LOGINAdrian menatap Amara, dia masih menunggu jawaban wanita itu.
"Janji sama aku," pinta Amara dengan suara bergetar. "Cuma sekali ini saja. Hari ini saja. Setelah itu kita lupakan semuanya. Anggap tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita."
Itu adalah pertahanan terakhir Amara. Dia mencoba membuat kesepakatan untuk menyelamatkan sisa kewarasannya. Dia ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanyalah kecelakaan satu malam, bukan awal dari sebuah perselingkuhan.
Adrian terdiam sejenak, lalu menatap wajah cantik Amara yang penuh ketakutan. Dalam hati, Adrian tahu bahwa janji itu mungkin sulit ditepati, terutama jika benihnya berhasil tumbuh. Karena mereka akan terikat selamanya oleh darah daging itu.
Tapi saat ini Adrian perlu Amara kooperatif.
"Saya janji, ini hanya satu kali, sampai benih saya masuk dan Bu Amara hamil. Setelah itu, kita orang asing lagi."
Amara memejamkan matanya, sembari rintikan air matanya menetes, wanita itu mengangguk pelan, lalu berbisik. "Lakukan sekarang, Dok, sesuai janji kita barusan."
Adrian melangkah maju hingga tubuhnya menempel pada lutut Amara. Tangan besarnya terulur, ke wajah Amara, menangkup kedua pipi wanita itu. Lalu, ibu jari Adrian mengusap air mata di pipi Amara dengan lembut.
Amara membuka matanya karena terkejut dengan sentuhan lembut itu. Dia menatap mata Adrian yang gelap dan dalam.
"Maafkan saya, Bu Amara," bisik Adrian di depan bibir wanita itu.
Detik berikutnya, Adrian menundukkan wajahnya, meraup bibir Amara..
Bibir Adrian melumat bibir Amar, memaksanya terbuka, lalu lidahnya menerobos masuk, mengabsen setiap inci rongga mulut Amara.
Amara ingin mendorong Adrian menjauh, tapi aroma maskulin Adrian dan kehangatan tubuh pria itu membuatnya lumpuh. Ciuman itu begitu nikmat, berbeda jauh dengan ciuman Doni yang hambar dan malah tidak ada nikmatnya sama sekali.
Tanpa sadar tangan Amara yang semula mengepal kini perlahan terbuka. Jemarinya mencengkeram kemeja Adrian, menarik pria itu semakin dekat.
Adrian melepaskan pagutan bibirnya secara perlahan, menyisakan jarak hanya beberapa sentimeter di antara wajah mereka sehingga Amara bisa melihat dengan jelas kilatan hasrat di mata pria itu.
"Kenapa harus melakukan semua ini, Dok?" tanya Amara dengan suara parau yang bergetar, matanya menatap bingung pada pria yang kini tangannya masih menangkup wajahnya dengan lembut. "Kenapa tidak langsung saja? Bukannya Mama bilang kita tanam benih aja? Kenapa Dokter malah mempermainkan saya seperti ini?"
Adrian tersenyum tipis mendengar pertanyaan polos yang bercampur frustrasi itu, lalu ibu jarinya mengusap bibir bawah Amara yang merah akibat ulahnya.
"Sebagai dokter kandungan, saya tahu persis bagaimana anatomi tubuh wanita bekerja. Vagina itu terdiri dari otot-otot yang elastis, tapi dia butuh persiapan matang untuk bisa menerima benda asing tanpa rasa sakit."
Adrian menurunkan tangannya dari wajah Amara menuju leher, jari-jarinya mulai bermain di sana dengan gerakan memutar yang membuat bulu kuduk Amara meremang seketika.
"Kalau saya langsung masuk saat Bu Amara masih tegang dan kering seperti tadi, gesekannya akan melukai dinding rahim Bu Amara. Itu akan menyebabkan lecet, pendarahan, dan trauma," lanjut Adrian menjelaskan sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Amara.
