Share

Bab 6 Proses (2)

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-01-30 15:41:16

Adrian menatap Amara, dia masih menunggu jawaban wanita itu.

"Janji sama aku," pinta Amara dengan suara bergetar. "Cuma sekali ini saja. Hari ini saja. Setelah itu kita lupakan semuanya. Anggap tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita."

Itu adalah pertahanan terakhir Amara. Dia mencoba membuat kesepakatan untuk menyelamatkan sisa kewarasannya. Dia ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanyalah kecelakaan satu malam, bukan awal dari sebuah perselingkuhan.

Adrian terdiam sejenak, lalu menatap wajah cantik Amara yang penuh ketakutan. Dalam hati, Adrian tahu bahwa janji itu mungkin sulit ditepati, terutama jika benihnya berhasil tumbuh. Karena mereka akan terikat selamanya oleh darah daging itu.

Tapi saat ini Adrian perlu Amara kooperatif.

"Saya janji, ini hanya satu kali, sampai benih saya masuk dan Bu Amara hamil. Setelah itu, kita orang asing lagi."

Amara memejamkan matanya, sembari rintikan air matanya menetes, wanita itu mengangguk pelan, lalu berbisik. "Lakukan sekarang, Dok, sesuai janji kita barusan."

Adrian melangkah maju hingga tubuhnya menempel pada lutut Amara. Tangan besarnya terulur, ke wajah Amara, menangkup kedua pipi wanita itu. Lalu, ibu jari Adrian mengusap air mata di pipi Amara dengan lembut.

Amara membuka matanya karena terkejut dengan sentuhan lembut itu. Dia menatap mata Adrian yang gelap dan dalam.

"Maafkan saya, Bu Amara," bisik Adrian di depan bibir wanita itu.

Detik berikutnya, Adrian menundukkan wajahnya, meraup bibir Amara..

Bibir Adrian melumat bibir Amar, memaksanya terbuka, lalu lidahnya menerobos masuk, mengabsen setiap inci rongga mulut Amara.

Amara ingin mendorong Adrian menjauh, tapi aroma maskulin Adrian dan kehangatan tubuh pria itu membuatnya lumpuh. Ciuman itu begitu nikmat, berbeda jauh dengan ciuman Doni yang hambar dan malah tidak ada nikmatnya sama sekali.

Tanpa sadar tangan Amara yang semula mengepal kini perlahan terbuka. Jemarinya mencengkeram kemeja Adrian, menarik pria itu semakin dekat.

Adrian melepaskan pagutan bibirnya secara perlahan, menyisakan jarak hanya beberapa sentimeter di antara wajah mereka sehingga Amara bisa melihat dengan jelas kilatan hasrat di mata pria itu.

"Kenapa harus melakukan semua ini, Dok?" tanya Amara dengan suara parau yang bergetar, matanya menatap bingung pada pria yang kini tangannya masih menangkup wajahnya dengan lembut. "Kenapa tidak langsung saja? Bukannya Mama bilang kita tanam benih aja? Kenapa Dokter malah mempermainkan saya seperti ini?"

Adrian tersenyum tipis mendengar pertanyaan polos yang bercampur frustrasi itu, lalu ibu jarinya mengusap bibir bawah Amara yang merah akibat ulahnya.

"Sebagai dokter kandungan, saya tahu persis bagaimana anatomi tubuh wanita bekerja. Vagina itu terdiri dari otot-otot yang elastis, tapi dia butuh persiapan matang untuk bisa menerima benda asing tanpa rasa sakit."

Adrian menurunkan tangannya dari wajah Amara menuju leher, jari-jarinya mulai bermain di sana dengan gerakan memutar yang membuat bulu kuduk Amara meremang seketika.

"Kalau saya langsung masuk saat Bu Amara masih tegang dan kering seperti tadi, gesekannya akan melukai dinding rahim Bu Amara. Itu akan menyebabkan lecet, pendarahan, dan trauma," lanjut Adrian menjelaskan sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Amara.

"Pemanasan atau foreplay itu kebutuhan biologis juga, Bu, tubuh Bu Amara harus memproduksi pelumas alami yang cukup, dan otot panggul Ibu harus rileks agar jalan lahir terbuka lebar dan siap menerima ukuran saya sepenuhnya."

