登入Mohon doa untuk anak saya. Semoga senantiasa sehat, agar saya bisa stabil menulis terus. Terima kasih :)
Dihisapnya puting kemerahan itu secara rakus oleh bibir sang dokter spesialis, hingga berbunyi kecapan nyaring.Sensasi tarikan kuat di area dadanya sukses meruntuhkan sisa-sisa pertahanan pikiran waras sang ibu hamil hingga tidak bersisa. Sendi lutut Amara mendadak lemas kehabisan seluruh tenaga penopang berdirinya, akibat diterjang gelombang kenikmatan yang menyetrum otak."Mas Adrian, kaki aku udah ngga kuat lagi buat berdiri tegak menahan berat badanku," adu wanita ini menyandarkan seluruh bobot tubuhnya ke depan.Pahlawan medis ini dengan sigap menahan pinggang ramping istrinya menggunakan sebelah tangan, agar tidak terpeleset jatuh di ubin basah. Dia langsung mengangkat dan mendudukkan perempuannya secara amat aman, tepat di atas meja wastafel marmer yang kondisinya kering. Posisi duduk menggantung ini otomatis memberikan ruang gerak yang sangat leluasa, bagi Adrian untuk mengeksplorasi mahkota terdalam pasiennya."Buka paha kamu lebih lebar, biar tanganku gampang masuk buat nge
"Kamu sengaja banget cari kesempatan, buat lihat badanku tanpa busana di siang bolong begini kan, Mas? Padahal tadi bilangnya cuma mau bantuin aku berdiri aja, biar ngga jatuh terpeleset di lantai basah. Dasar dokter nakal yang mesumnya ngga pernah ketulungan, kalau udah berduaan sama pasiennya!"Alih-alih merasa tersinggung, tawa berat nan serak justru meluncur bebas dari kerongkongan pria dominan ini. Di bawah guyuran air hangat dari mesin pemanas otomatis, kain tipis yang menutupi tubuh mereka berdua akhirnya terlucuti habis.Amara spontan menyilangkan kedua tangannya menutupi area dada, saat butiran air menyapu kulit telanjangnya.Ditepiskannya perlahan pertahanan rapuh tersebut oleh sepasang tangan besar sang dokter. Karena sudah terlampau sering menikmati keindahan tubuh ini, Adrian tidak memberikan celah sedikit pun bagi perempuannya untuk merasa malu. Dari arah belakang, laki-laki bertenaga kuat ini mulai mengusapkan sabun cair beraroma stroberi ke punggung istrinya."Wangi sa
Amara yang setengah mengantuk ikut terkejut mendengar gangguan mendadak tersebut. Menariknya, suara dari balik pintu itu terdengar sangat familier di telinga sang nyonya muda. Diabaikannya rasa cemas yang sempat mampir di kepalanya, tepat saat menyadari identitas asli sang tamu."Permisi Nyonya Amara, ini Bi Asih datang membawakan bubur ayam pesanan Nyonya Ratih dari rumah," ucap suara paruh baya dari luar sana.Tepat setelah mendengar intonasi lembut pembantu rumah tangganya, otot tegang di bahu Adrian perlahan mengendur. Dokter spesialis kandungan ini membuang napas lega, menyadari tidak ada bahaya yang mengancam keselamatan mereka."Bi Asih, tolong buburnya ditaruh aja di atas meja troli depan pintu ya! Aku lagi ngga pakai hijab dan belum siap ketemu orang lain sekarang. Nanti mangkuknya bakal diambil langsung ke depan sama Dokter Adrian!"Karena sangat mematuhi perintah majikannya, pembantu setia itu langsung menuruti instruksi tanpa banyak bertanya.Diletakkannya nampan berisi ma
Amara menganggukkan kepalanya sangat antusias menyetujui persyaratan protektif tersebut, tanpa berniat melayangkan protes sedikit pun.Rasa senangnya meluap seketika menyadari betapa besarnya upaya laki-laki ini dalam menjamin keamanannya setiap saat. Senyum memikat langsung mengembang sempurna menghiasi wajah pucat Amara."Makasih banyak ya, Mas," ucap Amara berjinjit mendekatkan wajahnya ke arah sang dokter. "Sekarang tolong kecup kening aku yang lama dong, sebelum kita pisah berangkat kerja." Tuntutan manja tersebut meluncur begitu saja dari bibir Amara.Menuruti permintaan binal tersebut, bibir tebal Adrian mendarat sangat lembut di kening sang kekasih membagikan kehangatan.Ciuman polos itu perlahan turun menyapu kelopak mata, lalu berakhir melumat bibir ranum Amara dengan sangat memabukkan. Pagutan basah yang awalnya berjalan lambat itu mendadak berubah menjadi ciuman buas penuh tuntutan gairah liar.Di bawah cahaya matahari pagi yang menembus gorden, sang pahlawan medis mulai m
