공유

Bab 10

작가: Krisna
"Ayo, aku antar." Bima merangkul bahu Dhana dan berjalan menuju pintu, sambil menyerahkan keranjang bambunya kepada Dhana.

"Jangan pergi-pergi lagi di luar. Kamu baru saja sembuh, cepat pulang dan beri tahu kabar baiknya kepada orang tuamu."

Dhana mengangguk dengan senyum. "Iya, aku juga berpikir begitu."

Dia membawa keranjang bambunya dan berjalan pulang.

Dhana bersenandung kecil sambil berjalan.

Dia mengalami begitu banyak hal dalam waktu yang singkat. Bagi Dhana, ini tak diragukan lagi merupakan titik balik besar dalam hidupnya.

Pikirannya terus memutar ulang apa yang terjadi di rumah Bima.

Saat melewati rumah Mawar, Dhana berhenti sejenak.

Siang tadi di gunung, Anton mencoba melecehkan Kak Mawar. Entah bagaimana keadaan Kak Mawar sekarang.

Dia membawa keranjang bambu dan tiba di depan pintu rumah Mawar.

Setelah menerima warisan, pendengaran Dhana menjadi sangat tajam. Sebelum dia mendekati pintu, dia mendengar isakan pelan dari dalam rumah.

"Dhana, semua ini salahku. Orang tuamu masih belum tahu kamu mati. Aku akan mengirim banyak uang arwah untukmu, supaya kamu bisa makan dan membeli apa pun sepuasnya di alam sana. Nggak usah hemat, kamu harus bahagia di sana."

Mawar menangis sambil membakar uang arwah.

Api yang membara membakar halaman rumah.

Berdiri di luar pintu, Dhana bisa mencium bau asap dan api.

Dia tidak bisa menahan tawa mendengar perkataan Mawar.

Mawar sudah membakar uang arwah untuknya? Bagaimana bisa wanita itu begitu yakin dia sudah mati?

"Tok, tok, tok!"

Dhana mengangkat ketukan pintu kayu itu dan mengetuk pelan.

Saat dia hendak bicara, tangisan Mawar bergema dari dalam.

"Anton, mau apa lagi kamu di sini? Aku sudah setuju menikah denganmu. Kenapa kamu menggangguku terus? Pergi dari sini!"

Mengira dirinya Anton, kata-kata Mawar membuat Dhana tertawa jengkel.

"Kak Mawar, aku Dhana! Buka pintunya!"

Mendengar suaranya dari halaman, Mawar terkejut. "Dhana, jangan takuti aku! Yang membunuhmu itu Anton! Balas dendammu kepada pelakunya!"

Bagi Dhana, pintu kayu kecil di rumah Mawar itu cukup mudah dilompati sehingga ia bisa masuk ke halaman dengan mudah.

Tapi dia tidak melakukannya.

Melakukan hal itu hanya akan membuat Mawar takut.

Wanita itu justru akan semakin yakin bahwa Dhana telah menjadi hantu yang ingin membalas dendam.

"Kak Mawar, aku belum mati."

"Belum ... belum mati?" Mawar gemetar, memegangi tongkat kayu. Dia mendekat ke pintu hingga jarak sekitar dua meter, tapi tidak berani membukanya.

"Kamu manusia atau hantu?"

Dhana tertawa. "Tentu saja aku manusia. Manusia hidup. Jangan menangis lagi. Cepat buka pintunya, aku mau bertemu denganmu."

"Kamu beneran belum mati?"

Mawar memegang tongkat kayu dengan erat, masih terlalu takut untuk membuka pintu.

Walaupun suara di luar adalah suara Dhana, cara bicaranya tidak terdengar seperti biasa.

Dhana memiliki masalah mental, jadi bicaranya lambat. Kata-katanya pendek dan terbata-bata, tidak selancar ini.

"Beneran belum mati. Kalau kamu nggak mau buka, aku lompat saja."

Mendengar Dhana berkata ingin melompat, Mawar berkeringat dingin.