"Pemanasan atau foreplay itu kebutuhan biologis juga, Bu, tubuh Bu Amara harus memproduksi pelumas alami yang cukup, dan otot panggul Ibu harus rileks agar jalan lahir terbuka lebar dan siap menerima ukuran saya sepenuhnya."
Amara terdiam mendengar penjelasan logis yang dibalut dengan nada seduktif itu. Pikirannya melayang pada pengalaman seksualnya selama ini bersama Doni yang sangat berbeda jauh dengan teori yang baru saja didengarnya.
"Tapi, Mas Doni nggak pernah ngelakuin ini ke aku, lho!" gumam Amara jujur, matanya berkaca-kaca mengingat bagaimana suaminya memperlakukannya di ranjang. "Dia selalu terburu-buru. Dia langsung membuka celanaku, meludah sedikit, lalu memaksanya masuk. Rasanya selalu perih di awal, makanya aku sering nolak kalau dia minta. Terus hampir setahun ini, tiap kali aku minta, dia yang sekarang gantian nolak."
Adrian mendengus kasar mendengar pengakuan itu, tangannya kini beralih pada kancing teratas kemeja Amara dan mulai melepaskannya dengan gerakan yang sangat pelan dan sengaja mengulur waktu.
"Itulah sebabnya Bu Amara selalu merasa sakit saat berhubungan," ucap Adrian, tapi matanya fokus pada kulit putih dada Amara yang mulai terekspos inci demi inci seiring terbukanya kancing kemeja itu.
Kancing terakhir terbuka, memperlihatkan bra renda hitam yang membungkus payudara Amara.
Adrian tidak melepaskan bra itu, melainkan menyusupkan telapak tangannya yang lebar dan hangat langsung dari bawah kain cup-nya, menyentuh kulit payudara Amara secara langsung.
"Ahhh..." Amara melenguh panjang, kepalanya mendongak ke belakang saat merasakan tangan kasar Adrian meremas payudaranya dengan gerakan memutar.
"Bu Amara, rasanya beda, kan? Saya merangsang saraf-saraf di sini karena payudara terhubung langsung dengan pusat gairah di otak dan organ reproduksi di bawah sana. Semakin Bu Amara menikmatinya, semakin basah milikmu di bawah, dan semakin mudah bagi saya untuk masuk nanti."
Ibu jari Adrian menemukan puting Amara yang sudah mengeras di balik kain bra, lalu mencubitnya pelan dan memutir-mutirnya dengan intensitas yang meningkat.
Sensasi itu begitu tajam dan nikmat, mengirimkan gelombang kejutan listrik yang menjalar dari dada langsung menuju selangkangan Amara, membuatnya meremas paha Adrian karena keenakan.
"Adrian, hentikan, ah, ah, rasanya, ah, rasanya aneh sekali!"
"Aneh atau nikmat?" tantang Adrian, wajahnya kembali turun untuk menciumi leher dan bahu Amara yang terekspos, sementara tangannya tidak berhenti mempermainkan kedua payudara wanita itu secara bergantian.
"Tu-tunggu, ah, ah, hentikan ini, jangan diterus…"
"Tubuh Bu Amara nggak bisa bohong. Oh iya, bagian atas Bu Amara ini pas di tangan saya, terus pucuknya sangat sensitif. Kan, baru disentuh bentar udah negang gini, jadi tambah panjang satu centi pentil Bu Amara. Sayang sekali Pak Doni nyia-nyiain tubuh sesempurna ini."
Kata-kata pujian yang vulgar itu meruntuhkan sisa-sisa akal sehat Amara. Dia merasa panas dingin, seluruh darahnya seolah berkumpul di perut bagian bawah yang kini berdenyut nyeri meminta diisi.
Rasa bersalahnya terhadap suami lenyap seketika, digantikan oleh nafsu purba yang selama ini terkubur dalam-dalam dan kini bangkit menuntut kepuasan.
Amara mencengkeram rambut Adrian, menarik wajah pria itu agar menatapnya dengan tatapan sayu penuh gairah yang tidak bisa disembunyikan lagi. "Cukup teorinya, Adrian, hah, hah, aku sudah tidak tahan lagi, cepet masukin punyamu, cepetaaaann!"
