nisa. Tadi, Pak Langga cuma minta diskusiin ulang jawabanku di kelas,” dalih Febi. Ia tahu itu adalah kebohongan yang konyol. Ia hanya berharap Nisa tidak terlalu mempertanyakan itu. “Begitu, ya?” Nisa mengangguk. “Ya sudah kalau begitu, ayo pulang.” Febi mengiyakan. Dengan dada yang masih berdegup. Ia berjalan lemas menyusuri lorong kampus. *** Rutinitas Febi pun masih sama. Selepas pulang dari kampus, ia bergegas pergi ke cafe tempatnya bekerja paruh waktu. Sesampainya di cafe, Febi langsung berganti seragam dan mulai bekerja. Ia mulai dari menyapu lantai dan merapikan meja-meja yang berantakan. Saat kembali ke dapur, seseorang menepuk bahunya. “Feb!” Itu Dalung. Pria yang menawarkan ‘pekerjaan’ sugar baby-nya. “Eh, Lung.” “Gimana, Feb? Aman ‘kan ‘sugar daddy’ lo? Tajir banget ‘kan dia!?” Dalung langsung melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu sambil berbisik. Sebetulnya Febi sama sekali tidak ingin membahas atau pun mengingat-ingat soal kliennya, yang ternyata adalah dosennya sendiri itu. “Iya, Lung,” jawab Febi singkat. “Lo disuruh macem-macem, Feb?” tanya Dalung lagi. Raut wajahnya seperti orang yang penasaran. Febi menghela napas. Lalu menggeleng. “Nggak, Lung.” Febi pikir, disuruh macam-macam oleh orang lain akan jauh lebih baik dari pada “dikurung” oleh dosennya sendiri. Namun, ia tidak mungkin memberitahu itu kepada Dalung. “Baguslah. Memang yang ini, nggak suka macem-macem, Feb. Dulu, sama sugar baby yang lama juga begitu.” Deg! Febi terdiam sesaat. Jadi, ini bukan kali pertama Langga memiliki seorang sugar baby? Tapi bagaimana pun, pria itu terlihat memiliki segalanya. Wajar saja jika ia bisa semena-mena dengan uangnya. Ketika sedang melamun, ponsel Febi bergetar. Ada notifikasi masuk. Febi membuka notifikasi itu. Sebuah transferan uang. Jumlahnya … mengejutkan. Setelah itu, notifikasi pesan dari kontak bernama ‘L’ masuk. Itu Langga. [Pakailah.] “Wah!” seru Dalung yang ikut melihat. “Sugar daddy lo transfer secara cuma-cuma begitu!?” “Ssst! Suaramu terlalu kencang!” bisik Febi sambil menyuruh Dalung menutup mulutnya. Dalung mengangguk sambil tertawa. “Kapan-kapan traktir gue, Feb, dengan uang itu!” Febi hanya mengangguk asal. Matanya masih fokus dengan layar ponsel. Ia jadi teringat pesan Miko yang belum sempat dibalasnya tadi. Dengan cepat Febi mengetik pesan kepada Miko. [Dek, nanti kakak transfer uang untuk obat baru ibu.] Setelah mengirim pesannya, jari-jari Febi cekatan ke aplikasi bank dalam ponselnya. Ia segera mengirim uang kepada adiknya, uang dari transferan dadakan Langga itu. Transaksi berhasil. Febi lalu kembali ke aplikasi pesan, lalu mengirimkan balasan kepada Langga: [Terima kasih]. Apakah pria itu membaca pesan dia tadi …? Febi langsung menggeleng. Mengalihkan perhatiannya sendiri. Ia tidak mau berpikir macam-macam. Rencananya sekarang adalah uang-uang yang mengalir di tabungannya akan ia tabung dan atur dengan baik. Kemudian jika kontrak dengan Langga sudah berakhir, setidaknya Febi masih akan memiliki simpanan yang cukup. Ia tidak mau terikat selamanya dengan dosennya sendiri! Tanpa berlarut, Febi segera meletakkan ponselnya ke dalam saku, kemudian kembali bekerja. Setelah shift-nya