"Jangan, jangan! Jangan lompat! Aku buka pintunya. Tapi beneran Anton yang membunuhmu. Tolong jangan sakiti aku."

Mendengar suara gemetar Mawar, Dhana hampir tertawa terbahak-bahak.

Logika macam apa ini? Mawar ingin dia mati?

"Kak, apa yang kamu pikirkan? Aku beneran belum mati. Cepat buka pintu. Aku takut Anton mengganggumu, jadi aku sengaja datang memastikan."
이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 100

    Dhana tidak melihat perlunya menggunakan kekuatan fisik untuk membereskan orang biasa seperti mereka.Dengan hipnotis, dia diam-diam mengulangi teknik sebelumnya. Begitu mantra bekerja, Galang kembali merangkak dan menggonggong.Secara bersamaan, dia berlari ke depan dan mengamuk, menabrak dinding halaman di depannya. Galang menghantam dinding itu dengan suara keras, hampir merobohkannya.Pemandangan itu membuat Dona terkejut setengah mati.Dia bergegas menangkap Galang."Nak, kamu kenapa?""Guk guk guk, auuu ...."Galang menggonggong, lalu mengeluarkan lolongan panjang. Darah mengalir deras dari kepalanya karena benturan tadi."Hendra, ke mana kamu?" Dona berteriak ke arah pintu. "Kepala Galang berdarah! Cepat ke sini sekarang juga, aku nggak bisa menahannya sendirian!"Begitu Dona selesai berteriak, Galang melolong lagi. Dia lalu meletakkan tangannya di lantai, mengangkat kepalanya, dan melompat untuk menggigit betis Dona.Dona bergidik dan cepat-cepat mundur.Akan tetapi, refleksnya

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 99

    Sayangnya, Galang bermulut kotor dan terus-menerus menyebutnya bodoh. Kenapa dia harus memanjakan orang semacam itu?Dhana tidak mau memberinya bunga sama sekali."Galang, kamu pasti salah paham. Waktu Paman meminjamkan uangnya kepada kami, dia nggak pernah menyebut soal bunga. Sekarang kamu tiba-tiba menuntut bunga 40 juta? Kenapa nggak sekalian kamu rampok kami saja?"Galang mengepalkan tangannya, benar-benar ingin meninju Dhana."Aku sudah baik cuma minta bunga 40 juta. Kalau kamu nggak mau bayar, aku akan mengambilnya dengan paksa hari ini juga. Kalian bisa apa?"Galang semakin berani.Ibu Dhana merasa sangat sedih mendengarnya. Andai dia tahu akan jadi seperti ini, dia tidak akan menerima pinjaman uang itu meski harus kelaparan.Dulu, dia menerima uang itu dengan enggan setelah dibujuk berulang kali oleh kakaknya. Tapi, keponakannya ini benar-benar keterlaluan!Pertama, dia meminta pokok pinjaman, sekarang meminta bunga.Dan jika bunganya sudah dibayar, apa lagi yang akan dia mint

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 98

    Orang tua dan adik Dhana menatap perilaku aneh Galang dengan mata penasaran. Punggung mereka basah kuyup oleh keringat dingin.Apa yang sebenarnya terjadi?Penyakit rabies?Ataukah Galang melakukan ini dengan sengaja?Jika sengaja, ini sudah kelewat batas.Mereka bertiga mundur bersamaan, takut Galang akan mendekati mereka. Untungnya, Galang hanya menggonggong saja, tapi tidak mendekat.Hendra dan Dona berusaha menarik Galang, tetapi anak mereka hanya tergeletak di lantai, menggigit dan menggonggong liar.Dhana berdiri dengan tangan di belakang punggung. Senyum puas terlukis di wajahnya.Galang pantas merasakan balasannya.Dhana kemudian mengambil ponselnya dan merekam video.Setelah membiarkan Galang menggonggong selama sekitar tiga menit, Dhana menghentikan hipnosisnya. Galang perlahan sadar dan berusaha bangun, merasa sangat bingung."Apa yang terjadi? Kenapa aku di lantai?"Dona membantu Galang membersihkan debu dari pakaiannya. "Anakku, apa kamu baru digigit anjing?"Galang mengge

