Share

Bab 9

Author: Krisna
Tapi, semuanya sudah terlanjur terjadi. Tidak ada gunanya menyesal sekarang.

Ini pilihan satu-satunya yang dia miliki demi menghindari perceraian.

Dibandingkan dengan perceraian, pilihan ini tentu lebih baik.

Dia bahkan berpikir bahwa ini adalah sesuatu yang seharusnya dia lakukan tiga tahun lalu, sehingga dia tidak perlu membuang-buang uang untuk program bayi tabung.

Ratusan juta hilang begitu saja.

Bima hanya bisa berharap rencana malam ini berhasil.

Dia mengembuskan asap rokok dengan pikirannya melamun.

Setelah selesai merokok, Bima dengan santai melempar puntung rokoknya. Puntung itu melayang di udara sebelum mendarat di tanah.

Menyaksikan bara api yang masih menyala, dia berjalan mendekat dan menginjaknya dua kali.

Tiba-tiba, ponselnya berdering.

"Bima, pulanglah."

"Selesai?"

Mendengar suara Puspita, Bima tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

Puspita berbicara pelan, sedikit terengah-engah.

"Semuanya lancar. Cepat pulang."

Mendengar kata-kata "semuanya lancar," Bima langsung tersenyum.

Dia sudah berusaha sebaik mungkin. Sisanya terserah takdir. Bima hanya berharap Tuhan memberi belas kasihan padanya.

"Aku pulang sekarang!" Bima menutup telepon, hatinya dipenuhi kebahagiaan. Rencananya akhirnya terlaksana. Berhasil atau tidak, tergantung pada takdir.

Di ruang tamu rumah Bima.

Rona merah di wajah Puspita belum memudar.

"Dhana, urusan ini rahasia kita bertiga. Kamu nggak boleh beri tahu orang lain."

Puspita sedikit khawatir dan memberinya peringatan terakhir.

Bagaimanapun juga, hal seperti ini akan berdampak buruk bagi semua pihak jika sampai terbongkar. Terutama karena mereka tinggal satu desa.

Dhana duduk tegak dan mengangguk dengan mantap.

"Tenang saja, Kak. Aku bukan orang bodoh lagi seperti dulu. Mana mungkin aku asal bicara? Yang penting, kamu dan Kak Bima nggak mempermasalahkannya."

Puspita menggeser pantatnya yang montok untuk duduk lebih dekat di samping Dhana.

"Dhana, aku tahu keberhasilannya nggak pasti 100 persen. Kalau kali ini nggak berhasil, aku mungkin harus minta bantuanmu lagi. Kamu harus lanjut membantu kami sampai berhasil."

Kekhawatirannya juga karena dia tahu saat ini bukan masa suburnya.

Jika mereka menunggu beberapa hari lagi, harusnya ada peluang lebih besar.

Tapi, dia tidak punya pilihan. Karena meski Dhana hari ini setuju, bukan berarti pria itu akan setuju lagi besok.

Kata-kata Puspita langsung membuat Dhana tertawa.

Dia dengan senang hati menuruti.

Bahkan lebih baik lagi jika kali ini tidak berhasil, sehingga ada kesempatan untuk mencoba lagi.

Tapi, jika gagal berulang kali, situasinya akan menjadi canggung. Apalagi, mereka tetangga yang pasti akan bertemu lagi.

"Pasti berhasil." Dhana mengangguk dengan tegas.

Tiba-tiba, Bima membuka pintu dan masuk.

Melihat dua orang yang duduk di sofa, dia merasa tidak tahu harus berkata apa. Jadi, dia mendekat ke sisi Dhana dan memberinya tatapan penuh arti.

Melihat Bima kembali, Dhana berdiri.

"Kak Bima, Kak Puspita, sekarang sudah malam, kalian harus istirahat. Aku juga harus pulang."

Bima menarik Dhana ke samping. "Dhana, aku dengar obrolan kalian waktu aku masuk tadi. Aku juga setuju."

"Karena sudah dimulai, harus dilanjutkan sampai berhasil. Kalau kali ini gagal, kamu nggak boleh menolak melakukannya lagi."

Dhana berpikir sejenak, lalu mengangguk perlahan.