Amara terdiam mendengar penjelasan logis yang dibalut dengan nada seduktif itu. Pikirannya melayang pada pengalaman seksualnya selama ini bersama Doni yang sangat berbeda jauh dengan teori yang baru saja didengarnya.

"Tapi, Mas Doni nggak pernah ngelakuin ini ke aku, lho!" gumam Amara jujur, matanya berkaca-kaca mengingat bagaimana suaminya memperlakukannya di ranjang. "Dia selalu terburu-buru. Dia langsung membuka celanaku, meludah sedikit, lalu memaksanya masuk. Rasanya selalu perih di awal, makanya aku sering nolak kalau dia minta. Terus hampir setahun ini, tiap kali aku minta, dia yang sekarang gantian nolak."

Adrian mendengus kasar mendengar pengakuan itu, tangannya kini beralih pada kancing teratas kemeja Amara dan mulai melepaskannya dengan gerakan yang sangat pelan dan sengaja mengulur waktu.

"Itulah sebabnya Bu Amara selalu merasa sakit saat berhubungan," ucap Adrian, tapi matanya fokus pada kulit putih dada Amara yang mulai terekspos inci demi inci seiring terbukanya kancing kemeja itu.

Kancing terakhir terbuka, memperlihatkan bra renda hitam yang membungkus payudara Amara.

Adrian tidak melepaskan bra itu, melainkan menyusupkan telapak tangannya yang lebar dan hangat langsung dari bawah kain cup-nya, menyentuh kulit payudara Amara secara langsung.

"Ahhh..." Amara melenguh panjang, kepalanya mendongak ke belakang saat merasakan tangan kasar Adrian meremas payudaranya dengan gerakan memutar.

"Bu Amara, rasanya beda, kan? Saya merangsang saraf-saraf di sini karena payudara terhubung langsung dengan pusat gairah di otak dan organ reproduksi di bawah sana. Semakin Bu Amara menikmatinya, semakin basah milikmu di bawah, dan semakin mudah bagi saya untuk masuk nanti."

Ibu jari Adrian menemukan puting Amara yang sudah mengeras di balik kain bra, lalu mencubitnya pelan dan memutir-mutirnya dengan intensitas yang meningkat.

Sensasi itu begitu tajam dan nikmat, mengirimkan gelombang kejutan listrik yang menjalar dari dada langsung menuju selangkangan Amara, membuatnya meremas paha Adrian karena keenakan.

"Adrian, hentikan, ah, ah, rasanya, ah, rasanya aneh sekali!"

"Aneh atau nikmat?" tantang Adrian, wajahnya kembali turun untuk menciumi leher dan bahu Amara yang terekspos, sementara tangannya tidak berhenti mempermainkan kedua payudara wanita itu secara bergantian.

"Tu-tunggu, ah, ah, hentikan ini, jangan diterus…"

"Tubuh Bu Amara nggak bisa bohong. Oh iya, bagian atas Bu Amara ini pas di tangan saya, terus pucuknya sangat sensitif. Kan, baru disentuh bentar udah negang gini, jadi tambah panjang satu centi pentil Bu Amara. Sayang sekali Pak Doni nyia-nyiain tubuh sesempurna ini."

Kata-kata pujian yang vulgar itu meruntuhkan sisa-sisa akal sehat Amara. Dia merasa panas dingin, seluruh darahnya seolah berkumpul di perut bagian bawah yang kini berdenyut nyeri meminta diisi.

Rasa bersalahnya terhadap suami lenyap seketika, digantikan oleh nafsu purba yang selama ini terkubur dalam-dalam dan kini bangkit menuntut kepuasan.

Amara mencengkeram rambut Adrian, menarik wajah pria itu agar menatapnya dengan tatapan sayu penuh gairah yang tidak bisa disembunyikan lagi. "Cukup teorinya, Adrian, hah, hah, aku sudah tidak tahan lagi, cepet masukin punyamu, cepetaaaann!"

Adrian menghentikan remasannya di dada Amara dan menarik tangannya keluar perlahan, lalu menyunggingkan senyum tipis penuh kemenangan melihat wanita yang tadinya menolak keras kini justru mengemis padanya.