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 97

    Sebelum Bejo bisa menjawab, Dhana sudah mendahuluinya."Paman, kami sangat berterima kasih, pinjamanmu sangat membantu kami. Kebetulan kalian datang, sekalian aku kembalikan uang 100 juta itu."Dhana mengeluarkan ponselnya dari saku."Paman, beri tahu aku nomor rekeningmu. Nanti kutransfer uangnya, biar utang kami lunas. Aku benar-benar minta maaf."Hendra merasa sulit untuk percaya kata-kata Dhana.Mereka kemarin menerima kabar bahwa Dhana berjualan ikan bersama Ratna di pasar Kecamatan Ayam, tapi mereka hanya mendapat 20-an juta.Bagaimana mungkin Dhana punya 100 juta?Tingkah laku bocah bodoh ini tampaknya tidak berbeda dari orang normal, tapi ucapannya tidak masuk akal.Meski begitu, Hendra tidak mengatakannya."Dhana, aku tahu keluargamu sedang kesulitan. Sekarang bayar 20 juta saja dulu, sisanya bisa kita bicarakan lagi nanti. Kamu ...""Bodoh! Dia bilang mau bayar 100 juta, kenapa kamu minta 20 juta? Aku penasaran dia beneran bisa atau nggak!" Sebelum Hendra selesai bicara, Dona

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 96

    Sepanjang waktu, tidak jarang dia melakukan serangan pribadi.Meskipun mereka sepupu, hubungan mereka lebih buruk dibandingkan orang asing.Sedangkan bibinya adalah tipikal wanita yang licik dan tidak kenal malu. Uang 100 juta yang diutangkan kepada keluarga Dhana diberikan secara diam-diam oleh pamannya.Setelah bibinya tahu tentang hal ini, dia sering datang ke rumah Dhana menuntut pembayaran. Meski Dhana menderita gangguan mental selama hal itu terjadi, dia masih mengingat ekspresi jelek bibinya.Kata-katanya penuh racun dan hinaannya berbisa. Keluarga Dhana telah menanggung perlakuan kasarnya berulang kali. Bahkan Ayu pernah ditampar olehnya.Kebetulan sekali mereka datang sendiri. Sekalian saja selesaikan utangnya.Dhana benar-benar tidak tahan melihat bibi ini.Saat pikiran Dhana melayang, keluarga pamannya sudah membuka gerbang kayu yang bobrok itu dan memasuki halaman rumah Dhana.Melihat Dhana sedang mencuci wajahnya, bibinya datang menghampiri, memandanginya dengan mata menyi

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 95

    Setelah pesan suara itu, muncul dua stiker bibir merah yang menggoda.Setelah bibir merah, dua stiker lain muncul, gambar tangan yang mengisyaratkan mengundang dengan genit.Suara Mawar manis, hangat, dan lembut, terdengar sangat menenangkan. Pikiran Dhana jadi tidak tahan dan melayang jauh.Kak Mawar bukan cuma berparas cantik, tetapi tubuhnya juga sangat memukau, berlekuk indah dan proporsional.Dan seolah itu saja belum cukup, suaranya benar-benar memikat.Suara lembut dan halus itu bisa menyihir pria mana pun, apalagi seorang pemuda dengan jiwa membara seperti Dhana. Hatinya semakin bergetar.Kalau saja malam belum terlalu larut, Dhana pasti tidak ragu-ragu menyelinap ke rumah Mawar."Kak Mawar, kamu kenapa?"Tanpa pikir panjang, Dhana mengirim pesan suara itu.Tidak sampai setengah menit kemudian, suara Mawar kembali terdengar. "Anak nakal, kamu tahu persis apa yang aku maksud."Segera setelah itu, Mawar mengirim pesan lain."Adik kecil, kakakmu di sini sendirian. Nggak ada laki-l

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status