Adrian menghentikan remasannya di dada Amara dan menarik tangannya keluar perlahan, lalu menyunggingkan senyum tipis penuh kemenangan melihat wanita yang tadinya menolak keras kini justru mengemis padanya.
Tanpa menunggu jawaban lisan, Adrian menurunkan tangannya ke bawah rok Amara, meraba area selangkangan wanita itu untuk membuktikan teorinya. Jari-jari Adrian menyentuh lapisan luar celana dalam Amara dan mendapati kain tipis itu sudah basah kuyup oleh cairan bening yang kental.
"Oh pantes, ternyata Bu Amara sudah banjir. Sekarang, saya akan membuat Bu Amara menjerit keenakan, saya akan lakukan sekarang!"
Adrian menatap Amara, dia masih menunggu jawaban wanita itu."Janji sama aku," pinta Amara dengan suara bergetar. "Cuma sekali ini saja. Hari ini saja. Setelah itu kita lupakan semuanya. Anggap tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita."Itu adalah pertahanan terakhir Amara. Dia mencoba membuat kesepakatan untuk menyelamatkan sisa kewarasannya. Dia ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanyalah kecelakaan satu malam, bukan awal dari sebuah perselingkuhan.Adrian terdiam sejenak, lalu menatap wajah cantik Amara yang penuh ketakutan. Dalam hati, Adrian tahu bahwa janji itu mungkin sulit ditepati, terutama jika benihnya berhasil tumbuh. Karena mereka akan terikat selamanya oleh darah daging itu.Tapi saat ini Adrian perlu Amara kooperatif."Saya janji, ini hanya satu kali, sampai benih saya masuk dan Bu Amara hamil. Setelah itu, kita orang asing lagi."Amara memejamkan matanya, sembari rintikan air matanya menetes, wanita itu mengangguk pelan, lalu berbisik. "Lakukan sekarang, Dok
"Ma..." desis Amara lirih. Hatinya hancur mendengar suaminya dihina sedemikian rupa oleh ibunya sendiri.Lalu, Bu Ratih melanjutkan penjelasannya lagi. "Kamu lihat diri kamu sendiri, Adrian. Kamu tinggi. Badan kamu bagus. Kamu atletis. Wajah kamu tampan. Kamu juga jarang sakit, kan? Itu yang saya mau! Maka dari itu, saya bayar kamu buat nanem benih kamu di tubuh Amara, biar cucu saya sehat macam kamu!"Adrian mendengarkan sambil menatap pantulan dirinya di cermin lemari obat. Dia memang sadar fisiknya di atas rata-rata. Tapi mendengar itu dijadikan alasan untuk membuahi istri orang, rasanya tetap saja gila."Jadi Ibu mau saya bagaimana?" tanya Adrian memancing, dia pura-pura polos, sekaligus untuk meyakinkan Amara bahwa ini memang perintah dari ibunya."Buang suntikan itu sekarang juga!" perintah Bu Ratih. "Saya mau kamu lakukan secara langsung. Natural. Hubungan badan layaknya suami istri. Pastikan benih kamu masuk sedalam-dalamnya. Dengan begitu, peluang hamilnya lebih besar dan kua
Itu adalah benih Doni.Sampel yang sempat diambil kemaren malam saat pemeriksaan rutin di klinik lama tempat Adrian bekerja paruh waktu.Sebenarnya, Bu Ratih dan Doni memiliki dua keinginan berbeda.Bu Ratih ingin Adrian langsung meniduri Amara layaknya pejantan bayaran karena menganggap benih Doni sudah tidak berguna, sedangkan Doni ingin agar cairan miliknya saja yang disuntikkan ke dalam milik Amara.Awalnya Adrian ingin segera selesai dengan memastikan Amara hamil secara alami, mengingat Amara memiliki kondisi medis khusus yang membuatnya cukup sulit menerima cairan hasil suntikan.Namun, dia masih memiliki sisa hati nurani sebagai seorang dokter dan ingin mencoba satu kali lagi dengan prosedur inseminasi buatan, meski cukup beresiko.Jika ini berhasil, maka Amara tidak perlu disentuh secara langsung oleh pria lain.Jika ini berhasil, Adrian bisa mendapatkan uangnya tanpa harus menghancurkan sisa harga diri wanita rapuh di hadapannya.Adrian sengaja tidak memberitahu Bu Ratih kare
