LOGINSudut Pandang Maria.Sebelum tangannya sempat menyentuhku, tangannya sudah terperangkap dalam cengkeraman yang kuat.Wajah Alex tampak sangat muram. Dia meremas, dan suara retakan yang mengerikan bergema di ruangan itu."Aaghhh!" Pria itu menjerit saat pergelangan tangannya patah."Gery," kata Alex dingin, suaranya tanpa emosi.Gery langsung mengerti. Dengan satu tatapan, dua penjaga berjas hitam bergerak seperti bayangan, langsung menahan ayah angkatku dan Bella."Kalian tidak boleh menyentuhku!" teriak pria itu, keringat mengalir deras di wajahnya. "Aku ayah angkatnya. Saat kalian menemukannya, Bella berjanji kalian akan membiarkanku hidup!"Kata-kata itu membuat Alex dan Gery terpaku.Alex menoleh dengan cepat, matanya menatap tajam ke arah Bella. "Apa itu benar?"Wajah Bella pucat pasi. Dia tergagap, tidak mampu mengucapkan kata-kata."Bicara!" Alex meraung."Iya ... itu aku ...." Bella gemetar. "Aku ... aku takut kau akan membunuhnya …. Kupikir itu terlalu kejam ... Bagaimanapun,
Sudut Pandang Maria.Matahari Karidiav terasa hangat.Aku duduk di pantai, kanvasku sudah terpasang, dan melukis burung-burung laut.Perutku kini sudah bulat dan besar. Bayi itu mulai menendang sesekali, pengingat lembut bahwa dia ada di sana.Kehidupan di sini sangat tenang. Begitu tenang hingga aku hampir melupakan rasa sakitnya."Nyonya." Suara pengurus rumah terdengar dari belakangku, sedikit gugup. "Anda kedatangan tamu."Aku tidak menoleh, hanya terus melukis. "Katakan saja kalau kita tidak menerima tamu.""Mereka bilang ... mereka adalah keluarga Anda."Kuasku terhenti.Keluarga?Aku perlahan menoleh. Dua sosok yang familiar berjalan ke arahku.Alex dan Gery.Mereka berhasil menemukanku.Alex tampak mengerikan. Dia sangat kurus, wajahnya tidak dicukur, dan matanya cekung.Gery juga sama buruknya, dia tampak kelelahan dan putus asa.Mereka berhenti sekitar sepuluh meter dariku, seolah-olah takut untuk mendekat.Mata Alex tertuju pada perutku yang besar, ekspresinya dipenuhi badai
Sudut Pandang Maria.Matahari Kepulauan Karidiav menembus tirai, menghangatkan kulitku.Aku dengan lembut mengelus perutku yang semakin membesar sambil menggambar burung laut di kanvas."Nyonya Nina, makan siang Anda sudah siap," kata pengurus rumah dengan lembut.Nina.Itu nama baruku. Kehidupan baruku.Pulau pribadi ini adalah hadiah dari ayahku, sebuah dunia yang jauh dari segalanya. Tidak ada yang tahu keberadaannya.Aku menghabiskan hari-hariku dengan melukis, berjalan-jalan di pantai, mendengarkan musik, dan berbicara dengan bayi di dalam kandunganku.Tidak ada pengkhianatan di sini, apalagi rasa sakit. Hanya ada aku dan anakku.Sudah sebulan berlalu.Mereka mungkin sudah menyerah mencari sekarang.---Sementara itu, di Nerosiwa ....Awan gelap menggantung di atas kediaman Keluarga Renhart.Alex tidak makan dengan benar selama sebulan ini. Dia beda jauh dari dirinya yang dulu, tampak kurus dan pucat.Matanya cekung, wajahnya dipenuhi janggut tipis. Sang Ketua Mafia yang tampan da