Berpindah jauh ke pinggiran kota yang kotor, nasib teramat menyedihkan justru menimpa sang mantan eksekutif. Doni sedang duduk meringkuk sendirian di emperan sebuah toko bangunan yang sudah tutup rapat. Suhu udara malam yang menusuk hingga ke tulang sumsum membuat tubuh pria pengangguran ini menggigil hebat.Berbunyi sangat nyaring, perut Doni menahan rasa lapar yang menyiksa usus lambungnya sejak kemarin malam. Gara-gara seluruh akses perbankannya dibekukan secara permanen, laki-laki pecundang ini tidak memiliki uang sepeser pun untuk membeli nasi.Kehidupannya berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi gembel jalanan dalam waktu yang sangat singkat.Menggigit sisa kuku jarinya hingga berdarah, Doni menatap layar ponselnya yang retak parah di beberapa sisi. Layar redup itu menampilkan daftar panjang kontak teman-teman lamanya yang kompak memblokir nomor teleponnya. Dia berniat menghubungi satu-satunya nomor rahasia yang belum dia pakai selama ini."Angkat telepon gue kali ini aja
Setibanya mereka di dalam area kamar utama yang wangi, Adrian langsung melangkah tegap menuju area kamar mandi. Laki-laki berbadan kekar ini berniat membersihkan tubuh kekasihnya dari bau obat-obatan klinis. Dinyalakannya keran air hangat itu hingga memenuhi batas aman bak mandi porselen berwarna putih bersih.Kepulan uap panas perlahan menyeruak ke udara memenuhi ruangan tertutup berbahan marmer tersebut. Tetesan air mulai menempel di cermin lebar dinding kamar mandi."Sini sayangku, biar aku bantu melepaskan baju kotor kamu pelan-pelan," pinta Adrian menuntun kekasihnya mendekati area basah tersebut dengan amat protektif."Aku bisa buka sendiri bajunya, Mas." Amara menutupi area dadanya menggunakan kedua tangan karena merasa canggung."Ngga ada satu inci pun dari tubuhmu yang belum pernah aku cium dan sentuh. Buat apa kamu malu sama pria yang udah berhasil bikin rahimmu berisi begini? Biar aku yang memandikanmu sore ini sampai kamu merasa rileks total."Mendengar bantahan dominan te
"Kamu pasti lemes banget buat pakai baju dengan benar, ya?" tebak Bu Ratih sambil tersenyum tipis meremehkan. "Makanya kancing baju kamu sampai mencong begini pas dipakai habis periksa tadi."Mendapat jalan keluar yang tak terduga, Amara buru-buru menganggukkan kepalanya dengan tempo cepat
Sebagai bentuk keputusasaan, Adrian menghela napas sangat panjang melalui hidungnya. Dia sadar posisinya sangat lemah di hadapan kekuatan uang milik mertua Doni tersebut. Pria itu harus membangun batasan emosional yang ketat agar tidak semakin hancur di kemudian hari."Kurang berapa lagi?
Seketika, Adrian mengepalkan telapak tangan kiri di atas meja kerja. Kuku-kukunya menekan kulit sampai meninggalkan bekas kemerahan yang sempat memutus aliran darah. Suhu tubuhnya kembali naik perlahan saat mengingat jumlah uang hasil kerjanya yang harus dikorbankan demi masalah ini.&ldqu
Di klinikmya, Adrian berdiri di bawah shower. Dia memutar keran ke arah biru. Air yang semula hangat berubah menjadi dingin menusuk tulang. Adrian memejamkan mata dan mendongakkan wajahnya. Dia membiarkan air dingin itu menampar kulit wajah dan tubuhnya.Sejak bangun tidur tadi pagi, tubuhnya teras