"Iya, aku nurut."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 355

    Terutama tadi malam, saat Dhana mengajarkannya bela diri, Ratna semakin kagum. Memanggilnya 'Kak Dhana' itu benar-benar keluar dari lubuk hatinya.Meskipun Ratna mengundangnya, Dhana tidak berniat masuk ke dalam."Ratna, aku ingat di rumahmu ada beberapa ember putih besar, yang ada corong dan tutupnya. Tolong carikan satu untukku."Sambil menjelaskan, Dhana juga menggambarkan dengan gestur tangan.Takut Ratna tidak mengerti, dia menambahkan lagi."Ember yang dulu dipakai untuk wadah air."Ratna menatap dengan mata menajam sebelum akhirnya tersadar."Oh, maksudmu ember itu." Ratna mengulangi, menarik sebuah kursi dan memberikannya pada Dhana. "Kamu duduk dulu di sini, aku carikan sebentar."Ratna berbalik ke dalam.Sambil memandangi punggung Ratna, Dhana tidak bisa menahan desahan kagum.Ratna, si gadis tercantik di desa ini, benar-benar sudah dewasa.Punggungnya itu sungguh memikat.Dua menit kemudian, Ratna kembali sambil membawa sebuah ember putih besar. "Ini yang kamu maksud, 'kan?"

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 354

    Yang paling mendesak saat ini adalah menyelidiki orang yang telah memaksa Suma bunuh diri.Jika memang Dhana, Keluarga Wiguna harus hati-hati menyembunyikan diri.Sekalipun bukan Dhana, jangan menyinggungnya lagi untuk saat ini....Kota Siraya, Grand Hotel.Angelica baru saja selesai mandi. Tubuhnya terbungkus handuk.Dia duduk di sofa, tenggelam dalam pikiran.Tepat pada saat itu, terdengar ketukan di pintu."Nona, kami sudah menyelidiki Dhana. Mohon buka pintu sebentar, kami akan melapor."Angelica berdiri, merapikan handuknya, lalu mengenakan mantel panjang, baru kemudian melenggang dengan pinggang rampingnya untuk membuka pintu.Setelah dua pengawal masuk dan duduk, barulah mereka melapor."Nona, setelah menyelidiki sepanjang sore, kami mendapatkan banyak informasi berguna. Dhana ternyata lebih hebat dari yang kita bayangkan.""Kakek Yuna disihir dengan Mantra Pengunci Jiwa dan hampir meninggal, tapi Dhana menyembuhkannya.""Yuna menderita kanker stadium akhir, Dhana juga menyembu

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 353

    "Dipaksa bunuh diri?" Marius nyaris gila memikirkannya.Seseorang sekelas grandmaster dipaksa bunuh diri. Siapa sebenarnya orang yang memaksanya?Sungguh sulit dibayangkan!"Sudah tahu siapa orang yang memaksanya?"Sekretarisnya menggeleng. "Belum."Marius menggosok pelipisnya, kembali mengingat isi percakapan di telepon dengan Suma, yang berulang kali mengingatkannya agar tidak mengusik Dhana."Dhana ... bukan seperti yang kamu katakan. Walaupun dia baru saja naik tingkat menjadi grandmaster bela diri, kekuatannya jauh melampaui tingkat itu. Kekuatan semengerikan itu belum pernah aku temui di mana pun. Aku merasa seperti semut kecil di hadapannya ...."Suma menangis histeris di akhir kalimatnya.Mungkinkah Dhana yang melakukannya?Kekuatan Dhana, ternyata benar-benar sekuat seperti itu?Suma tidak pernah menyinggung siapa pun. Siapa yang cukup kuat hingga bisa memaksanya bunuh diri?Lagi pula, bagaimana Dhana bisa menemukan Suma?Pikiran Marius dipenuhi tanda tanya.Dhana, mungkin mem

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 352

    Selanjutnya, Ratna berhasil.Diiringi tawa Ratna, Ayu juga berhasil.Ketiganya bersuka cita, melompat-lompat mengelilingi Dhana.Mereka tidak pernah membayangkan bisa belajar kultivasi bela diri."Kalian bertiga harus rajin berlatih. Ini baru permulaan. Keamanan Desa Mawar di masa depan ada di tangan kalian."Mereka tersenyum dan mengangguk serempak.Mawar berpikir, dia bisa mengangkat batu penggilingan seberat lebih dari 150 kilogram dengan mudah. Jadi, mengangkat Dhana pasti lebih mudah lagi, bukan?Mawar memandang Dhana, dan sebuah ide berani terlintas di benaknya.Jika bisa mengangkat Dhana, pasti sangat seru.Dengan kedua tangan memegang lutut Dhana, lalu mengangkatnya tinggi dalam posisi berhadap-hadapan.Sepertinya ... lumayan seru.Mawar tersenyum nakal.Waktu sudah cukup larut. Dhana dan adiknya mengantar Ratna pulang terlebih dahulu, baru kemudian keduanya pulang ke rumah.Dhana benar-benar lelah hari ini.Meski lelah, dia sangat bahagia.Terutama satu jam bersama Mawar yang