Malam telah tiba.Alex berdiri di gerbang, layar ponselnya menyala dan padam berulang kali.Dia sudah menelepon tiga puluh kali.Namun, semua panggilan langsung masuk ke pesan suara."Sialan!" Dia membanting ponselnya ke aspal hingga layarnya pecah.Gery keluar dari mobil, wajahnya tampak sama muram. "Sudah kuperiksa semua rekaman kamera pengawas. Dia naik sedan hitam, tapi plat nomornya palsu.""Tujuh jam." Suara Alex berbisik serak. "Dia belum pernah pergi selama ini."Dia pun menampar wajahnya sendiri dengan keras."Seharusnya aku tidak mengatakan hal-hal itu!" Tamparan lagi. "Sialan, kenapa aku harus mengatakan hal-hal itu!""Alex, tenanglah ….""Tenang?!" Alex menoleh ke arah Gery, matanya memerah. "Dia sedang mengandung anakku! Apalagi kita sudah sekejam itu padanya!"Ponsel Gery berdering.Dia melirik nama penelepon di layar dan langsung menjawab."Ada apa?""Tuan Gery." Suara di ujung telepon terdengar panik. "Kami sudah menemukannya! Nona Maria mengalami kecelakaan mobil. Dia
Sudut Pandang Pihak Ketiga.Kembali ke rumah besar itu, keheningan terasa seberat kuburan.Alex berdiri di tengah ruang tamu, menatap pecahan kaca dengan wajah yang tampak muram.Gery mondar-mandir gelisah di dekat sofa, melirik jam setiap beberapa detik."Sudah tiga jam. Kenapa dia belum pulang? Dia juga tidak menjawab teleponnya ...." Suaranya terdengar tegang. "Dia tidak pernah menghilang tanpa kabar selama ini."Alex tidak menjawab, matanya tertuju pada pintu depan.Bella menuruni tangga, memar di wajahnya masih terlihat jelas. Dia membawa dua gelas wiski. "Jangan seperti ini," katanya lembut. "Minum dulu. Santai saja, Maria hanya butuh waktu untuk menenangkan diri.""Aku sudah berhenti minum bir," kata Alex tanpa menoleh."Aku juga." Suara Gery sama dinginnya.Senyum Bella membeku.Mereka berdua belum pernah menolaknya secara bersamaan."Ya sudah ... kalau begitu kita mengobrol saja?" Dia mencoba lagi. "Seperti dulu ....""Dulu?" Alex berbalik dengan cepat, sorot matanya setajam p
Aku terbangun keesokan paginya dan menemukan deretan pil di meja samping tempat tidur.Dan sebuah catatan dengan tulisan tangan Alex yang familiar."Sayang, ingat minum vitaminmu. Aku sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan. Aku akan kembali untuk makan malam."Aku meliriknya sekilas dan keluar dari kamar.Aku butuh pemicu.Sesuatu yang akan memberiku alasan masuk akal untuk pergi dengan marah, menciptakan kesempatan yang kubutuhkan untuk menghilang selamanya.Dan Bella adalah pemicu yang sempurna.Tawa bergema dari ruang tamu di lantai bawah.Bella mengenakan setelan baju yang mahal, dan mengobrol dengan beberapa teman sosialitanya."Kalian tidak tahu, waktu ulang tahunku yang ke delapan belas, Gery dan Alex mengadakan pesta yang paling menakjubkan untukku!" Suara Bella penuh kebanggaan. "Seluruh kalangan kelas atas Kota Hatihi hadir di pestaku."Teman-temannya berseru kagum."Apa kalian ingat kalung itu? Edisi terbatas, dan hanya ada tiga di dunia!""Dan gaun eksklusif itu, harganya
Saat pintu tertutup, Alex memelukku dari belakang, dia mendekapku erat."Maria, dengarkan aku." Suaranya sedikit bergetar, tepat di telingaku. "Aku dan Bella itu tidak akan mungkin kembali bersama. Kau tahu itu, kan?"Aku tidak bergerak.Pelukannya dulu terasa seperti tempat berlindung yang aman. Se
Setelah mengetahui bahwa Alex dan kakakku Gery adalah orang yang membocorkan video memalukan tentangku, aku refleks langsung menyentuh perut. Perutku mulai membesar. Aku akhirnya memutuskan untuk membawa anakku dan menghilang selamanya.Aku baru saja memesan tiket ketika ponselku bergetar hebat.Nam