berakhir, Febi bergegas untuk mengunjungi ibunya lagi di rumah sakit. Ia sempat menerima pesan dari Miko, bahwa adiknya itu meminta Febi untuk menjaga ibunya di rumah sakit malam ini sebab Miko harus membetulkan motornya. Baru saja Febi berjalan beberapa langkah dari cafe, ponselnya berdering. ‘L’. Febi berlari kecil menjauh dari kerumunan orang. “Halo?” bisik Febi. “Datang ke tempat saya malam ini. Tidak ada penolakan.”Tiga minggu berlalu. Rumah kayu di kaki gunung itu menjadi tempat berlindung baru bagi Febi, Dalung, dan Miko. Meski sederhana, tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan mereka. Setiap pagi Dalung pergi bekerja di bengkel milik sahabat lama pamannya di kota kecil terdekat, sementara Febi mulai perlahan memulihkan diri. Mualnya masih sering datang. Namun setidaknya... Ia sudah bisa tersenyum lagi. Di sisi lain kota... Keadaan justru berbalik menghantam Sintia. Sejak Langga mengajukan gugatan cerai, rekening-rekening yang selama ini digunakan Sintia mulai diperiksa karena berkaitan dengan proses pembagian harta. Hal itu tanpa sengaja membuka sebuah fakta lain. Seorang perempuan bernama Rika datang ke kantor polisi dengan membawa setumpuk bukti transfer. "Aku ditipu..." katanya sambil menangis. Rika mengaku telah menginvestasikan uang miliaran rupiah ke sebuah usaha yang ditawarkan oleh teman lamanya, Sintia. Janji keuntungan besar membuatnya percaya. Namun usaha itu te
Deg. Febi refleks memeluk Miko semakin erat. "Kak..." Miko mulai menangis pelan. Febi mengusap rambut adiknya dengan tangan yang gemetar. "Nggak apa-apa... jangan bersuara." Padahal bibirnya sendiri bergetar hebat. Di luar rumah... Wanita itu melipat kedua tangannya. "Masih nggak mau keluar?" Salah seorang pria menggeleng. "Nggak." "Lalu?" Pria itu mengedarkan pandangan ke sekitar rumah. Tatapannya berhenti pada meteran listrik yang berada di sisi tembok depan. "Kita matikan listriknya." Wanita itu mengangguk pelan. "Bagus. Kalau rumah gelap dan panas, mereka pasti panik." Pria itu berjalan mendekati meteran. Klik! Dalam sekejap... Seluruh aliran listrik di rumah itu padam. Kipas angin berhenti berputar. Kulkas ikut mati. Rumah kecil itu mendadak sunyi. Di dalam... Febi langsung menoleh ke arah ruang tengah. "Listrik..." bisiknya lirih. Miko mulai panik. "Kak... kok mati?" Febi menggigit bibirnya. "Mereka... Mereka kayaknya memang sengaja." Belum sempat
Dalung membeku beberapa detik. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendengar kalimat itu keluar dari mulut Langga. "Saya takut Febi akan dicelakai wanita itu," suara Langga terdengar serak. "Saya mohon... bawa Febi sejauh mungkin. Masalah biayanya saya yang akan menanggung semuanya. Saya akan kirim uang untuk kalian, Dalung..." Dalung mengepalkan rahangnya. "Lagian kenapa gue harus percaya sama lo?" Sunyi. Beberapa detik kemudian Langga menjawab pelan. "Saya memang tidak pantas dipercaya. Tapi kali ini... saya tidak sedang memikirkan diri saya. Saya memikirkan Febi." Dan... "Anak saya." Kalimat terakhir itu membuat Dalung memejamkan mata sejenak. Jadi... Langga benar-benar sudah tahu. Dalung mengembuskan napas kasar. "Lo udah tahu soal bayinya." "Iya." Suara Langga nyaris tidak terdengar. "Saya baru tahu semalam." Dalung menggeleng pelan. "Gue harusnya nutup telepon ini sekarang." "Saya tidak keberatan kalau nanti kamu memukul saya. Tapi sekarang, tolong selamatkan Febi dulu
