Short
Ketika Sang Pengantin Berhenti Menunggu

Ketika Sang Pengantin Berhenti Menunggu

Oleh:  Anna SmithTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Bab
3.3KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Ayahku datang jauh-jauh dari Itahera untuk hadiri acara pernikahanku yang pertama. Dan dengan mata kepalanya sendiri, dia saksikan Lukas Wongso lepaskan tanganku hanya sepuluh menit sebelum sumpah pernikahan diucapkan, hanya karena Citra Lestari telepon dan bilang kalau dia sesak napas. Hari itu, Ketua Mafia Markus Mastani nggak tinggikan suaranya. "Ambillah waktu sebanyak yang kamu perlu. Tetapi ketika suatu hari nanti kamu benar-benar sudah ngerti kalau dia nggak akan pilih kamu di altar, pulang saja." Saat itu aku pikir ayahku nggak ngerti apa itu cinta. Karena itu aku tetap tinggal di Nevala. Aku kasih Lukas tujuh kali kesempatan acara pernikahan. Setiap kali, dia selalu kembali sambil bawa bunga, permintaan maaf, dan tanggal pernikahan yang baru. "Elena." Dia selalu bilang. "Ini yang terakhir kalinya." Bahkan teman-temannya pun akhirnya berhenti pura-pura nggak tertawakan aku. "Elena nggak akan pergi," kata salah satu dari mereka. "Dia cuma mau Lukas minta maaf dengan lebih sungguh-sungguh." Aku mungkin akan tetap bertahan demi cinta yang sejati. Tetapi aku nggak akan bertahan untuk seorang pria yang hanya ingat keberadaanku setelah lebih dulu pilih orang lain. Dan pada saat itulah akhirnya aku ngerti. Lukas kira cintaku adalah tempat di mana dia bisa selalu pulang kembali. Pada pagi hari acara pernikahan kita yang ke delapan, aku masukkan cincin pertunanganku ke dalam sebuah kotak beludru putih. Tepat pada saat itu, telepon dari ayahku masuk. "Helikopternya sudah siap," katanya. Lukas tunggu aku di altar sambil genggam cincin pernikahan di tangannya. Dan kali ini, aku biarkan dia menunggu.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Sepuluh menit sebelum acara pernikahan ketujuh kita dimulai, Lukas Wongso kembali terima telepon dari Citra Lestari. Gereja Keluarga Wongso sudah dipenuhi tamu, lilin-lilin sudah dinyalakan, paduan suara bersiap di tempatnya, dan para perwakilan dari Nevala, Corica, hingga Semosa hadir untuk saksikan aku resmi jadi Nyonya Keluarga Wongso. Lukas berdiri di sampingku sambil kenakan setelan hitam yang aku pilih sendiri untuk dia. Bahkan kancing manset yang melingkar di pergelangan tangannya juga diukir dengan inisial nama kita berdua.

Saat telepon itu berdering, tatapan pertamanya tertuju ke aku. Aku sudah tahu siapa yang telepon. Selama enam acara pernikahan sebelumnya, Citra selalu alami "keadaan darurat" tepat sebelum upacara dimulai. Nyeri dada, cedera lama yang kambuh, ancaman di depan apartemennya, reaksi alergi terhadap obat-obatannya. Nggak tahu gimana caranya, dia selalu berhasil jadi orang yang harus diselamatkan Lukas, di saat pria itu seharusnya nikahi aku. Dan kali ini pun juga tetap sama.

Setelah tutup telepon, wajah Lukas tampak semakin berat. Dia genggam HP-nya seolah keputusan sudah dibuat, tetapi dia nggak tahu gimana caranya harus katakan itu ke aku.

"Citra pingsan di rumah persembunyian," katanya pelan. "Dokternya belum datang. Hanya ada pembantu baru yang temani, dan dia nggak tahu harus berbuat apa."

Aku menatapnya tanpa berkata apa pun. Dulu, aku pasti akan tanya kenapa harus hari ini, kenapa harus selalu Citra, dan kenapa aku selalu jadi orang yang ditinggalkan. Namun kali ini, aku hanya rapikan dasinya yang sedikit miring dan berkata dengan tenang, "Kalau gitu, pergi saja."

Lukas terdiam membeku. Hampir seolah-olah dia berharap aku nangis, tanya ke dia, atau kembali berdebat dengan dia di depan gereja seperti sebelumnya. Setidaknya dengan begitu, dia bisa peluk aku, janji akan segera kembali, janji kalau lain kali semuanya akan berbeda. Tetapi aku nggak lakukan apa pun.

Di luar gereja, mobil Citra sudah tunggu di depan tangga. Lukas nggak langsung pergi. Sebaliknya, dia genggam tanganku, dan untuk pertama kalinya, aku dengar kegelisahan dalam suaranya.

"Elena, aku akan jelaskan semuanya waktu aku balik. Apa yang terjadi hari ini cuma kecelakaan. Beneran."

Aku mengangguk.

"Bulan depan aku akan atur pernikahan kita lagi. Kamu nggak perlu repot urus apa pun. Tinggal datang dan coba gaunnya saja."

