Share

Bab 11

Penulis: Krisna
Mawar berdiri di halaman dan mengintip sosok tubuh tinggi melalui celah pintu. "K-kamu ... beneran belum mati?"

Setelah jeda sejenak, Mawar bertanya lagi, "Kamu biasanya gagap. Bicaramu nggak selancar sekarang. Mana mungkin aku percaya?"

Dhana tertawa pelan. "Aku lupa bilang, ternyata ada berkah di balik penderitaan. Setelah dipukuli Anton, aku jadi sembuh."

"Kamu sembuh?" Mawar sangat gembira mendengar hal itu. Dia melepaskan tongkat kayunya, mengumpulkan keberanian untuk mendekati pintu dan membukanya.

Dhana melangkah masuk ke halaman rumah. Tangannya memegang keranjang bambu. Dia berdiri tegak di hadapan Mawar dan berkata bangga, "Aku nggak mati, bahkan bodohku jadi sembuh."

Tangan kanan Mawar gemetar, terulur untuk memegang Dhana.

Jika tangannya tidak menembus, artinya Dhana belum mati. Jika menembus, Dhana di depannya benar-benar hantu.

Dhana berdiri diam, memeluk keranjang bambunya.

Baru ketika tangan Mawar menyentuh tubuhnya, Dhana tertawa. "Kenapa kamu masih nggak percaya aku hidup?"

Rasa hangat terpancar dari tubuh Dhana.

Mawar menghela napas lega. Air matanya menitik karena kebahagiaan.

"Dhana Bodoh, kukira kamu sudah mati."

Dia merebut keranjang bambu dari genggaman Dhana dan meletakkannya di tanah. Dia menghapus air matanya dan memeluk Dhana erat-erat.

"Aku takut setengah mati gara-gara kamu! Kupikir kamu sudah mati, huhu ...."

Mawar kembali menangis bahagia. Air mata mengalir deras di pipinya.

"Kak Mawar, jangan menangis."

Mawar mengusap air matanya, menepuk Dhana dua kali untuk memastikan pria itu sehat, dan air matanya berubah menjadi tawa.

Dia mengambil sapu di dekatnya dan segera menyapu uang arwah yang belum terbakar dan berserakan di lantai, lalu melempar sapu itu ke samping.

Baru setelah itu, dia tersenyum dan berkata, "Kamu pasti lapar. Ayo, aku buatkan mi."

Mendengar ucapan Mawar, Dhana tertawa canggung.

Jujur saja, setelah olahraga melelahkan barusan, dia memang lapar.

Tapi pada saat itu, Dhana hanya ingin pulang secepatnya.

Dia sudah membuang banyak waktu di rumah Bima. Orang tuanya pasti khawatir jika dia pulang terlalu larut.

Mawar sepertinya menyadari tawarannya bisa disalahartikan dan buru-buru menambahkan, "Aku cuma mau buatkan mi untuk kamu, makan dulu, nanti pulang."

Dhana melambaikan tangannya dan berkata sambil tersenyum, "Nggak usah repot-repot, aku nanti makan di rumah."

Dia membungkuk untuk mengambil keranjangnya.

Mawar berbalik dan melotot kepadanya.

"Tinggal makan saja kok, kenapa sungkan-sungkan? Makan dulu sebelum pulang. Aku berutang budi padamu hari ini."

Sambil berbicara, Mawar menarik Dhana masuk ke dalam rumah tanpa menunggu lagi.

"Kamu di sini saja, aku masak dulu."

Menghadapi tawaran hangat itu, Dhana tidak sanggup menolak.

Beberapa menit kemudian, Mawar membawakan semangkuk mi berhias sayur dan daging kepada Dhana dan berkata, "Kamu pasti lapar, cepat makan."

Melihat hanya ada satu mangkuk, Dhana terkejut.

"Kak Mawar, kenapa kamu nggak makan?"

Mawar tersenyum manis. "Aku sudah makan."

Dhana memang lapar. Setelah bergumam menanggapi, dia mulai makan. "Kak Mawar, masakanmu sangat enak."