Tanpa menunggu jawaban lisan, Adrian menurunkan tangannya ke bawah rok Amara, meraba area selangkangan wanita itu untuk membuktikan teorinya. Jari-jari Adrian menyentuh lapisan luar celana dalam Amara dan mendapati kain tipis itu sudah basah kuyup oleh cairan bening yang kental.

"Oh pantes, ternyata Bu Amara sudah banjir. Sekarang, saya akan membuat Bu Amara menjerit keenakan, saya akan lakukan sekarang!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 68 Obati Aku

    Sepeninggal suaminya, suasana kamar mendadak berubah menjadi sangat sunyi dan dingin. Amara menarik kedua kakinya ke atas kasur, meringkuk menyamping menghadap jendela kaca dengan tubuh yang gemetar.Sedetik kemudian, air matanya menetes membasahi permukaan bantal. Ia menangis dalam diam meratapi nasib pernikahannya yang terasa kian memburuk, sembari memeluk bantal guling erat-erat untuk mencari kenyamanan.Hawa dingin dari pendingin ruangan mulai menusuk kulitnya yang polos. Rasa sedih seketika menguasai seluruh perasaannya malam ini, membuatnya merasa sangat lelah menghadapi rumah tangga yang penuh pertengkaran.Di tengah isak tangisnya, bayangan wajah Adrian justru muncul begitu saja mengisi kepalanya. Amara mengingat jelas bagaimana pria berjas putih itu memperlakukannya dengan sangat lembut dan penuh kehangatan beberapa jam yang lalu."Adrian... aku kangen banget sama pelukan kamu malam ini," rintih Amara sangat pelan di balik selimutnya. "Di sini ra

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 67 Kasar

    Mendapat pertanyaan itu, keringat dingin langsung merembes di dahi Amara. Ia refleks mencengkeram erat tali tas tangannya, memaksa otaknya bekerja cepat untuk menyusun pembelaan yang masuk akal."Aku tadi mual parah gara-gara efek suntikan hormon, Mas," dalih Amara dengan suara yang diusahakan tetap stabil. "Dokter Adrian nggak bolehin aku nyetir sendiri, makanya dia yang antar aku sampai depan gerbang."Doni tidak langsung merespons. Ia melipat kedua tangan di depan dada dengan angkuh, sementara matanya bergerak lincah memindai penampilan istrinya dari ujung kaki hingga ujung kepala.Mendengar nama sepupunya disebut, Doni bangkit berdiri dan melangkah maju. Ia menghampiri Amara perlahan, lalu berhenti tepat satu jengkal di hadapan tubuh istrinya yang gemetar.Tanpa peringatan, Doni memajukan kepala ke arah perpotongan leher Amara. Ia mengendus kemeja istrinya dengan tarikan hidung yang kasar, mencoba menangkap aroma yang terasa asing di sana."Mua

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 66 Bertemu Doni Lagi

    Sambil berbicara, kedua tangan Amara mulai bergerak menyentuh kerah kemeja pria itu. Ia membuka kancing yang salah masuk itu satu per satu dengan telaten, hingga kulit dada Adrian perlahan terekspos selama proses tersebut.Adrian hanya diam membiarkan Amara mengurus pakaiannya di tengah kesunyian. Ia sama sekali tidak memprotes, justru membiarkan rasa nyaman perlahan merayapi tubuhnya akibat sentuhan kecil tersebut.Setelah semua kancing terbuka, Amara memasukkannya kembali ke lubang yang benar. Ia memastikan letak kain kemeja itu sudah lurus dan simetris seperti semula.“Udah rapi sekarang bajunya. Kamu berdiri, gih," ucap Amara samb