Deg. Tubuh Febi langsung menegang. Bukan, jelas tentu itu bukan suara Nisa. Selama bertahun-tahun berteman, Febi hafal betul nada bicara sahabatnya itu. Suara perempuan di luar terdengar dibuat lebih lembut, seolah sengaja menyamar. "Nggak..." bisiknya sangat pelan. Miko mengernyit bingung menatap sang kakak. "Kenapa, Kak?" Febi langsung menggenggam erat pergelangan tangan adiknya. "Itu bukan Nisa." Ucap Febi. "Hah?" Miko cengoh, ia sungguh sama sekali tidak paham dengan apa yang di katakan oleh sang kakak. "Kak–" "Sssst... Jangan bersuara." Febi membekap mulut adiknya, wajah Febi mendadak pucat. Jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa memenuhi telinganya sendiri. Di luar... Tok... Tok... Tok... "Febi..." Suara perempuan itu kembali terdengar. Ketukan di pintu terus berlanjut, seolah tidak akan pernah berhenti. "Ini aku, Nisa. Mbak, buka sebentar. Aku khawatir sama kamu." Air mata Febi hampir jatuh. Justru karena ia mengenal Nisa, ia tahu sahabatnya tidak mungkin m
Laura menutup telepon dengan tangan yang sedikit gemetar. Beberapa detik ia hanya menatap layar ponselnya. Entah mengapa, sejak berita tentang Febi tersebar, perasaannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia memang pernah ikut mempermalukan Febi. Namun melihat keadaan perempuan itu sekarang, muncul sedikit rasa bersalah yang terus menghantuinya. Sementara di rumah besar itu... Sintia meletakkan ponselnya perlahan. Tatapannya kembali jatuh pada foto keluarga di dinding. "Aku nggak akan kalah..." bisiknya lirih. "Aku sudah kehilangan terlalu banyak dan kali ini aku tidak akan mau kehilangan apapun lagi." Ucap Sintia penuh dendam. * Keesokan paginya. Rumah kecil Dalung mulai ramai oleh aroma sarapan. Dalung sedang menggoreng telur di dapur. Sedangkan Miko sibuk menyapu halaman sambil bersenandung kecil. Febi duduk di ruang tengah. Tangannya memegang secangkir teh hangat. Namun wajahnya masih terlihat pucat. Semalaman ia hampir tidak bisa memejamkan mata. "Loh, Kak?" Miko masuk sa
Ruangan itu mendadak terasa begitu sunyi. Kalimat Langga masih menggantung di udara. "Secepatnya saya akan urus surat perceraian kita." Sintia membeku. Wajahnya perlahan kehilangan warna. Air mata terus mengalir tanpa bisa dihentikan. "Mas... jangan..." suaranya bergetar hebat. Ia kembali meraih ujung celana Langga dengan tangan gemetar. "Tolong jangan tinggalin aku..." Namun Langga menatap tangan itu dengan dingin. Tidak ada lagi rasa iba. Tidak ada lagi kelembutan yang selama puluhan tahun selalu ia berikan. Perlahan ia melepaskan genggaman Sintia. "Apa menurut kamu saya masih bisa tinggal setelah tahu semua ini?" "Mas... aku memang salah... tapi aku benar-benar cinta sama kamu..." Langga tertawa pelan. Tawa yang terdengar pahit. "Cinta?" Matanya memerah, menahan penuh amarah. "Kamu menyebut ini cinta setelah mengambil seluruh hidup saya?" Sintia hanya bisa menangis. "Aku takut waktu itu..." "Dan karena ketakutanmu, kamu membangun hidup di atas kebohongan." Suara Langga