Mawar tersenyum lebar menyaksikan Dhana makan dengan lahap.

"Dhana, kamu ingat apa yang terjadi di gunung tadi siang? Aku bilang apa waktu itu?"

Dhana mendongak, berbicara di sela-sela suapannya.

"Tentu saja aku ingat. Kamu bilang mau memberiku buah delima dan permen, tapi akhirnya tidak jadi."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 194

    Yuna mencibir dan mengerutkan kening."Dasar buta, beraninya menghina Tabib Dhana? Tunggu saja. Kalian akan menyesalinya.""Menyesal?" Amanda membalas. "Nona Yuna, izinkan aku memberi mengingatkan. Kalau kamu cari pria simpanan, carilah yang layak. Kalau pilih orang bodoh, kamu akan menyesal akhirnya."Sambil bicara, pandangan Amanda beralih ke Dhana."Pernikahan sebentar lagi dimulai. Kami tunggu kamu di Grand Hotel. Semoga kamu masih berani datang menyaksikan kebahagiaan Kak Tara dan aku."Amanda berbalik dan naik ke mobil pengantin."Sampai jumpa sebentar lagi. Aku punya kejutan untukmu," kata Tara, masuk ke mobil pengantin dengan seringai jahat.Dia sudah mengundang seorang pendekar bela diri tingkat sembilan.Hari ini, entah Dhana datang ke pernikahan atau tidak, dia akan diberi pelajaranDiiringi sorak-sorai, iring-iringan kendaraan itu perlahan-lahan berangkat.Dhana memarkir motor listriknya di tepi jalan, lalu naik mobil sport Yuna.Di dalam mobil.Yuna bertanya sambil terseny

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 193

    "Wah, dia itu Nona Yuna dari Keluarga Atmaja, 'kan? Cantik sekali! Dia kelihatannya akrab dengan pemuda itu.""Benar," sambung seorang wanita lain. "Dilihat dari ekspresi dan percakapan mereka, kelihatannya sangat akrab."Tiba-tiba, salah seorang wanita punya ide, berjalan mendekati Dhana dan Yuna dengan wajah tersenyum ramah."Nona Yuna, apa perusahaanmu masih butuh satpam? Aku dengar katanya gaji dan tunjangan satpam di Grup Atmaja sangat tinggi. Anakku pernah ikut pelatihan keamanan, tapi masih belum dapat pekerjaan. Bisakah dia bekerja jadi satpam di perusahaanmu?""Nona Yuna, anakku kepala koki di restoran. Masakannya sangat luar biasa. Apa restoran milik grupmu butuh koki? Izinkan anakku bergabung dengan perusahaan grup kalian, terima kasih Nona Yuna!""Apa kalian butuh pembantu rumah tangga? Aku bisa melakukannya.""Butuh orang untuk membersihkan toilet? Aku cukup profesional.""..."Belasan wanita paruh baya itu mencari pekerjaan.Wajah Yuna tampak muram, kata-kata terbentuk di

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 192

    "Lihat, itu orangnya!"Seseorang yang bermata tajam menunjuk ke arah Dhana."Ya, ya! Pemuda yang duduk di motor itu, dia mantan pacarnya Amanda. Dia pernah datang ke sini dua tahun lalu, jadi aku sudah ketemu beberapa kali. Si bodoh itu masih nggak rela melepaskan?""Mantan pacarnya mau menikah, dia masih saja datang. Seperti orang bodoh saja, menunggu di depan rumah. Apa dia benar-benar mau menyaksikan Amanda menikah dengan orang lain? Dibayangkan saja sudah kasihan ...."Gerombolan wanita paruh baya yang suka mencampuri urusan orang mendekati Dhana."Nak, mantan pacarmu sudah menikah dengan orang lain. Lupakan dia. Hari ini hari pernikahannya. Kamu pergi saja.""Ya, Tara pernah memukulimu dua tahun lalu. Siapa tahu dia mau melakukannya lagi hari ini. Kamu harus belajar untuk melepaskan."Dhana duduk di atas motor, menatap mereka."Terima kasih atas perhatian kalian, tapi aku nggak bodoh lagi. Karena mantan pacarku mau menikah, paling nggak aku harus datang."Salah seorang wanita paru