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 65 Sini Aku Betulin

    "Kamu pasti lemes banget buat pakai baju dengan benar, ya?" tebak Bu Ratih sambil tersenyum tipis meremehkan. "Makanya kancing baju kamu sampai mencong begini pas dipakai habis periksa tadi."Mendapat jalan keluar yang tak terduga, Amara buru-buru menganggukkan kepalanya dengan tempo cepat."Iya, Ma," jawab Amara terbata-bata. "Tangan aku gemetar semua dari tadi gara-gara nahan mual, apalagi Mama gedor pintunya kencang banget di depan."Penjelasan itu terdengar sangat masuk akal bagi logika Bu Ratih. Wanita paruh baya tersebut sama sekali tidak menaruh kecurigaan lebih lanjut, bahkan ia terlihat puas melihat kondisi fisik putrinya yang tampak begitu lemah."Nggak apa-apa kalau kamu merasa mual parah sekarang." Bu Ratih mengusap bahu putrinya dengan gerakan lambat yang penuh arti. "Itu justru tanda yang sangat bagus buat kelanjutan rencana besar keluarga kita."Mendengar respons positif itu, Amara saling melempar pandangan singkat dengan Adrian. Ada

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 64 Kancing Bajumu, Kok...

    "Kamar mandi dalam lagi dipakai sama Bu Amara," kilah Adrian cepat sebelum mertuanya itu bertanya lebih jauh."Jadi saya terpaksa pakai kamar mandi di belakang pas Tante gedor pintu depan kencang banget barusan," lanjutnya seraya menunjukkan ekspresi seolah terganggu dengan ketukan tersebut.Mendengar alasan itu, Bu Ratih hanya mendengus pelan untuk menahan rasa kesalnya. Ia kembali mengedarkan pandangan, menyisir setiap inci area meja periksa medis di hadapannya.Seketika, tatapannya terkunci pada satu titik. Seprai putih di atas ranjang pasien itu tampak sangat kusut masai, seolah baru saja terjadi pergulatan hebat di atasnya.

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 63 Kecurigaan Bu Ratih

    Sambil merapikan sabuk ikat pinggangnya dengan cepat, Adrian mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. "Kamu lihat punya kamu nggak? Coba cek di dekat kaki meja periksa itu.""Itu dia, ada di dekat kaki meja kayu!" seru Amara pelan. "Punya kamu juga jatuh persis di sebelah punyaku."Lantaran waktu yang kian menipis, Adrian memberikan perintah tegas. "Ambilin dua-duanya sekarang juga. Biar aku yang umpetin di tempat yang aman supaya ibumu nggak liat."Sesuai permintaan pria itu, Amara segera menunduk untuk memungut dua helai pakaian dalam tersebut. Ia menyerahkan benda privat itu ke tangan Adrian secepat mungkin sebelum pintu klinik didobrak.Baru saja menerima barang itu, Adrian melangkah lebar menuju meja kerja utama di sudut ruangan. Sedetik kemudian, ia menarik salah satu laci meja kayunya dengan gerakan kasar.Adrian langsung menyembunyikan pakaian dalam mereka ke sana, lalu mendorong laci tersebut menggunakan tenaga penuh hingga tertutup

  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 23 Dok, Jangan Pergi!

    “Benar kan, Mbak? Dia ada di sini, kan?” desak Amara dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.Resepsionis itu akhirnya menyerah di bawah tekanan aura membunuh Amara dan tatapan dingin Adrian. Hingga akhirnya, perempuan itu mengangguk pelan.“Iya, Bu. Ada tamu dengan ciri-ciri seper

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 22 Ngelabrak Doni

    Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Amara membuka pintu mobil dan langsung turun. Dia berlari setengah menyeret langkahnya menuju gerbang parkir hotel kumuh itu.Adrian mengerutkan kening melihat tingkah aneh pasiennya. Dia mematikan mesin mobil dan ikut turun menyusul wanita itu.Adrian berjal

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 19 Argh!

    Adrian menunggu beberapa detik sampai otot bengkuang Amara berhenti kejang. Dia menikmati sensasi jepitan dinding rahim Amara yang memeluk seluruh batang kemaluannya dengan sangat erat dan hangat.Setelah napas Amara mulai sedikit teratur, Adrian mulai bergerak. Dia menarik pinggulnya mundur perlah

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Suntik Aku, Mas Dokter!   Bab 21 Ketahuan

    "Dok, aku mau lagi." Amara merengek sambil mendongak menatap pria itu. Matanya sayu dan memohon. "Main yang tadi kerasa bentar banget buatku."Amara menggesekkan tubuh bagian bawahnya ke paha Adrian secara sengaja. Dia menuntut ronde kedua, merasa penyatuan tadi belum tuntas sepenuhnya. Pu

    last updateLast Updated : 2026-03-21
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status