Tidak terasa, sehari sudah dilalui, Amara masih saja merenung mengingat suaminya sangat bersemangat dalam mengantarnya menuju klinik pribadi Adrian.Doni duduk di balik kemudi dengan wajah cerah. Terlalu cerah, malah.Pria itu bersenandung kecil mengikuti irama lagu pop yang diputar pelan di radio, seolah mereka sedang menuju ke acara pernikahan kerabat atau liburan akhir pekan. Padahal pagi ini dia mengantar istrinya menuju tempat di mana istrinya akan diserahkan ke pelukan laki-laki lain.Di kursi penumpang, Amara duduk kaku bak manekin. Kedua tangannya meremas ujung dress floral selutut yang ia kenakan hingga kain mahalnya kusut tak berbentuk. Matanya menatap kosong ke luar jendela, melihat gedung-gedung pencakar langit yang berlarian mundur."Sayang, kamu kok diem aja? Jangan tegang gitu dong," tegur Doni santai sambil melirik sekilas. Tangan kirinya terulur, mencoba mengelus paha Amara.Amara beringsut pelan, menghindari sentuhan itu. Bagaimana bisa suaminya bersikap setenang ini
"Pasti ada cara lain selain meniduri istri orang demi mendapatkan uang pelunasan hutang." Suara Amara terdengar parau dan putus asa saat mencoba menggugah hati nurani pria di hadapannya. "Jika memang ada cara lain yang lebih manusiawi untuk mendapatkan uang setengah miliar dalam waktu semalam, tolong beritahu saya sekarang juga, Nona Amara." Adrian menjawab dengan nada suara yang dingin sambil melangkah maju satu langkah untuk mengikis jarak di antara mereka."Klinik saya akan disita bulan depan dan ayah saya akan dibunuh jika saya menolak tawaran ibu Anda."Amara terdiam karena dia sangat tahu bagaimana kejamnya rentenir yang meminjamkan uang kepada ayah Adrian."Tapi kamu menghancurkan hidupku dan rumah tanggaku demi menyelamatkan hidupmu sendiri.""Hancur?" Adrian menatap tajam ke arah Amara yang langsung menundukkan wajahnya karena kata-kata menyakitkan itu memang benar adanya. "Kita berdua sama-sama terjebak dalam permainan kotor ibu Anda, tidak ada jalan keluar lain selain mema
“Dua ratus juta buat lunasi hutang ayahmu, tapi kamu harus buat Amara hamil!”Sebuah cek melayang di udara, lalu mendarat mulus di atas meja marmer yang dingin. Angkanya terpampang jelas. Jumlah nol-nya banyak, cukup untuk bikin mata siapa saja terbelalak kaget.Adrian menatap kertas itu dengan wajah datar. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu nampak berpikir sejenak. Jas putih dokternya tersampir asal di lengan kekarnya yang terbalut kemeja biru muda.Di depannya, Bu Ratih menatap Adrian dalam-dalam karena dia tahu persis apa yang sedang dibutuhkan oleh dokter kandungan di hadapannya. "Tugasmu sederhana, Adrian, buahi Amara dan berikan aku cucu dari benihmu!"Perintah itu terdengar gila dan benar-benar di luar nalar!Bagaimana tidak, Adrian ini sepupu jauh Doni sendiri. Meskipun hubungan darahnya sudah agak jauh, tetap saja rasanya aneh.Tapi Adrian tidak langsung menolak.Ayahnya yang gila judi itu sekarang lagi sekarat di rumah sakit. Preman-preman suruhan rentenir sudah ngancam b







