LOGIN“Ma-maksud, Tuan?” ucap Kiara dengan suara kecil. Ia tidak mengerti dengan pertanyaan barusan.
Julian menatapnya tanpa ekspresi, kedua tangannya disilangkan di depan dada. Sorot matanya gelap, dalam, seolah bisa menelusup masuk ke dasar jiwa Kiara.
“Aku hanya ingin tahu,” katanya datar namun tegas, “bahwa apa yang sudah kubeli di hadapanku kini masih original.”
Kata-kata itu membuat tubuh Kiara seketika menegang. “Original?” gumamnya pelan, mencoba mencerna arti di balik kalimat sinis yang baru saja diucapkan Julian.
Namun sebelum sempat ia berpikir lebih jauh, langkah kaki berat lelaki itu mendekat.
Julian maju satu langkah, jaraknya kini hanya beberapa jengkal dari wajah Kiara.
Tubuh tinggi tegapnya menutupi sebagian cahaya lampu gantung di ruang itu, membuat bayangannya jatuh menutupi tubuh Kiara yang tampak mungil di hadapannya.
“Belum tersentuh oleh siapa pun,” lanjut Julian, suaranya lebih rendah, bergetar dengan nada yang sulit didefinisikan—antara ancaman dan godaan.
Kiara menelan salivanya dengan susah payah. Jantungnya berdetak cepat, seolah hendak meloncat keluar dari dadanya.
Ia berusaha menenangkan diri dengan menggenggam jemarinya sendiri, tapi jari-jari itu justru bergetar hebat. Napasnya pendek-pendek, dan setiap tarikan udara terasa menusuk dada.
“Te-tentu, Tuan. Aku belum pernah melakukan itu sebelumnya,” jawab Kiara dengan terbata, suaranya goyah namun tetap berusaha terdengar tegas.
Julian menaikkan sebelah alisnya, matanya menatap lurus tanpa kedip. “Benarkah?” tanyanya pelan, namun cukup membuat bulu kuduk Kiara berdiri.
Kiara mengangguk mantap, mencoba menunjukkan keyakinan di tengah rasa gugup yang melilit.
“Aku yakin seribu persen bahwa aku masih gadis, Tuan. Anda bisa membuktikannya nanti jika tidak percaya,” ucapnya dengan napas yang tersengal, tapi setiap katanya terdengar jujur.
Sekilas, bibir Julian melengkung membentuk senyum samar. Bukan senyum hangat, melainkan senyum yang sarat makna dan misteri.
Tatapannya menajam, menelusuri wajah Kiara dengan intensitas yang membuat udara di antara mereka mendadak menegang.
Tangannya perlahan terulur, menyentuh sisi wajah Kiara.
Jari-jarinya bergerak lembut, seolah membelai kulit halus itu, namun dalam kelembutan itu ada kekuasaan yang tak bisa ditolak.
Sentuhan itu membuat tubuh Kiara seketika membeku, matanya terpejam refleks karena tak sanggup menahan debaran di dadanya.
Ia bisa merasakan setiap gerakan lembut jari Julian, menyusuri rahang dan berhenti di bawah dagunya.
Sentuhan kecil itu saja cukup untuk membuat Kiara kehilangan keseimbangan batin. Ia tidak tahu harus melangkah mundur atau tetap diam.
Julian menatapnya lekat-lekat. “Aku paling benci dengan kebohongan, Kiara,” ucapnya perlahan namun tajam, seolah setiap katanya menggores udara dan menusuk langsung ke dalam hati gadis itu.
Kiara mencoba membalas tatapan itu, meski kedua lututnya terasa lemas. Ia ingin berkata lagi, ingin meyakinkan Julian bahwa ia tidak berbohong.
Namun, lidahnya seakan beku, dan yang bisa ia lakukan hanyalah menelan ludah dengan susah payah.
Senyap menguasai ruangan. Hanya terdengar detak jam di dinding dan napas mereka yang tak beraturan.
Julian akhirnya menjauhkan tangannya sedikit, tapi tatapannya tetap mengunci wajah Kiara.
“Kau tidak ingin bertanya kenapa aku membelimu, hm?” suaranya dingin, namun ada nada menantang di dalamnya.