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 191

    Dengan satu pikiran, jiwanya kembali ke dunia nyata. Dhana bangun dari tempat tidur, menjilat bibirnya. Rasa air danau itu masih tertinggal.Sangat manis dan sulit dilupakanDhana mengambil botol air mineral, lalu kembali memasuki Dimensi Teratai dan mengisi botol dengan air danau.Dia membawa air itu kembali ke dunia nyata.Air danau berkilau dengan kejernihan kristal, seperti minuman para dewa. Saat tutup botol dibuka sedikit saja, aroma harumnya langsung tercium."Aroma ini sebanding dengan parfum!"Dia membuka tutup botol dan minum sedikit. Rasa segar dan manis segera memenuhi mulut, lalu mengalir ke kerongkongan, hingga ke perutnya, meninggalkan rasa hangat yang menyenangkan."Luar biasa, benar-benar luar biasa!"Tiba-tiba, Dhana mendapat sebuah ilham.Di dalam Dimensi Teratai, tumbuhan tumbuh subur. Apa efeknya jika menggunakan air danau itu untuk mengairi tanaman di dunia nyata? Mungkin tanamannya akan tumbuh subur seperti di dalam Dimensi Teratai?Tidak lama setelah memikirkann

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 190

    Sekar menghela napas dalam-dalam saat mengatakan itu.Dua tahun terakhir ini seperti hidup di neraka. Mereka berempat sangat menderita, terutama pasangan tua itu. Kaki Bejo patah dan selalu kambuh setiap beberapa hari. Dia sendiri pun tidak jauh lebih baik.Dhana kini sudah sembuh, baru saja membeli mobil mewah, dan sedang membangun vila. Kehidupan mereka kembali normal dan tidak mampu menerima guncangan apa pun lagi."Ayah, Ibu, jangan khawatir. Hubunganku dengan Amanda sudah ditakdirkan jelek sejak awal. Kalau urusan kami nggak kutuntaskan besok, mereka berdua pasti akan mencariku lagi. Aku tetap harus pergi besok."Melihat Dhana tidak bisa dibujuk dengan cara apa pun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.Beberapa menit berlalu sebelum Bejo perlahan bicara lagi."Kalau begitu, usahakan jangan sampai ada perkelahian. Tinggal bicarakan apa yang perlu saja, lalu segera pulang."Dhana mengangguk.Di Kota Siraya, kantor Yuna di Grup Atmaja.Yuna bersandar di kursi kulitnya dan menatap Keke

  • Sungguh Nikmat Jadi Tabib Desa!   Bab 189

    "Kamu nggak benar-benar mau datang, 'kan?""Kenapa nggak?" balas Dhana sambil tersenyum. "Sebagai mantan pacar Amanda, aku harus datang di momen paling bahagia mereka. Paling nggak membawa hadiah spesial biar pernikahan mereka semakin mengesankan, ya 'kan?"Besok, dia akan membalas dendam atas semua penderitaan yang dia rasakan selama dua tahun.Kenapa tidak datang?Dia justru harus datang!Dan kedatangannya harus megah dan mencolok."Beneran mau datang?" tanya Mawar, bingung.Dhana mengangguk lagi, "Kamu pikir aku bercanda? Aku sudah menyiapkan hadiahnya, dan besok pasti akan diantarkan ke tempat pernikahan tepat waktu."Melihat ekspresi serius Dhana, Mawar percaya bahwa Dhana mengatakan yang sebenarnya. Pria ini mungkin benar-benar sudah menyiapkan hadiah."Dhana, aku khawatir. Pasti ada udang di balik batu kenapa Amanda mengundangmu ke pernikahannya. Sebaiknya nggak usah datang.""Lagi pula, orang yang memukulimu itu katanya dari keluarga terpandang. Apa jadinya kalau mereka menyaki

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status