Entah mengapa, aku hampir tertawa waktu dengar itu. Hampir semua acara pernikahan sebelumnya aku yang atur sendiri. Undangan, bunga, susunan tempat duduk, urutan keluarga, sumpah pernikahan, semuanya. Dulu aku percaya kalau aku buat setiap detailnya jadi sesempurna mungkin, pernikahan itu akhirnya akan benar-benar terjadi. Kalau nggak ada yang salah, Lukas nggak akan punya alasan untuk pergi. Namun kemudian aku ngerti, Lukas nggak pernah pergi karena ada yang salah dengan pernikahan kita. Dia pergi karena satu panggilan dari Citra sudah cukup untuk buat pernikahan kita kehilangan arti.

Malam sebelum acara pernikahan kedua kita, Citra bilang gaunnya rusak karena tumpahan anggur merah. Lukas perintahkan orang untuk buka lemari pakaianku dan kirimkan gaun sutra putih yang telah aku siapkan untuk makan malam gladi resik. Gaun itu adalah salah satu dari sedikit peninggalan ibuku, dengan lambang Keluarga Mastani yang disulam di bagian dalam gaunnya. Setelah itu, Lukas peluk aku dan minta maaf. Katanya, Citra nangis sangat keras sampai hampir sesak napas, dan dia terlalu panik untuk berpikir jernih.

Pada hari acara pernikahan keempat kita, gelang berlian yang melingkar di pergelangan tangan Citra adalah hadiah dari ayahku saat aku beranjak dewasa. Citra bilang dia hanya merasa gelang itu sangat indah dan ingin pinjam sebentar. Lukas bahkan nggak sadar sampai aku terdiam. Ketika akhirnya dia ngerti apa yang sedang aku lihat, dia nggak minta Citra lepaskan gelang itu.

Sebaliknya, dia rendahkan suaranya dan bujuk aku dengan lembut, "Aku janji dia cuma pakai sebentar. Gelangnya nggak akan kenapa-napa. Dia nggak punya keluarga, Elena. Dia nggak punya hal-hal seperti ini. Nggak usah terlalu dipikirkan."

Tetapi aku memang pikirkan itu. Aku nangis. Aku marah. Aku hilang kendali. Namun setiap kali, Lukas akan kembali, berlutut di hadapanku, kecup tanganku, lalu berulang kali bilang akulah satu-satunya wanita yang dia cintai. Dan aku percaya. Berulang kali.

Kali ini, aku lihat kepanikan di matanya dan hanya tersenyum tipis.

"Oke."

Lukas tampak nggak yakin dia dengar ucapanku dengan benar.

"Kamu bilang apa?"

"Aku bilang, oke."

Aku tarik tanganku dari genggamannya.

"Bulan depan, kamu saja yang atur."

Dia menatapku lekat-lekat. Namun alih-alih merasa lega, ekspresinya justru semakin tegang.

"Elena, jangan gini dong."

Selama enam acara pernikahan yang sebelumnya, aku peduli pada setiap detail hingga buat diriku sendiri kelelahan. Aku periksa bunga, sumpah pernikahan, daftar tamu, urutan keluarga, bahkan sampai warna lilin yang digunakan. Aku selalu perlakukan setiap acara pernikahan sebagai bukti kalau kali ini dia benar-benar akan pilih aku. Dan sekarang, aku serahkan seluruh urusan pernikahan itu kembali ke dia, seolah semuanya nggak berarti lagi. Itulah yang buat dia takut.

Karena Elena yang dulu selalu hidup kembali oleh janji-janjinya, tapi Elena yang sekarang nggak lihat dia dengan cara yang sama lagi. Seseorang di luar minta Lukas untuk segera berangkat. Lukas menatapku untuk terakhir kalinya, seolah cari retakan pada wajah tenangku.

"Tunggu aku."

Aku nggak jawab.

Pada akhirnya, dia berbalik dan turuni tangga gereja. Bisik-bisik segera menyebar ke seluruh ruangan.

Sebagian orang menatapku dengan rasa iba. Sebagian lainnya tunggu untuk lihat putri Keluarga Mastani jadi bahan tertawaan untuk ketujuh kalinya. Aku angkat sedikit rok gaunku dan jalan sendirian menuju ruang pengantin.

Di dalam cermin, riasanku masih sempurna. Gaunku tetap putih bersih. Bahkan mutiara-mutiara di rambutku nggak bergeser sedikit pun. Lalu aku teringat pada perkataan ayahku sebelum aku tinggalkan Nevala.

"Ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan. Tapi ketika akhirnya kamu ngerti apa dia beneran akan pilih kamu di altar, pulang saja."

Dan sekarang, aku mulai ngerti maksudnya. Sesampainya di ruang pengantin, aku lepaskan kerudung pengantin dari kepalaku dan telepon ayahku.

Panggilan itu tersambung dengan cepat. Selama beberapa detik, nggak ada satu pun dari kita yang bicara.

"Ayah, dia ganti tanggal lagi."

Suara ayahku terdengar tenang, seolah dia sudah tahu jawabannya sejak awal.

"Kalau gitu, biarkan itu jadi yang terakhir kali."

Aku menatap diriku sendiri di cermin, riasan yang masih sempurna, serta gaun pengantin yang sekali lagi gagal jadi kenangan yang layak untuk disimpan.

"Oke," jawabku pelan.

Dan kali ini aku bersungguh-sungguh dengan perkataan itu.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
9 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status