Kiara menunduk sejenak sebelum berani membuka suara. “Aku sudah tahu, hanya sedikit,” ujarnya pelan.
“Dari asisten pribadimu, Tuan Max. Bahwa Anda sedang menghindari perjodohan yang sudah diatur oleh orang tua Anda.”
Julian menghela napas panjang, kedua matanya terpejam sesaat seolah mencoba menahan sesuatu di dalam pikirannya.
“Satu hal lagi yang ingin aku pastikan, Kiara,” ucap Julian dengan nada rendah namun tegas, suaranya bergema di ruang penthouse yang sunyi.
Kiara menegakkan tubuhnya spontan. Nafasnya tertahan sejenak, menunggu apa yang akan dikatakan oleh lelaki di depannya.
Wajahnya masih tampak gugup, tapi ia berusaha menjaga ketenangan di hadapan sosok berwibawa itu.
Julian menatapnya lama, sorot matanya tajam seperti pisau yang siap menguliti setiap kebohongan.
“Kau tidak punya kekasih?” tanyanya datar, tanpa nada emosi, namun cukup untuk membuat jantung Kiara kembali berdegup kencang.
Pertanyaan itu begitu sederhana, tapi cara Julian mengatakannya membuat udara di sekitarnya seakan menegang.
Ia menyilangkan tangan di dadanya sambil menunggu jawaban, sementara Kiara meremas ujung roknya perlahan.
“Aku hanya ingin memastikan,” lanjut Julian dengan suara yang lebih dalam. “Ke depannya, aku tidak mau ada masalah. Tapi kalau kau punya kekasih, sebaiknya beritahu aku dari sekarang.”
Kiara terdiam sejenak, mencoba memahami maksud di balik kata-kata itu.
Tatapannya jatuh ke lantai, ke arah lantai marmer yang dingin dan berkilau memantulkan cahaya lampu. Lalu dengan suara lembut namun pasti, ia menggeleng pelan.
“Hidupku sudah sibuk dengan merawat ibuku dan bekerja,” ucapnya lirih, namun jujur. “Jadi, tidak punya waktu untuk menjalin hubungan, Tuan.”
Julian memperhatikan setiap gerak bibir dan nada suara Kiara.
Tidak ada kebohongan di sana—hanya kepenatan dan kejujuran yang pahit. Tatapannya sedikit melunak, meski wajahnya tetap tanpa ekspresi berarti.
Dalam hatinya, Julian bergumam lirih, keputusannya sudah tepat.
Wanita itu polos, tidak punya siapa-siapa, dan tidak memiliki ikatan dengan lelaki lain. Sempurna untuk perannya.“Keputusan untuk membelinya, menjadikannya pelampiasan nafsu dan penurut atas setiap keinginanku—sudah sangat benar.”
“Baguslah kalau begitu.” Suara Julian terdengar dingin dan mantap. Ia kemudian berbalik, langkah kakinya mantap dan berwibawa menyusuri lantai menuju kamar pribadinya.
Kiara hanya bisa berdiri di tempat, tubuhnya kaku, matanya menatap punggung tegap lelaki itu hingga menghilang di balik pintu. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Keheningan menyelimuti ruangan begitu Julian menghilang. Hanya suara detak jam dan embusan pendingin udara yang terdengar samar.
Kiara menatap sekeliling, merasa canggung dan bingung dalam diam.
Tangannya menggenggam erat tas kecil yang ia bawa sejak tadi. “Kenapa aku ditinggal? Apakah bukan malam ini?” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada diri sendiri.
Ada kelegaan yang aneh di hatinya. Bagian dari dirinya berterima kasih karena malam itu—malam yang ia kira akan menjadi akhir dari kepolosannya—ternyata belum terjadi. Ia bisa bernapas sedikit lebih lega.
Namun rasa penasaran juga perlahan tumbuh di dalam pikirannya. Jika bukan malam ini, lalu untuk apa Julian memintanya datang dengan begitu mendesak?
Ia mengingat kembali tatapan tajam lelaki itu, suaranya yang dingin, dan kata-kata yang menggantung penuh makna. Perasaannya campur aduk—antara takut, bingung, dan penasaran.
Kiara melangkah ragu menuju sofa besar di tengah ruangan, hendak duduk sejenak untuk menenangkan diri. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara pintu terbuka dari arah kamar Julian.