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 351

    Ratna mengepalkan tinjunya, merasa sangat gembira.Ayu tampak bersemangat, dengan tangan di pinggang sambil menatap langit."Kekuatanku juga meningkat. Tubuhku rasanya sangat ringan. Kalau aku coba lompat, mungkin bisa setinggi satu meter!"Mawar tersenyum lebar, pipinya merah merona."Dhana, kukira kamu cuma bercanda. Nggak kusangka, kami bertiga jadi lebih kuat."Melihat ketiga wanita itu begitu gembira, Dhana mengangguk puas.Semua kerja kerasnya membuahkan hasil.Mereka akhirnya mengerti.Baru pada pukul 10 malam, Dhana mengajarkan beberapa bab awal dari Teknik Dewi Sembilan Langit, lalu memberi perintah agar mereka berlatih dengan sungguh-sungguh.Mereka semua sangat gembira dan patuh."Oh ya, jangan beritahu siapa pun soal ini. Termasuk ayah ibuku, jangan beri tahu dulu sementara ini. Kalian harus belajar dengan tekun, dan jangan bocorkan rahasia bela diri ini kecuali dalam keadaan terpaksa."Mereka semua mengangguk lagi.Untuk menguji hasilnya, mereka pergi ke halaman.Di halama

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 350

    Dhana pun tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tadi membuang waktu satu jam.Kalau tidak, mereka tidak akan terburu-buru seperti ini. Untungnya, selama satu jam tadi, tidak ada yang mengganggu.Secara keseluruhan, mereka merasa cukup puas."Dhana, kenapa buru-buru begitu? Belajar bela diri kan nggak bisa dilakukan dalam sekejap. Kenapa bisa lebih penting daripada urusan tadi?"Mawar cemberut dan mengeluh.Bagi Mawar, kebahagiaan jiwa dan raga adalah yang paling penting.Soal latihan bela diri, meski dia percaya Dhana bisa mengajarkannya, itu urusan yang jauh di masa depan.Kalau hari ini tidak bisa, coba besok.Kalau besok tidak bisa, tunggu lusa."Kamu pergi berhari-hari ke kota, nggak kirim pesan, nggak tanya kabar sama sekali. Keterlaluan."Mawar mengeluh lagi.Lalu kembali mengungkit masalah lain."Kamu tadi pagi kepanasan sampai mimisan. Aku sengaja membantumu mendinginkan tubuh dan menghilangkan racun, tapi kamu malah nggak menghargai niat baikku."Dhana tersenyum nakal. "Yang bada

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 77

    "Tentu saja! Kakakku nggak cuma bisa mengobati, tapi dia juga pintar nangkap ikan. Pagi ini dia jual ikan hasil tangkapannya dan dapat uang lebih dari 24 juta.""Apa? Sampai 24 juta?" Mawar benar-benar terkejut. "Berapa banyak ikan yang dia tangkap sampai menghasilkan sebanyak itu?"Saat Dhana menga

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 76

    Ternyata Mawar mengkhawatirkan dia.Dhana mengangguk sambil tersenyum."Kak Mawar, kamu tenang saja. Kemarin waktu Anton melemparku ke Gua Iblis, aku bukan cuma nggak mati, tapi aku juga nggak bodoh lagi. Jadi, tentu saja aku yakin bisa melakukan ini."Penjelasannya membuat Mawar benar-benar bingung

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 84

    "Nggak usah, aku pergi ke tempatmu sekarang.""Oke, cepat ke sini kalau memang mau datang. Kami tunggu kamu di jalan."Sekitar lima menit kemudian, Ratna muncul di hadapan Dhana dan yang lainnya, napasnya terengah-engah, dadanya yang montok naik turun.Ratna benar-benar pantas mendapat julukan si ca

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 23

    "Ayah, aku dulu kuliah kedokteran. Walaupun pikiranku linglung dua tahun ini, aku masih ingat ilmu kedokteran. Aku ingin mencoba akupunktur untuk meredakan rasa sakitmu, atau bahkan menyembuhkanmu."Dhana tidak berani membuat pernyataan pasti dan mengatakannya dengan nada menawarkan.Melihat jarum a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status