Jantungnya langsung berdegup kencang lagi.
Julian muncul dari balik pintu dengan langkah santai namun berwibawa.
Rambutnya sedikit berantakan, kemeja putihnya kini tidak lagi terkancing rapat hingga memperlihatkan sebagian kulit dadanya yang bidang. Tatapan matanya tajam, misterius, dan sulit ditebak.
Di tangannya, lelaki itu membawa sesuatu. Kiara tidak sempat memperhatikan dengan jelas hingga benda itu melayang ke arahnya. Refleks, ia menangkapnya dengan kedua tangan.
Seketika matanya membulat ketika menyadari apa yang baru saja dilemparkan Julian padanya.
Satu set lingerie transparan berwarna merah menyala. Kain tipis itu terasa lembut di tangan, tapi pandangan Kiara membeku. Pipi dan lehernya memanas hebat dan darahnya berdesir cepat.
Julian bersandar di dinding dengan tangan terlipat di dada, memperhatikan reaksi Kiara dengan senyum samar yang nyaris tak terlihat.
“Pakai itu,” katanya datar, suaranya terdengar seperti perintah yang tak bisa ditolak.
“Aku tidak ingin sesi bercinta di malam pertama ini terasa kaku. Kau harus mengikuti semua perintahku, apa pun yang aku inginkan!”
Aroma khas rumah sakit yang menindas perlahan memudar, digantikan oleh kesibukan para perawat yang mulai melepas kabel-kabel monitor di ruangan Melisha. Sinar matahari pagi menembus jendela besar, menyinari wajah Melisha yang kini tampak jauh lebih segar.Warna kulitnya yang semula pucat pasi perlahan kembali merona. Di ambang pintu, Dokter Aris, kepala tim medis yang disewa khusus oleh Julian melangkah masuk dengan senyum tenang sambil membawa map rekam medis terbaru.“Tuan Romanov, Nona Kiara,” Dokter Aris menyapa dengan nada formal namun hangat. “Saya memiliki kabar yang sudah lama kita tunggu-tunggu.”Kiara berdiri seketika, jemarinya bertaut di depan dada, menatap dokter itu dengan harapan yang meluap-luap. Julian, yang berdiri tepat di belakangnya, meletakkan tangan di bahu Kiara, memberikan dukungan yang kokoh tanpa suara.“Bagaimana kondisi Ibu saya, Dok?” suara Kiara bergetar.Dokter Aris membuka mapnya. “Hasil pemeriksaan saraf dan fungsi organ pagi ini menunjukkan pemulihan
Lorong fasilitas psikiatri tingkat tinggi di pinggiran Oakhaven terasa dingin dan steril. Bau karbol yang menyengat menusuk hidung Julian saat ia melangkah menyusuri lantai linoleum putih yang mengkilap.Langkah sepatunya yang mahal bergema pelan di dinding beton yang tebal, kontras dengan kesunyian yang mencekam di tempat itu.Ia tidak datang ke sini sebagai kekasih, rekan bisnis, atau bahkan musuh yang ingin merayakan kemenangan. Ia datang untuk menutup sebuah bab yang telah terlalu lama terbuka.“Tuan Romanov, Nyonya Vanderbuilt sedang dalam periode obsesifnya pagi ini,” lapor seorang perawat senior sambil membukakan pintu besi dengan kartu akses.“Dia menolak makan dan terus menggumamkan angka-angka saham serta nama Anda. Kami harus membatasi aksesnya ke televisi karena setiap berita tentang penyitaan asetnya memicu histeria.”Julian mengangguk tanpa ekspresi. “Hanya lima menit. Aku ingin bicara dengannya sendirian.”Pintu terbuka, menyingkap sebuah ruangan kecil dengan jendela be
Layar televisi di ruang kerja Julian masih menyala, menampilkan wajah Natasha Vanderbuilt yang tertangkap kamera amatir saat diseret keluar dari lobi Romanov Group.Tidak ada lagi riasan sempurna atau setelan desainer yang licin; Natasha tampak hancur, rambutnya kusut, dan matanya liar menatap kilatan lampu flash para jurnalis. Dalam hitungan jam, citranya sebagai ratu bisnis Oakhaven runtuh total.“Media sosial menyebutnya 'Kejatuhan Sang Serigala Betina',” gumam Max sambil meletakkan tablet di meja Julian.“Teman-teman sosialitanya di klub eksklusif sudah mengeluarkan pernyataan resmi. Mereka memutus semua keanggotaan Natasha. Bahkan yayasan amalnya sendiri menolak dikaitkan dengan namanya. Dia menjadi musuh publik nomor satu atas tuduhan pengemplang pajak dan pencucian uang.”Julian menyesap kopinya, matanya tetap dingin menatap layar. “Orang-orang itu tidak pernah benar-benar menjadi temannya, Max. Mereka hanya mencintai uangnya. Begitu uang itu hilang, mereka akan menjadi orang p
Suasana di lobi utama Romanov Group mendadak tegang saat sebuah sedan mewah berwarna perak berhenti mendadak di depan pintu kaca sensor.Natasha Vanderbuilt keluar dengan langkah yang tidak lagi anggun; rambutnya sedikit berantakan, dan matanya merah menyala karena amarah yang bercampur dengan keputusasaan.Para petugas keamanan mencoba menghadangnya, namun Natasha berteriak histeris, menuntut untuk bertemu dengan Julian.“Minggir! Aku tahu dia ada di atas! Julian! Keluar kau, keparat!” teriak Natasha, suaranya bergema di langit-langit lobi yang tinggi.Di lantai teratas, Julian berdiri di balik meja kerjanya yang luas, menatap layar monitor yang menampilkan keributan di bawah.Di sampingnya, Kiara berdiri tegak, tangannya terlipat di depan dada. Tidak ada lagi ketakutan di wajah Kiara; hanya ada tatapan dingin yang siap menghadapi badai.“Biarkan dia naik, Max,” ucap Julian melalui interkom.Pintu lift berdenting beberapa menit kemudian. Natasha menyerbu masuk ke ruangan Julian seper
Pagi itu, gedung pusat Vanderbuilt Tower yang biasanya menjadi simbol keangkuhan di pusat Oakhaven mendadak berubah menjadi sarang kepanikan. Belasan mobil hitam dengan plat instansi pemerintah terparkir rapi di lobi utama.Puluhan petugas berseragam otoritas pajak pusat, didampingi oleh satuan polisi khusus, melangkah masuk dengan dokumen penyitaan di tangan.Mereka tidak datang untuk berdiskusi; mereka datang untuk mengeksekusi perintah penyelidikan atas dugaan pencucian uang dan penggelapan pajak berskala besar.Di lantai teratas, Natasha Vanderbuilt berdiri di balik meja kerjanya yang luas, menatap monitor CCTV lobi dengan mata membelalak. Gelas kristal di tangannya bergetar hebat.“Bagaimana mereka bisa mendapatkan surat perintah secepat ini?!” teriak Natasha pada kepala bagian legalnya yang berdiri pucat di depan pintu.“Laporan anonim itu sangat detail, Nyonya,” jawab pengacara itu dengan suara bergetar.“Data yang mereka miliki mencakup aliran dana ke perusahaan cangkang di Pa
Deru mesin yacht yang menjauh dari pulau terpencil itu menandai berakhirnya masa tenang yang singkat. Begitu kaki Julian dan Kiara menginjak dermaga pribadi di Oakhaven, aura di sekitar mereka berubah seketika.Julian tidak lagi tampak seperti pria yang bimbang atau terhantui oleh bayang-bayang Kevin.Ia berjalan dengan punggung tegak, tatapan matanya tajam dan fokus, seperti predator yang telah selesai mengasah kuku dan taringnya di hutan sunyi, siap untuk menerkam mangsa di tengah kota.Kiara berjalan di sampingnya, mengenakan kacamata hitam dan setelan formal yang disiapkan Max.Ia bukan lagi gadis yang gemetar ketakutan; ada ketenangan baru di wajahnya, sebuah kepercayaan diri yang lahir dari penyatuan mereka di pulau itu.“Max, berikan laporannya,” perintah Julian begitu mereka masuk ke dalam SUV antipeluru yang sudah menunggu.Max menyerahkan sebuah tablet dengan grafik yang menunjukkan pergerakan pasar. “Saham Vanderbuilt Group terus merosot, Tuan. Natasha mencoba melakukan buy







